
KICAU BURUNG bersahutan. Terbang elok kian kemari, hinggap dahan dan reranting. Pucuk surya menyembul di antara celah perbukitan, apakah membangunkan atau dibangunkan ayam jantan. Hewan-hewan hutan lainnya seperti rusa dan kambing gunung mulai keluar mencari makan, setiap malamnya mereka hampir tidak bisa bergerak, dibayang-bayang kucing besar berkulit belang.
Selayaknya hewan-hewan, manusia pun juga bangun mencari makan. Yang lelaki memikul pacul, pergi ke ladang. Yang perempuan berbagi tugas, ada yang menyeduh teh ada yang menanak nasi, ada pula yang memasak sayuran. Pagi yang seperti biasanya di dalam desa, selalu ramai oleh orang yang sibuk oleh urusannya masing-masing. Meskipun sibuk oleh urusan masing-masing, tidak satupun dari mereka yang kehilangan ramah-tamah. Setiap bersisian dengan petani lain, mereka menyapa ramah.
Di dalam desa yang damai seperti ini tidak ada silang sengketa atau perebutan tanah. Semuanya kedapatan. Secukupnya, menyisakan hutan untuk bernapas dan tempat hidup bagi hewan lainnya. Tidak berlebihan, setiap ada permasalahan selalu diselesaikan secara bermusyawarah dan berujung pada kedamaian serta eratnya tali persahabatan.
Hampir tidak ada yang tak mengenal tetangganya. Sampai ujung desa sekalipun mereka kenal. Mereka sangat mengenali satu sama lainnya. Dalam arti sangat mengenali, mereka juga tahu kondisi terkini tetangga-tetangganya. Apakah tetangganya sakit, sedang punya masalah keluarga, atau kesulitan pangan. Semuanya dibantu, oleh kasih sayang dan harta benda. Bagaikan saudara serumah saja.
Mantingan seperti biasa membuka jendela kamarnya. Membiarkan udara segar masuk bersama sedikit kabut. Membiarkan kicau burung semakin didengarnya. Dan seperti biasanya, Mantingan pula menyeduh secangkir teh panas.
Akibat hujan tadi malam, udara pagi menjadi lebih dingin. Pula air deras yang mengairi parit-parit besar, tidak berani membayangkan seberapa dingin jika berendam di dalamnya.
Sampai terdengarlah suara pintu diketuk. Mantingan menolehkan kepalanya. Suara Bidadari Sungai Utara muncul di belakang pintu.
“Mantingan, bolehkah aku masuk? Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan.”
“Masuk saja, Saudari, pintu tidak dikunci.”
Pintu terbuka. Bidadari Sungai Utara masuk dengan cadar di wajahnya. Ia menatap Mantingan dengan raut wajah cemas. Ada apa?
“Mantingan, aku takut sekali.” Bidadari Sungai Utara semakin mendekat ke arah Mantingan.
“Ada apakah yang menakutkan? Apa ada tikus di kamar Saudari?”
“Tidak, tidak, bukan itu.” Bidadari Sungai Utara menggeleng kuat. “Ada seseorang di bawah penginapan yang terus menatap ke arah jendela kamarku. Dia seperti menatapku."
__ADS_1
Mantingan tidak bisa bersantai lagi. Ia bangkit dari kursi dan meletakkan tehnya di meja. Mantingan menutup pintu kamar sebelum memberi tatapan serius pada Bidadari Sungai Utara.
“Mungkin ini adalah bagian yang terburuk, Saudari Sungai. Kita harus segera melanjutkan perjalanan.”
Bidadari Sungai Utara semakin cemas tatapannya. Napasnya mengebu-ngebu. Jantungnya memacu cepat. Ia tidak siap pada sesuatu yang tiba-tiba.
Mantingan bergerak ke arah mejanya. Di sana ada beberapa Lontar Sihir yang ia buat tadi malam. Salah satunya ia tempelkan pada dinding kamar, mantera senyap aktif.
“Bidadari Sungai Utara, siapa pun yang mengawasimu, entah itu adalah orang bermaksud buruk atau bermaksud baik, entah itu pendekar kuat atau tidak, yang pasti bagi kita adalah berangkat secepat-cepatnya. Anggap saja kita sedang menjalankan rencana yang terburuk, diawasi pendekar ahli."
“Mantingan, tidak bisakah kita menunggu sebentar saja?”
“Sampai kapan?”
“Sampai esok hari.”
Bidadari Sungai Utara menegup ludahnya sekali, sebelum akhirnya mengangguk. Bisa apa dirinya? Bukankah ia sudah memasrahkan diri pada Mantingan. Walaupun Mantingan tidak pernah menganggapnya begitu. Perintah Mantingan adalah harga mati baginya. Maka apa pun keputusan Mantingan akan ia jalani suka maupun terpaksa, walau itu akan berujung pada kematian sekalipun.
“Tapi, bagaimana cara kita bisa keluar? Bukankah orang itu masih mengawasi di sekitar penginapan?”
“Kita lewat jalur bawah tanah.”
Mantingan sudah memikirkan matang-matang rencana ini. Melarikan diri melalui bawah tanah. Hanya dengan cara itu mereka bisa lari tanpa terlihat musuh. Mantingan sudah memeriksa medan bawah tanah dengan cara mengalirkan tenaga dalamnya pada tanah. Nyatanya cukup baik. Ada beberapa keretakan besar beberapa depa ke bawah dari permukaan tanah. Keretakan itu membentuk celah, yang agaknya bisa dilalui oleh manusia. Mantingan menelusuri celah-celah itu dengan Ilmu Pengendali Angin yang ia kuasai, sehingga ia mengetahui ke mana celah mengarah.
Mantingan hanya tinggal menggali beberapa depa ke bawah. Lalu menjumpai celah. Berjalan menyusuri lorong-lorong gelap yang belum pernah dijejak manusia.
__ADS_1
“Saudari, aku harap kau tidak takut dengan ruangan sempit.”
Persiapan dimulai. Bidadari Sungai Utara kembali ke kamarnya untuk berkemas, bersikap biasa-biasa saja. Mantingan juga melakukan hal yang sama, bedanya harus bergerak lebih cepat.
Mantingan mencabut Lontar Sihir di dinding kamar lalu bergerak cepat ke bawah. Sampai di bawah, ia menyelinap masuk ke dalam gudang penginapan tanpa seorangpun tahu. Mantingan mengawali pekerjaannya di sana.
Di dalam gudang itu Mantingan cari benda yang bisa digunakan untuk menggali tanah. Seharusnya mudah ditemukan sebuah pacul yang lazimnya ada di pedesaan. Benar saja, Mantingan menemukan beberapa pacul di sudut ruangan. Ini terlalu mudah.
Mantingan mengeluarkan Pedang Kiai Kedai. Yang dengan segala hormat digunakan untuk memotong lantai papan kayu membentuk persegi. Setelah dipotong rapi, Mantingan mengangkat papan-papan kayu. Diangkat seperti itu tentu saja memperlihatkan isi di dalamnya, berupa tanah.
Tidak perlu dijelaskan seperti apa Mantingan memacul menggunakan tenaga dalam yang hanya memerlukan sedikit waktu. Tanah-tanah bekas galian terpaksa Mantingan letakkan begitu saja di dalam gudang, tetapi ia pastikan akan membayar mahal hal ini.
Bidadari Sungai Utara membuka pintu gudang setelah berhasil menyelinap. Jubah dan cadarnya berkibar-kibar saat ia masuk ke dalam. Saat itu tubuh Mantingan sudah tidak terlihat lagi. Bidadari Sungai Utara perlahan-lahan menghampiri lubang galian, di dalamnya ada Mantingan.
“Saudari Sungai, jangan lupa bawakan obor sekalian saat turun ke bawah.”
Bidadari Sungai Utara mengangguk. Cepat-cepat ia berlari, memapas obor mati di tembok ruangan. Gadis itu kembali lagi ke pinggiran lubang. Tubuh Mantingan hampir tidak bisa terlihat, ditimpa gelapnya tanah. Bidadari Sungai Utara jadi bergidik ngeri.
“Berapa lama lagi aku ada di atas sini, Mantingan?”
Dari dalam kegelapan Mantingan menjawab, “Tidak ada waktu lagi, turun sekarang, Saudari!”
“Bagaimana caranya?” Bidadari Sungai Utara bukannya turun, menjauhi lubang. Takut terjatuh.
“Lompat!”
__ADS_1
“Lompat? Apa kau gila? Bagaimana jika aku terjatuh? Di sana banyak batu tajam!”
“LOMPAT!”