
PANDANGAN mata Mantingan kini beralih pada Tapa Balian. Pria tua itu dengan cepat menggelengkan kepalanya, jelas betul tidak ingin Mantingan membuka segel sihir pada kotak kayu itu. Nyawanya tidak akan sebanding dengan Sepasang Pedang Rembulan, yang jika pedang tersebut sampai kembali ke dunia persilatan terlebih-lebih dunia awam, tiada satupun Pemangku Langit yang dapat menghentikannya.
Mantingan tetap terdiam. Tidak memutuskan apa pun juga. Ia tengah memikirkan segala cara yang kiranya dapat menyelamatkan Tapa Balian sekaligus Sepasang Pedang Rembulan, tetapi hal tersebut teramat mustahil dapat terjadi. Jikapun pada akhirnya ia berhasil, nyawa Bidadari Sungai Utara dan Delima berada dalam bahaya besar. Selalu mesti ada yang dikorbankan!
Tak lama kemudian setelah menemui kebuntuan, Mantingan memejamkan mata. Meskipun dia tidak memberi jawaban, tetapi itu sudah lebih dari cukup bagi sang raja untuk mengibaskan lengannya. Sekejap kemudian kepala Tapa Balian menggelinding di atas lantai.
Delima menjerit nyaring, yang bahkan masih begitu nyaring kendati mulutnya telah dibebat kain. Tidak menyangka kakeknya akan mati tepat di hadapan matanya sendiri dengan jalan yang tidak wajar. Melihat kepala kakeknya terlepas dari tubuh. Sungguh, itu bukanlah hal yang patut dilihat oleh anak seusianya. Sama sekali tidak.
Gadis kecil itu hendak memberontak, tetapi Bidadari Sungai Utara lekas memeluknya erat-erat. Dia menenangkan Delima dengan tatapan matanya, hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini.
“Daku dan kerajaanku sangat membutuhkan sepasang pusaka itu, Pahlawan Man.” Sang raja kembali berbicara dengan nada sedih yang terdengar amat dibuat-buat. “Betapa selir sekaligus anak buah kepercayaanku telah berkhianat dan makar pada kerajaan yang telah memberinya perlindungan serta kenikmatan tiada tara untuk waktu yang tiada dapat dikatakan sebentar. Dia begitu lancang dengan membiarkan istana ini dikotori pendekar-pendekar musuh dari permukiman miskin itu. Kini, tak ada cara lain untuk membersihkan mereka semua selain dengan Sepasang Pedang Rembulan. Ketahuilah bahwa daku pun terpaksa melakukan ini.”
Mantingan tetap mematung. Bergeming.
“Bukan jadi masalah bilau kehendak dikau adalah tetap berdiam. Biarlah daku melihat sampai sejauh manakah dikau dapat bertahan.” Raja Koying itu kembali memberi isyarat, maka seketika itu pula sebilah kelewang menempel di leher Delima yang tengah direngkuh habis-habisan oleh Bidadari Sungai Utara.
Mantingan jelas ingin berkelebat dan membantai sang raja hingga habis tiada bersisa. Kalau dapat, mencincang-cincangnya sampai seribu bagian pun akan dilakukannya dengan suka hati. Tetapi, betapa ia sadar bahwa kemampuan bertarungnya telah berkurang banyak dalam keadaan pikiran yang seperti ini. Jika saja Kiai Guru Kedai masih hidup, Tapa Balian pula masih menempa besi di tempatnya, serta Bidadari Sungai Utara tidak ditawan, maka mengalahkan mereka semua bukanlah hal yang sulit baginya. Namun di hadapan semua kenyataan yang ada saat ini, Mantingan tidak dapat berbuat banyak.
Sehebat apa pun seorang pendekar di atas segala pendekar, ia tetaplah manusia yang memiliki perasaan. Perasaan tersebut dapat memengaruhi segala kemampuan bertarung seorang pendekar meskipun dialah yang terhebat di antara segalanya. Boleh saja dirinya menjadi tak terkalahkan di ujung pedang, tetapi lain persoalan bila dirinya tiba di ujung kesedihan.
__ADS_1
Mantingan ragu tentang apakah dirinya masih dapat menyerang secepat pikiran. Pula ia meragukan kemampuan pembacaan pertanda yang telah dikuasainya sebelumnya. Masihkah semua itu dapat bekerja saat ini?
Melihat pemuda itu masih terdiam dengan mata terpejam, sang raja menggertakkan giginya. Dia segera mengangkat sebelah tangan dan hanya perlu kembali mengibaskannya ke bawah sebelum nyawa Delima melayang entah ke mana.
Namun tepat sebelum hal itu benar-benar terjadi, Mantingan membuka matanya dan berteriak, “TUNGGU!”
Sang raja menahan gerakannya sebelum tersenyum amat lebar.
“Wahai, apakah dikau berubah pikiran?”
Mantingan tidak menjawab melainkan langsung berjalan maju hingga tiba di hadapan raja itu. Dia mengulurkan tangannya untuk menerima kotak kayu tersebut.
“Tidak, kau tidak bisa mengambil benda ini.” Sang raja menggelengkan kepalanya. “Kau hanya perlu melepaskan Tapak Angin Darah ke arah kotak ini.”
Mantingan menatap raja itu tajam-tajam. Kali ini, ketajaman tatapannya bagai telah melebihi senjata mestika yang tertajam sekalipun. Seolah saja ia telah mendapatkan Sepasang Pedang Rembulan tanpa perlu repot-repot membuka kotak kayu itu.
Mendapati tatapan tersebut, raut wajah sang raja menampakkan ketakutan yang tidak sedikit. Keringatnya mengucur perlahan-lahan. Betapa dirinya tahu dengan pasti bahwa Mantingan menyertakan segenap hawa pembunuh yang ia miliki untuk menekannya.
Hawa pembunuh tersebut juga membuat pendekar-pendekar di sekitarnya bergemetaran. Bobot tubuh mereka seolah bertambah hingga berkali-kali lipat. Lutut terasa lemas. Bahkan sekadar bernapas pun membutuhkan banyak tenaga.
__ADS_1
“Oh, hawa pembunuh ini berasal dari kebencian.” Raja Koying memaksakan dirinya untuk mengeluarkan suara, berharap kelemahannya tidak terungkap di hadapan Mantingan. “Bukankah semestinya engkau mengetahui bahwa inilah yang justru kuharapkan? Dengan kebencian, dikau tidak akan bisa bertarung dengan baik.”
“Apakah kau ingin melihatnya langsung, Paduka?” Mantingan mengangkat lengan kirinya. Bersiap mengirimkan Tapak Angin Darah pada kotak kayu di pangkuan sang raja.
Melihat lengan kiri itu, Raja Koying tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bergemetar. Betapa pun juga, dirinya bukanlah seorang penguasa yang tidak memiliki rasa takut sama sekali. Dia mengetahui bahwa orang yang berdiri di hadapannya bukanlah sosok yang kecil. Sebaliknya, Mantingan adalah Pemangku Langit, pendekar dari segala pendekar yang mampu menjungkir-balikkan dunia persilatan Dwipantara jika menginginkannya!
Sebelumnya, sang raja telah merasa unggul karena memiliki siasat menjebak Mantingan ke dalam kesedihan dan kebencian terburuk yang pernah dirasakannya, tetapi kini siasat itu justru berbalik menyerang dirinya sendiri.
Dengan kebencian yang teramat sangat dalam, hawa pembunuh yang dimiliki pemuda itu bertambah pesat hingga berkali-kali lipat. Dan meskipun pikirannya sedang amat kacau, kemampuan bertarungnya justru semakin menggila.
Namun, sudah terlambat bagi raja cerdik itu untuk menyadari kesalahannya. Tapak tangan Mantingan telah meluncur dengan kumpulan angin yang berpusar-pusar. Kecepatannya teramat tinggi dengan tiada sesiapa pun dapat menghalanginya lagi!
Suara ledakan terdengar begitu ingar-bingar di dalam ruangan yang serba tertutup itu. Alamat buruk bagi sang raja dan pendekar-pendekar yang ada di sekitarnya, selaput gendang telinga mereka pecah tak terelakkan.
Di sisi lain, kotak kayu yang menjadi tempat penyimpanan Sepasang Pedang Rembulan itu hancur berkeping-keping bagaikan telah keropos dilahap rayap. Begitu mudahnya kotak tersebut hancur, sedang sebelumnya segala senjata pusaka telah digunakan dalam upaya menghancurkan kotak itu!
Dari balik serpihan-serpihan kayu yang melayang bebas di udara itu, tampaklah sepasang pedang dengan dua warna berbeda. Satu pedang berwarna putih keperakan bagaikan purnama yang menerangi kegulitaan malam, sedang satu pedang lainnya berwana hitam pekat bagaikan langit malam tanpa bintang-gemintang. Dari pangkal hingga ujungnya, dua pedang itu terbuat dari mestika, dan memang tiada sesuatu apa pun yang lainnya selain hanya mestika!
Sang raja menatap Sepasang Pedang Rembulan dengan ganas. Tangannya bergerak secepat mungkin demi meraih dua senjata mestika sakti tak tertandingi itu. Dia begitu yakin, teramat yakin, bahkan terlalu yakin dapat mendapatkan pedang tersebut, sebab betapa pula dia telah melatih diri untuk urusan ini.
__ADS_1
Namun, terdapat hal lain yang lolos dari perhitungan sang raja.