Sang Musafir

Sang Musafir
Menghina Pahlawan Man


__ADS_3

DITANYA seperti itu, Mantingan hanya dapat mengangkat bahu dan membalas, “Mungkin dirinya memiliki tujuan lain yang begitu penting sehingga menunda kepulangannya? Lagi pula, aku merasa Pahlawan Man tidak akan terlalu tertarik dengan semua penghargaan itu. Setelah kusimak kisahnya dari kedai ke kedai, dapat kuperkirakan bahwa Pahlawan Man tidak mengharap balasan apa pun dari perbuatannya itu. Bahkan sepertinya, dia tidak berbuat derma.


“Pahlawan Man memang melawan pemberontakan di Tarumanagara, tetapi rasa-rasanya dia tidak melakukan itu dengan suka rela. Bukankah dia adalah pengembara yang mesti terganggu perjalanannya karena keberadaan pemberontak, sehingga hampir setiap saat harus membela diri dengan melawan pemberontak-pemberontak yang menyerangnya itu?


“Jadi dapatlah kusimpulkan bahwa pendapat orang-orang tentang Pahlawan Man sangat berlebihan.”


Tepat setelah Mantingan menyelesaikan perkataannya, nalurinya memperingati suatu bahaya yang sedang datang. Kewaspadaannya menegang. Benar saja, suara angin mendesir di belakang kepalanya!


Sesuatu tengah menerjang ke arahnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, tetapi kecepatan itu sangatlah lamban jika ditujukan untuk langsung merobohkan Mantingan tanpa basa-basi.


Mantingan segera menggeser sebelah kakinya dan berkelebat sedikit ke samping. Di kotaraja ini, ia tidak menyamar menjadi rakyat jelata, sehingga dapat dengan bebas mempergunakan kemampuan silatnya meski hanya sampai pada tahapan tertentu.


Dengan menggeser kedudukannya, Mantingan dapat melihat siapa yang menyerangnya dengan lebih jelas. Rupa-rupanya seorang pria penyoren pedang yang tampak jauh lebih rapi dan klimis sedaripada penyoren-penyoren pedang lain yang berkeliaran bebas di jalanan kotaraja. Pastilah bukan orang berkasta biasa. Apakah dia merupakan seorang Kesatria—golongan orang yang berkasta satu tingkat di bawah Brahmana?


Penyoren pedang itu, untungnya, tidak menyerang dengan pedang. Hanya sebatas bogem mentah. Jika pedangnya sampai tercabut di jalanan kotaraja ini, sudahlah pasti akan mendatangkan masalah yang tidak mudah diuraikan.


Lantas jika tidak berniat langsung membunuhnya di tempat, gerangan apakah yang membuat pendekar itu menyerang Mantingan?


Namun betapa pun jua, pukulan pendekar itu tidak menemui sasarannya. Mantingan dengan teramat sangat mudah dapat menghindarinya. Dan penyoren pedang itu tahu batas diri, sehingga tidak lagi menyerang meski merasa cukup dipermalukan.


Beberapa orang yang berjalan di sekitar Mantingan hanya memberi lirikan sepintas, lantas kembali membuang pandang. Tidak hirau. Toh, orang awam disini tahu bahwa mereka tidak akan diuntungkan jika ikut campur urusan dalam dunia persilatan.


Chitra Anggini sudah pasalnya berhenti dan menatap waspada pada pendekar yang menyerang Mantingan tanpa berbasa-basi itu. Sepasang kaki serta tangannya membentuk sikap bertarung.

__ADS_1


“Keparat kamu!” Pendekar itu langsung menyembur sambil menunjuk-nunjuk wajah Mantingan dengan tangannya. “Siapakah kamu hingga berani menghina nama agung Pahlawan Man?!”


“Tenanglah, Saudara.” Mantingan memberi isyarat agar pendekar yang rupa-rupanya menyerang sebab merasa tersinggung itu bersikap tenang, sekaligus melempar lirikan mata pada Chitra Anggini agar tidak bertindak gegabah. “Daku hanya sekadar berpendapat saja, Saudara, bukan berarti bahwa perkataanku tadi benar semua.”


“Banyak alasan! Kutanya siapa dikau!”


“Daku hanyalah pengembara jelata dari Javadvipa bersama kawanku ini, Saudara, hendak singgah sebentar di kotaraja yang teramat indah ini.” Mantingan masih menjawab dengan nada rendah dan penuh kehati-hatian, meskipun sungguh benar dirinya mampu melumpuhkan pendekar di hadapannya itu semudah menggerakkan jari.


“Astacandala rupanya, tapi lagakmu sudah seperti seorang Brahmana. Bahkan tidak pantas bagi orang seperti dirimu menyebut nama Pahlawan Man untuk memuliakannya, tetapi dikau justru merendahkannya serendah-rendahnya. Alangkah kotor sekali perkataan dikau.”


“Saudara, bukankah sedikit berlebihan menyebutku sebagai Astacandala?”


Mantingan mengerutkan dahi. Betapa pun jua, ia merasa berlebihan jika orang itu menyebutnya sebagai Astancadala—golongan orang yang tetap dianggap tanpa kasta meski Astacandala itu sendiri merupakan penamaan kasta.


“Berlebihan semacam apakah?!” Penyoren pedang itu menyalak marah, meski sungguh tampak teramat tidak menakutkan dengan tampang culun dan klimis miliknya. “Kusebut dikau demikian sebab perilaku dikau telah menunjukkannya dengan sejelas-jelasnya. Bicaramu busuk semua, tidak berdasar, tidak berilmu. Itulah sikap dan perilaku para Astacandala, golongan masyarakat paling hina yang pernah ada! Kini masihkah dikau hendak membantah?”


Setelah Mantingan berkata sedemikian, penyoren pedang itu langsung bungkam.


Tampang terpelajar yang dimiliki olehnya memang bukan sekadar omong kosong belaka.


Dirinya mampu berpikir tajam dalam waktu singkat, sehinggalah dia mampu menyadari bahwa perkataan Mantingan tadi dimaksudkan untuk menyindir dirinya.


Namun juga, penyoren pedang itu tidak mau mempermalukan dirinya sendiri dengan marah, sebab betapa pun juga disadarinya bahwa perkataan Mantingan sama sekali benar.

__ADS_1


“Itu tidak akan mengubah kebenaran bahwa dirimu Astacandala.” Pria itu memungkas tajam. “Jika sampai daku mendengar kabar bahwa dikau kembali menghina nama agung Pahlawan Man, maka daku akan mencarimu dengan segenap daya. Tidak akan ada sesuatu yang baik jika dikau berhasil kutangkap.”


Mantingan hanya menjura ketika penyoren pedang itu melangkah pergi sambil mendengus. Barulah setelah itu, terdengar helaan napas dari Chitra Anggini.


“Dikau teramat sangat merendah, bagaikan tiada sesuatu apa pun lagi yang dapat lebih rendah daripada sikap dikau.” Perempuan itu menggelengkan kepalanya pelan. “Sungguh Mantingan, daku tidak tahu harus menangis atau tertawa.”


Mantingan hanya tersenyum kaku dan meminta Chitra Anggini untuk melanjutkan perjalanan. Ia juga menambahkan agar masalah itu tidak perlu terlalu dipikirkan.


Setelah beberapa saat berjalan, keduanya tiba di hadapan sebuah gerbang besar yang merupakan pintu masuk ke dalam taman yang besar pula.


Chitra Anggini menjelaskan bahwa di dalam taman itu terdapat banyak hal-hal yang menakjubkan. Mulai dari sihir, tanaman-tanaman siluman, burung-burung anggun, hingga tempat pemandian air panas yang dapat mengisi ulang tenaga dalam para pendekar.


“Bagi para pelancong, taman ini akan menjadi tempat hiburan paling utama yang harus mereka kunjungi sebelum meninggalkan kotaraja. Sedangkan bagi penduduk kotaraja sendiri, taman ini telah menjadi tempat rutin yang mereka kunjungi untuk melepas diri dari kepenatan,” jelas Chitra Anggini.


Mantingan mengangguk paham sambil memandang ke sekitar. Pantaslah gerbang masuk ini dipenuhi oleh orang banyak. Ada yang bertampang asing, ada pula yang bertampang malaya.


“Kurasa, bukan tidak mungkin jaringan perempuan bayang-bayang itu ada di tempat ini,” lanjut Chitra Anggini dengan mata yang memandang sejurus ke hadapan. “Dan bukan tidak mungkin pula terdapat jaringan bawah tanah lainnya yang mampu mengenali jati dirimu.”


“Kita ambil tanggungan itu.” Mantingan menjawab dengan mantap. “Tugas yang sedang kita emban bukanlah tugas yang ringan, maka tanggungannya pun bukan ringan-ringan saja. Kecuali jika kau tidak hendak membahayakan nyawa sendiri, Chitra, maka sungguh bukan mengapa kau menunggu di luar sini.”


“Bahaya yang kautanggung adalah sama dengan bahaya yang akan kutanggung.” Chitra Anggini menatap mata Mantingan dengan bersungguh-sungguh. “Aku tetap ikut bersamamu.”


___

__ADS_1


catatan:


Terima kasih telah sabar menunggu. Saya akan usahakan untuk update setiap malamnya, tetapi ini bukan janji.


__ADS_2