
TIGA PENDEKAR Perguruan Angin Utara menjawab serempak. “Kami akan melaksanakannya!”
Mereka mengucapkan salam perpisahan sebelum benar-benar berpisah, melaksanakan tugasnya masing-masing. Sedangkan dua prajurit laskar khusus berpakaian rimba dan bersenjatakan tombak itu hanya bisa menyunggingkan senyum canggung karena terkesan diacuhkan Mantingan.
Menyadari hal tersebut, Mantingan lekas berkata, “Tidak apakah jika kami melanggar aturan dengan melakukan semua ini?”
“Meskipun sebenarnya Pahlawan Man telah melanggar peraturan, tetapi kami yakin bahwa apa yang dilakukan Pahlawan pastilah putusan terbaik dari yang terbaik, berdasarkan hal ini kami tidak berani menghalangi. Kami juga merasa, ini tidak terlalu penting untuk dilaporkan ke pihak pusat.”
Mantingan mengerti bahwa pria berjanggut itu berusaha mengisyaratkan bahwa mereka tidak akan melaporkan pelanggaran yang telah Mantingan. Tetapi Mantingan menolak niat baik tersebut dengan halus.
“Jika memang seharusnya pelanggaran ini dilaporkan, maka laporkanlah. Daku bukanlah manusia yang kebal hukum. Tetapi kali ini, terpaksa tidak kutaati hukum yang berlaku demi sesuatu yang sekiranya kuanggap baik.”
“Jikapun kami melaporkannya, Pahlawan, pastilah Sri Maharaja yang bijaksana dapat menilai kebaikanmu.”
Mantingan menganggukkan kepalanya pelan walau tidak sedikitpun mengharapkan hal itu dapat terjadi.
“Jikalau begitu, Pahlawan, kupikir sudah tidak ada kepentingan kami di sini. Izinkanlah kami undur diri. Kami akan masuk ke dalam hutan untuk mencari keberadaan sisa-sisa pendekar Perkumpulan Pengemis Laut. Jikalau ada kesempatan, mungkin kita bisa bertemu lagi, dan kami akan merasa sangat terhormat di waktu itu.”
***
KANA DAN Kina berjalan keluar menerobos semak belukar bergandengan dengan Bidadari Sungai Utara. Mereka berlari menghampiri Mantingan dengan raut wajah sangat khawatir. Melewati begitu saja belasan pancaka habis terbakar. Mantingan tersenyum dan menyambut mereka.
“Kaka Man! Mengapakah engkau bertempur lagi? Janjimu tiada kautepati!”
“Bukankah Kakak sudah berjanji kepada Kina untuk tidak bertempur apa pun yang terjadi? Kak Maman sungguh tidak tepat janji!”
__ADS_1
Raut khawatir mereka seketika berubah menjadi raut kemarahan. Kana menatap Mantingan tajam-tajam, seolah ingin menembus kepalanya dengan tatapan itu. Bahkan Kina mengangkat tangannya, menunjuk wajah Mantingan dengan napas menggebu-gebu.
Mantingan justru tertawa lepas, tangannya bergerak menggosok kepala mereka kuat-kuat. “Buat apa hal itu kupikirkan? Daku lebih senang melihat kalian berdiri di sini tanpa luka barang sedikitpun.”
Keduanya berteriak keras sebelum berhasil melepaskan diri dari Mantingan. Mereka lalu bersembunyi di belakang Bidadari Sungai Utara. Sungguh kepala terasa panas.
“Kak Maman telah membuat kepalaku pening!”
“Balaslah dia, Kaka. Gosok kepalanya sampai botak!” Kana menimpali, berkata bagai jagoan, sekalipun ia sadar sedang bersembunyi di balik Bidadari Sungai Utara.
Bidadari Sungai Utara hanya tertawa kecil menanggapi hal itu. Namun bocah itu masih terus mengajukan keberatan, seolah tidak akan berhenti jika gadis itu belum menggosok kepala Mantingan sampai botak.
“Sudahlah, sudahlah ....” Mantingan kemudian menunjuk kusir yang telah menunggu mereka di samping kudanya. “Kita harus berjalan secepat mungkin. Kina, tentu engkau tidak bisa berjalan sendiri, diriku atau Kak Sasmita akan menggendongmu jika kau mau. Tetapi engkau, Kana, gunakanlah dua kakimu untuk berjalan. Engkau tidak akan membawa beban apa pun. Anggaplah ini sebagai latihan.”
Kina memilih Bidadari Sungai Utara untuk menggendongnya. Dengan senang hati, Bidadari Sungai Utara membantu Kina naik ke punggungnya. Sebagai pendekar berbakat, Bidadari Sungai Utara tidak akan terbebani oleh karena Kina menempel di punggungnya. Rasa-rasanya, ia hanya menggendong sehelai kapas.
Sedangkan Kana menyorenkan pedang kayunya di punggung sebelum berjalan paling depan. Seolah-olah tahu letak Perguruan Angin Utara.
Mereka semua bergerak ke arah barat. Perjalanan benar-benar terasa ringan dan menyenangkan. Karena sebagian besar beban dibawa oleh kuda. Mereka berjalan bagaikan sedang melancong bersama-sama. Berpergian demi kesenangan.
Kedatangan angin timur telah menggeser awan-awan penghujan, sehingga jalanan tidak becek maupun dipenuhi kubangan lumpur. Meskipun udara terasa sedikit lebih panas, itu jauh lebih baik ketimbang harus menghadapi beceknya jalan.
Di antara mereka semua, Mantingan yang paling menikmati perjalanan ini. Ia merasakan rasa yang hampir ia lupakan. Rasa berpetualang dengan kecepatan lambat, bukan berkelebat atau dengan bantuan kereta kuda. Telah lama Mantingan tidak merasakannya.
Dilihatnya di tepi jalan. Bunga-bunga liar tumbuh subur. Beraneka warna, ragam jenisnya. Menyebarkan aroma harum yang cukup menyengat. Lebah dan kupu-kupu berseliweran, memilih bunga dengan kualitas terbaik untuk dijadikannya makanan.
__ADS_1
Langit masih bersih dari mega-mega. Biru bagaikan laut yang pernah Mantingan lihat di rumah Paman Birawa. Walau itu mengingatkannya pada kematian Rara, tetapi dirinya tetap tersenyum hangat. Sehangat matahari pagi menjelang siang itu.
Bahkan perjalanan kali ini terasa jauh lebih berarti. Dilihatnya Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina di depannya. Kemudian Mantingan menyadari bahwa dirinya tidak berjalan sendirian.
Jika dahulu Mantingan berjalan sendirian, perut selalu saja terasa lapar, kaki seperti ingin lepas dari tempatnya, bundelannya terasa amat memberatkan hingga mampu merontokkan seluruh pundak, berbicara pun hanya bisa kepada angin yang lewat, maka sekarang semua hal itu tidak dirasakannya.
Ia berjalan dengan perut terisi, langkah yang ringan, mengangkat bundelan seperti semudah mengangkat kapas, dan pula dapat berbicara pada siapa saja yang ia inginkan.
Tentu semua ini tidak diraihnya dalam waktu singkat. Ia tetap membutuhkan waktu untuk menjadi seperti sekarang. Ia telah melewati tahapan-tahapan hidup yang bahkan jarang dilewati orang lain. Dengan minat belajarnya yang kuat, Mantingan akan terus berkembang.
Semua ini tidak berawal dari pertemuannya dengan Kenanga. Bukan. Ini dimulai dari rasa sakit dan kecewa. Dua hal itu merupakan cemeti terbesar yang mampu mengubah kehidupan seseorang. Termasuk kehidupan Mantingan yang baru bisa berubah setelah ia mengalami rasa sakit dan kecewa.
“Kehidupan merupakan guru terbaik bagi setiap manusia,” kata gurunya suatu ketika, “kuberitahu ini supaya nantinya engkau tidak menyalahkan kehidupan. Sekalipun kehidupan terkesan memusuhimu, engkau tetap harus berdamai dengannya.”
Andaikata setelah pertemuannya dengan Kenanga di waktu lampau, Mantingan memilih untuk tidak berdamai dengan kehidupan yang telah menyiksanya selama belasan tahun, sangat mungkin dirinya menjelma menjadi pendekar golongan hitam yang kerjanya menyebar kesengsaraan. Sebab saat itu, sumber daya yang diberikan Kenanga sebenarnya lebih dari cukup untuk membantunya berbuat jahat.
Mantingan mengembuskan napas lega. Ia telah berhasil membenahi hidupnya sendiri. Kini, tersisa Kenanga untuk dibenahi.
Betapapun, Kembangmas harus tetap ditemukan!
___
catatan:
Buat kamu yang baca episode ini tak lama setelah di-update, saya ucapkan terima kasih atas kesabaran dan kesetiaannya dalam menunggu.
__ADS_1