
"Soal itu, diriku juga menaruh rasa setuju.” Rara mengangguk kecil, Mantingan terus memandanginya. “Dengan segala kekacauan pada hari ini, kamu berjodoh dengan Paman Kedai, lalu berjodoh pula dengan segenap anggota Perguruan Angin Putih. Dan kemudian kamu berjodoh dengan perwira di Kota Angin Nyiur, bahkan kamu juga berjodoh untuk menyelamatkan seluruh penduduk di kota itu. Kamu berjodoh dengan Bidadari Sungai Utara, yang tanpa dirimu dia tidak akan bisa selamat. Dan sekarang ini, kamu berjodoh dengan Kana dan Kina, dua anak yang malang itu.”
MANTINGAN MENDENGAR perkataan gadis itu tanpa memotong sedikitpun. Dan memanglah tiada keinginan untuk memotongnya.
“Bahkan karena kekacauan itu, kita telah berjodoh.” Tiba-tiba gadis itu menatapnya syahdu. “Dan kamu telah memberikan padaku saat-saat terbaik dalam hidupku. Aku tidak jatuh cinta, dan saat pertama kali aku jatuh cinta, itu rasanya sangat luar biasa.”
“Meskipun demikian,” kata Mantingan. “Bersamamu hanya ada di khayalanku. Dan sepertinya, akan terus begitu.”
“Aku akan abadi,” balas Rara, bergerak menyentuh dada Mantingan. “Di setiap detak jantungmu, ada aku.”
“Saat aku ada bersamamu,” kata Mantingan lagi. “Aku meragu, sesungguh-sungguhnya meragu. Apakah yang ada di depanku adalah Rara yang asli, ataukah hanya bayangan Rara yang semu. Sebab di saat aku berbicara denganmu, sebenar-benarnyalah aku terbisu.”
Rara memancarkan senyumannya yang indah. “Terdiam bukan berarti kalah. Terdiam bukan berarti lemah. Apakah kamu mengerti itu?”
“Lalu bagaimana denganmu?” Mantingan mengencangkan suara di dalam kesunyian benak. “Bagaimana dengan bayang-bayangmu? Apakah kau adalah nyata atau hanya bayang-bayang semu saja? Katakan!”
“Apakah cinta harus selalu memandang wujud seseorang? Apakah kamu mencintaiku hanya karena memandang wujudku?”
“Tidak, Rara.” Mantingan menggeleng kuat. “Apa pun wujudmu, aku akan selalu mencintaimu, hingga ajal datang menjemputku.”
“Maka cintailah diriku dalam bentuk apa pun.” Rara tersenyum, dirinya memudar. “Bahkan jika aku hanya berwujud setitik bintang di langit.”
***
__ADS_1
MALAM ITU. Mantingan dan Kana saling bahu membahu membereskan ruangan demi ruangan setelah makan malam bersama. Tiada kata lelah yang diucapkan Mantingan, dan ia juga tidak menginginkan Kana berucap sedemikian. Maka bekerjalah mereka tanpa kenal lelah. Sedangkan itu, Kina hanya beristirahat di kamarnya, Mantingan dan Kana setuju bahwa Kina masih belum pulih sepenuhnya dan masih pula membutuhkan istirahat.
“Kita sudahi malam ini.” Mantingan berkata sambil meluruskan punggungnya. “Semua ruangan sudah dirapikan, esok pagi kita lapisi ruangan-ruangan dengan cairan mengilat seperlunya, dan akan kita ganti atau tambal kayu yang ada di ruangan.”
“Mengapa tidak kita lakukan malam ini saja, Kakak Man?” Bertanya Kana dengan dahi berkerut.
Mantingan tersenyum dan menggosok kepala bocah itu. “Kalau kita lakukan semuanya malam ini juga, sudah pasti kita akan kelelahan.”
“Aku belum lelah sama sekali. Dan tolonglah berhenti menggosok kepalaku seperti ini!”
Mantingan menarik kembali tangannya sambil tertawa. “Kakak sudah lelah dan akan merasa lebih baik jika segera tidur.”
“Kalau begitu, Kakak Man saja yang tidur. Aku tidak perlu.”
Kana menarik napas panjang sebelum mengangguk, berusaha bersikap selayaknya orang dewasa. “Baiklah. Tetapi, Kakak akan tidur di mana?”
Mantingan mengangkat alisnya lalu tersenyum. “Apakah kau percaya akan keberadaan pendekar?”
Sekali lagi Kana mengangguk. “Awalnya aku tidak percaya. Namun setelah melihat Kakak, suka tidak suka aku harus percaya.”
Mantingan melebarkan senyumnya. “Sebagai pendekar, aku bisa tidur di banyak tempat. Bahkan aku bisa tidur dengan cara bergelantungan seperti kelelawar.”
“Tapi pasti itu tidak nyaman,” sahur Kana. “Aku akan membagi tempat tidur dengan Kakak Man.”
__ADS_1
“Tidak perlu.” Mantingan menolak dengan halus. “Sebagai pendekar, aku diwajibkan untuk selalu waspada. Bahkan saat tertidur sekalipun. Tidur di kasur yang nyaman malah membuatku merasa tidak aman.”
Kana terdiam beberapa saat untuk mencerna kalimat Mantingan, lalu untuk ketiga kalinya ia mengangguk. Tanpa banyak bicara lagi, Kana berbalik dan berjalan keluar dari ruangan tempat dirinya dan Mantingan berada.
Jadilah Mantingan sendiri di ruangan itu. Hanya ada sedikit penerang dari obor dari obor di lorong. Dingin mencekam, seperti diterpa angin gunung saja. Mantingan kemudian menghela napas panjang.
Sudah pasti ia tidak akan melakukan hal yang tadi dikatakannya. Ia tidak akan tidur, sebab dirinya memang tidak bisa tidur. Bayang-bayang kematian Rara kembali datang menggentayanginya. Bahkan rasa penyesalan kembali hinggap, walau sedikit tapi itu sangat berarti banyak bagi seorang pemuda seperti Mantingan.
Namun, ia menyuruh Kana tidur bukanlah tanpa alasan. Mantingan akan meneruskan pekerjaan di rumah ini, dan cara yang akan ia pakai akan sedikit berbahaya bagi manusia biasa seperti Kana.
Maka setelah meluruskan punggungnya sekali lagi, Mantingan berkelebat cepat menuju lantai bawah.
Di lantai bawah, ia mengambil cairan yang dapat membuat kayu berubah menjadi mengilat. Dengan gerakan yang cepat pula, Mantingan mengolesi dinding-dinding kayu dengan cairan itu.
Setelah selesai dengan pekerjaan pertama, Mantingan beralih ke pekerjaan yang kedua, begitu seterusnya hingga tanpa disadari semua pekerjaan telah diselesaikan malam itu juga.
Mantingan memasang banyak lampu lentera untuk menggantikan keberadaan obor. Maka rumah yang pada awalnya gelap, suram, lembab, tak terawat, dan berdebu itu menjelma menjadi rumah yang sangat cantik. Kayu-kayu berkilauan dibias cahaya lentera yang lembut. Tidak lagi berdebu. Dinding dan atap rumah yang berlubang ditambal dengan apik. Tidak ada lagi lumut yang menempel. Tidak pula lembab.
Rumah itu kembali ke wujud awalnya yang sesungguh-sungguhnya sangat indah. Mantingan mengembuskan napas dan tersenyum puas.
Melihat wujud rumah itu, Mantingan teringat pada rumah Kenanga. Indah, cantik, nan sejuk. Atau jika tak bisa disandingkan dengan rumah Kenanga, maka ini layak disandingkan dengan rumah Dara.
Belum lagi bunga-bunga yang akan ditanam di lahan depan rumah. Bahkan Mantingan berencana untuk membangun sebuah kolam kecil di tengah-tengah halaman. Dengan ikan-ikan berwarna cantik di dalamnya. Serta tidak lupa pula daun teratai yang merekah bunganya. Membayangkannya saja sudah mampu membuat Mantingan merasa sangat bersemangat.
__ADS_1
Andai saja rasa kantuk tidak datang menghampirinya, maka sudah barang tentu Mantingan segera bergerak membuat kebun bunga di halaman. Beruntungnya, ia tetap manusia yang bisa mengantuk.