Sang Musafir

Sang Musafir
Pertarungan di Bawah Air


__ADS_3

NAMUN, tidak seperti pendekar-pendekar sebelumnya yang dapat Mantingan taklukan dengan mudah. Pendekar yang ia sergap kali ini menunjukkan perlawanan berarti.


Seperti telah menunggu kehadiran Mantingan, pendekar itu melompat ke atas permukaan, di sela-sela jari tangannya terdapat beberapa pisau terbang. Tetapi Mantingan bereaksi tidak kalah cepat. Sesaat sebelum kaki pendekar itu keluar dari permukaan air, Mantingan telah menariknya lebih dulu kembali ke bawah.


Lawannya itu kembali masuk ke dalam air, bergemul dengan Mantingan bagaikan dua ikan besar yang sedang bertarung.


Mantingan dihadapkan oleh serangan tangan kosong bertubi-tubi dari pendekar yang telah ditariknya itu. Mantingan tidak bisa menghindari semua serangan yang mengarah padanya, namun ia tidak mendapat luka yang berarti.


Kini Mantingan harus menghadapi perubahan serangan dari musuh. Yang awalnya berupa serangan tangan kosong, kini mulai berganti dengan serangan bersenjata pisau.


Mantingan tidak pernah melatih dirinya menghadapi pendekar yang mempersenjatai diri dengan pisau. Ia pernah berlatih sekali, namun itu hanya saat dirinya masih berada di bawah bimbingan Kiai Kedai. Mantingan tidak pernah melatih diri menghadapi serangan pendekar berpisau lagi setelah itu.


Maka dari itu, Mantingan tidak mau lagi lengah dalam menghadapi serangan. Karena satu tusukan pisau saja di bagian berbahaya di tubuhnya, bisa langsung mengantar nyawa ke alam baka.


Mantingan masih ragu untuk mengeluarkan Pedang Kiai Kedai dari sarungnya. Apakah musuh memang perlu dibunuh atau dibiarkan hidup. Mantingan belum tahu apa tujuan pendekar itu bergerak ke arah Bidadari Sungai Utara secara diam-diam, ia lebih dahulu menyerang pendekar itu, dengan maksud melumpuhkannya saja tanpa membunuh.


Namun semakin bertambahnya waktu, keadaan Mantingan semakin memburuk. Dia terdesak. Serangan lawan mulai membesit lengan dan bahunya. Hanya tentang waktu saja sampai pedang itu menghunjam dadanya.


Masih di dalam air itu juga, Mantingan mengembuskan napas panjang, menciptakan gelembung-gelembung udara yang naik ke atas. Dicabutlah Pedang Kiai Kedai dengan penuh keyakinan.


Sekali Pedang Kiai Kedai tercabut, maka saat itulah lawan-lawan jatuh berguguran. Mantingan menancapkan ujung pedang lenturnya itu masuk ke dalam dada lawan. Lalu dengan cepat, ia menarik lagi Pedang Kiai Kedai dan segera menyarungkannya dengan penuh penghormatan.


Darah lawan menyembur deras, mengubah air sungai yang dilewatinya menjadi warna merah. Setelah berhasil melancarkan serangan pada lawannya, Mantingan berenang cepat ke arah yang berkebalikan dengan arus sungai.

__ADS_1


Setelah agak lama berenang, Mantingan naik ke atas permukaan. Dari jauh, ia masih bisa melihat Bidadari Sungai Utara yang juga bergerak menjauhi air sungai. Kemudian Mantingan menghela napas panjang, memikirkan pembunuhan yang baru saja ia lakukan. Mungkin yang ia lakukan itu adalah yang terbaik, atau mungkin pula yang terburuk.


***


MANTINGAN KEMBALI mengikuti langkah Bidadari Sungai Utara yang tampak sangat gusar dan kesal itu. Di sepanjang perjalanan, Mantingan terus mendengar gerutuan Bidadari Sungai Utara yang mengeluhkan kehidupannya yang tidak pernah tenang di tanah Javadvipa.


“Pendekar-pendekar sialan. Selalu membuat kehidupan orang jadi tidak tenang saja! Kemarin pria brengsek yang bernama Mantingan telah membuatku kecewa, kini ada pula pendekar yang mengganggu mandiku.”


Mantingan hanya bisa tersenyum tipis saat ia mendengar ucapan dari gadis tersebut.


“Andai saja aku tetap di Champa, pasti aku sudah menikah dengannya. Oh kekasihku yang malang di Champa, maafkanlah aku yang telah mencintai orang lain selain diri engkau sendiri,” katanya dalam bahasa Sanskerta.


Kemudian Bidadari Sungai Utara terdengar berkata-kata dengan bahasa asal Champa. Maka Mantingan tidak mengerti apa yang selanjutnya dia ucapkan. Namun, Mantingan merasa lebih baik tidak mengerti ucapan Bidadari Sungai Utara ketimbang perasaannya sakit.


Mantingan yang melihat itu hanya bisa mengangguk puas. Kepuasannya bukan karena melihat pakaian kotor yang dikenakan Bidadari Sungai Utara, rasa puasnya di dapat setelah melihat Bidadari Sungai Utara mulai mengerti tentang arti beratnya pengembaraan. Sehingga suatu saat nanti setelah Mantingan kembali berjalan bersama Bidadari Sungai Utara, gadis itu dapat lebih menghargai pengorbanan Mantingan.


Dari pucuk pohon tertinggi, Mantingan mendapat jangkauan pandang lebih jauh ketimbang Bidadari Sungai Utara. Maka pemuda itu dapat melihat kepulan asap tipis jauh di sebelah utara.


Ia tahu bahwa asap tipis itu bukan berarti bencana maupun sebuah penyerangan. Itu adalah tanda-tanda keberadaan desa yang penuh kegiatan. Mantingan dulunya pernah menyangka bahwa kepulan asap seperti ini bertanda bahaya, namun kemudian ia mengetahui bahwa kepulan asap itu berasal dari sebuah desa.


Biasanya, desa yang mengepulkan banyak asap adalah desa pengrajin makanan. Rata-rata penduduknya adalah pedagang makanan. Di belakang rumah mereka biasanya dibangun dapur dan tungku besar. Kepulan asap di desa pengrajin makanan adalah pertanda baik karena banyak pesanan yang sedang mereka kerjakan.


Sepertinya jalan yang dilewati Bidadari Sungai Utara saat ini akan membawanya menuju desa itu. Apakah itu baik atau tidaknya, Mantingan tetap tidak mau terlalu banyak ikut campur. Selama gadis itu memakai cadar, maka dirinya akan aman-aman saja. Mantingan terus melindunginya secara diam-diam.

__ADS_1


***


DI LUAR dugaan, Bidadari Sungai Utara melewatkan desa begitu saja setelah beberapa kali melirik ke dalam. Gadis itu terlihat menggeleng pelan. Mantingan langsung memahami keadaan, gadis itu sebenarnya sangat lapar namun tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli makanan. Maka, tidak diherankan lagi alasan mengapa gadis itu tidak mampir ke dalam desa.


Mantingan melihat salah satu penduduk desa menghampiri Bidadari Sungai Utara sambil membawa sepiring umbi-umbian rebus. Mantingan memilih untuk sekadar mengamati apa yang akan terjadi.


“Saudari, tunggulah!”


Bidadari Sungai Utara yang mendengar itu lekas menoleh ke belakang. “Ya, ada apa?”


“Saudari, ini ada beberapa makanan yang bisa saya berikan pada Saudari. Dagangan saya laku keras hari ini, sudah kewajiban saja untuk berbagi pada sesama.”


Bidadari Sungai Utara mengibaskan lengannya. “Saya rasa, saya tidak butuh ini.”


“Saudari pasti membutuhkan ini.” Orang yang merupakan perempuan remaja itu tersenyum hangat. “Terimalah.”


Bidadari Sungai Utara menatap gadis remaja di depannya dengan haru. Penuh rasa terima kasih, gadis itu terlihat menerima sepiring penuh umbi-umbian.


“Bagaimana dengan piringnya?” Bidadari Sungai Utara berkata ramah.


“Tidak perlu, Saudari, saya memiliki banyak piring seperti ini di kedai.”


“Ah ... kalau begitu saya berterima kasih sedalam-dalamnya pada Saudari.”

__ADS_1


Mantingan tersenyum senang. Di bawah sana, Bidadari Sungai Utara dan gadis remaja itu terlihat berbasa-basi sejenak sebelum saling berpamitan. Bidadari Sungai Utara membawa sepiring umbi-umbian itu bersamanya.


__ADS_2