Sang Musafir

Sang Musafir
Serangan di Pintu Kamar


__ADS_3

Gadis itu jelas mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya jika sampai tertangkap, sesuatu yang bahkan masih ia sembunyikan dari Mantingan hingga saat ini.


Sepatah kalimat terucap dari bibir merahnya, “Jika aku tamat di sini, maafkanlah aku, Mantingan.”


Ia menarik gagang pintu hingga terbuka barang sedikit. Badannya berputar ke sebelah kiri—menuju celah kecil yang terbuka bersamaan dengan terbukanya pintu tersebut, menghindari tusukan-tusukan bilah pedang berkilauan yang menembus badan pintu. Dari celah kecil itulah lima lembar Lontar Sihir Cahaya melesat keluar dalam keadaan yang hampir meledak menjadi kilauan cahaya terang-benderang.


***


MANTINGAN tidak perlu heran jika sang kepala pasukan membuat keputusan itu. Bahwa harus ia mengetahui bahwa yang utama bagi Pasukan Topeng Putih sekarang adalah keselamatan Bidadari Sungai Utara, yang betapa pun akan menjadi kunci keberhasilan rencana besar Tarumanagara menyergap para pengacau di lautan.


Ini bukan tentang seorang Bidadari Sungai Utara yang harus diselamatkan hingga butuh pengorbanan jiwa dari para pendekar dari Perguruan Angin Putih dan pihak lainnya. Sama sekali bukan. Ini adalah tentang nyawa ribuan, bahkan mungkin jutaan rakyat Tarumanagara dan Suvarnabhumi dari jeratan kekacauan di masa mendatang.


Bukan hanya itu, jikalau rencana penyergapan tersebut menemui keberhasilan, maka Tarumanagara akan bangkit dari keterpurukannya. Dan bagaimanapun jua, sebuah kekuasaan yang sedang terpuruk akan sangat mudah diserang dan disusupi oleh bangsa asing yang melihat kesempatan dalam kesempitan.


Mantingan tidak ingin Tarumanagara berakhir seperti bangsa pribumi yang pernah diceritakan oleh dua juru masak di Penginapan Bunian Malam yang sekarang sudah tewas terbunuh itu.


Maka sekalipun pelabuhan ini harus hancur sehancur-hancurnya hingga sukar untuk dikenali, itu sangat jauh-jauh lebih baik ketimbang Tarumanagara yang indah permai nan sejahtera ini harus kandas menjadi sebatas nama di atas prasasti.


Mantingan terlepas dari lamunannya ketika sang kepala pasukan memanggil dirinya untuk kemudian memberikannya sebuah jubah pendek berwarna putih bersih serta sebuah topeng dengan bentuk wajah tersenyum lebar yang tentunya berwarna putih pula.


Mantingan segera menerima dan memakainya.


Bergeraklah seluruh Pasukan Topeng Putih yang ada di dekat pintu gerbang pelabuhan itu menuju Penginapan Bunian Malam dengan cara berlentingan di atas atap-atap bangunan yang mungkin saja akan hancur sebentar lagi.


Tidak diperlukan waktu lama bagi Mantingan serta seluruh regu Pasukan Topeng Putih untuk sampai di dalam lingkungan Penginapan Bunian Malam.

__ADS_1


“Bentuk Barisan Elang Menerkam Alap-Alap!” Kepala pasukan berteriak lantang, yang dengan segera mengubah segala tata bentuk barisan pasukan di bawah kendalinya.


Seluruh pendekar bertopeng putih itu melentingkan diri menuju atap penginapan. Beberapa dari mereka berdiri di pinggiran genting dengan pedang disampirkan ke samping, sedangkan pendekar yang tersisa membentuk barisan di belakang pendekar-pendekar itu.


Sedangkan Mantingan sendiri berada di tengah-tengah mereka bersama dengan hulubalang, tentu saja dengan jantung yang amat berdebar-debar menunggu kedatangan musuh.


Angin berembus cukup kuat di atas sana. Jubah Pasukan Topeng Putih menjadi berkibar-kibar dibuatnya. Namun amat disayangkan, kebanyakan dari jubah yang mereka kenakan tidak lagi berwarna putih sepenuhnya, melainkan tercampur pula dengan noda merah darah setelah melewati pertempuran dengan ratusan pendekar musuh di depan pintu gerbang pelabuhan. Akan tetapi, justru hal itulah yang membuat Pasukan Topeng Putih tampak lebih sangar dan mengerikan di mata siapa pun jua.


Mantingan kemudian melihat ke arah utara. Pertempuran di lautan masih berlangsung dengan sangat sengit. Dari yang terlihat, pasukan musuh menambah dua kapal perang untuk mengimbangi kekuatan armada Padepokan Angin Putih.


Mantingan berhenti memperhatikan pertempuran di lautan, sebab betapa pun yang menjadi pengutamaannya saat ini adalah pertempuran di daratan.


Mereka masih menunggu tanda-tanda bahaya dari menara pelabuhan.


“Sepertinya yang akan datang nanti adalah Pasukan Macan Gunung, Saudara.” Sang kepala pasukan berkata dengan nada getir di antara desau angin.


Jika hal itu sampai terjadi, Mantingan agaknya perlu mengandalkan Bidadari Sungai Utara untuk terlibat langsung ke dalam pertempuran. Betapa pun, gadis itu mempunyai kemampuan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Mantingan dan gadis itu bisa memainkan Jurus Sepasang Bangau Menyambar Ikan yang terkenal sangat cepat dan mematikan.


Ketika Mantingan masih terpaku di tengah atap penginapan, diterpa embusan angin kuat dari arah depannya, di saat itulah tetiba saja dirinya merasakan hawa pembunuh yang tak jelas datang dari arah mana.


Mantingan menutup matanya sebelum menyebar Ilmu Mendengar Tetesan Embun ke sekitarnya. Dalam keterpejamannya, ia dapat melihat segala wujud bidang suatu benda yang terpantul oleh gelombang suara dalam jarak sebelas tombak jauhnya.


Ia dapat melihat pendekar-pendekar yang berdiri di atap bersamanya, burung-burung laut yang terbang ke daratan, bahkan pula gerakan angin meski dengan mata betul-betul terpejam.


Namun dalam keterpejamannya yang khusyuk itu, ia menemukan sesuatu yang sungguh tidak sewajarnya ada.

__ADS_1


Di dalam lorong lantai dua penginapan, pendengarannya menangkap empat sosok orang yang berdiri sambil menghunus pedang di depan pintu kamarnya. Diiringi pula dengan suara bisikan-bisikan Bidadari Sungai Utara dan Kana yang tidak terlalu jelas dapat didengarnya.


Jantung Mantingan yang sebelumnya telah berdebur kuat itu semakin kuat jadinya! Kakinya serasa lemas dan tanpa daya, namun ia tahu bahwa dirinya harus bergerak secepat mungkin memergoki mereka!


Maka tanpa meminta izin atau memberikan tanda apa pun kepada hulubalang, Mantingan berkelebat amat cepat ke udara. Membiarkan tubuhnya terjun bebas hingga sampai di bagian lantai dua penginapan.


Pada salah satu jendela kamar penginaoan yang terbuka, Mantingan melompat masuk. Begitu kakinya menjejak lantai, ia kembali berkelebat secepat kilat. Mendobrak pintu kamar yang sebenarnya terkunci hingga terempas hancur ke luar.


Mantingan menyeret kakinya sehingga berbelok ke kanan. Di antara serpihan pintu kayu yang melayang-layang, ia dapat melihat empat pendekar menghunus pedang yang tadi hanya dilihat oleh pendengarannya saja! Bahkan kini mereka secara bersamaan telah menusukkan pedang itu menembus pintu kamarnya!


Mantingan buncah bukan main. Jika Bidadari Sungai Utara sedang berada di belakang pintu itu, maka melayang sudah nyawanya!


Mantingan melaju dengan kecepatan lima kali menembus kecepatan suara. Tubuhnya diselimuti kabut tipis akibat pergerakan yang telah lebih dari cepat itu. Pedang Kiai Kedai ditarik keluar dari sangkarnya, segera dihunus ke depan. Berdesing!


Namun tetiba saja, Mantingan melihat lima butir cahaya putih keluar dari celah pintu kamarnya. Lima butir cahaya itu melaju cepat menuju empat orang pendekar di depan pintu kamarnya. Dan tiba-tiba saja meledak menjadi kilauan cahaya putih terang yang benar-benar membutakan mata!


Mantingan tidak sempat menutup matanya sama sekali. Ketika butiran-butiran cahaya itu meledak, matanya seketika terbutakan oleh sinar putih. Bagaikan sedang menatap matahari tiada hentinya.


Mantingan tidak sempat menebak asal-usul cahaya putih yang melesat keluar dari celah pintu kamarnya itu, sebab sebenarnyalah laju badannya telah hampir menyamai laju kecepatan berpikirnya. Mantingan tidak dapat membuang-buang waktu dengan pikiran yang tidak perlu, maka segeralah ia menggunakan waktu itu untuk mencari cara membunuh musuh meski dengan matanya telah terbutakan.


Dalam waktu yang sedemikian singkatnya itu, Mantingan masih mampu menemukan jawaban atas pertanyaannya!


Maka ia memejamkan matanya rapat-rapat dan membiarkan tubuhnya terus melaju ke depan. Diedarkannya Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk mengetahui letak keberadaan lawan.


Namun nyatanya, untuk dapat mengetahui keberadaan lawan secara pasti sangat sulit dilakukan sekalipun telah menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun. Jika Mantingan melaju dengan kecepatan menembus lima kali kecepatan suara, lalu bagaimanakah kiranya ia mampu menangkap seluruh suara di sekitarnya dengan jelas?

__ADS_1



__ADS_2