Sang Musafir

Sang Musafir
Berpisah dengan Kartika


__ADS_3

CHITRA Anggini mendongakkan kepalanya. Sempurna menatap wajah Kartika yang terbias sinar fajar. Betapa perkataan itu telah benar-benar menyentuh lubuk benaknya yang terdalam.


“Engkau sama sekali tidak memiliki kewajiban untuk kembali kepadaku atau ke Kelompok Penari Daun, Adik. Engkau bebas melangkah ke mana saja yang kaumau. Aku tidak mempermasalahkan. Tetapi berjanjilah kepadaku, untuk selalu menjadi manusia yang baik. Dan sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang berguna. Maka berjanjilah kepadaku bahwa engkau akan terus menjadi manusia berguna. Niscaya jika aku mendengar namamu disebutkan dari kedai ke kedai, yang kurasakan hanyalah kebanggaan dan kebanggaan, tiada penyesalan sama sekali.”


“Daku berjanji.” Chitra Anggini mengangguk mantap.


Mantingan berdeham beberapa kali untuk mengingatkan Chitra Anggini. Betapa pun, mereka harus segera berangkat sebelum Munding Caraka kembali, atau itu akan membuat urusan tambah runyam.


Chitra Anggini melepas pelukannya perlahan-lahan. Menatap mata Kartika lamat-lamat, lalu berkelebat pergi secara mendadak dan tiada terduga. Sebelum air matanya kembali tumpah ruah.


Mantingan menyiapkan ancang-ancang untuk berkelebat menyusul Chitra Anggini, tetapi Kartika mengangkat sebelah tangan ke arahnya. Mantingan urung berkelebat.


“Ada apa?” Pemuda itu bertanya.


Kartika menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Chitra adalah perempuan yang keras kepala, kuharap dikau dapat mengendalikannya. Dia jarang tersenyum, tetapi kuharap dikau dapat membuatnya banyak tertawa. Dia gegabah, sering membuat putusan tanpa berpikir panjang, dan daku harap dikau dapat menjaganya selalu.”


Kartika terdiam. Suasana kembali menjadi hening. Mantingan masih urung berkelebat, ia tahu bahwa Kartika belum menyelesaikan perkataannya.


“Bisakah dikau berjanji untuk membawanya kembali hidup-hidup?”


Mantingan mendesah lemah di dalam benaknya. Lagi-lagi dirinya dituntut untuk berjanji. Janji yang mungkin saja akan menjadi janji palsu. Janji yang mungkin saja tiada akan pernah ditepati. Terlalu berat. Mantingan menggeleng.


“Dikau tahu, Kartika. Tugasku ini bukan tidak amat sangat membahayakan. Jangankan nyawa orang lain, nyawaku sendiri pun tidak dapat kujamin keselamatannya. Maaf, Kartika, daku harus menolaknya.”


Kartika mengembuskan napas panjang. Menoleh ke arah timur, matahari telah terbit sempurna. Lantas tersenyum. Pada saat itulah Mantingan berkelebat pergi.


***


BUKAN hal yang sama sekali sulit untuk menemukan letak keberadaan Chitra Anggini. Mantingan memiliki Ilmu Mendengar Tetesan Embun. Menangkap suara isak tangis di tengah hutan belantara, yang sudah barang tentu berasal dari Chitra Anggini.


Mantingan menarik napas panjang-panjang. Gadis itu tepat berada di hadapannya. Terduduk, bersandar di batang pohon. Membenamkan wajahnya di balik kedua belah telapak tangan.


“Kita tidak mungkin diam di sini untuk selamanya.” Mantingan membuka suara setelah diam beberapa saat.

__ADS_1


Chitra Anggini mengangkat wajahnya, menatap Mantingan dengan sedikit kebencian yang tersirat samar. “Benar kata Bidadari Sungai Utara, dikau tidak akan pernah mengerti perasaan wanita!”


Jika keadaannya berbeda, mungkin saja Mantingan sudah tertawa lebar dengan beruraian air mata. Namun, setelah terpaksa meninggalkan Munding Caraka tanpa memberi harapan barang sedikitpun kepadanya, Mantingan sungguh tidak dapat tertawa. Bahkan untuk tersenyum pun amat sangat sulit.


“Dan dikau pula tidak terlalu mengerti perasan lelaki. Lihatlah diriku ini! Mungkin daku tampak senang-senang saja, tetapi sebenarnyalah sama sekali tidak begitu.”


Mantingan berhenti berucap, lalu menengadahkan kepalanya. Menatap langit yang masih bersemburat kemerahan. Hampir-hampir ia menyebut nama Bidadari Sungai Utara, sebab betapa kepergian gadis itu telah menciptakan suatu kehampaan di lubuk benaknya yang sungguh tiada dapat teratasi.


Pada akhirnya, gadis itu pergi. Menikah dengan pria lain. Benar kata Chitra Anggini, Mantingan adalah pengembara, sungguh tiada pantas bersanding dengan Bidadari Sungai Utara yang merupakan putri raja, wanita yang kecantikannya bagai tiada dua, sekaligus kebaikan dan cintanya ... sungguh, Mantingan tidak pantas.


Namun semua itu berhasil disembunyikannya rapat-rapat. Hanya pada saat tertentulah ia meluangkan waktu untuk membiarkan kesedihannya menyala-nyala. Sedangkan selebihnya, dipendam dalam-dalam. Bukankah memang seperti itu sikap lelaki adanya?


Mantingan mengulurkan lengannya sambil menunjukkan senyum lebar kepada Chitra Anggini. “Raihlah tanganku. Dikau tidak akan pernah sendiri.”


Chitra Anggini kembali mengangkat wajahnya. Kali ini tidak dengan tatap kebencian, melainkan dengan tatap kebingungan. Ketika dilihatnya senyum Mantingan, pula dengan uluran tangannya, entah mengapa Chitra Anggini merasakan suatu kehangatan tak terkatakan di dalam dadanya.


Mantap sekali dirinya menyambar uluran lengan Mantingan. Pemuda itu lantas menariknya berdiri.


“Sebagai kawan seperjalanan!” Mantingan berkata penuh semangat.


“Ooooongng!!!”


Mantingan menoleh dengan buncah. Tidakkah dirinya salah mendengar? Itu suara Munding Caraka! Apakah dia berhasil menemukan keberadaannya di sini?


Chitra Anggini segera memasang sikap bertarung. Kantung daun yang terselempang di bahunya kembali terbuka. Gadis itu memang tidak menggunakan pedang, tetapi dia memiliki senjata yang dapat jauh lebih mematikan ketimbang pedang. Betapa pula Chitra Anggini masih menyimpan racun-racunnya!


“OOOONGNG!!!”


Satu-dua daun mulai keluar dari dalam kantung daun milik Chitra Anggini. Mantingan segera mengangkat sebelah tangan, memintanya untuk lebih tenang.


“Ini tidak perlu diwaspadai,” katanya tanpa menatap.


“Seorang pendekar akan berwaspada pada setiap kemungkinan,” balas Chitra Anggini, juga tanpa menatap.

__ADS_1


“Apa pun yang terjadi nanti, jangan pernah menyerangnya. Menghindar saja.”


“Daku harus mempertahankan diri.”


“Dikau tidak akan dikalahkan oleh kerbau itu. Jangan pernah menyerangnya.”


“Ancaman semacam apa pun harus mesti ditumpas.”


Kini Mantingan menoleh ke arah Chitra Anggini. Menatapnya tajam-tajam sambil mengelus gagang Pedang Savrinadeya. Perempuan itu pasti mengetahui apa artinya.


Namun, Chitra Anggini justru mengangkat bahu. “Daku akan tetap menyerang jika kerbaumu mengancamku.”


Mantingan mengembuskan napas perlahan. Benar apa kata Kartika, Chitra Anggini sangat keras kepala. Kini dirinya malah lebih mewaspadai perempuan itu, bukannya pada bahaya lain yang mungkin saja muncul di sekitar, sebab betapa pun tempat ini tidak terlepas dari pengaruh rimba hijau persilatan!


Mantingan mulai melangkahkan kakinya maju ke depan. Menolehkan kepala ke segala penjuru. Mencari wujud dari Munding Caraka yang sudah melenguh panjang sebanyak dua kali itu. Chitra Anggini mengekor di belakang.


“Oooongng ....”


Suara lenguhan itu kembali terdengar. Mantingan memasang Ilmu Mendengar Tetesan Embun pada tingkatan tertinggi. Maka seketika itu pula dirinya mengetahui dari mana suara itu berasal.


Mantingan mendongak ke atas. Sempurna menatap langit. Sempurna pula melihat sebuah titik kecil berwarna merah di kejauhan yang lambat laun semakin membesar. Dari sanalah suara lenguhan panjang itu berasal. Mantingan terkesiap.


“Oooongng!!!”


Munding Caraka, entah bagaimana gerangan, turun dari langit. Mendarat tepat di hadapan Mantingan dengan wujud silumannya.


Chitra Anggini mundur beberapa langkah ke belakang dengan mulut terbuka lebar. Menatap tak percaya.


___


catatan:


Chapter ini terinspirasi dari kepak sayap banteng mer—

__ADS_1


Tunggu sebentar, ada tukang bakso di depan, kucing saya kebetulan sedang lapar. Sampai berjumpa di esok hari!



__ADS_2