
“Selamat datang di rumahku.” Orang itu berkata ramah. “Maaf jika diriku terkesan tidak sopan nantinya, sebab daku lebih sering berbicara langsung ke pokok persoalan. Sungguh, bukanlah itu niatku untuk tidak sopan pada para tamu, harap kalian memahaminya.”
Mantingan mengangguk dan tersenyum ramah. “Itu bukan masalah sama sekali, Bapak.”
“Baiklah jika para tamu bisa mengerti, daku akan mulai pada pokok persoalan. Siapakah kalian berdua, dan barang apakah kiranya yang hendak kalian beli?”
“Saya bisa dipanggil Mantingan, serta kawanku ini bernama Rara. Maaf sebelumnya tidak memperkenalkan diri ....” Mantingan tersenyum kaku.
Pemilik rumah itu menimpali, “Sedangkan daku biasa dipanggil Ki Dagar, maka kalian bisa memanggilku dengan sebutan itu juga.”
Mantingan mengangguk dan menelan ludah, betapa ucapan Ki Dagar itu amat sangat terasa berat meski yang dibincangkannya ialah hal yang teramat ringan. Jelas saja Ki Dagar bukan orang biasa. Jelas pula bahwa dirinya adalah seorang pendekar. Mantingan merasa tak ada salahnya mulai berhati-hati berbicara dengan orang itu, jangan sampai ada suatu ucapan yang menyinggung Ki Dagar. Perasaan pendekar dikenal sebagai perasaan yang mudah tersinggung dan akan sangat enteng tangan membunuh jika sudah begitu.
Ruangan lengang sesaat.
“Apa yang ingin kalian beli?”
Ucapan itu memecah keheningan, Mantingan buru-buru menjawab, “Sahaya ingin membeli pakaian perempuan yang bahannya dari Negeri Atap Langit, apakah ada dan apakah bisa sahaya beli?”
“Ada, dan tentu saja bisa.” Ki Dagar mengangguk. “Tetapi jika dikau tidak merasa tersinggung, maka dikau tak perlu membeli barang itu. Anggap saja sebagai sajianku pada dua tamunya.”
Mantingan sedikit gugup. Ia tak mengerti harus menjawab apa yang sekiranya baik untuk Ki Dagar. Jika ia menolaknya, mungkin saja Ki Dagar yang akan tersinggung. Namun, ia takut akan ada suatu jebakan jika harus menerimanya.
“Daku anggap engkau telah menerimanya.” Ki Dagar menarik napas panjang, lalu berteriak, “Rani! Kemarilah!”
Tak berapa lama kemudian, turun dari tangga sesosok anak perempuan yang berusia belasan tahun. Wajah dan rupanya khas anak Jawa yang beranjak remaja, lantas ia menghampiri Ki Dagar.
Ki Dagar menoleh pada Rara sambil tersenyum. “Inilah anakku yang bisa dikau panggil Rani. Dia yang akan menemanimu memilih baju bagus. Ah, daku salah, dia yang malah akan memilihkan baju yang sangat bagus untukmu. Selera berpakaiannya sangat bagus, dan dialah juga yang membantuku memilih baju sesuai dengan selera perempuan di pasaran. Dia anak yang menyenangkan, bersikaplah santai padanya. Tak perlu gugup.”
Sedangkan itu, Rara merasa amat tidak percaya diri. Bagaimanakah dirinya bisa terlepas dari Mantingan? Ucapan Ki Dagar barusan telah mengamsumsikan bahwa dirinya harus pergi sendiri bersama anak Ki Dagar yang bernama Rani itu, tanpa Mantingan.
__ADS_1
Dan Mantingan, walau ia sedikit takut, tetapi itu bukan berarti sifat jantannya sirna tak berbekas. Mantingan yang waspada lekas menanyakan secara halus maksud dari Ki Dagar, ia memberi penekanan bahwa dirinya akan bertindak tegas jika terjadi sesuatu pada Rara.
Ki Dagar mengangguk dan mengerti. “Sepertinya engkau telah menangkap maksudku, Mantingan. Aku ingin berbicara denganmu, empat mata, tanpa Rara temanmu itu.”
“Ki Dagar, sahaya tak bisa membiarkan Rara dalam ancaman bahaya.”
“Perlu kauketahui, Mantingan, bahwa kau juga tidak bisa berbuat banyak saat sedang berada dalam bahaya.” Ki Dagar tertawa pelan sedang Mantingan kembali menelan ludahnya, diam-diam ia merasa takut. “Tetapi daku sama sekali tidak berniat mencelakakan siapapun, setidaknya untuk saat ini.”
Mantingan mengolah hitung-hitungannya terhadap keadaan yang seperti ini. Dan hasilnya, ia memilih untuk menghindari bahaya.
“Kami pamit, Ki Dagar.” Mantingan berniat bangkit, tetapi ditahan oleh anak perempuan Ki Dagar yang bernama Rani itu.
“Kakak jangan pergi dulu, ya? Daku ingin menunjukkan baju-baju bagus untuk Kakak yang sangat cantik ini.” Rani menunjuk Rara dengan mata berbinar-binar. “Boleh, ya?”
Ki Dagar lagi-lagi terkekeh pelan. “Lihat dan dengarkan anakku, adakah niat buruk yang tersirat padanya?”
Mantingan berpikir beberapa saat. Pada akhirnya, ia mempersilakan Rara untuk pergi bersama Rani. Ia juga memberi tanda agar Rara tidak gugup. Rani dengan riangnya menarik tangan Rara dan mengajaknya ke atas. Mantingan terbatuk pelan saat hanya ada dirinya dan Ki Dagar di ruangan itu.
Mantingan mengangkat kepala. “Ya, Bapak?”
“Daku agak kecewa soal sikapmu yang takut itu. Di manakah sisi jantanmu? Dikau hanya mengeluarkan sifat jantan sedikit saja, itu pun masih dalam keraguan. Beginikah sikap seorang pengembara?”
Mantingan tercenung. Bagaimanakah kiranya Ki Dagar dapat mengetahui jati dirinya sebagai seorang pengembara?
Seolah bisa menebak jalan pikir Mantingan, Ki Dagar kembali berkata, “Walau kau berusaha menutupinya, tetapi daku dapat mengetahui itu dari tata gerakmu yang gesit dan sedikit kasar. Otot di kakimu juga telah meyakinkanku, ditambah lagi warna kulitmu yang matang akibat telah begitu lama terpapar sinar matahari.”
Mantingan hanya bisa mengangguk, itu jawaban telak.
“Sebagai seorang lelaki, jujur daku cukup kagum padamu. Tak banyak yang bisa berbuat seperti apa yang telah dikau perbuat. Tetapi aku menyayangkan sikap takut dan ragamu. Jujurlah padaku, mengapa kau merasa takut? Mungkin hanya aku yang dapat menerima segala keluh-kesahmu saat ini dan bahkan bukan tidak mungkin diriku memberimu bantuan.”
__ADS_1
Mantingan mengembuskan napas panjang, membiarkan ruangan hening beberapa saat.
“Sebelumnya daku ingin bertanya, mengapakah Ki Dagar seolah begitu tertarik pada masalahku?”
Ki Dagar tertawa. “Sebagai lelaki, daku sebenarnya tak menyukai percakapan yang menyangkut masalah perasaan hati seperti apa yang daku ingin katakan nanti. Tapi biarlah! Dan hanya ini yang pertama dan terakhir antara daku dan dikau, setelahnya jangan membahas tentang perasaan hati.” Setelah mengusaikan tawanya, Ki Dagar kembali berkata, “anakku sama denganmu, Mantingan. Dia adalah anak sulungku. Anak pertama yang daku berikan segala rasa kasih sayangku. Ia berjiwa petualang, sama sepertimu. Daku mengizinkannya berpetualang, menjadi pengembara yang menaklukkan jalur-jalur dari Javadvipa bagian barat sampai ke Javadvipa timur.
“Tetapi sesuatu telah terjadi sesuatu padanya. Dia terbunuh. Terbunuh sebab dibunuh. Bukanlah sebuah kecelakaan atau jalur menantang yang membunuhnya. Dia dibunuh oleh pembunuh bayaran yang telah disewa oleh saingan dagangku. Dikau tak perlu pertanyakan bagaimana perasaanku aku saat itu. Sekarang saingan dagang itu hanya tinggal nama, begitu juga keluarganya, daku telah membunuh mereka dengan tanganku sendiri.”
Mantingan sedikit bergetar. Betapa saat ini dirinya berhadapan dengan seorang pembunuh!
“Daku menyesal, karena daku tak mendapatkan apa yang aku inginkan. Kepuasan? Daku tak mendapatkan kepuasan,” lanjut Ki Dagar. “Hari ini, tepat satu tahun selepas kematian putra sulungku yang pemberani itu, engkau datang. Daku sempat berpikir bahwa kau adalah jiwa putraku yang kembali turun ke bumi, sebab saat aku melihat wajahmu, aku seolah melihat wajah putraku. Tetapi daku sadar, betapa dikau bukan putraku. Kau memiliki cerita dan jalan hidup yang berbeda, tetapi saat dikau di sini, maka kau sudah aku anggap sebagai putraku.”
Mantingan kemudian mengangguk setelah mulai memahami keadaannya.
“Sekarang katakan, apa yang membuat dikau ketakutan ketika berhadapan denganku?” Ki Dagar kembali tersenyum.
“Daku merasa bahwa Ki Dagar adalah pendekar. Daku takut menyinggung dan malah terbunuh di sini, di tangan Ki Dagar. Sedangkan daku memiliki rencana panjang ke depannya, jadi diriku berniat menjaga nyawa.”
“Kalau begitu, tak ada salahnya engkau takut. Tetapi sikapmu yang selanjutnya bukanlah sikap jantan, yaitu sikap tak bisa melindungi diri sendiri maupun orang lain yang dikau sayangi. Pria harus bisa melindungi diri sendiri dan bahkan orang lainnya. Jika tidak, ia tak akan pantas disebut sebagai seorang pria.”
Mantingan kembali mendapat jawaban yang telak.
“Tidakkah kau belajar silat?”
Mantingan menggeleng lemah. “Ada sebuah pantangan bagiku untuk tidak bermain kasar, Ki Dagar.”
“Ini untuk melindungi diri, Mantingan. Dikau bisa mati konyol sesaat sebelum dikau menyelesaikan rencanamu jika kau tidak memiliki ilmu bela diri. Apakah kiranya dikau akan terus mempertahankan nyawa dengan sikap takut dan pengecut itu?”
Tidak. Mantingan tetap tidak akan bermain kasar. Kenanga sudah jelas berkata tentang perkara ini. Bukan hukuman dari Kenanga yang ia takuti, tetapi lebih karena hakikat dari Kenanga yang harus kukuh ia pegang!
__ADS_1
“Baiklah, jika dikau memang tidak mau untuk saat ini.” Ki Dagar dapat melihat raut wajah Mantingan, ia mengeluarkan selembar lontar yang sepertinya telah ia persiapkan. “Tetapi daku yakin, dikau akan berubah pikiran suatu saat nanti. Ambil lontar ini dan pergilah ke Perguruan Angin Putih jika dikau berubah pikiran.”
Mantingan berniat menolaknya, tetapi Ki Dagar memaksa hingga ia terpaksa pula mengambilnya. Ia perhatikan permukaan lontar itu. Terdapat guratan-guratan yang sama sekali tidak dapat ia kenali. Karena merasa bahwa benda itu cukup penting, ia menyimpan lontar itu pada pundi-pundi kecil di sabuk pinggangnya.