Sang Musafir

Sang Musafir
Mengundurkan Diri dari Dunia Persilatan


__ADS_3

TAPA Balian manggut-manggut perlahan, sebelum berujar dengan nada heran, “Sebagai seorang pendekar, dikau seharusnya sudah mengetahui bahwa hal ini bisa saja terjadi. Namun, tetap saja kehilangan tangan kanan amat sangat menyiksa bagi penyoren pedang seperti dirimu. Tapi anehnya, daku tidak melihat sedikitpun penyesalan di wajahmu.”


“Ini adalah harga yang pantas untuk seorang pembunuh seperti diriku, Bapak. Bahkan sekiranya, sebelah tanganku ini masih kurang.” Mantingan tersenyum samar, begitu samarnya hingga mampu menyimpan kemirisan dalam benak. “Daku sudah banyak membunuh orang, Bapak. Banyak kisah hidup yang kutamatkan. Dapat saja orang yang telah kubunuh ternyata adalah seorang kawan yang hangat, bapak dan suami dari keluarga kecilnya, atau anak berbakti yang selalu dinantikan kepulangannya. Daku menghabisi mereka semua, Bapak, maka bagaimanakah daku dapat menyesal atau tidak terima atas apa yang terjadi pada tangan kananku?”


“Yang menjadi pertanyaan, apakah dikau yang menyerang mereka atau mereka yang menyerangmu terlebih dahulu?” Tapa Balian menanggapinya dengan tenang.


Pertanyaan itu berhasil membuat Mantingan seketika terbenam dalam perenungannya. Mereka yang menyerangnya, atau justru dirinya sendiri yang menyerang mereka? Tentu saja jawabannya telah terpampang jelas di dalam kepala Mantingan, tetapi pemuda itu malu untuk mengakuinya, bahwa lawan-lawannyalah yang menyerang terlebih dahulu.


“Percayalah bahwa musuh-musuhmu juga ingin menamatkan riwayat hidupmu, Anak. Mereka sungguh tidak ambil peduli tentang siapa dikau yang sebenarnya. Apakah dikau seorang kawan yang hangat, bapak atau suami dari keluargamu, anak berbakti yang selalu dirindukan kehadirannya, atau bahkan pahlawan yang dibutuhkan oleh orang banyak. Betapa pun itu, mereka tidak peduli. Dan dengan begitu, dikau juga berhak mempertahankan diri dan menamatkan kisah mereka.”


Mantingan mengembuskan napas panjang. Memang dirinya merasa bahwa apa yang dikatakan Tapa Balian itu adalah sebuah kebenaran, yang betapa pun mestilah dijadikan pedoman. Namun, tetap saja Mantingan tidak dapat dengan begitu mudahnya menanggalkan seluruh perasaan bersalah.


“Bukankah di telaga persilatan, kematian telah begitu banyaknya sehingga bukanlah menjadi sesuatu yang harus dipermasalahkan, Anak?”


“Tetapi dalam kehidupan manusia, kematian yang disebabkan oleh pembunuhan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap ringan.”


“Dan menjadi sesuatu yang wajib jika itu untuk memenuhi tantangan bertarung, sebab lawan telah siap betul menghadapi kematian.” Tapa Balian berkata dengan sungguh-sungguh. “Tetapi yang semestinya kita lakukan adalah mempertahankan, bukannya merebut. Kusarankan kepadamu agar menggunakan kemampuan untuk melindungi diri dikau sendiri serta orang-orang berharga yang dikau sayangi, dan bukan untuk menantang pendekar lain untuk bertarung sampai menemui kematian.”


Mantingan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Betapa dirinya merasakan kehangatan di dalam dada sebab Tapa Balian dapat mengerti betul keadaan yang dialaminya saat ini. Teringat kembali dirinya akan sosok Kiai Guru Kedai, yang tanpa berkata-kata sekalipun telah dapat mengetahui isi benaknya.


“Apakah betul tidak ada penyesalan lagi atas hilangnya tangan kananmu, Anak Mantingan?” Tapa Balian kembali membuka pertanyaan.


“Kurasa tidak ada, Bapak.”

__ADS_1


“Dan atas semua yang nyawa yang dikau bunuh?”


“Tetap masih ada, Bapak,” jawab Mantingan dengan sejujur-jujurnya.


“Dan jika dikau dapatkan kembali tangan kanan itu, apakah kiranya yang akan dikau lakukan?”


“Jika itu benar-benar terjadi, tentunya menjadi bukti bahwa Gusti telah memberikanku kesempatan kedua untuk mengganti benih kesengsaraan menjadi benih kebaikan.”


Tapa Balian tersenyum lebar, tampak puas dengan jawaban itu. “Baiklah, berharap saja hal itu dapat terjadi suatu saat nanti. Sekarang, dikau boleh gunakan kamar yang telah kusediakan. Dikau bisa melanjutkan perjalanan setelah benar-benar pulih.”


***


MANTINGAN terbenam dalam samadhinya. Begitu larut, hingga apa yang muncul di dalam kepalanya seolah bukanlah buah dari pemikirannya.


Memanglah benar tiada lagi penyesalan yang Mantingan rasakan setelah kehilangan tangan kanannya. Namun, betapa pun juga pencarian Kembangmas harus tetap dilanjutkan, dan itu akan menjadi suatu kesulitan yang teramat berat tanpa tangan kanannyw.


Sebagai penyoren pedang, kehilangan tangan andalan bukanlah sesuatu yang dapat dianggap enteng. Kehilangan tangan andalan dapat berarti mati.


Haruskah dirinya terus-terusan menyamar sebagai seorang awam, sehingga dapat mencari Kembangmas tanpa harus terlibat dalam dunia persilatan yang senantiasa dipenuhi oleh pertarungan dan bercak darah kematian?


Memang bukan tidak mungkin jika dirinya berhasil menemukan Kembangmas meskipun dengan menyamar sebagai orang awam yang tidak mengerti pertarungan dan kekerasan sama sekali. Namun sekalipun Kembangmas berhasil ditemukan, ia tiada akan bisa membawannya pada Kenanga di Javadvipa. Mengingat betapa Kembangmas adalah makhluk yang sangat kuat untuk dihadapi.


Jika pendekar ahli pun tidak berdaya di hadapan Kembangmas, lantas bagaimanakah dengan dirinya yang tidak memiliki tangan kanan untuk bertarung?

__ADS_1


Mestikah ia mempelajari ilmu berpedang yang hanya menggunakan tangan kiri saja? Ataukah mengamati hewan lain yang bahkan tiada memiliki satupun tangan untuk kemudian diubahnya menjadi sebuah jurus silat?


Api obor di dalam ruangan itu menari-nari meski angin tidak bertiup cukup kencang untuk dapat masuk ke dalam. Kecarut-marutan benak Mantingan telah menyebabkan seisi ruangannya bergejolak. Bahkan barang-barang seperti meja dan bundelannya mulai bergeser meski tiada sesuatupun yang mendorongnya!


Hingga tibalah Mantingan membuka mata sebab telah menemukan jawaban atas pertanyaannya. Namun, jawaban yang berasal dari perenungannya itu bukanlah berarti dapat menjawab seluruh pertanyaannya. Bukankah memang tidak mengherankan lagi jikalau satu pertanyaan baru benar-benar bisa tuntas dengan seribu jawaban?


“Daku harus mengundurkan diri dari dunia persilatan,” katanya, “untuk sementara waktu.”


***


MANTINGAN menjura dengan sebelah tangannya di hadapan Tapa Balian. “Terima kasih, Bapak. Agaknya daku akan merepotkan dirimu untuk waktu yang lama.”


“Bukan masalah. Delima adalah segalanya bagiku, jika dia sampai habis di tangan penyamun waktu itu, daku tidak akan mau meneruskan hidup.” Tapa Balian mengelus janggutnya sambil tersenyum hangat. “Jika membutuhkan sesuatu, janganlah ragu untuk mengirimiku surat menggunakan Si Putih.”


Mantingan menganggukkan kepalanya dan berterimakasih sekali lagi. Tepat setelahnya, Tapa Balian berbalik badan dan berkelebat pergi.


Mantingan melihat ke sekeliling sambil menegakkan tubuh. Dirinya berada di hadapan mulut goa. Bebatuan, semak belukar, dan pohon rimbun menutupi goa itu dari pandangan siapa pun. Andaikata Mantingan tidak melakukan pencarian selama lebih dari lima hari, tempat ini tidak akan pernah ditemukan olehnya.


____


catatan:


Kamu bisa kasih tips ke penulis mulai dari seharga Nasi Padang lauk telur dadar sayur daun singkong dipadu sambal hijau di karyakar** .com/WestReversed sekarang!

__ADS_1



__ADS_2