
MANTINGAN MELIRIK ke samping. Hanya sekilas. Namun, ia mampu melihat perempuan itu berdiri tepat di sampingnya. Kini Mantingan sadar, bukan karena dirinya yang lengah hingga tak mampu menyadari kehadiran perempuan tersebut. Sesungguhnya ia telah memasang pendengaran tajam dan meningkatkan kewaspadaan sejak langkah pertamanya masuk ke dalam kedai. Perempuan di sampingnya itu bukan perempuan biasa.
“Apakah maksud dari semua ini?” Hendaknya Mantingan tidak ingin berbasa-basi. Matanya menyorot orang itu setajam pedang.
Yang ditatap justru tertawa. Dengan nada yang aneh, dia bertanya, “Tuan, hendak makan apakah malam ini?”
Mantingan melihat senyum sinis di ujung bibir perempuan itu. Jelas dia mempermainkannya.
“Jika Tuan tidak dapat memilih makanan, maka biarkanlah sahaya, Pendekar Sanca Merah, yang membantu Tuan memilih hidangan. Tuan hanya perlu duduk manis sambil menikmati tuak, sahaya memiliki tuak dengan mutu terbaik setanah Javadvipa.”
“Pendekar Sanca Merah ....” Mantingan mendesis pelan. “Daku tidak pernah mendengar namamu. Tetapi siapapun dikau, daku tetap tidak mau meladeni.”
Mantingan mengambil ancang-ancang. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk melarikan diri keluar kedai. Akan tetapi, perempuan yang mengaku sebagai Pendekar Sanca Merah itu jelas mengetahui gelagatnya. Pendekar itu tertawa keras bagaikan bukan perempuan.
“Tuan, Tuan, Tuan ... janganlah bodoh. Kedudukan Tuan sedang tidak menguntungkan di sini.”
Mantingan mengerutkan dahinya. “Dengar, Pendekar Sanca Merah, diriku tidak berniat bertarung denganmu untuk urusan yang sangat tidak perlu. Kedudukanku di sini cukup menguntungkan, diriku bisa melesat pergi kapan saja.”
Perempuan itu melebarkan senyumnya. “Duduklah, Tuan, dan dengarkan sahaya bercerita. Dan dapat sahaya pastikan, wajah Tuan akan pucat pasi dan tidak lagi mau melarikan diri setelah mendengar ceritaku.”
Mantingan menggeleng pelan sebelum berbalik badan. Biarpun ia akui bahwa apa yang diucapkan perempuan itu telah mampu membuatnya penasaran, tetapi itu saja tidak cukup untuk mendorongnya bertindak gegabah. Mantingan memilih menghindari permasalahan di dunia persilatan.
__ADS_1
Tepat sebelum Mantingan melesat pergi, Pendekar Sanca Merah berkata, “Apakah Tuan tidak akan tertarik sekalipun sahaya menyebut nama Bidadari Sungai Utara, Kana, Kina?”
Mantingan menahan gerakannya. Hampir saja ia berkelebat keluar kedai. Ia langsung tercekat. Wajahnya pucat pasi. Jantungnya berhenti barang sekedip, lalu berdetak jauh lebih cepat daripada awalnya. Darahnya berdesir, akan tetapi kulit tubuhnya putih serupa pualam!
Mantingan berbalik badan. Menatap tajam si perempuan yang entah bagaimana telah duduk di kursi belakang meja sambil menghisap cangklong berasap tebal. Mantingan menatapnya tajam; perempuan itu justru menatapnya menggoda.
“Duduklah, Tuan, dengarkanlah Pendekar Sanca Merah ini bercerita.”
Mantingan meraba pangkal Pedang Kiai Kedai, sambil berkata keras, “Dikau apakan Bidadari Sungai Utara dan dua anak itu?!”
“Tuan, duduklah di sini.” Pendekar Sanca Merah mengembuskan asap cangklong melalui mulutnya. “Akan daku tuturkan segala sesuatu yang perlu Tuan ketahui. Sahaya juga sebenarnya tidak memiliki selera bertarung, Tuan. Jika harus memilih, sahaya akan memilih perdamaian ketimbang permusuhan.”
“Pendekar Sanca Merah!” bentak Mantingan tidak sabar, “jika dikau menyentuh mereka, daku akan ....”
Tidak menunggu lebih lama lagi, Mantingan melesatkan diri ke arah pintu dengan kecepatan yang tidak kasat mata. Tubuhnya seakan ditelan bumi, padahal yang sebenarnyalah ia sedang bergerak sangat cepat hingga tidak dapat dilihat. Tetapi, musuh telah menyiapkan sedikit kejutan tiada terduga untuknya.
Pintu kedai tiba-tiba saja tertutup. Sangat cepat hingga mengalahkan kecepatan laju Mantingan! Bukan itu saja yang membuat Mantingan terkejut. Sesosok manusia terpampang begitu pintu tertutup. Mantingan tidak dapat melihat wujud orang itu dengan jelas, tetapi ia dapat melihat jarum-jarum hitam melesat ke arahnya.
Mantingan merubah arah lesatannya ke atas. Ia berputar beberapa kali di udara. Menangkis belasan jarum hitam yang mengarah padanya. Lelatu api tercipta tatkala jarum-jarum itu berbenturan dengan Pedang Kiai Kedai.
Mantingan kembali menginjak lantai kedai. Dilihatnya orang yang telah menyerang dengan belasan jarum beracun. Matanya melebar setelah melihat wujud orang tersebut.
__ADS_1
“Golek Jiwa ....” Mantingan bergumam pelan.
Yang dilihatnya itu bukanlah manusia, melainkan hanya perwujudannya saja. Sebenarnyalah yang dilihatnya itu merupakan golek kayu yang dibentuk menyerupai manusia dewasa. Wujudnya sangat menyeramkan. Jumlah tangannya ialah dua pasang. Wajahnya bundar seperti telur, diwarnai semerah darah. Mulutnya terbuka lebar, menampilkan ratusan gigi besi runcing.
Golek kayu itu maju perlahan, mendekati Mantingan. Bekertak-kertak suaranya. Mata tajam menatap Mantingan, seolah golek itu bukanlah benda mati!
Mantingan kembali menoleh ke belakangnya. Perempuan yang mengaku sebagai Pendekar Sanca Merah itu masih duduk manis di belakang meja sambil menghisap cangklong. Kembali dia melihat Mantingan dengan sinis.
“Apakah engkau masih hendak melarikan diri, Tuan Man?” katanya menggoda, “kemarilah dan duduk di depan sahaya, pastilah Tuan tidak akan menyesal nantinya. Tetapi jika Tuan menolak permintaan sahaya ini, aduhai, tidak terbayangkan penyesalan apa yang Tuan dapatkan nantinya.”
“Daku tidak memiliki permusuhan dengan dikau, Pendekar Sanca Merah.” Mantingan berkata tenang. “Tetapi daku tidak akan ragu menyerangmu jika engkau membahayakan salah satu dari kami.”
Mendengar perkataan Mantingan, perempuan itu tertawa lepas. Asap cangklong keluar dari bibir dan hidungnya berbarengan dengan tawanya. “Daku tidak mengerti jalan pikir pendekar sepertimu, Tuan. Apakah Tuan masih mengira bahwa kedudukan Tuan cukup untuk mengancam dan menakut-nakutiku? Tuan, lihatlah! Sahaya memiliki Golek Jiwa yang bisa sahaya kendalikan sesuka hati. Apakah mata Tuan telah rabun atau malah buta untuk melihat ini?”
Mantingan memilih untuk tidak terpancing amarahnya. “Apakah yang sebenarnya engkau kehendaki dariku jika bukan permusuhan?”
“Sahaya memang tidak memiliki atau ingin membuat permusuhan dengan Tuan.” Pendekar Sanca Merah bertopang dagu sebelum melanjutkan, “Tetapi sahaya memiliki kepentingan atas diri Tuan.”
“Katakan segera apa keinginanmu itu, jika memang memungkinkan, maka aku akan menuruti.”
Pendekar Sanca Merah menunjuk bangku di depannya dengan mata. “Silakan duduk, Tuan Man. Sahaya berjanji tidak akan menyerang Tuan dari belakang.”
__ADS_1
Tidak mudah bagi Mantingan untuk mempercayai orang seperti Pendekar Sanca Merah. Tetapi ia mendapati tidak memiliki pilihan selain menuruti keinginan perempuan itu. Betapapun, nyawa Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina boleh jadi sedang terancam.