
Jalan di depan Mantingan mulai mengecil, lebih banyak semak belukar yang tumbuh di tepi maupun di tengah jalan. Mantingan tersenyum tipis, sepertinya ia telah salah memilih jalan. Mantingan sebenarnya tidak mengapa, memang tujuannya adalah daerah perhutanan, untuk memburu Kembangmas.
Kemudian jalan itu sama sekali menghilang ditelan semak belukar yang cukup tinggi, Mantingan berbelok ke arah kanannya, yang mana di sana tidak terlalu banyak semak belukar. Sejauh mata memandang di depan, Mantingan hanya melihat barisan pohon pinus yang cukup rapat. Tanah yang diinjaknya adalah tanah gambus, terlihat pula beberapa buah pinus merekah.
Mantingan terus melangkah maju. Jika dilihat dari arah matahari saat ini, maka Mantingan sedang berjalan ke arah timur. Semoga saja Mantingan tidak memasuki wilayah perbatasan Giri, akan banyak prajurit hutan yang merona, dan itu akan jadi urusan merepotkan.
Tupai-tupai terlihat melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Satu-dua burung kutilang terbang berbarengan. Angin berembus pelan, membawa udara dingin dari atas gunung. Serangga-serangga hutan masih berbunyi nyaring dan melengking.
Semakin masuk ke dalam hutan, pepohonan semakin lebat. Kini tidak hanya pohon pinus saja yang mengisi hutan, beberapa pohon lainnya juga tumbuh, tinggi mereka mengalahi tinggi pohon pinus itu sendiri.
Mantingan berhenti dan melihat ke sekitar. Agak jauh di kanannya terdapat sungai kecil yang airnya jernih, dan itulah alasan mengapa kemudian dirinya mendirikan tenda di sini. Mantingan akan mencari Kembangmas di sekitaran tempat ini, dan akan kembali ketika malam tiba, lalu kembali melanjutkan pencarian esok harinya. Jika diperlukan, Mantingan akan berpindah tempat nantinya lebih ke dalam hutan, untuk mencari lebih dalam lagi.
Mantingan tidak mendirikan tenda kecil saja seperti biasanya, kali ini Mantingan membangun beberapa bangunan kayu kecil lainnya di sekitar tenda.
Hari itu dihabiskan Mantingan untuk membangun bangunan-bangunan kecil itu. Bangunan itu digunakan untuk menyimpan persediaan makanan, lalu ada pula bangunan khusus untuk menanam, didirikan pula kandang jika diperlukan nantinya, dan kamar mandi di tepi sungai.
Malam harinya tiba, Mantingan kali ini tidak ragu-ragu untuk menyalakan api unggun. Hingga teranglah hutan yang tidak pernah terang di malam hari itu.
__ADS_1
Mantingan tidak memasak makanan. Bukan karena ia tidak lapar, tetapi karena memang pendekar seperti dirinya hampir tidak merasa lapar. Bagi pendekar, makanan diperlukan sebagai penambah tenaga saja, atau sebagai pemanja lidah saja.
Mantingan menghabiskan malam dengan bersamadhi di depan api unggun. Tidak ada hewan buas yang cukup berani menyerang Mantingan, insting mereka mengatakan bahwa Mantingan tidak patut didekati.
***
Kini di depan Mantingan terdapat sebuah bunga yang bentuknya aneh, warnanya pula aneh.
Ini adalah bunga langka pertama yang Mantingan temui semenjak memulai perburuannya pagi tadi. Agak jauh Mantingan berjalan dari kemahnya, tetapi ia yakin tidak akan tersesat, sebab telah ditandai beberapa batang pohon sebagai penuntunnya pulang nanti.
Bunga Sari Ungu ini cukup langka, dan harganya tergolong mahal. Bunga ini dimanfaatkan sebagai pewarna pakaian. Sangat sulit mendapatkan warna ungu, dan bunga inilah salah satu cara untuk mendapatkan warna ungu. Tetapi warna ungu yang dihasilkan oleh Bunga Sari Ungu sangatlah mahal ketimbang bahan-bahan pewarna ungu lainnya. Warna ungu dalam Bunga Sari Ungu jauh lebih pekat dan bersinar, maka dari itu banyak bangsawan yang membeli bunga ini dari para pemburu.
Karena bunga ini termasuk bunga yang langka, dan bukan tidak mungkin hampir punah, maka Mantingan enggan memetiknya begitu saja. Bukankah itu sama saja mengurangi jumlah Bunga Sari Ungu?
Mantingan meneliti bunga tersebut sampai akar-akarnya, lalu ia membuat sebuah putusan. Mantingan akan mengambil bunga itu, untuk dikembangbiakkan, sehingga ia tidak akan mengurangi jumlah Bunga Sari Ungu yang langka di muka bumi.
Karena tidak membawa peralatan yang memandai, Mantingan menggunakan pedangnya sebagai cangkul. Ia keluarkan pedangnya dan ditusukkan ke dalam tanah. Setelah itu, Mantingan memotong tanah dengan gerakan menyeret. Mengelilingi bunga tersebut. Perlahan Mantingan tarik batang bunga tersebut, hingga keluarlah dengan akar yang masih mengikat tanah. Dengan cara ini, bunga tersebut tidak tercabut dari tanahnya.
__ADS_1
Mantingan lalu mengikat tanah berbentuk tabung di akar bunga itu, hingga tidak akan pecah saat dibawa. Setelah selesai mengikatnya, Mantingan segera membawa bunga itu ke arah kemahnya.
Mantingan tentu tidak berkelebat selayaknya pendekar-pendekar lain. Dikhawatirkan bunga di tangannya itu dapat robek terkena angin.
Maka dengan begitu, Mantingan agak lama sampai di perkemahannya. Matahari sedikit lengser ke barat, tetapi terlalu dini untuk dikatakan senjakala.
Mantingan menanam Bunga Sari Ungu itu di ruangan yang dikhususkan untuk menanam. Ruangan itu tidak terlalu tinggi. Memiliki atap yang terbuka, namun dapat pula ditutup jika terjadi hujan lebat nantinya. Di dalam ruangan itu sepenuhnya adalah tanah yang telah Mantingan gemburkan, membentuk beberapa petak tanah yang siap ditanam, terdapat juga tabung buluh berisi air untuk menyiram.
Dari kitab yang ia baca di perpustakaan, Bunga Sari Ungu ini pernah membuat keluarga bangsawan Salakanagara berseteru memperebutkannya. Dan jika telah terjadi perseteruan antar-bangsawan, pembunuhan hampir tidak bisa dielakkan. Hanya untuk memperebutkan bunga setinggi lima jengkal itu, darah harus tertumpah. Sejak terjadi perseteruan itu, harga Bunga Sari Ungu semakin tinggi, permintaan dari pelanggan juga semakin banyak. Hal tersebut menjadikan Bunga Sari Ungu semakin langka akibat maraknya pemburuan.
Mantingan bukan ingin membunuh Bunga Sari Ungu atau bunga-bunga langka lainnya. Memang Mantingan akan mengambil keuntungan dari bunga-bunga langka itu, tetapi Mantingan tidak memburu tanpa bertanggungjawab. Mantingan mengembangbiakkannnya. Bukan saja Mantingan tidak mengurangi jumlah bunga-bunga itu, bahkan Mantingan menambah jumlahnya.
Apa yang Mantingan lakukan itu sesuai dengan arahan gurunya, Kiai Guru Kedai, bahwa perburuan adalah suatu hal yang dilarang jika situasi tidak benar-benar terdesak. Kiai Guru Kedai selalu membudidayakan hewan buruannya untuk ia makan, tidak seperti pemburu-pemburu lain yang langsung membunuh hewan buruannya. Mantingan dianjurkan untuk berbuat sedemikian rupa, dengan tidak membunuh makhluk buruan jikalau situasi tidak terlalu mendesak.
Itu pula alasan mengapa Mantingan mendirikan tempat khusus menanam dan kandang di sekitar tendanya.
Mantingan tidak akan melanjutkan perburuannya untuk hari ini. Sebab ia merasa, berburu tanpa alat memadai justru berbahaya bagi bunga dan dirinya sendiri. Tidak mungkin Mantingan memakai Pedang Kiai Kedai sebagai cangkulnya, bisa-bisa pedang itu tumpul dan berkarat.
__ADS_1