
MANTINGAN mempertimbangkan cidera yang paling ringan sampai cidera yang paling buruk.
Jika dirinya ditekan hingga ke sudut dinding, maka cidera yang akan dialaminya begitu parah hingga membuatnya mati dalam sekejap mata.
Lalu jika dirinya diam saja tanpa bergerak mundur, maka ketiga lawannya akan mengepungnya dan cidera yang ia alami akan jauh lebih buruk.
Namun jika Mantingan justru maju menyerang dengan menggunakan segenap tenaga dalamnya, maka cidera yang dialaminya mungkin cukup parah tetapi tidak sampai ke taraf mematikan. Lagi pula dengan cara itu, ia memiliki sedikit kemungkinan untuk memenangkan pertempuran meskipun kemungkinan itu satu banding seribu.
Maka dengan begitu, Mantingan mempercepat laju tubuhnya ke belakang menggunakan Ilmu Mengendalikan Angin, mendekati sudut ruangan. Sebelah kakinya itu menapak kuat-kuat pada tembok ruangan, dan membawa Mantingan berkelebat lebih cepat ke arah depan sambil dirinya mengirim tiga serangan besar Tapak Angin Darah menuju kepada tiga pendekar musuhnya.
PENG!
Dalam peristiwa yang berlangsung dengan tak kasat mata itu, telah terjadi benturan keras di udara. Gelombang kejut yang dihasilkan kuat sekali, menghamburkan seisi aula penginapan. Dentang logam memekakkan gendang telinga para penonton di luar dengan dengung suaranya.
Barang seketika setelah benturan keras itu terjadi, empat sosok manusia mendarat di atas ubin kayu penginapan dengan keadaan yang tidak dapat dikatakan bagus.
Tiga pendekar berpakaian serba hitam yang berasal dari Kelompok Pedang Intan itu berdiri membelakangi Mantingan.
Tangan mereka masih menggenggam pedangnya masing-masing, akan tetapi pedang-pedang yang terbuat dari permata intan itu masing-masingnya telah patah menjadi dua bagian! Tangan dan pedang mereka tampak masih bergetar hebat.
Sedangkan itu, darah mulai merembes turun dari balik jubah kelabu Mantingan, menetes, menggenangi lantai kayu di bawahnya. Tiga bilah pedang yang patah itu ternyata menancap di punggungnya!
Keheningan tercipta. Orang-orang awam dan Bidadari Sungai Utara menatap mereka dengan raut wajah yang amat sangat tegang.
Para awam itu hanya dapat menerka-nerka saja tentang apa yang telah dilakukan mereka hingga berakhir seperti ini.
Namun, Bidadari Sungai Utara dengan jelas melihat bahwa Mantingan telah menerobos keluar dari jebakan tiga pendekar dengan Jurus Tapak Angin yang dipadukan dengan Jurus Membelah Angin!
Tiba-tiba saja, tiga pendekar berpakaian serba hitam itu ambruk ke lantai dengan sebuah tapak tangan tercetak jelas di dada mereka masing-masing. Sedangkan Mantingan sudah tidak terlihat lagi di tempatnya.
Dan tanpa disadari oleh yang lainnya, menghilangnya Mantingan itu dibarengi menghilangnya Bidadari Sungai Utara dari kerumunan.
***
__ADS_1
SENJAKALA jika dipandangi dari tepi pantai memanglah sangat menakjubkan. Seolah Sang Hyang sedang memamerkan lukisan indahnya. Sehingga tidak perlu heran jika orang-orang berkumpul di dermaga menatap kepergian sang pemberi kehidupan.
Akan tetapi berbeda dengan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara yang sungguh tidak dapat memandangi keindahan itu.
Bersila di atas ranjangnya, Mantingan menahan kesakitan yang mahadahsyat akibat pengobatan yang dilakukan Bidadari Sungai Utara pada lukanya.
Kamar yang gelap itu hanya diterangi sebuah Lontar Sihir Cahaya. Jendela dan lubang angin ditutup untuk memastikan tidak ada satupun pendekar mata-mata yang mengintip setelah kejadian siang itu. Sehingga dapat dikata, kamar itu cukup pengap.
Bidadari Sungai Utara membekam ketiga luka di punggung Mantingan guna menarik racun di dalamnya.
Sebenarnya, bilah pedang yang menancap di punggungnya itu pada awalnya sama sekali tidak dibubuhi racun. Namun setelah Bidadari Sungai Utara selidiki, bilah-bilah itu ternyata menciptakan racunnya sendiri akibat jarang dibersihkan pemiliknya setelah terbasuh darah.
Jika tidak diatasi cepat-cepat, maka racun di dalam tubuhnya itu akan menyebabkan peradangan. Hingga kini, tidak banyak obat peradangan luka yang bisa didapatkan di Javadvipa, sedangkan peradangan merupakan salah satu penyebab kematian terbesar keempat di peperangan atau bahkan dunia persilatan sekalipun.
Beruntunglah Mantingan, Bidadari Sungai Utara memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai untuk mengatasi hal semacam ini.
Setelah dibekam menggunakan cangkir-cangkir kecil hingga mengeluarkan darah hitam, luka-luka Mantingan dibebat bersama ramuan tumbuk. Di sanalah rasa sakit Mantingan telah banyak berkurang meski sama sekali tidak menghilang.
Bidadari Sungai Utara menyeka peluh di wajahnya sambil mengembuskan napas panjang.
Dengan nada membantah, Bidadari Sungai Utara membalas, “Apakah kiranya yang Saudara katakan? Dakulah yang seharusnya mengatakan itu.”
Mantingan hanya tersenyum meski tidak dilihat oleh Bidadari Sungai Utara yang ada di belakangnya.
“Terimalah.” Bidadari Sungai Utara berjalan ke hadapan Mantingan dan menjulurkan beberapa bungkusan daun kering kepadanya. “Ini adalah puyer yang mungkin dapat membantumu mencegah peradangan di masa mendatang jika tidak mendapat pertolongan tabib ahli. Kautahu bahwa diriku tidak bisa menemanimu selamanya.”
Mantingan lekas menerima bungkusan-bungkusan puyer itu dari tangan Bidadari Sungai Utara.
Sembari menimang-nimang bungkusan di tangannya itu, Mantingan berkata, “Bagaimanakah cara menggunakan puyer ini?”
“Cukup taburkan itu pada lukamu,” balas gadis itu sebelum tertawa kecil. “Seperti itu saja dikau tidak tahu?”
“Daku tahu.” Mantingan mengangguk pelan. “Tetapi bagaimanakah jika lukanya berada di punggungku?”
__ADS_1
“Mintalah kepada temanmu untuk melakukan itu.”
“Daku tidak lagi memiliki teman setelah engkau dan anak-anak pergi ke Champa. Tapi ini urusan mudah, daku hanya perlu meminta musuh untuk menaburkan puyer-puyer ini ke punggungku.”
Bidadari Sungai Utara tetap menanggapi candaan Mantingan itu dengan tawaan meski candaan itu sama sekali tidak lucu. Mantingan pun menyadari bahwa dirinya memiliki selera kejenakaan yang sangat tidak bagus, hanya bisa tersenyum canggung.
Tiba-tiba saja, nada bicara Bidadari Sungai Utara berubah. “Daku masih sangat berharap engkau ikut kami ke Champa, Saudara. Dengan begitu, segala pengobatanmu dapat daku tanggung.”
Senyum canggung Mantingan berubah menjadi senyum pahit, tak menyangka sebelumnya jika Bidadari Sungai Utara masih pula meminta hal itu.
“Daku tidak bisa, Saudari. Rumahku adalah di Dwipantara, bukan Negeri Atap Langit.”
“Manusia boleh tinggal di mana pun. Bukankah engkau yang mengatakan itu?”
“Ya, maka dikau harus memperbolehkanku tinggal di Javadvipa.”
Bidadari Sungai Utara berdecak kesal sebelum mulai merapikan alat-alat pengobatannya. “Jika boleh kukatakan, maka Champa jauh lebih indah daripada Javadvipa.”
“Bagiku, Javadvipa tetaplah yang terindah.”
“Dunia persilatan di Tarumanagara sangat tidak aman,” dalih gadis itu berdasarkan apa yang ia lihat dan rasakan selama di sini.
“Karena memang sedang tidak aman keadaannya.” Mantingan membalas enteng, dunia persilatan di Tarumanagara memang sedang tidak aman setelah munculnya para pengacau yang mengusung pemberontakan.
“Kapankah hingga aman kembali?”
“Mungkin setelah engkau pergi dari Javadvipa.”
Bidadari Sungai Utara menatap Mantingan dengan wajah bersemu merah, tanpa ia ketahui kebenaran dari perkataan itu sama sekali.
___
catatan:
__ADS_1
Bonus episode spesial 1000 favorit: 1/2