Sang Musafir

Sang Musafir
Selusin Penyamun


__ADS_3

MANTINGAN diam saja dan terus berjalan, meski telah jelas diketahuinya bahwa terdapat selusin orang bersenjata yang mengendap-endap mengikutinya dari belakang.


Mantingan pun mengerti bahwa yang datang kali ini bukanlah sekumpulan pendekar, melainkan hanya sekumpulan orang terlatih yang menggunakan pedang. Namun, ia masih tidak mengerti mengapa penyamun-penyamun itu bisa ada di tempat yang sesunyi dan sesepi ini, yang seharusnyalah tidak menarik minat mereka sama sekali.


Mantingan tidak mengambil dugaan bahwa Gema Samudradvipa berniat menjebaknya di tengah rimba belantara seperti ini, sebab tentu pria bercaping itu bisa melakukannya sejak awal tanpa perlu susah-payah membawa Mantingan ke dalam rimba. Dan lagi pula, Gema tidak menunjukkan gelagat apa pun yang menandakan bahwa dirinya mengetahui kehadiran selusin orang itu.


Namun meskipun telah ia ketahui bahwa orang-orang itu bukanlah pendekar yang seharusnya dapat dikalahkan dengan semudah membalikkan telapak sebelah tangan, Mantingan tetap saja menyiagakan kewaspadaannya.


Ia tidak dapat menepis kemungkinan bahwasanya selusin orang bersenjata yang datang mengendap-endap itu hanyalah sebuah pengalihan belaka sebelum dilancarkan serangan yang sebenar-benarnya.


Memanglah terdapat siasat seperti itu, yang sekaligus pernah diperingatkan Kiai Guru Kedai dalam nasihatnya:


“Seorang pendekar yang mengetahui bahwa kekuatan lawannya jauh lebih lemah, biasanya akan mengendurkan kewaspadaan. Hal itulah yang kemudian dimanfaatkan menjadi sebuah siasat pertarungan. Yakni dengan cara mengirim petarung-petarung lemah untuk melumpuhkan kewaspadaan lawan hingga ke titik terendah, kemudian mengirim serangan dengan kekuatan yang sesungguhnya.”


Dalam rimba persilatan, kewaspadaan seringkali lebih dibutuhkan ketimbang kekuatan, sebab pendekar tingkat ahli sekalipun dapat terbunuh oleh pendekar tingkat rendah dengan jarum beracun ketika kelengahannya terbuka. Sehingga bagaikan hanya dibutuhkan kelengahan sebesar ujung jarum saja sebagai pintu keluarnya nyawa dalam raga!


Mantingan terus berwaspada sebab selusin orang itu semakin mendekat dan terus mendekat. Berwaspada dalam keterdiaman agar tiada memancing kecurigaan Gema, yang betapa kecurigaan itu akan membongkar jati diri Mantingan dan berujung pada kekecewaan atau bahkan yang lebih buruk ialah pertarungan!


Ketika suara patahan kayu terdengar cukup nyaring, Gema berbalik menghadap belakang dengan jari-jemari menggenggam gagang pedang di punggungnya. Mantingan pun bersorak gembira di dalam benak sebab telah memiliki alasan untuk mengeluarkan bilah pedang dari sangkarnya!


Selintas lalu dirinya bertukar pandang dengan Gema. Pandangan yang betapa pun singkatnya mengandung banyak arti.

__ADS_1


Kemudian, berserulah Gema dengan lantang, “Siapakah di sana?!”


Namun, tidak ada yang menjawab. Hanya terdengar desau angin. Ketika menebar pandang pun, yang terlihat hanyalah barisan pepohonan besar serta semak belukar tinggi yang terlambai-lambaikan angin kencang.


“Siapa di sana?!” Gema mengulang pertanyaannya sekali lagi. “Jawablah jika kalian tidak ingin kami kabur dari tempat ini secepat-cepatnya!”


Tidak ada yang membalas, tetapi jawaban atas pertanyaan Gema itu rupa-rupanya ditanggapi dengan serangan. Beberapa pisau terbang meluncur ke arah Mantingan dan Gema dengan kecepatan yang tak terbilang begitu tinggi.


Mudah saja bagi Mantingan dan Gema untuk mengelak, sehingga pisau-pisau terbang itu hanya menancap di tanah saja. Selain kecepatan pisau-pisau itu yang tidak terlalu tinggi, ketepatannya pun sangat buruk.


Mantingan menarik keluar Pedang Kiai Kedai yang tinggal separuh itu dari sangkarnya, hal yang sama juga dilakukan Gema Samudradvipa terhadap pedang besarnya.


Tanpa berbasa-basi sama sekali, selusin orang yang nyatanya berpakaian serba hitam itu keluar dari balik batang-batang pepohonan serta rimbunan semak belukar untuk maju menyerang!


Tubuh mereka yang terbalut kain hitam tampak begitu cekung ke dalam hingga memperlihatkan bentuk tulang-belulangnya. Mereka kurang makan. Dan pastinya jalan hidup sebagai penyamun bagi mereka bukanlah untuk bersenang-senang.


Namun adakah dalam pertempuran yang disebutkan dengan benar dan salah, jikalau masing-masing pihak harus mengangkat senjata untuk mempertahankan nyawa tanpa melihat siapa yang benar dan siapa yang salah?


Mantingan menyerap seluruh tenaga dalam ke tujuh cakranya agar tidak sedikitpun gerakan yang dibuatnya nanti menyertakan tenaga dalam. Tentu hal itu pun telah menjadi pertimbangannya, bahwa memang terkesan tidak adil yang begitu kuat melawan yang begitu lemah. Namun, Mantingan masih percaya pada kemampuan bertarungnya, bahwa segala persoalan di atas jalan setapak itu dapat diselesaikan tanpa tenaga dalam.


Begitu salah seorang di antara mereka menyabetkan pedangnya ke arah Mantingan, pemuda itu pun lantas menggerakkan Pedang Kiai Kedai untuk menangkis. Dan tepat selepas berhasil menangkis, sekali lagi ia menggerakkan pedangnya yang dimaksudkan untuk menyerang.

__ADS_1


Dengan sekali sabetan menyerong dari atas ke bawah, Mantingan berhasil melumpuhkan musuhnya itu, yang tiada lain dan tiada bukan dengan arti melumpuhkan adalah membunuh.


Mantingan sungguh tidak menggunakan tenaga dalam pada serangan maupun tangkisannya, tetapi memang musuhnya saja yang begitu lemah untuk melawan seseorang bertangan buntung seperti dirinya.


Sedang saat Mantingan kembali menghadapi serangan, Gema Samudradvipa justru tengah menyerang seganas-ganasnya. Terjangan bilah pedangnya yang besar sungguh tak dapat ditahan oleh musuh, mengakibatkan mereka menjadi santapan empuk pedang itu. Kedudukannya jauh dari kata terdesak.


Mantingan terus mengayunkan pedangnya. Tidak pernah berhenti. Entah itu untuk menangkis atau menyerang, tetapi pedangnya memang tidak berhenti bergerak sama sekali. Berbeda dengan Gema, kedudukan Mantingan saat ini boleh dikata cukup terdesak.


Bagaimanakah mungkin orang Javadvipa akan percaya bahwa Mantingan yang pernah membunuh hingga ribuan pendekar sekaligus itu tidak mampu menghadapi seorang penyamun yang sungguh tiada memiliki pengalaman di dunia persilatan sama sekali?


Namun jika dilihat keadaannya, Mantingan yang saat ini memang tidak sama dengan ketika dirinya berada di Javadvipa. Lengan kanan andalannya telah tiada, ditambah pula dengan Pedang Kiai Kedai yang telah patah. Tentu dengan keadaan sedemikian, memanglah wajar jikalau saat ini Mantingan hampir tidak memiliki daya melawan seorang musuhnya.


Namun, pertarungan Mantingan dengan musuhnya itu berakhir seketika manakala Gema Samudradvipa menampar kepala musuh menggunakan pedangnya, yang seketika pula membuat orang itu terjatuh dengan kesadaran meremang.


Gema Samudradvipa maju sebelum menginjak dada orang itu, menekankannya cukup kuat ke tanah untuk mencegah penyamun itu melarikan diri.


“Cepat katakan siapa yang mengirim kalian ke sini jika tidak ingin nyawa terpisah dari badan!” Gema memberi ancaman dengan penekanan yang begitu kuat pada nada bicaranya.


Diiring dengan ringis kesakitan serta wajah pusat pasi, penyamun kurus itu menjawab, “Kami tidak dikirim oleh siapa-siapa, Tuan! Kami hanya diperintahkan oleh ketua kelompok kami, yang juga telah Tuan habisi!”


Mantingan menatap mata orang itu lekat-lekat ketika dia berbicara. Ia tidak menemukan jenis kebohongan macam apa pun di dalam mata itu.

__ADS_1


“Benarkah sedemikian?!” Gema yang tampak tidak puas semakin menekan dada penyamun itu dengan kakinya.



__ADS_2