Sang Musafir

Sang Musafir
Bendera yang Menghentikan Mantingan


__ADS_3

MANTINGAN SEAKAN kehilangan semangat tempurnya. Ia melihat ke lubuk hati yang terdalam, apakah benar sudah tidak tersisa dendam yang dulu pernah bersemayam di dalam hatinya? Apakah benar bahwa dirinya telah merelakan kematian Rara yang sama sekali tidak mendapat keadilan?


“Dendam bagaikan arang, Rara. Sewaktu-waktu ia hanya membara, sewaktu-waktu terbakar, dan sewaktu-waktu padam. Betapapun, masih tersisa dendam di dalam benakku. Tetapi ia dalam keadaan padam sejak lama.”


“Apakah dendam kamu dapat kembali membara, Mantingan?” Kembali Rara melontarkan pertanyaan.


Mantingan diam sejenak. “Dapat saja—”


“Dan adakah kamu bersedia mempertahankan agar dendam itu tidak kembali membara?”


Dengan perasaan terkejut, Mantingan bertanya, “Apa maksudmu, Rara?”


“Lihatlah di hadapanmu, Mantingan.”


Mantingan melihat ke arah depan, kemudian menyadari bahwa dirinya sedikit lagi sampai di tempat pertempuran. Pertempuran berlangsung di sebuah padang rumput luas dengan begitu hebatnya. Dua kubu saling menempur satu sama lain, hingga sulit membedakan mana kawan dan mana musuh.


Delapan puluh pendekar yang bersama Mantingan meloncat dari pepohonan dan mulai menapaki rerumputan untuk melesat ke arah pertempuran.


Mantingan pun berbuat sedemikian sebelum merapalkan Ilmu Mata Elang guna melihat pertempuran jauh lebih jelas lagi. Sebentar kemudian, raut wajahnya berubah. Tiba-tiba saja kecepatan larinya berkurang hingga perlahan mulai tertinggal rombongannya.


Mantingan menangkap maksud dari perkataan Rara.


“Dan adakah kamu bisa mempertahankan agar bara itu tidak kembali membara?”


Tidak jelas apakah Rara memang sedang berkata ataukah ingatannya saja yang mengulang perkataan itu. Tetapi apa pun jadinya, kalimat tersebut telah menyadarkan sekaligus mengejutkan Mantingan.


Betapa di depan sana, di tengah-tengah jalannya pertempuran, beberapa bendera hitam bergambar jangkrik merah berkibar gila-gilaan diterpa angin kencang.


Mantingan pernah melihat bendera semacam itu. Jelas ia mengingatnya. Ketika Kota Angin Nyiur digempur kekuatan Penginapan Tanah, bendera yang sedang berkibar saat ini berkiblar pula di waktu itu!

__ADS_1


“Bersediakah dirimu tidak menempur mereka sebagai bukti wujud bahwa kamu mencintaiku, Mantingan?”


Mantingan menoleh ke samping kanannya dan melihat sosok Rara yang tengah melayang-layang di udara dengan raut wajah sayu serta pucat pasi. Tiba-tiba saja Mantingan berhenti menapak rumput. Mendarat dalam jarak beberapa tombak lagi dari pertempuran.


Mantingan hanya diam memandangi pertempuran dengan perasaan carut-marut. Tiada satupun yang menaruh perhatian kepadanya, bahkan Jakawarman pun disibukkan oleh lawan-lawan yang langsung menyambut kehadirannya. Mantingan tetap diam sementara Rara terus berbicara di sampingnya.


“Tunjukkanlah bahwa kamu benar-benar merelakan kepergianku,” katanya.


Mantingan tetap diam dengan pandangan kosong tetapi tajam, ia tenggelam dalam alam pikirnya.


“Engkau tampak sangat yakin untuk memerangi mereka, Mantingan.” Hingga muncullah sebuah pertanyaan dari dara itu. “Kamu akan tetap bertarung untuk wanita dari Champa itu, bukan?”


Mantingan kembali melirik Rara di sebelahnya. Kini terlihat gadis itu mengucurkan air mata tanpa isak tangis. Wajahnya semakin pucat. Matanya sembab, berkantung biru.


“Benarkah kamu masih mencintaiku, Mantingan? Apakah cintamu telah kauberikan pada wanita dari negeri Champa itu?” Rara berkata dengan nada datar. Raut wajah Mantingan semakin memburuk.


Pemuda itu tiba-tiba saja berlutut. Dicabutnya Pedang Kiai Kedai dari sarungnya sebelum ditancapkan kuat-kuat ke dalam tanah. Pedang itu bergetar barang sejenak sebelum akhirnya diam bergeming. Angin masih berembus kuat. Melambai-lambaikan rerumputan dan rambut panjang Mantingan yang terurai di bawah capingnya.


Dilihatnya Rara memancarkan senyum penuh kebahagiaan. Kulitnya memancarkan sinarnya. Matanya taklagi berkantung. Air matanya berhenti mengalir dan seolah punah begitu saja dari pipinya yang memerah muda.


Mantingan hanya bisa menarik napas panjang sebelum memandangi pertempuran di depannya.


Baru disadari olehnya, bahwa pertempuran tidak berjalan sesuai perkiraan. Tentu saja, sebab tiada laporan bahwa yang kelompok hitam yang menyerang adalah Penginapan Tanah. Kelompok itu termasuk jaringan dunia bawah yang diisi pendekar-pendekar kuat.


Sekalipun patih perang Tarumanagara telah mati-matian membantu, mereka masih terdesak. Kini Mantingan berhasil mendapat perhatian dari beberapa pendekar Laskar Kerbau Taruma. Pikiran mereka dipenuhi tanda tanya setelah menyadari tindakan Mantingan.


Mengapakah pemuda yang diharapkan menjadi dewa perang bagi pihak kawan, kini hanya dapat bersimpuh lutut di belakang pedang yang ditancapkan pada tanah seolah menolak bertempur?


Tetapi mereka memilih untuk tidak mengganggu ketenangan pemuda itu dan meneruskan pertempuran.

__ADS_1


Jakawarman kini menggenggam dua pedang sekaligus untuk menghadapi musuh-musuh yang mengelilinginya. Keringat dingin membasahi punggung dan wajahnya. Betapa sebenarnya ia tak lihai dalam menghadapi pertempuran. Yang diketahuinya adalah cara memacu kuda agar secepat mungkin meninggalkan daerah pertempuran.


Beruntungnya, Jakawarman tidak pernah meninggalkan pelatihan meski tidak memiliki bakat. Sehingga pengajaran yang pernah diberikan padanya dapat berguna saat ini.


Sedangkan itu, Cakrawarman dengan ganasnya mencabik-cabik musuh dengan sepasang pedangnya. Berbeda dengan pendekar lain yang bertarung dengan tata gaya, Cakrawarman bertarung selayaknya orang gila. Dia akan mencabik-cabik semua musuh yang terlihat oleh matanya.


Bagi musuh, Cakrawarman adalah harimau kelaparan yang dilepas ke dalam pertempuran berdarah. Jika mereka berada di sekitar pria kekar itu, maka akan sulit untuk mempertahankan nyawa.


Meskipun sedemikian kehebatannya, kehadiran Cakrawarman masih belum cukup untuk membalik keadaan. Pihaknya masih terus terdesak. Musuh sekiranya berjumlah ratusan hingga seribu pendekar berkeahlian tinggi, sedangkan pihaknya hanya memiliki delapan puluh pendekar berkeahlian sedang hingga tinggi saja.


Namun pada akhirnya, keganasan Cakrawarman itu tidak selalu menguntungkan. Ketika musuh merasa tidak bisa menghindar dari jeratan Cakrawarman, mereka memutuskan untuk menyerangnya segila-gilanya meskipun itu akan menjadi serangan terakhir mereka.


Mereka takpeduli. Toh dus, pada akhirnya mereka akan mati pula di tangan Cakrawarman.


Cakrawarman menerima serangan dari berbagai arah. Bahkan para musuhnya mulai membentuk kerjasama untuk menggunakan pendekar berkeahlian rendah sebagai perisai hidup bagi pendekar berkeahlian tinggi yang akan memberi serangan terakhir pada Cakrawarman.


Ketika keadaan benar-benar telah mendesaknya, Cakrawarman mulai mencari keberadaan Mantingan yang tidak nampak di medan pertempuran.


***


MANTINGAN MASIH pula bersimpuh lutut di hadapan pedangnya. Semilir angin mendinginkan wajahnya, namun tidak dengan benaknya.


Betapapun, benaknya panas melihat pihak kawan semakin terdesak oleh kekuatan musuh, sedang dirinya hanya bisa diam membisu. Tak sedikitpun pedangnya terangkat untuk menyerang lawan. Selama Rara masih ada di dekatnya, ia merasa tak akan mampu untuk melakukan hal seperti itu.


“Inilah tanda bahwa kamu masih mencintaiku ketimbang perempuan dari Champa itu, Mantingan. Janganlah kamu bersedih melihat apa yang tersaji di hadapanmu.”


Mantingan memejamkan matanya dan mencoba meresapi perkataan Rara. Setelah beberapa lama, Mantingan menghela napas panjang. Ia tahu bahwa apa yang dilakukannya ini sangat membahayakan nyawa Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina.


Tetapi selama berada di dekat Rara, apakah yang mampu ia perbuat?

__ADS_1



__ADS_2