
BAGAIKAN SETETES air jatuh yang kemudian naik kembali ke atas, begitulah keajaiban Mantingan. Pemuda itu berdiri. Tegak. Bagaikan sebelumnya tidak pernah menghajar atap beton sekuat batu cadas. Tidak pernah berdebam jatuh.
Ditatapnya tiga lawan di depan. Napasnya memburu. Diraba-raba olehnya gagang Pedang Kiai Kedai. Akan bersikap tanpa ampun pada mereka bertiga. Sungguh ini pertaruhan hidup, hidupnya sendiri sekaligus hidup orang lain.
“Mereka sedang sedang lengah sekarang, serang mereka sekarang!” Suara Rara kembali terdengar, memberi perintah. Meyakinkan Mantingan.
Tanpa perlu di tunda-tunda lagi, Mantingan mengentak kakinya keras. Tubuhnya menerjang kuat ke depan. Selama di perjalanan, Mantingan mencabut Pedang Kiai Kedai dari sarungnya. Membelah udara. Mendesing.
Semuanya tampak melambat. Bagaikan air menetes, tiba-tiba saja mengambang di udara. Di sanalah Mantingan dapat berpikir jernih dalam waktu yang singkat. Walau kecepatan tubuhnya tidak sama seperti kecepatan pikirannya. Saat-saat itulah suara Rara terdengar. Tenang dan halus.
“Mantingan, kau tetap tidak bisa mengalahkan mereka sendirian. Cukup membuat mereka tersudut atau sekadar menahan mereka, setidaknya hingga Paman Bala punya kuasa untuk bangkit. Kalian hanya perlu menuntaskan dua mantra lagi. Dengan Jurus Naga Membelah Badai, peluang kalian memenangkan pertempuran sangat besar.”
Mantingan diam saja. Pikirannya masih terus bekerja. Seakan tidak bisa diganggu gugat. Suara Rara tetap didengarnya, dipahami dan dilaksanakan.
Waktu seakan kembali pada garis edarnya. Mantingan kembali melaju dengan sangat cepat, hingga-hingga tubuhnya tidak lagi terlihat. Pedang Kiai Kedai memancarkan kilau api obor. Tampak membara.
Dalam waktu yang singkat itu pula, musuh telah memutuskan untuk bergerak. Tidak peduli keajaiban apa yang membuat Mantingan dapat kembali bangkit dari keterpurukannya, atau bahkan saat Mantingan dapat melawan mereka dengan sangat beringas sekalipun.
Mereka bertiga berpencar. Satu ke kanan. Satu ke kiri. Satu lainnya ke atas. Berusaha mengimbangi kecepatan Mantingan. Sungguhlah mereka dapat menghindar dengan cara itu.
__ADS_1
Namun ternyata, mereka bukan saja hanya menghindar. Ketiganya melemparkan sebilah senjata rahasia yang cepatnya bukan main. Semuanya tertuju pada Mantingan. Dan seandainya jika meleset tidak mengenai Mantingan sekalipun, tidak satupun dari ketiga musuh terkena sambaran senjata rahasia nyasar.
Mantingan memutar tubuhnya dengan gerak cepat. Pedang Kiai Kedai membuat suatu pusaran angin. Karena kecepatan angin itu tidak secepat Mantingan, maka mereka berkumpul tanpa bisa banyak bergerak. Berwujud seperti kumpulan awan. Melindungi hampir seluruh tubuh Mantingan.
Saat tiga senjata rahasia berbenturan dengan angin yang melindungi Mantingan, maka saat itulah benda-benda tersebut berubah arahnya. Mengikuti gerak angin. Tidak pernah berhasil menembus perisai angin.
Mantingan bisa lolos dari terjangan tiga senjata rahasia dengan sangat mudah. Ia mendarat mulus di lantai ruangan, begitu pula dengan tiga lawannya yang dengan cepat kembali berkumpul. Sedangkan itu, pusaran angin yang Mantingan buat masih terus berputar membawa tiga senjata rahasia di dalamnya. Mantingan mengancungkan jari telunjuk dan tengahnya, tersenyum lebar.
Angin yang semula hanya berpusar itu kini mulai bergerak. Dengan kecepatan yang luar biasa cepat. Tiga senjata rahasia itu ikut berputar kencang. Jika seperti itu, maka apa pun yang menabrak angin dan tiga senjata rahasia itu, pastilah akan hancur menjadi cacah daging. Ruangan dipenuhi suara riuh keras, bagaikan telah terjadi badai di dalamnya.
Mantingan masih dengan jari telunjuk dan jari tengah terancungkan, ia mengendalikan gerak angin ke arah tiga lawannya yang saling berdiri di pojok ruangan.
Namun, saat senyum Mantingan semakin melebar, di sanalah hal yang tidak terduga-duga terjadi. Pusaran angin yang kuat itu melemparkan senjata-senjata rahasia ke arah tiga orang bertopeng itu. Lawan-lawan Mantingan itu melebarkan matanya. Dan di balik topeng, wajah mereka menjadi kecut.
Mereka mengeluarkan sebilah pisau panjang melengkung yang telah diketahui bernama kerambit, dengan gerakan seperti bayang-bayang semu, mereka menangkis seluruh senjata rahasia yang mengincarnya. Terlontar ke mana-mana. Menancap di atap, dinding, dan lantai. Berdegung.
“Cukup mengesan—”
Tetapi Mantingan tidak memberi kesempatan pada mereka untuk berbicara lagi. Angin yang masih berputar itu, diledakkan olehnya. Menjadi ledakan udara yang teramat kuat. Tanpa ampun, mengempas tiga lawannya ke belakang. Menghajar tembok keras.
__ADS_1
Suara yang dihasilkan oleh ledakan angin itu tidak kalah kuat. Suara keras itu mampu membangunkan Paman Bala dari ketidaksadarannya. Bagaikan orang tidur yang tiba-tiba ditimpa seember air, Paman Bala berteriak keras dan loncat berdiri. Kepalanya menoleh ke samping kanan dan kiri secara bergantian, masih mengumpulkan ingatan dan kesadaran.
Sedangkan tiga lawan Mantingan juga mulai bangkit. Mereka mengaduh pelan sambil mengusap punggungnya. Di sela-sela itu, Mantingan juga mendapati suara tawa kecil yang sangat dingin dari arah musuh-musuhnya.
“Luar biasa. Orang ini sepertinya memang ingin membuat kita merasakan kesenangan.”
Mantingan tidak peduli tentang apa yang dikatakan orang bertopeng aneh itu. Sungguh saat ini yang menjadi perhatian utamanya adalah Paman Bala dan putrinya yang tak jauh dari tempat musuh berdiri.
Paman Bala seperti telah mendapatkan ingatannya kembali. Saat ia melihat tubuh kaku putrinya yang berjarak sangat dekat dengan musuh, langsung saja dirinya berlari sebelum menggendong putrinya menjauh.
Musuh sebenarnya sudah mengetahui pergerakan Paman Bala sekaligus juga mengetahui ia telah mengambil putrinya. Akan tetapi, mereka terlihat tidak peduli. Mata mereka tetap terpusat pada Mantingan. Dengan tatapan yang jika dijelaskan akan sangat mengerikan.
Salah satu dari orang bertopeng aneh itu bertanya, “Siapakah namamu, wahai anak muda? Kau sangat menarik. Jarang-jarang aku bisa mencicipi pendekar muda yang sangat kuat seperti dirimu. Boleh kuakui kau cukup bertenaga."
“Siapa namaku tidak lagi penting bagi kalian.” Mantingan menatap tajam mereka semua secara bergantian.
Terdengar gelak tawa. Entah siapa di antara tiga orang itu yang tertawa. Mereka tertutup topeng, tidak ada gelagat yang menunjukkan bahwa salah satu dari mereka sedang tertawa. Tetapi benarlah bahwa tidak ada seorang lain yang tertawa selain seseorang di antara mereka. Tanda kekejian sudah merubah cara mereka tertawa.
“Mantingan, saat ini mereka benar-benar dalam keadaan gila. Mereka sangat ingin kamu merasakan pembunuhan yang perlahan dan menyakitkan,” kata Rara yang entah bagaimana telah ada dis sebelahnya. “Saat-saat seperti inilah yang menguntungkan bagimu. Saat musuh sedang kalap, maka di sanalah mereka lengah.”
__ADS_1
Mantingan tersenyum, memberi bisikan angin pada Paman Bala. Tak lama kemudian, Paman Bala datang membawa putrinya di gendongan.