
“Setiap pendatang dari negeri asing, tak peduli jika itu hanya sekadar pedagang biasa maupun pejabat kenegaraan, harus menjalani karantina selama dua hari. Selama itu pula, tabib-tabib akan terus memeriksa dan memantau kesehatan mereka.”
Dan demi terjaganya kesehatan, maka kebersihan di dalam kotaraja diperketat pula. Janganlah sampai wabah penyakit justru datang dari dalam kota itu sendiri.
“Di pasar-pasar, sayuran yang telah busuk ataupun hanya sekadar ingin dibuang tidaklah boleh dibiarkan begitu saja di atas tanah. Semuanya harus masuk ke dalam keranjang sampah. Tidak boleh malas. Dendanya cukup besar bagi yang melanggarnya.
“Sedangkan rumah-rumah tidak boleh membuang limbah kamar mandi sembarangan. Ada saluran bawah tanah yang terhubung dengan setiap kamar mandi di kota. Limbah-limbah itu akan dialirkan menuju lautan.”
***
MANTINGAN memejamkan mata. Membayangkan keindahan kotaraja. Bersih dan teratur. Penuh sihir-sihir bercahaya. Keramaian. Perdagangan. Orang-orang asing. Bukankah itu semua akan amat sangat menakjubkan jika dilihat secara langsung dan bukannya hanya dibayangkan saja?
Sementara itu, Chitra Anggini terus bercerita.
“Tetapi meskipun begitu, tingkat kebahagiaan orang-orang yang tinggal di kotaraja tergolong rendah ketimbang dengan orang-orang yang tinggal kota lain di sekitarnya. Terutamanya, jauh lebih dirasakan oleh rakyat jelata. Kamu tahu persis, kota besar itu adalah kota perdagangan antarnegara. Rakyat jelata sulit mencari pekerjaan, selain menjadi kuli angkut barang yang bayarannya tidak seberapa. Harga pangan serta kebutuhan pokok lain terbilang jauh lebih tinggi ketimbang kota-kota lain di sekitar. Bayangkan saja, dengan sekeping perak kau hanya bisa mendapatkan seikat bayam, sedangkan di kota lain kau bisa mendapatkan hingga tujuh ikat bayam. Jadi perbandingannya adalah satu banding tujuh.”
Akibat harga yang serba mahal itu, tak jarang penduduk kotaraja pergi ke kota lain yang jauh lebih kecil, mencoba peruntungan. Namun, lebih banyak yang memutuskan untuk bermukim di satu petak sebab tidak memiliki cukup uang untuk pindah ke kota lain, menjadikan tempat itu dikenal sebagai Pemukiman Miskin Kotaraja.
“Pemukiman itu adalah satu-satunya pemukiman yang kebersihan, kesehatan, dan keamanannya tidak dijamin pemerintahan. Kumuh sekali tempat itu. Bau busuk dan apek. Orang sakit di mana-mana. Pencurian ada di setiap kesempatan. Koying telah lepas tangan terhadapnya. Meski sungguh, pemukiman itu telah menjadi bintik hitam atau aib bagi Kotaraja Koying.”
“Mengapa pemerintah Koying tidak memberi mereka sedikit uang untuk setidaknya pergi ke kota lain dan memulai hidup baru?” Mantingan bertanya sambil mengelus dagunya. Ia sendiri masih tidak mengira bahwa kemegahan Kotaraja Koying yang ada dalam bayangannya itu masih memiliki pemukiman miskin yang entah bagaimana tidak dapat teratasi.
“Tidak semudah yang kaubayangkan.” Chitra Anggini menggeleng pelan. “Warga penghuni Pemukiman Miskin Kotaraja banyak yang tidak ingin meninggalkan kota itu. Mereka berkata bahwa tanah leluhur jangan sampai dikuasai bangsa asing dari negeri seberang, sehingga mereka akan tetap di sana untuk mempertahankan kehakikatan. Beberapa lainnya tidak mau pergi karena takut dibegal, takut tidak memiliki nasib yang lebih baik di kota lain, atau hanya sekadar terlalu malas untuk menjemput harapan baru.”
Mantingan mengembuskan napas panjang. Kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Namun ternyata, Chitra Anggini belum selesai sampai di sana.
“Penolakan mereka yang sedemikian tajamnya itu sebenarnya bisa dianggap sebagai pemberontakan terhadap pemerintahan Koying. Bisa saja ribuan prajurit pendekar dari pemerintahan menyerbu Pemukiman Miskin Kotaraja hingga rata dengan tanah. Akan tetapi, hal itu urung dilakukan oleh raja, meski sebagai pendekar jaringan bawah tanah kuketahui bahwa raja bersama panglimanya telah menyusun rencana pembumihangusan itu.”
Mantingan melipat dahi. Chitra Anggini seolah telah dengan sengaja memancing rasa penasarannya. “Mengapa urung dilakukan?”
__ADS_1
Chitra Anggini tersenyum tipis sebelum menjawab setengah berbisik, “Itulah bukti kekuatan jaringan bawah tanah.”
Sekali lagi Mantingan bertanya mengapa; sekali lagi pula Chitra Anggini menjelaskannya. Mantingan terenyak seketika itu juga!
Menurut penjelasan Chitra Anggini, yang membuat Pemukiman Miskin Kotaraja itu masih bertahan hingga sekarang tidak lain dan tidak bukan adalah karena keberadaan jaringan bawah tanah yang melindunginya.
Namun, Mantingan tidak bisa bersenang hati dengan pernyataan itu, sebab maksud dan tujuan jaringan bawah tanah itu amatlah sangat kejam dan buruk, sebenar-benarnya kejam dan buruk!
“Perkumpulan bawah tanah itu memanfaatkan mereka, memeras mereka, dan membunuh mereka perlahan-lahan, dengan obat-obatan terlarang yang mampu menimbulkan khayalan luar biasa. Barang siapa yang telah memakan obat-obatan terlarang itu, maka dia akan ketagihan setengah mati! Aku tidak bercanda, dan sungguh tidak melebih-lebihkan. Dampak menagihkan dari obat-obatan itu mampu membuat seseorang berada dalam keadaan setengah mati, bahkan beberapa di antaranya sampai mati benar-benar.
“Meskipun para tetua di pemukiman itu telah berupaya semampu mungkin untuk menahan penjualan obat-obatan itu, tetapi tetap saja pengaruh jaringan bawah tanah terlalu besar untuk dilawan. Satu-satunya jalan untuk dapat memenangkannya adalah dengan pertempuran bersenjata, tetapi para tetua Pemukiman Miskin Kotaraja tidak memiliki daya itu. Ah, jangankan para tetua pemukiman yang jelas saja tidak memiliki simpanan kekuatan itu, bahkan pemerintahan Koying pun tidak berani melawan mereka.”
Sekali lagi Mantingan mengembuskan napas panjang. Urusan Pemukiman Miskin Kotaraja itu memang dapat terbilang rumit. Belum lagi dengan segala campur tangan jaringan bawah tanah, menambah kerumitan saja. Sehingga rasa-rasanya, tidak ada seorangpun yang dapat mengatasi masalah seperti ini. Mantingan mencoba untuk menghiraukannya terlebih dahulu, sebab tujuan utamanya pergi ke Koying bukanlah untuk menumpas kemiskinan dengan segenap kelompok jaringan bawah tanah yang meresahkan.
“Lantas, hal apakah lagi yang perlu kuketahui tentang kehidupan di kotaraja?”
***
TANPA sadar, matahari telah sempurna tenggelam di batas cakrawala. Menyisakan semburat-semburat jingga. Keremangan.
Mantingan mengangkat sebelah tangannya ke arah Chitra Anggini. “Kita cukupkan saja sampai di sini, Chitra. Sebentar lagi malam menjemput.”
Kedua pipi Chitra Anggini bersemu merah dadu sambil mengalihkan pandangnya dari Mantingan. Pemuda itu lekas mengetahui apa yang dia pikirkan saat ini jua!
“Kau bisa tidur di ranjang, aku sudah terbiasa tidak tidur di ranjang.” Mantingan berdeham beberapa kali saat mengatakan itu.
“Justru karena kamu jarang tidur di ranjang, maka sesekali kamu harus mencicipinya. Aku juga ingin tidur di ranjang. Jadi, apa salahnya jika kita—”
“Ketahuilah, Chitra ....” Mantingan memotong meski tidak dengan ketajaman, melainkan dengan kelembutan. “Aku adalah lelaki, dan kau adalah perempuan. Sebagaimana yang sebaik-baiknya, kita tidak tidur di satu ruangan, apalagi di satu ranjang.”
__ADS_1
“Apa salahnya?” Chitra Anggini tetap membantah. “Bukankah kau sudah menganggapku sebagai adik kandungmu sendiri? Memangnya salah jika kakak dan adik tidur seranjang?”
Mantingan hendak kembali berkata setengah menceramahi, tetapi Chitra Anggini memotongnya. Jari telunjuk perempuan itu menempel di bibir Mantingan. Pemuda itu langsung urung bicara.
“Tidak akan terjadi apa-apa. Aku sedang tidak bernafsu dengan pria, dan rasa-rasanya aku tidak pernah begitu bernafsu dengan pria. Bukankah malam itu, di tengah belantara saat kedatangan Pendekar Kelewang Berdarah, kau sudah melihat semuanya?” Chitra Anggini pula berkata dengan lembut.
Mantingan hanya bisa mengeluh di dalam benak. Chitra Anggini seperti tidak mau menerima bantahan lagi. Jari telunjuk itu masih menempel di bibir Mantingan.
___
catatan:
Daftar bonus episode sebelum tanggal 30 april 2022.
Favorit 1370\= 2 episode [TERPENUHI]
Favorit 1400\= +3 episode
Vote 950\= 2 episode [TERPENUHI]
Vote 1000\= +3 episode
CATATAN PENTING
Koying merupakan sebuah kerajaan yang tidak benar-benar pasti keadaannya. Catatan tentang kerajaan itu hanya terdapat di literatur Tiongkok, yang mana sebuah kerjaan berdiri di dekat Teluk Wen yang di tengah-tengah teluk itu terdapat penduduk pribumi berkulit hitam dan bermata merah.
Saat ini, Koying masih menjadi tanda tanya dan perdebatan. Ada yang mengatakan bahwa Koying adalah Salakanagara, ada pula yang tetap mengatakan bahwa Koying terletak di Alam Kerinci. Semuanya masih samar, tetapi saya memutuskan untuk tetap mengambil Kerajaan Koying ke dalam novel ini.
Toh dus, ini bukan novel fiksi sejarah, dan sebaiknya jangan diandaikan begitu.
__ADS_1