Sang Musafir

Sang Musafir
Keluar dari Gaung Seribu Tetes Air


__ADS_3


MANTINGAN terus berjalan. Genangan air telah terlewat, kini jalanan mulai menurun sehingga Mantingan benar-benar perlu memasang kehati-hatian jikalau tidak ingin tergelincir serta terajam bebatuan tajam yang secara pasti akan mengoyak-ngoyak tubuhnya menjadi banyak bagian.


Si Putih yang bertengger di pundaknya itu hanya terdiam saja. Meski kegelapan telah benar-benar pekat, burung itu tidak tampak takut sama sekali. Seolah ada dan ketiadaan cahaya merupakan hal yang sama saja baginya.


Namun, begitulah Mantingan dalam benaknya bersyukur sebab keterdiaman Si Putih membuat nuraninya dapat bekerja lebih baik untuk menuntun jalan. Kehadiran Si Putih juga memberikannya sedikit banyak ketenangan sebab merasa memiliki teman.


Setelah cukup lama Mantingan terus melangkah dengan menuruti kehendak nuraninya, dirinya melihat sebuah cahaya tak jauh di depannya. Itulah mulut goa!


Mantingan tidak mempercepat langkahnya, sebab betapa hasrat dan nafsu seringkali menjerumuskan manusia ek dalam malapetaka. Meski mulut goa hanya berjarak seperkian tombak saja darinya, Mantingan tetap melangkah dengan tenang.


Barulah setelah melangkah keluar dari mulut goa hingga sekujur tubuhnya tersiram matahari pagi, Mantingan menarik napas lega. Ekor matanya berkeliling, memandangi langit biru dan pepohonan dengan penuh haru. Kiranya pemandangan yang seharusnya terasa sederhana seperti ini justru terasa amat menakjubkan bagi Mantingan.


Setelah tinggal begitu lama di dalam Gaung Seribu Tetes Air yang sunyi dan sepi, tanpa ada pepohonan maupun rumput ilalang, tanpa sinar mentari yang begitu terik, tanpa langit yang terkadang biru dan terkadang kelabu, tanpa desir angin, bagaimanakah pemandangan dan suasana seperti ini tidak menjadi begitu berharga bagi Mantingan?


Sebelum memulai perjalanan mencari kayu, Mantingan terlebih dahulu memeriksa segala persiapannya.


Dilihatnya Pedang Kiai Kedai masih tersoren rapi di sabuk pinggangnya. Sedang pedang Savrinadeya yang terbungkus dalam balutan kain kumal yang terikat kencang di punggungnya—menyerupai sebuah bundelan. Sebuah keranjang buluh berukuran besar tercangklong di kedua pundaknya, dibutuhkan untuk menampung sayuran-sayuran segar yang mungkin ditemukan di perjalanan.


Mantingan kembali melangkahkan kaki meninggalkan mulut goa, yang dengan segera disambut hutan hijau lebat. Burung-burung berseliweran. Tupai-tupai berlentingan. Angin bertiup. Matahari hangat bersinar.

__ADS_1


Pemuda itu menyunggingkan senyum lebar, sebab memang terasa telah begitu lama dirinya tidak melihat pemandangan seperti ini, meski yang sebenar-benarnyalah hanya selama dua pekan saja.


Mantingan memilih untuk tidak berkelebat, mengingat betapa pendekar di tengah-tengah rimba belantara sama rimbunnya dengan rimba belantara itu sendiri. Mereka akan tetap bersamadhi di dalam persembunyiannya sampai pendekar lain berkelebat di dekatnya, ketika itulah mereka baru akan keluar dari tempat persembunyian dan mengejar pendekar itu untuk kemudian ditantangnya bertarung.


Keadaan Mantingan saat ini pun tidaklah sedang terdesak, sehingga memang tidak perlu terburu-buru. Mengingat pula bahwa bertarung tanpa tangan kanan bukanlah sesuatu yang mudah jika yang dihadapinya adalah pendekar berkemampuan tinggi.


Jika dirinya berkelebat, berkemungkinan besar dirinya akan menghadapi pertarungan melawan pendekar Svarnabhumi yang tidak benar-benar ia ketahui sampai batas mana kekuatan mereka. Sebab tentu saja bagi seorang pendekar yang masih ingin menjadi pendekar, setiap tantangan bertarung haruslah diterima dan dihadapi.


Maka begitulah Mantingan memilih untuk berjalan saja tanpa berkelebat, selayaknya seorang penyoren pedang awam yang tiada mengenal ilmu-ilmu persilatan tenaga dalam. Tangan buntungnya itu juga akan meyakini orang bahwa dirinya adalah penyoren pedang, yang telah kehilangan tangan kanannya di pertarungan.


Matahari bersinar cukup terik hingga secara terang-terangan menerpa wajah Mantingan. Pemuda itu hanya menundukkan wajah guna melindungi mata dari silaunya sinar mentari, sebab betapa pun dirinya tidak mengenakan caping. Capingnya tertinggal di Kelewang Samodra. Ia berharap Bidadari Sungai Utara dapat menemukan caping itu dan membawanya ke Champa.


Mantingan melihat beberapa rusa memandanginya dari jauh dengan tatapan waswas. Dirinya mencoba membuat rusa-rusa itu tenang dengan tersenyum hangat, tetapi senyuman itu justru membuat mereka berlari menjauh.


Mantingan sebenarnya telah menyadari bahwa hawa yang melekat pada tubuhnya telah betul-betul berbeda sejak pertempuran melawan pemberontak sekitar tiga pekan yang lalu. Untuk suatu penyebab yang kurang diketahui, sedikit hawa pembunuhnya bocor keluar meski tidak dikehendaki sama sekali.


Mungkin itulah yang telah menyebabkan rusa-rusa tersebut begitu waswas kepadanya. Mantingan pun hanya bisa tersenyum pahit dan memaklumi hewan-hewan yang selalu hidup dengan mengandalkan naluri.


***


MANTINGAN sebenarnya ingin menghindari peradaban manusia tak peduli sekecil apa pun itu. Namun ketika dihadapkan pada sebuah kedai makan di pinggiran hutan, Mantingan tidak dapat membohongi diri bahwa perutnya benar-benar lapar.

__ADS_1


Meski sebenarnyalah ia telah makan cukup banyak sebelum meninggalkan Gaung Seribu Tetes Air, tetapi yang dimakan olehnya hanyalah dendeng-dendeng yang direbus bersama garam. Memang tampaknya tidak terlalu buruk, tetapi akan menjadi sangat buruk jikalau yang dimakannya selama dua pekan ini selalulah makanan yang sama.


Mantingan mengingini sayuran segar yang disiram kaldu kambing. Atau paling tidaks ikan bakar yang dilumuri madu manis, sebab setidaknya hal itu akan mengingatkannya betapa teramat melezatkannya masakan Bidadari Sungai Utara.


Maka begitulah setelah masuk ke dalam kedai serta disambut dengan ramah, Mantingan memilih sebuah bangku di sudut ruangan. Memanglah pemilihan bangku di sudut ruangan adalah kebiasaan para pendekar yang telah mendarah-daging, sebab hanya di sudut ruangan sajalah seseorang dapat memantau sekitarnya tanpa banyak menggerakkan kepala serta tanpa menjadi pusat perhatian.


Pemilik kedai datang kepadanya sambil mengatakan sesuatu yang sungguh tidak dapat Mantingan mengerti bahasanya. Awalnya Mantingan mengira bahwa telinganya telah salah dengar atau justru pemilik kedai itulah yang tidak fasih berbicara, maka sekali lagi ia meminta orang itu untuk berbicara.


Namun sesaat setelah Mantingan berbicara, justru pemilik kedai itulah yang terlihat kebingungan. Dia berkata sekali lagi dengan perkataan yang berbeda ketimbang sebelumnya, tetapi tidak juga dapat dipahami oleh Mantingan.


“Ah, kawan kita yang satu ini pastinya berasal dari Javadvipa.”


Mantingan menoleh dan menemukan seorang pria dengan caping lebar menutupi sebagian wajahnya. Sebuah pedang besar da keranjang buluh terikat di punggungnya. Tampak dari atas sampai bawah, lelaki itu mengenakan pakaian lengkap: baju berlengan panjang, celana, sebuah kain bercorak yang diikatkan pada pinggang, serta sebuah alas kaki yang dianyam dari jerami kering.


Lelaki itu kemudian berkata pada pemilik kedai dengan bahasa yang tidak dapat Mantingan mengerti. Pemilik kedai menganggukkan kepalanya dan membiarkan lelaki itu berbincang dengan Mantingan terlebih dahulu.


“Kawan, jika benar bahwa dikau berasal dari Javadvipa dan bisa mengerti ucapanku ini, maka mohonlah sedianya untuk membalas.” Pria bercaping itu berkata sambil menjura.


____


catatan:

__ADS_1


Kondisi kesehatan saya menurun sejak dua hari yang lalu. Maaf kemarin tidak update. Dan maaf karena chapter ini terpaksa dirilis tanpa pengeditan.


__ADS_2