Sang Musafir

Sang Musafir
Tepi Pantai; Rumah Birawa


__ADS_3

Tak lama mereka beristirahat di tempat yang indah itu, ladang rumput yang aromanya segar dan dihuni oleh sapi dan rusa. Mereka harus cepat berangkat dan sampai di pantai utara, karena di tempat itulah yang teraman untuk saat ini.


Kini mereka kembali memasuki hutan teduh dan menemukan sebuah jalan setapak ke arah utara. Jalan ini sepertinya adalah jalur yang sering dilalui penduduk sekitar untuk pergi ke pantai. Terbukti oleh penemuan beberapa kulit kerang di sepanjang jalanan.


Mantingan juga mencium aroma angin laut. Lautan akan terlihat sebentar lagi. Mantingan belum pernah pergi melihat laut sebelumnya, ia hanya mendengar dari cerita-cerita penduduk desa saja. Mungkin inilah kali pertamanya Mantingan akan melihat lautan, atau mungkin saja tidak karena nyawanya keburu melayang di tengah perjalanan menuju rumah Birawa.


Terkadang sesekali Mantingan berpikir. Bagaimana jika dirinya mati dan kisahnya berhenti sampai di situ saja? Mungkinkah akan ada yang bersedih untuknya atau menganggap itu sebagai hal yang tak perlu disedihkan apalagi dipusingkan? Bukankah Mantingan hanyalah sesosok manusia saja di antara banyak manusia di pulau Jawadvipa? Terlebih Mantingan tidak memiliki keistimewaan khusus.


Apakah ada yang akan mencarinya dan menanyai kabarnya setelah dia menghilang dan kisahnya berakhir?


Dulu ia juga sering berpikiran tentang hal ini, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjadi pengembara, agar dirinya terkenal dan akan ada yang berduka saat ia mengakhiri kisahnya.


Tetapi setelah dipikir-pikir lagi, siapakah kiranya yang akan mengakhiri kisahnya? Apakah penyakitnya sendiri di hari tua atau malah diakhiri oleh lawan tangguh? Apakah alam yang akan membunuhnya? Atau racun yang tak sengaja ia tenggak?


Mantingan menghela napas berat. Siapa pun yang akan mengakhiri kisahnya, ia tak akan membiarkan kisahnya diakhiri dengan mudah.


Tak lama mereka berjalan, pasir pantai abu-abu mulai terlihat di depan. Begitu juga bentangan laut biru jauh di depan mata. Deburan ombak yang menghantam garis pantai terdengar dari jarak kejauhan.


Rara begitu antusias hingga dirinya berlari mendahului Arkawidya dan Mantingan, menembus barisan pepohonan dan menginjak pasir pantai. Rara melompat riang. Baginya, melihat laut secara langsung adalah kesempatan yang tidak bisa didapat oleh semua orang. Bahkan di kampungnya dahulu, banyak orang mati dengan masih membawa harapan untuk melihat lautan luas.


Mantingan sebenarnya antusias, tetapi tidak se-antusias Rara. Arkawidya juga sudah sering melihat lautan, tetapi dirinya tetap senang karena sekarang mereka sudah berada dalam wilayah yang aman.


Hingga akhirnya langkah Mantingan membawa dirinya juga menyentuh pasir pantai dan mendengar deburan ombak lebih jelas lagi.


Mungkin hanya waktu inilah saat-saat terindah untuk menikmati pemandangan laut. Yaitu saat-saat senjakala. Matahari telah lengser ke barat, hingga menjadi jingga warnanya, begitu juga dengan air laut biru yang terbias cahayanya. Matahari akan tenggelam sebentar lagi.


“Mantingan.” Arkawidya menyapa Mantingan dengan suara lembut.

__ADS_1


Mantingan menoleh ke sampingnya. Arkawidya tengah memandangi matahari yang cahayanya begitu lembut itu, dengan Rara yang tengah bermain-main kecil dengan air laut.


“Tanpa dirimu, daku tidak akan ada di sini sekarang menyaksikan kepergian matahari.”


Mantingan kembali tersenyum malu.


***


Jalan setapak menuju pantai yang tadi mereka lalui itu sebenarnya tidak berjauhan dengan jalan utama yang sama-sama menuju pantai. Sehingga dengan itu, Arkawidya bisa menemukan rumah kakeknya dengan mudah.


Di sekitaran rumah ini telah ditanam suatu sirep penyamar yang membuat orang-orang tidak bisa menemukan keberadaan rumah Birawa. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menemukan rumah Birawa, Arkawidya misalnya, selebihnya tidak.


Rumah Birawa ini tergolong rumah yang besar, walau tidak bertingkat. Jika dilihat dari luarnya, rumah ini hampir sepenuhnya berbahan kayu.


“Rumah kakekku ini jarang ditempati, jadi janganlah terheran jika di dalamnya sangat berdebu. Marilah masuk, jangan sungkan.”


Arkawidya membuka pintu rumah kakeknya dan masuk lebih dahulu, Mantingan dan Rara masuk kemudian.


“Seperti yang diduga, sangat berdebu, rumah ini tidak terawat dengan baik.”


Arkawidya lalu mengajak Mantingan dan Rara masuk lebih ke dalam dan menunjukkan kamar yang diperuntukkan tamu. Tetapi itu hanyalah satu kamar tamu saja. Mantingan yang akan menempati kamar itu, sedangkan Rara akan tidur di kamar Arkawidya, karena memang tidak ada kamar yang tidak terpakai lagi.


Sebelum mereka berpisah karena hari memang sudah malam, Arkawidya menyampaikan suatu pesan. “Kakekku bisa pulang kapan saja dan dengan cara tak terduga, jadi aku harap kalian tidak terkejut jika dia pulang sambil melawan beberapa pendekar musuh nantinya. Itu memang sudah jadi kebiasaannya sejak lama.”


Setelah menyampaikan pesan itu, mereka berpisah.


Kamar yang Mantingan tempati ini tidaklah terlalu berdebu, tetapi cukup untuk membuat hidung Mantingan sedikit tersumbat. Terdapat satu kasur, dan satu meja yang ditempatkan di sisi kasur, selebihnya tidak ada barang apa pun di lantai kamar.

__ADS_1


Tetapi saat Mantingan melihat lebih rinci lagi pada bagian dinding kamarnya, ia menemukan sebuah laci kecil yang menjorok masuk ke dalam dinding.


Entah apa yang dipikirkan Mantingan saat itu hingga ia berani menarik laci tersebut, padahal ia tahu betul bahwa tindakan itu tidaklah sopan.


Di dalam laci itu ada lembaran-lembaran lontar dan pisau pengukir untuk menulis di atasnya. Tetapi untuk apakah ini? Mengapa keberadaannya seakan-akan disembunyikan?


Mantingan merasa berdosa telah bertindak tidak sopan pada pemilik rumah, sehingga dirinya suka atau tidak suka menghampiri kamar Arkawidya yang terletak di ruangan sebelah.


Arkawidya membuka pintu saat Mantingan mengetuknya.


“Ada apa, Mantingan? Apakah kau membutuhkan sesuatu?”


“Sebelumnya aku memohon maaf darimu, Arka.”


Dahi Arkawidya mengernyit.


“Daku sangat penasaran dan membuka laci rahasia di kamar tamu, daku juga telah melihat isinya. Aku telah bertindak di luar batasan, jadi mohonlah maafkan diri daku.” Mantingan berkata sambil menunduk, tetapi Arkawidya malah tertawa.


“Tidak mengapa, Mantingan. Laci itu memang sengaja kakekku buat untuk para tamu yang hendak menulis, tetapi kakek tidak ingin meletakkan lemari kecil di kamar untuk menyimpan lontar-lontar kosong itu, dengan alasan kamar tamu akan terlihat sempit dengan keberadaan lemari penyimpan lontar, maka dari itu kakek membuat laci yang masuk ke dalam dinding agar tidak membuat sempit ruangan.”


Mantingan kembali menegakkan badannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Sudah, tidur sana, bisa saja esok pagi kakekku akan memberi kita sebuah kejutan. Dan pakai saja lontar itu jika memang dikau butuhkan, Mantingan.”


Mantingan mengangguk dan bergegas kembali ke kamar setelah menyapa Rara.


Kini dirinya duduk di atas kasur sambil merenung menatapi lontar-lontar kosong di hadapannya.

__ADS_1


Ia telah belajar membaca dan menulis dari dua orangtuanya yang juga merupakan orang terpelajar. Tentu saja Mantingan bisa menghebohkan desanya dengan kemampuan baca-tulis itu, tetapi orangtua Mantingan melarang Mantingan untuk menunjukkan bakatnya di depan umum dengan alasan yang tidak diketahui oleh Mantingan.


Kini dirinya merenung, apakah harus ia tulis kisah perjalanannya dalam menemukan Kembangmas? Agar kisahnya tidak akan mati, jadi abadi, hingga dibaca oleh orang-orang hingga ratusan atau bahkan ribuan tahun ke depan?


__ADS_2