Sang Musafir

Sang Musafir
Kebenaran Tidak Lepas dari Politik


__ADS_3

Mantingan menghela napas panjang. Jika ia mencari perguruan lain, maka risiko dirinya menjadi pendekar berbahaya di masa mendatang akan semakin besar. Bagaimana jika orang lain tidak mengetahui bakat Mantingan menjadi penjahat? Bagaimana pula jika nantinya Mantingan tidak bisa mengendalikan nafsu lalu terjerumus pada kesesatan? Tetapi bukankah dengan begitu, dirinya bisa membalas kematian Rara?


Baginya saat ini, seakan tidak ada yang lebih penting lagi sebelum kematian Rara terbalaskan. Tetapi saat ini pula, Mantingan dihadapkan pada dua keputusan yang akan berpengaruh besar pada dirinya di masa mendatang. Keputusan untuk melupakan dan menjadi manusia baik, atau keputusan membalas dendam dan menjadi jantan?


“Paman Kedai ....” Mantingan menarik napasnya. “Daku bersedia melupakan dendam dan berguru padamu!”


Mantingan bbersujud di hadapan Paman Kedai. Orang tua itu tersenyum penuh haru. Dalam hatinya, ia senang, karena memang inilah yang ia inginkan dari seorang Mantingan, yang memiliki darah pesilat golongan hitam. Inilah juga yang meyakinkan orang tua itu untuk mendidik Mantingan sepenuh hati, Mantingan telah berhasil menaklukkan nafsu terbesarnya saat ini.


Paman Kedai menepuk-nepuk punggung Mantingan, berkata dengan lantang, “Engkau Mantingan, mulai saat ini engkau adalah muridku dan aku adalah gurumu! Engkau memiliki kewajiban sebagai murid dan daku memiliki kewajiban sebagai guru, tunaikanlah itu!”


***


Tentu saja kegiatan belajar-mengajar tidak bisa dilaksanakan pada hari itu juga. Kedai berkata bahwa kedainya bukanlah tempat latihan yang baik. Mereka pergi ke sebuah gunung besar yang tak jauh dari sana. Entah apa nama gunung itu. Tidaklah mereka tahu itu, sehingga tidak pula mereka pusingkan itu.


Mantingan dan Paman Kedai membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk mencapai gunung tersebut. Di salah satu wilayah lereng yang menghadap timur itu terdapatlah sebuah goa. Kiranya goa itu aman, maka Kedai memutuskan untuk memulai pelatihan Mantingan di sana.


Mereka sama sekali tidak membawa perbekalan ke dalam goa itu, selain perbekalan yang ada di buntelan Mantingan. Lagi pula, Kedai mengatakan jika urusan makanan akan jadi urusan yang mudah.


Yang merupakan latihan pertama Mantingan adalah latihan pernapasan. Mantingan duduk bersila teratai, lalu diperintahkan mengamati jalan napasnya sendiri. Paman Kedai berkata bahwa pernapasan berperan besar dalam mengatur jalan pikiran. Latihan pernapasan ini juga membantunya untuk berpikir tenang.


Latihan itu berlangsung tanpa banyak, jeda kiranya selama satu purnama.


Kiranya Mantingan dapat berpikir lebih cepat dan lebih tenang sedaripada biasanya. Wajah yang awalnya keras kini mulai melembut, seiring dengan tenangnya pikiran. Orang-orang yang melihat Mantingan pastinya akan berpikir bahwa Mantingan adalah orang terpelajar, atau bahkan orang yang ahli filsafat.


Latihan kedua masihlah latihan pernapasan, tetapi latihan kali ini tidak dilakukan hanya dengan duduk bersila. Mantingan harus tetap mengendalikan napasnya dalam situasi apa pun. Saat ia berjalan, ia diharuskan memperhatikan jalan napasnya selain jalan setapak di depannya. Bahkan saat berlari pun Mantingan perlu mengatur jalan napasnya.

__ADS_1


Mungkin latihan itu terdengar mudah, tetapi nyatanya sangat rumit jika dilakukan. Tidak ada teknik atau tata cara mengenai hal ini, maka dari itu Mantingan juga harus melakukan pengenalan mendalam terhadap dirinya sendiri. Ia harus menemukan sendiri tata cara yang cocok untuknya, sedangkan gurunya hanya memberikan dasar-dasarnya saja.


***


Pernah suatu ketika Mantingan mendapat keterangan lengkap tentang Perguruan Angin Putih yang sebenarnya. Sudah lama Mantingan menanyakan ini, tetapi baru dijawab oleh gurunya ketika dirinya hendak memasuki latihan tingkat ketiga.


“Perguruan Angin putih bukanlah perguruan sesat seperti apa yang biasa disebut orang-orang. Justru sebaliknya, Perguruan Angin Putih inilah satu-satunya di Javadvipa, bahkan bukan tidak mungkin satu-satunya di Dwipantara, yang masih mempertahankan ilmu Kebenaran.”


“Ilmu Kebenaran seperti apakah itu, Kiai Guru?”


“Kebenaran yang pernah ada di Nusantara, Mantingan. Bahkan ajaran inilah yang digariskan akan berjaya pada garis waktunya. Kebenaran ini bersumber dari satu, Sang Kebenaran. Nusantara dulunya selalu mempertahankan ilmu kebenaran itu sampai waktu bangkitnya tiba.”


"Darimanakah kita bisa tahu bahwa kebenaran itu sedang berjaya?"


"Saat seluruh aspek kehidupan bersumber pada Kebenaran, dan memakai Kebenaran untuk hidupnya. Kejayaan Kebenaran ditandai oleh runtuhnya pemerintahan buatan manusia, dan digantikan dengan pemerintahan yang bersumber dari Gusti. Aturan Kebenaran. Karena memang, Kebenaran ini tidak bisa dilepaskan dari dunia politik jika ingin berjaya."


“Akan ada waktunya, Mantingan.” Kedai tersenyum. “Kini giliran Kesesatan yang berjaya.”


Mantingan mengernyit bingung. “Bukankah Kesesatan itu paling dibenci Gusti?”


“Ya, benar.”


“Mengapakah Gusti tidak menghancurkan saja Kesesatan itu dan menggantinya dengan Kebenaran?”


Mantingan tengah memikirkan, jika saja Kesesatan adalah hal yang dibenci oleh-Nya, lalu mengapa Kesesatan itu masih berjaya sampai sekarang ini? Mantingan tentu melihat keadaan, bahwa memang kondisi saat ini tidaklah terlalu bagus. Lihatlah bagaimana orang-orang membunuh warga-warga biasa hanya untuk meraih kekuasaan. Dan lihatlah bagaimana kesejahteraan yang hanya dapat dinikmati kalangan tertentu, sedangkan kalangan-kalangan kecil yang tersisa tanpa sadar memperbudak diri demi kesejahteraan kalangan-kalangan itu.

__ADS_1


Di dalam goa ini, Mantingan merasakan kedamaian dan kesejahteraan yang seakan tiada habisnya. Makanan melimpah pada alam di sekitarnya. Ketiadaan masalah duniawi berat membuat Mantingan merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Mungkin inilah alasan mengapa manusia selalu bersemangat menaiki gunung, mereka ingin merasakan kedamaian. Ini pula alasan mengapa Kiai Guru Kedai memilih gunung sebagai tempat pelatihan.


Tetapi tetap saja pada akhirnya, Mantingan akan turun gunung nantinya, berkecimpung lagi pada masalah duniawi.


“Gusti memberi giliran bagi Kesesatan untuk berkuasa pula. Telah ia gariskan waktu kebangkitan kekuasaan dan keruntuhan kekuasaan. Sebagai manusia, kita hanya bisa menerima itu dengan lapang dada. Jika hari ini kita hidup saat Kesesatan diberikan giliran kekuasaan oleh Gusti, maka nikmatilah walau itu berarti penderitaan.


"Karena jika tiada Kesesatan, maka manusia tidak bisa menyadari apa itu Kebenaran sebenarnya. Dan manusia akan hidup seperti hewan. Lihat saja hewan, mereka hidup tanpa memandang sesat dan benar. Sehingga mereka hidup seperti itu-itu saja."


Mantingan mengangguk pelan. “Jika Kebenaran yang sedang berkuasa, maka kita harus mengikuti Kebenaran itu, bukan?”


“Ya, benar.”


“Bagaimana kalau Kesesatan yang sedang berkuasa, apakah kita musti mengikutinya jadi sesat juga?”


Kedai tersenyum. “Tidak, Mantingan. Manusia harus tetap mengimani Kebenaran itu, walau dunia sedang berada dalam Kesesatan. Karena Kebenaran berasal dari Gusti, sedangkan Kesesatan itu dibuat-buat oleh manusia.”


Mantingan mengernyit. “Bukankah Kesesatan itu berasal dari Iblis?”


“Iblis itu hanya perumpamaan sajalah, untuk manusia yang enggan tunduk patuh pada Gusti.” Kedai memperbaiki posisi duduknya. “Apakah engkau sudah cukup pemahamannya tentang Kebenaran dan Kesesatan?”


“Ya, sekiranya sudah, Kiai Guru.”


“Jelaskan secara ringkas padaku, sebelum kita melanjutkan pembahasan tentang Perguruan Angin Putih!”


Mantingan mengangguk. “Kebenaran dan Kesesatan adalah dua hal yang berbeda, dan masing-masing diberikan giliran untuk dapat berkuasa. Kebenaran berasal dari Gusti, sedang Kesesatan berasal dari manusia. Dan sekarang ini, sepertinya Kesesatan yang sedang berkuasa.” Mantingan menghela napas. “Kiai Guru, kapankah Kebenaran akan berkuasa?”

__ADS_1


Kedai berpikir sejenak, lalu menjawab, “Daku tidak mengetahui itu secara pasti, akan tetapi kuperkirakan Kebenaran akan bangkit 200 tahun lagi.”


Mantingan tertawa pelan. “Itu artinya daku harus menikmati penderitaan sampai akhir hayat.”


__ADS_2