
SESUAI dengan namanya, Pendirian Manusia merupakan suatu ilmu yang terbentuk berdasarkan kehakekatan makhluk bernama manusia, yang tiada lagi dicampur-adukan dengan kehakekatan makhluk lainnya.
Segalanya yang ada di dalam kitab itu hanyalah tentang manusia dan kemanusiaan. Berbeda dengan kitab-kitab ilmu silat lain yang justru meniru gerakan atau cara hidup hewan lain demi terciptanya, Pendirian Manusia justru berisi tentang segala gerakan dan cara hidup manusia yang apa adanya, tanpa meniru gerakan atau cara hidup hewan sama sekali.
Jikalau manusia dan hewan adalah makhluk yang berbeda, baik secara akal maupun raga, untuk apakah kiranya manusia meniru kelakuan hewan dan bahkan menerapkan hal itu menjadi kelakuannya, sedang manusia telah memiliki kelakuan sendiri?
Kiranya hewan-hewan tiada yang meniru manusia dengan duduk di bangku, berdagang atau berjualan di pasar raya, mengembara untuk mencari ilmu, berigama agar hidup menjadi lebih tenang , berbicara, menangis, tertawa, bersedih, bergembira, berjalan tegak, atau semacamnya yang merupakan sifat alamiah seorang manusia dalam melakoni kehidupan.
Maka manusia dengan segala kemanusiaannya mestilah dipertahankan. Mantingan melestarikannya menjadi sebuah ilmu silat, agar lebih banyak pendekar di masa mendatang yang menyadari kehakekatan manusia sebagai suatu makhluk yang berbeda dengan makhluk lain.
Namun, semua itu tidak berarti bahwa Mantingan akan menanggalkan seluruh ilmu peniruan hewan yang telah dikuasainya seperti Jurus Sepasang Bangau Menyambar Ikan dan Ilmu Ikan Menanjak Air Terjun. Semua ilmu itu tetap dibutuhkan, sebab salah satu sifat manusia adalah meniru lingkungan di sekitarnya. Bukankah perbedaan memang diciptakan agar setiap unsur di dalamnya dapat saling mengenal dan belajar satu sama lain?
Sebab betapa pun manusia dengan segala kemanusiaannya, tetap hidup berdampingan dengan hewan dengan segala kehewanannya. Jikalau takaran antara kemanusiaan dengan kehewanan setimbang, maka sungguh akan tercipta kedamaian dalam diri maupun alam semesta. Semacam itulah pula yang tertulis di dalam Kitab Teratai:
...Betapa pun manusia...
...dengan segala keangkuhan atas jati dirinya...
...sehingga keangkuhan itu telah menjadi jati dirinya...
__ADS_1
...tetap tiada akan bisa hidup sendirian...
Begitulah pula yang Mantingan terapkan dalam Pendirian Manusia, yang tidak hanya diisi dengan satu gaya bertarung saja, melainkan tiga gaya bertarung yang masing-masingnya memiliki kekurangan dan kelebihan. Namun ketiga gerakan yang masih terus dikembangkan itu tidaklah terpisah satu sama lain, tetap menyatu dalam Pendirian Manusia, sebagaimana yang tertoreh di dalam Kitab Teratai:
...Di dalam satu raga manusia...
...belum tentu satu jua jiwanya...
...tetapi dalam sekumpulan manusia...
...yang telah menyatukan tujuan untuk digapai bersama...
...maka tak peduli seberapa banyak raganya...
Maka meskipun tiga gaya bertarung tersebut memiliki gerakan dan bentukan yang berbeda-beda, dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda pula, tetapi memiliki satu tujuan yang sama dan pasti, yakni menerapkan kemanusiaan ke dalam ilmu persilatan. Tak heran jikalau ketiga gaya bertarung tersebut berisi gerakan-gerakan alamiah yang hanya berasal dari manusia.
Adapun ketiga gaya bertarung tersebut adalah Sikap Menebas, yakni dengan mengangkat pedang hingga setinggi kepala dengan sebelah tangan, serta dengan ujung bilah menghadap ke depan; Sikap Menikam, yakni dengan menggenggam pedang secara terbalik, yang mana ujung bilah menghadap ke bawah atau ke belakang sehingga dapat menikam lawan dengan sempurna; dan Sikap Menghadang, yakni membujurkan pedang ke depan dengan tangan menggenggam erat gagangnya, sehingga mampu dengan cepat melindungi bagian depan tubuh dari serangan lawan.
Tentunya Pendirian Manusia dengan tiga sikap bertarungnya itu tidak serta-merta dapat Mantingan kuasai semuanya dengan sempurna, sebab ilmu tersebut baru saja tercipta di dalam kepalanya, yang mesti dituangkan terlebih dahulu ke dalam lembaran-lembaran lontar kosong yang akan tersusun menjadi sebuah kitab, sebelum akhirnya mampu dipraktikkan menjadi suatu wujud yang nyata.
__ADS_1
***
KEMBALI satu purnama berlalu, begitu cepatnya hingga seolah tidak terasa apa pun jua. Mantingan bersama Si Putih bergegas keluar dari Gaung Seribu Tetes Air setelah menyampirkan Pedang Savrinadeya yang tiada bersarung dan tiada memiliki ketajaman itu di sabuk pinggangnya. Semestinyalah pada hari ini, Tapa Balian datang untuk mengantar perbekalan, yang semoga memang hanya dibawakan perbekalan berupa makanan saja sebab Gaung Seribu Tetes Air akan tampak seperti lingkungan kumuh jika dimasuki bermacam-macam barang lainnya.
Tidak butuh waktu lama bagi Mantingan untuk keluar dari lorong kelam yang teramat kelam itu, sebab dirinya memang telah terbiasa melewatinya hingga ratusan kali banyaknya. Tak jauh di depan mulut goa, terlihat Tapa Balian bersama cucunya sedang menambatkan tiga ekor kuda ke batang pohon terdekat. Mantingan segera menyapa mereka dengan penuh kehangatan, seolah kebekuan di dalam Gaung Seribu Tetes Air tidak pernah mepengaruhi kehangatannya.
“Wahai Bapak Balian, daku merindukanmu.” Mantingan berseru ringan sambil terus berjalan menghampirinya.
“Ah, Anak Mantingan, dikau selalu berkata seperti itu, membuatku terharu saja, sebab memamg tiada lagi yang merindukan keberadaan orang tua tak berguna ini.” Tapa Balian tertawa lebar sebagai balasannya.
Mantingan berhenti melangkah dengan senyum memudar ketika dipandanginya tiga ekor kuda yang tertambat pada batang pohon. “Bapak membawa tiga ekor kuda sekaligus, ini terlalu banyak untukku.”
“Daku membawakan sesuatu yang istimewa untukmu, sehingga memanglah diperlukan kuda tambahan.” Tapa Balian tersenyum lebar sebelum menarik sebilah pedang tersarung di pelana kudanya. Awalnya Mantingan berpikir bahwa pedang itulah yang dimaksudkan sebagai sesuatu yang istimewa dan akan diberikan kepadanya, tetapi dugaannya itu nyatanya salah. “Tetapi sebelum kuberikan barang itu kepadamu, kalahkanlah diriku terlebih dahulu.”
Tapa Balian menyentak gagang pedangnya, menarik keluar bilahnya yang segera berkilauan dipantul sinar mentari pagi. Begitulah kemudian pedang itu dihunuskan ke arah Mantingan.
Sedangkan Mantingan mundur beberapa langkah. Kiranya ia tak pernah menyangka bahwa Tapa Balian akan menantangnya bertarung bahkan pula menuntut untuk dikalahkan. Ia sama sekali tidak dalam keadaan siap. Yakni tidak siap untuk bertarung, dan tidak siap pula untuk membunuh Tapa Balian.
Seolah dapat membaca pikiran pemuda itu, Tapa Balian segera menimpal, “Pertarungan ini hanya akan menjadi latih tanding, yang sungguh jauh dari pertarungan antara a hidup dan mati. Daku hanya minta untuk dikalahkan, bukan untuk dibunuh.”
__ADS_1
Mantingan terdiam beberapa saat sebelum tersenyum canggung sebab menyadari kesalahannya dalam berpikir. Kewaspadaan dalam kehidupan seorang pendekar memanglah penting dan dibutuhkan, akan tetapi ia melupakan bahwa Tapa Balian dengan segala kebaikannya bukanlah termasuk orang yang mesti pula ditaruh kewaspadaan olehnya.