Sang Musafir

Sang Musafir
Melatih Kana


__ADS_3

SELESAI SUDAH pembersihan racun yang dilakukan Bidadari Sungai Utara terhadap diri seorang Mantingan. Gadis itu meminta Mantingan untuk segera membersihkan diri di tempat pemandian belakang toko. Mantingan juga diminta untuk mengganti celananya dengan celana baru. Beruntunglah, Toko Obat Wira telah menyediakan pakaian ganti untuk pelanggan-pelanggannya.


Setelah membersihkan diri dan mengganti celana dengan celana serba putih, Mantingan menemui Kana serta Kina dan berkata pada mereka untuk segera pulang. Awalnya mereka tampak tidak bersemangat dan beralasan masih belum bertemu Bidadari Sungai Utara. Namun Mantingan mengabarkan bahwa Bidadari Sungai Utara akan menginap malam


—mereka langsung bersorak gembira.


“Kita akan melakukan banyak hal menyenangkan bersama Kakak Sasmita!” Kana bersorak girang. Ditanggapi adiknya yang berucap sedemikian rupa. Lalu katanya lagi, “Kalau Kak Sasmita menginap, kita bisa mendengar banyak dongeng sebelum tidur.”


“Apa katamu, Kana?”


Raut wajah Kana berubah setelah mendengar itu. “Kakak tidak mau mengacaukan kegembiraanku lagi, bukan?”


Mantingan tersenyum lembut, berkata dengan lembut pula, “Kana, kau tidak boleh tidur bersama perempuan di usiamu yang sekarang. Kau tidur di kamarmu sendiri. Atau kalau tidak, kau tidur bersamaku, jika tidak mau sendiri.”


“Kak Man, yang benar saja ....” Kana menunjukkan keberatannya. “Aku tidak takut sendirian, tetapi aku tidak pernah tidur bersama Kak Sasmita sebelumnya. Kina berkata padaku bahwa Kak Sasmita selalu menceritakan banyak dongeng sebelum tidur, aku juga ingin merasakannya.”


Mantingan berkata lembut dengan masih mempertahankan senyumnya. “Ya, kau masih boleh mendengarkan dongeng dari Kak Sasmita, tapi tidak jika tidur bersamanya.”


“Kakak Man, aku ingin mendengar dongeng sampai ketiduran. Itu akan terasa seperti diselimuti kedamaian. Aku sudah lama tidak merasakan itu.”


“Kalau begitu, datanglah ke kamarku. Akan kuceritakan ilmu-ilmu bela diri sampai kautidur.”

__ADS_1


Kana terdiam untuk beberapa saat, atau lebih tepatnya ia tercenung. “Benarkah itu, Kakak Man?”


“Benar.” Mantingan tersenyum lebar, merasa senang perkataannya telah tepat sasaran.


“Kalau begitu, malam ini aku akan tidur di kamar Kakak Man. Asalkan Kakak berjanji akan mengajariku jurus-jurus silat.”


“Ya, aku akan mengajarimu seni keterampilan berpedang. Jadi, lekaslah kita pulang dan kita tunggu malam datang.”


“Aku tidak merasa keberatan sama sekali, marilah kita pulang!”


***


Sore itu. Di halaman rumah yang penuh oleh tunas-tunas bunga. Kana sedang menggenggam pedang kayu yang dibuatkan Mantingan untuknya. Lelaki cilik itu memang tidak bisa sabar menunggu datangnya malam, meminta Mantingan melatihnya sebelum matahari terbenam.


Namun, siapakah juga yang menyangka bahwa ia hanya diperintahkan memasang kuda-kuda sambil menggenggam pedang kayu? Kana sudah menyampaikan keberatannya kepada Mantingan, namun ditolak mentah-mentah. Saat dia mencari dukungan dari Bidadari Sungai Utara, gadis itu malah memintanya untuk segera memasang kuda-kuda.


Saat ini, Mantingan sedang menyirami tunas-tunas bunganya. Sedangkan Bidadari Sungai Utara duduk bersama Kina di teras, mengawasi Kana sekaligus bermain masak-masak bersama Kina.


Kana berpikir bahwa dirinya sedang mengalami nasib sial hari ini. Tanpa ia sadari bahwa latihannya hari ini sangat berguna di hari esok. Dan suatu saat nanti, ia pasti memahaminya.


Dan Mantingan ... ia terlihat tidak memperhatikan Kana, sedikitpun tidak. Namun tanpa diketahui anak itu, Mantingan terus memperhatikannya. Mantingan bisa mengetahui kelemahan seseorang. Ia hanya perlu memikirkan latihan apa yang akan menutupi kelemahan anak itu.

__ADS_1


Namun ada sedikit keraguan yang hinggap dalam diri Mantingan. Tentang apakah ia akan terus melatih bocah itu atau menyudahinya hari ini pula. Ia juga meragukan apakah anak seumuran Kana bisa menerima segala sesuatu di dalam dunia persilatan? Sekalipun bukan dunia persilatan, apakah Kana bisa memanfaatkan seni bela diri untuk tujuan yang baik?


Maka setelah itu, Mantingan menemukan tata cara pengajaran terbaik untuk Kana. Selain seni bela diri, Kana juga harus mempelajari ilmu Kebenaran. Seperti apa yang telah dipelajarinya dari Kiai Guru Kedai.


Gurunya itu pernah berkata, “Ilmu persilatan hanya akan merusak tanpa landasan ilmu Kebenaran. Ilmu persilatan akan menebar kesengsaraan dan bukan kedamaian. Kelaparan bukan kesejahteraan. Kutuk bukan berkat. Kekurangan bukan kelimpahan. Benci bukannya cinta. Itulah yang terjadi saat ini. Janganlah sesekali engkau terjerumus ke dalam kehidupan sesat itu. Jadilah pendekar yang membawa kedamaian, kesejahteraan, berkat, dan kelimpahan dalam setiap langkahmu. Maka sekalipun engkau mati, engkau tidak perlu takut, kau mati di jalan yang benar.”


Pernah pula Kiai Guru Kedai menekankannya. “Jika sampai engkau terjerumus ke dalam kehidupan sesat, sesungguhnya aku sebagai gurumu akan merasa gagal mendidik murid, dan aku sebagai seorang guru berhak menghentikan muridnya yang telah melenceng dari ajarannya. Tak peduli jika itu harus membunuh muridnya sendiri!”


Setelah mengingat-ingat perkataan Kiai Guru Kedai, Mantingan lekas menemukan jawaban yang dicari-carinya. Kiai Guru Kedai pernah berkata, “Tidak ada kata terlambat untuk belajar, namun ada kata terlalu dini untuk belajar. Seorang bayi yang baru lahir tidak bisa diajari cara membuat bayi lainnya.”


Jadi begitulah. Kana tidak sebaiknya memasuki sungai telaga persilatan di usia yang terlalu dini. Itu akan berbahaya untuknya yang belum melewati masa-masa keremajaan. Mantingan jelas mengetahui bahwa masa-masa remaja adalah masa yang rentan. Kana akan tetap mempelajari ilmu bela diri, namun tidak langsung menjurus pada ilmu kependekaran.


Setelah menemukan jawaban atas pertanyaannya, Mantingan mulai beralih pandang dari Kana menuju bunga-bunga tanamannya.


Di halamannya, yang juga bisa disebut kebun, Mantingan membuat beberapa barisan gundukan tanah. Di gundukan-gundukan itulah yang kemudian ditanami bunga-bunga pengobatan. Sekarang bunga-bunga itu memang masih berbentuk tunas, namun dalam waktu kurang dari satu bulan akan menjadi bunga dewasa yang siap menghasilkan.


Mantingan tidak hanya menanam bibit bunga yang ia dapatkan dari toko, melainkan juga bibit bunga yang telah tertanam di perkemahannya dulu. Mantingan masih membawa bibit-bibit bunga itu di dalam bundelannya. Di antara lain yang ia bawa adalah Bunga Sari Ungu, Bunga Aroma Kematian, dan hampir seluruh bunga yang berhasil ditanam oleh Mantingan.


Akan tetapi teruntuk Bunga Aroma Kematian, Mantingan masih belum memiliki cara untuk menanamnya di lahan yang terbatas. Mantingan mengingat bahwa Bunga Aroma Kematian sungguh cepat pertumbuhan dan penyebarannya. Jika bunga itu tidak dibatasi penyebarannya, maka sudah pasti akan mengganggu tanaman-tanaman lainnya. Terlebih aroma bunga tersebut amat sangat busuk, pasti akan membuat tetangga-tetangga di sekitar Mantingan akan merasa terganggu.


Maka untuk saat ini, Bunga Aroma Kematian tidak ditanam terlebih dahulu. Setidaknya, sampai Mantingan menemukan cara aman untuk menanamnya. Tak peduli seberapa tinggi harga jual Bunga Aroma Kematian.

__ADS_1


__ADS_2