
Mantingan lalu berkelebat lebih cepat lagi, seolah mengisyaratkan bahwa dirinya tidak akan mendengarkan perkataan Rara.
Namun dari lautan musuh di depannya, Mantingan melihat sekelebat bayangan yang begitu cepat bergerak ke arahnya. Mantingan sudah menarik tubuhnya surut ke belakang sebab mengira bahwa bayangan itu hendak menyerangnya, hinggalah ia sadar bahwa bayangan tersebut berhenti di udara dalam jarak beberapa langkah darinya. Ketika itu pula Mantingan menghela napas panjang di balik topengnya.
***
“Hentikan perbuatanmu!”
BAYANGAN itu berucap, tetapi Mantingan tidak menghiraukannya. Ia kembali berkelebat sebelum musuh-musuhnya menyadari kelengahannya. Di dunia persilatan, hanya dibutuhkan kelengahan sebesar ibu jari untuk dapat mengantar nyawa seseorang ke alam baka.
Mantingan terus berkelebat dan memainkan pedangnya untuk membabat musuh-musuhnya. Sedang bayangan Rara terbang mengimbangi di sampingnya.
“Hentikan, Mantingan!”
“Tidak!” Kali ini Mantingan benar-benar berteriak menggunakan mulut, bukan saja di dalam benaknya.
Malah usaha Rara untuk menghentikan Mantingan itu semakin membuatnya menjadi gila. Ditebaskan pedangnya menggunakan Ilmu Membelah Angin dicampur Ilmu Tapak Angin Darah, membuat pendekar-pendekar dalam jarak delapan tombak tercincang-cincang oleh tajamnya angin dan kerasnya tapak tangan.
Pemuda itu kemudian berhenti di tengah lautan mayat manusia. Musuh-musuhnya mengelilinginya dari kejauhan, agak ragu untuk maju.
Mantingan melihat sorot mata mereka yang betapa terlihat amat sangat ketakutan memandanginya. Namun tanpa sengaja, Mantingan menemukan tatapan salah satu pendekar musuh yang tidak benar-benar terarah kepadanya. Meskipun itu hanya berlangsung sebentar, sebelum orang itu kembali menatapnya dengan ngeri, tetapi tetap juga telah mengguyur kepala Mantingan dengan ribuan pertanyaan.
Betapakah tidak jikalau yang ditatap musuhnya itu adalah Rara yang mengambang bagaikan mega di sampingnya?
Akan tetapi, Mantingan tidak memiliki waktu untuk memikirkannya, ia harus sesegera mungkin menyelesaikan pertempuran sebelum senjakala benar-benar menyesatkan, seolah tiada lain yang lebih dapat menyesatkan ketimbang senjakala dalam pertarungan dan pertempuran!
Mantingan tidak lagi menunggu musuh-musuhnya untuk kembali menyerbu, ia sendiri yang melesat menghampiri mereka dengan kecepatan melebihi petir. Kali ini akan dicobanya sebuah jurus baru yang cukup cocok untuk menghadapi lautan musuh dalam keadaan cahaya yang mulai sedikit.
__ADS_1
“Seribu Rembulan Melahap Bintang!”
Pedang Mantingan bercahaya begitu dirinya merapal Jurus Seribu Rembulan Melahap Bintang. Dalam seketika, terciptalah ribuan batang pedang bercahaya yang sungguh amat sangat menipu penglihatan!
Jurus Seribu Rembulan Melahap Bintang sebenarnya adalah Jurus Tarian Seribu Pedang, yang hanya saja oleh Mantingan diambil kunci-kunci gerakannya untuk kemudian disusun ulang dengan menyesuaikan bentuk tubuhnya. Mantra dalam Lontar Sihir Cahaya juga dipadukan dengan jurus tersebut.
Jadilah memang tampak laksana seribu rembulan manakala pemuda itu mengayunkan sebatang pedangnya.
Mantingan merasa perlu menciptakan jurus seperti ini karena Jurus Tarian Seribu Pedang tidak terlalu mengecoh musuh dalam keadaan gelap.
Sebenarnya, Mantingan bisa saja menaruh Lontar Sihir Cahaya pada pedangnya saat akan memainkan Jurus Seribu Pedang. Akan tetapi, keberadaan kertas lontar yang menempel pada bilah pedangnya itu secara serta merta memberikan hambatan yang tidak sedikit, bahkan bisa mengubah arah serang ketika diayunkan dalam kecepatan tinggi.
Mantingan tampak seperti dewa pemakmur yang turun ke bumi dengan diiringi ribuan rembulan bercahaya putih terang. Sebuah keindahan yang bahkan mampu membuat musuh-musuhnya terpukau, tetapi betapa sebenarnya keindahan yang teramat sangat itu sedang membawa kematian kepada mereka!
Begitulah ketika senjakala telah mencapai titik membutakannya, Mantingan masih menempur musuh-musuhnya dengan garang sekaligus dengan keindahan.
Hingga sampailah langkahnya terhenti ketika didengarnya suara kelebatan dan desingan logam melaju menuju punggungnya dengan kecepatan melebihi kilat!
Benda logam itu bergerak terlalu cepat, dan suara yang dihasilkannya terlalu keras untuk mengartikan bahwa ia hanyalah sekadar pisau lempar yang mudah sekali untuk ditepis Mantingan; jelas bahwa benda itu adalah pedang!
Dan suara kelebatan di antara suara desingan logam itu menandakan keberadaan suatu benda besar lainnya yang melesat bersama pedang itu. Dari yang Mantingan dengar, suara kelebatan itu berasal dari helaian kain. Maka pedang itu benar-benar tidak bergerak sendirian, melainkan bersama seseorang yang menghunusnya!
Kaki Mantingan menapak tanah untuk melayang tinggi sebelum kemudian berjungkir balik di udara. Kepalanya di bawah; sedang kedua telapak kakinya lurus menghadap langit keremangan.
Dapat dilihatnya sesosok bayangan hitam berkelebat cepat tepat beberapa jengkal saja dari kepalanya, dengan pancaran kilau pedang yang dipantul sinar Seribu Rembulan Melahap Bintang!
Dari kilau pedang yang dilihatnya itu, Mantingan lekas mengetahui bahwa pedang tersebut terbuat dari batuan intan tembus pandang yang dipahat sedemikian rupa hingga membentuk sebuah pedang panjang bermata dua.
__ADS_1
Dan dari suara desingan yang didengarnya itu, betapa Mantingan mengetahui bahwa ketajaman pedang itu mampu membelah sehelai rambut menjadi tujuh bagian!
Mantingan mendarat di atas tanah berbarengan dengan sosok itu. Pedang di tangan kanannya masih terus memendarkan cahaya, tetapi kini tidak lagi menjadi seribu bagian.
Sedangkan sosok itu memunggungi Mantingan dalam keterdiamannya. Pedang tersampir di tangan kanannya. Pakaiannya serba hitam, dan rambutnya digelung ke atas dengan ikatan yang kuat.
Setelah melihat sosok itu, lautan musuh yang seolah tiada habisnya mulai menjauhi Mantingan. Memberikan cukup ruang bagi Mantingan dengan orang yang memegang pedang intan paling tajam itu.
“Tiada kusangka pertemuan kita akan secepat ini, wahai Pahlawan Man.” Sosok itu akhirnya berkata, yang disertai pula dengan tawa kecil. “Jika dikau belum mengetahui, maka perkenalkan diriku yang rendah dan hina ini sebagai Cagak Kesatu.”
“Maka wahai, Cagak Kesatu! Perkenalkanlah pula pendekar pengembara yang lemah dan kecil ini sebagai Mantingan. Sebuah kehormatan besar dapat bertemu dengan salah seorang dari Enam Pilar Intan.” Mantingan membalas dengan nada yang sama, ia tahu betul bahwa percakapan seperti ini hanyalah sekadar berbasa-basi sebelum mulai berbunuhan.
“Patut kusanjung gelar dikau yang ternyata bukan sekadar gelar omong kosong belaka. Kekuatanmu terlalu besar di usiamu yang tergolong masih sangat muda. Dikau berhasil menghindari serangan yang kuupayakan dengan segenap kemampuan.”
“Pendekar Cagak Kesatu dirasa terlalu memuji, daku hanya terlalu berwaspada sehingga memang telah menyadari serangan itu saat masih berada di kejauhan.”
Betapa di dalam perkataan sopan dengan nada ramah itu sebenarnya telah terselip hinaan kepada lawan bicaranya. Mantingan memang sengaja memancing musuh untuk menyerang sekarang pula, sebab senjakala dirasa masih tidak terlalu benar-benar menipu mata.
“Tahukah dikau bahwa diriku memang sengaja muncul di waktu seperti ini?”
Mantingan tertegun sejenak sebelum akhirnya mengerti juga. Cagak Kesatu memang menunggu senjakala untuk menghadapi Mantingan, sedangkan ratusan pendekar yang menyerang hanyalah sebagai pengulur waktu dan pengalih perhatian.
Saat ini, hanya tiga dari tujuh cakra Mantingan terisi oleh tenaga dalam. Pertempuran tadi telah benar-benar menguras tenaga dalamnya.
“Apakah bertarung di kala senja memang merupakan kemampuan dikau, wahai Cagak Kesatu?” Mantingan bertanya untuk memastikan.
“Perkiraanmu benar. Dan benar pula apa kata orang banyak bahwa dikau mampu membaca pertanda.”
__ADS_1
“Kurasa tidak cukup sudah basa-basi ini, Cagak Kesatu.” Mantingan mengangkat Pedang Kiai Kedai setinggi dada. “Pertarungan ini harus segera kita rampungkan. Sehingga jelas siapakah yang kalah dan siapakah yang menang.”