Sang Musafir

Sang Musafir
Puisi-Puisi Bidadari Sungai Utara


__ADS_3

“Selebih-lebihnya, Lien menceritakan petualangan bersamamu dengan ringkas. Karena dikau telah pasti mengalaminya sendiri, aku merasa tidak perlu menceritakannya lagi.” CHITRA Anggini menarik napas panjang sebelum menyambung perkataannya, “Lien memintaku untuk menyampaikan semua pesannya itu kepadamu, dia berkata tidak akan sanggup untuk menyampaikannya secara langsung kepadamu. Takut berubah pikiran, tidak jadi pulang ke Champa. Sebesar apa pun cintanya kepadamu, pernikahannya dengan putra mahkota Raja Funan tetap tidak boleh dibatalkan, sebab nyawa orang banyak menjadi taruhannya jika pernikahan itu sampai tidak terlaksana.”


Mantingan terpekur sambil menatap kosong ke arah api kecil di celupak yang menari-nari diterpa angin lembut. Meski teramat tidak suka, ia tetap setuju dengan tindakan Bidadari Sungai Utara. Dalam kehidupan kependekaran atau kenegaraan, cinta merupakan hal yang dianggap tabu. Dapat menyebabkan kekacauan yang tiada terkendali. Teringat kisah raja-raja surgawi yang ditaklukkan musuhnya dengan mengirim dewi-dewi cantik untuk dicintai. Bidadari Sungai Utara telah benar dengan tidak mementingkan cintanya, tetap kembali ke Champa untuk menikah, terpaksa meninggalkan Mantingan yang baru menyadari betapa hebat cintanya.


Chitra Anggini kemudian memapas bundelannya di pojok tenda. Mengeluarkan berlembar-lembar lontar yang telah terikat menjadi satu gulungan dengan seutas tali. Gulungan itu dijulurkannya ke arah Mantingan.


“Lien juga memintaku untuk memberikan puisi-puisi ini kepadamu,” kata Chitra Anggini. “Kuharap setelah kuberikan ini, kau tidak akan tambah menyedihkan daripada sekarang ini. Ingatlah bahwa kita masih harus menyelamatkan Tapa Balian secepat mungkin, dan itu tidak akan pernah bisa digapai jika dikau bermuram durja.”


Mantingan menerima gulungan lontar itu. Tangannya sedikit bergemetar. Meneguhkan benak untuk membaca semua puisi-puisi itu nanti. Dengan tidak meneteskan air mata, melainkan dengan senyum bahagia.


“Dan perkara kendi abu milik kekasih lamamu itu ... apakah kau masih menyimpannya?” Chitra Anggini hati-hati bertanya.


“Itu masih dan akan selalu kusimpan.” Mantingan tersenyum, mengingat kendi abu Rara yang kini tersimpan aman di dalam bundelannya.


“Lien berharap itu tetap kamu simpan sampai kapan pun,” ujar Chitra Anggini, “sebagai wujud perdamaianmu dengan masa lalu. Kau selalu mengatakan kepadanya untuk tersenyum hangat kepada mereka yang telah pergi tanpa bisa kembali lagi.”


Mantingan menyeka ujung matanya yang basah. Bidadari Sungai Utara masih mengingat perkataannya itu.


“Maafkan aku, latihan ini menjadi kacau.” Mantingan tersenyum tipis, sebenar-benarnya merasa bersalah.


Chitra Anggini tersenyum sambil menggeleng pelan. “Selalu ada hari esok.”


***


HUJAN baru reda ketika senjakala telah usai, berganti malam; ketika matahari telah tenggelam, berganti rembulan.


Mantingan, Chitra Anggini, dan Munding kembali melanjutkan perjalanan dengan terbang. Berpanduan rasi bintang. Daratan telah menjadi gelap gulita.


Di atas punggung Munding dan di bawah siraman cahaya rembulan, Mantingan dan Chitra Anggini duduk berhadap-hadapan. Saling bersitatap.


Di bawah bintang-bintang cermelang, di antara mega-mega tipis, mereka berdua melatih kemampuan berbicara dalam pandangan mata.

__ADS_1


Mantingan menatap mata Chitra Anggini lekat-lekat, begitu pula dengan Chitra Anggini yang memandang mata Mantingan lekat-lekat.


Sungguh, mereka sampai jarang berkedip. Dan dari tatapan mata yang sekiranya telah berlangsung selama sepeminuman teh itu, Chitra Anggini masih belum dapat menangkap maksud dari tatapan Mantingan!


Sedangkan Mantingan yang sedari awal telah memiliki kemampuan membaca pertanda, teramat mudah baginya untuk menangkap segala maksud tatapan perempuan itu.


“Kau ingin makan dendeng rebus bersama kunang-kunang di tengah telaga.” Mantingan berkata, memecah suara riuh angin. “Bukankah begitu maksudmu?”


Chitra Anggini berdecak kesal tanpa menjawab. Sedang Mantingan tersenyum lebar, tanggapan Chitra Anggini itu secara tidak langsung mengartikan bahwa tebakannya benar.


“Apa tidak lebih baik kita sudahi saja latihan ini?” Chitra Anggini berkata malas, tetapi masih belum melepas tatapannya pada mata Mantingan.


Pemuda di depannya itu menggeleng pelan. “Aku sudah berulangkali menebak isi pikiranmu, wahai Chitra Anggini, dan sebanyak itu pula diriku benar. Sedangkan kau, kau memang sudah menebak banyak kali, tetapi tidak ada satupun yang benar.”


Chitra Anggini berdecak kesal sekali lagi. Perkataan Mantingan itu memang benar, tetapi tidak bisakah jika disimpan saja sehingga tetap menjadi sesuatu yang tiada terungkapkan?


“Terlalu sulit. Kau janganlah memberi perkataan yang terlalu sulit dalam pandangan mata. Ini tidak semudah mendengar cakapan orang yang terucapkan melalui mulut.”


Mantingan kembali menatap mata Chitra Anggini lekat-lekat. Sekuat daya berusaha menyampaikan pesan berupa satu kata. Seharusnya akan teramat sangat mudah untuk menebaknya.


Chitra Anggini pula menatapnya dengan lekat-lekat. Untuk beberapa saat kemudian, kedua kelopaknya terbuka lebar-lebar. Matanya berbinar cerah. Seakan telah menemukan sesuatu!


“Kerbau!” seru Chitra Anggini, “kau sedang berkata ‘kerbau’!”


Mantingan menarik napas panjang sambil menggeleng perlahan. Binar di mata Chitra Anggini lenyap seketika, berganti kegusaran.


“Lantas jika bukan begitu, kata apakah yang hendak kauucapkan?!”


Dengan disertai senyum canggung, Mantingan menjawab, “Lapar.”


***

__ADS_1


MATAHARI menyingsing di ufuk timur sana. Menyembul di antara perbukitan hijau. Samar-samar di balik kabut pagi tipis. Menebar kejinggaannya yang menghangatkan.


Pagi ini. Mantingan, Chitra Anggini, dan Munding Caraka disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa. Teramat luar biasa malahan.


Gerombolan angsa seputih kapas, terbang membentuk barisan segitiga. Munding Caraka dengan sengaja terbang ke arah mereka. Sungguh cerdas kerbau itu, mampu memahami keindahan yang biasanya tidak dipahami oleh binatang kebanyakan.


Kini, mereka telah terbang di antara barisan cangak itu. Luar biasa. Baik Mantingan maupun Chitra Anggini, tidak pernah menyangka akan mendapatkan pengalaman seperti ini meski di dalam mimpi sekalipun. Terbang di atas punggung kerbau, di antara angsa-angsa yang membentuk barisan terbang segitiga, siapakah kiranya yang dapat membayangkan hal itu?


Lebih-lebih pada Chitra Anggini. Dia yang paling takjub. Menatap seekor angsa yang terbang tepat di sebelahnya, hanya berjarak beberapa jengkal saja dari ujung sayap burung itu.


“Aku hendak menangkap burung ini!” Chitra Anggini menatap Mantingan, entah meminta perizinan atau sekadar mengabarkan.


“Jangan!” Mantingan mengibas sebelah tangan sambil menatap risau. “Angsa hanya kawin pada satu pasangan seumur hidupnya. Jika kau menangkapnya hingga dia tidak bisa pulang, bagaimanakah kiranya nasib pasangannya nanti? Belum lagi dengan anak-anaknya. Itu gagasan yang sangat buruk, Chitra, jangan lakukan itu.”


“Biarlah saja aku melakukannya! Biar angsa yang menjadi pasangannya itu merana seperti dirimu!”


Maka begitulah sebuah jitakan mendarat tepat di kepala Chitra Anggini, membuat gadis itu mengaduh keras.


Gerombolan angsa ini bukan terbang tanpa tujuan. Mereka menuju ke pesawahan yang terbentang luas jauh di depan sana. Menuju tanda-tanda peradaban manusia yang lebih besar lagi.


“Kita sudah memasuki Koying.” Mantingan bergumam pelan, tak menanggapi ocehan Chitra Anggini yang merasa amat keberatan atas jitakan di kepalanya barusan.


Seketika itu pula Chitra Anggini terdiam. Mendengar nama Koying disebutkan, urusannya jadi bukan main-main lagi.


“Apakah kau sudah menyusun rencana matang-matang?”


“Tidak bisa dikatakan begitu, tetapi aku sudah menyiapkan sejumlah rencana.”


Lantas dengan sesingkat-singkatnya, Mantingan menceritakan tentang pertemuannya dengan Puan Kekelaman di pasar yang serba berpanggung di desa kecil itu. Pertemuan tersebut memang tidak diceritakan kepada Chitra Anggini sebelumnya.


__ADS_1


__ADS_2