
Mantingan dan Satya duduk berseberangan di meja makan. Satya dengan tidak enak hati menyantap makanan yang dimasak Mantingan, sedangkan Mantingan hanya minum teh, tapi memang itulah yang ia mau.
Mantingan mengatakan bahwa dirinya tidak ingin menyantap makanan setidaknya sampai esok hari.
“Mantingan, aku sudah menebak engkau akan jadi pendekar hebat seperti ini.”
“Satya, kau terlalu memuji, aku tidak sehebat yang dikau bayangkan.” Mantingan menepis pujian itu.
Satya menggeleng pelan. “Aku sudah melihat bagaimana kau melesat secepat kilat seperti tadi itu.”
“Kau hanya melihatku berlari saja, itu bukan penentu kehebatan seseorang.” Mantingan tertawa kecil.
Satya tertawa pula, lalu katanya, “Untuk membuktikannya, bagaimanakah jika kita latih tanding saja esok pagi?”
Mantingan terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum. “Itu pasti akan menyenangkan.”
Satya melanjutkan santapannya sambil bercerita mengenai petualangannya semenjak perpisahan dirinya dengan Mantingan di tepi sungai tiga tahun lalu. Semenjak Satya dan Mantingan berpisah itu, Satya memang benar-benar pergi meninggalkan rumahnya, memulai petualangannya membasmi pendekar-pendekar aliran hitam yang membuat kekacauan.
Selama satu tahun pertamannya, Satya meningkatkan kemampuannya di ilmu sihir, terutamanya pada Sihir Lontar. Sihir Lontar ini berupa mantera sihir yang tertulis di atas lontar, perlu diucapkan secara lisan agar mantera itu bekerja—cara kerjanya sama seperti kutukan. Pada umumnya, sihir lontar digunakan dengan cara ditempelkan untuk menyegel sesuatu, ditancapkan untuk lontar sirep penyamar, dihancurkan untuk menyerang.
Penguasaan sihir Satya cukup baik, tetapi ia tidak mau mengandalkan ilmu sihir itu saja. Sihir membutuhkan waktu lebih lama untuk bekerja ketimbang senjata lainnya. Seorang pendekar pengguna sihir biasanya membutuhkan waktu untuk merapalkan mantera atau menuliskan mantera, sedangkan waktu itu bisa saja dimanfaatkan musuh untuk menyerang. Untuk menambal kelemahan itu, Satya mempelajari ilmu pedang sebagai serangan jarak pendek sekaligus pertahanan.
Tidak hanya itu saja, berkat kegigihan Satya menumpas pendekar-pendekar aliran hitam, ia mendapat gelar sebagai Pendekar Lontar Bercahaya. Pemberian gelar itu berdasarkan ilmu Lontar Sihir-nya yang bercahaya.
“Satya, aku juga sedikit-sedikit tertarik dan mempelajari ilmu sihir. Apakah engkau bisa memberitahuku pendapatmu tentang ilmu sihir?” Bertemu dengan pendekar ahli sihir, Mantingan tidak mau menyianyiakan kesempatannya.
Satya tentu dengan senang hati menjelaskan untuk teman lamannya itu.
“Sihir adalah permainan aksara dan rapalan, Mantingan. Tenaga dalam bisa dimanfaatkan ke dalam rapalan, tenaga dalam juga dapat dimanfaatkan ke dalam aksara, itulah yang kemudian dinamakan sihir. Semakin rumit rapalan atau aksara yang dibuat, maka semakin sulit orang-orang yang dapat mematahkannya.
“Serangan sihir dapat ditangkis, dikembalikan, atau dilenyapkan dengan atau tanpa ilmu sihir. Dalam suatu sihir, biasanya mengandung unsur cangkriman agar orang sulit memecahkannya. Selain cangkriman yang digunakan, aksara yang digunakan bukan hanya aksara pawala saja, maka dari itu seorang pendekar sihir harus mempelajari aksara-aksara di seluruh penjuru dunia.”
Mantingan mengernyitkan dahinya. “Jikalau seperti itu, bukanlah seorang pendekar sihir bisa menjadi tidak terkalahkan dengan aksara-aksara yang sulit dipahami?”
Satya tersenyum lalu menjawab. “Ilmu sihir bukanlah ilmu yang sempurna, Mantingan. Banyak kemungkinan gagal dalam setiap percobaan. Setahuku, tidak ada ahli sihir yang menjadikan sihir sebagai senjata utama mereka.”
Mantingan kemudian mengangguk pelan.
__ADS_1
“Aku ada salinan kitab-kitab yang aku pelajari, aku yakin akan cocok denganmu. Apakah kau mau?”
“Jika kau tidak keberatan, aku mau.” Mantingan tersenyum lebar-lebar.
Satya bergerak mengambil bundelannya di bawah meja. Ia membuka tali bundelannya itu dan mengeluarkan beberapa gulungan keropak kitab.
“Apakah kau sudah menguasai dasar-dasar ilmu sihir?” Satya bertanya setelah memberikan kitab-kitab itu pada Mantingan.
“Ya, sedikit.” Mantingan tersenyum kaku, sebenarnya ia lebih dari kata “menguasai dasarnya”, dengan bakat Mantingan, ia sudah berada di tingkat menengah ilmu sihir.
“Coba perlihatkan satu-dua lontar sihir yang bisa kaubuat.” Satya mengeluarkan selembar lontar khusus sihir untuk diberikan pada Mantingan.
Mantingan menerima lembar lontar itu dan mengambil pengukir di bundelannya. Ia mulai mengukirkan aksara-aksara berpantun yang mengandung sedikit cangkriman.
Surat merpati tak dibalas
Ucapan tak dibalas
Usaha tidak dibalas
Tidak balasan apakah yang membuat tidur jadi tidak pulas?
Itu adalah Lontar Sihir yang dikhususkan Mantingan untuk menyerang.
Aksara-aksara itu melesat bagai panah menuju tubuh Satya, tetapi Satya telah membuat sihir penangkal dengan membalas pantun cangkriman Mantingan, ia mematahkan lontarnya dan aksara-aksara melayang bagai perisai di depannya.
Orang mengambil batu
Dilempar timbul pergerakan
Tentu aku tahu apa itu
Pastilah cinta tak terbalaskan.
Sihir Mantingan berhasil dipatahkan dengan mudah oleh Satya, Mantingan tertegun. “Padahal bukan itu yang aku maksud.”
“Lalu apa?”
__ADS_1
Mantingan tersenyum canggung sebelum menjawab, “Rindu yang tak terbalaskan.”
“Tetapi aksara-aksara sihir baru bisa dipatahkan jika mengalami kecocokan dengan penangkalnya.”
Mantingan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak menyangka aksara sihirnya dapat dipatahkan dengan mudah oleh Satya.
“Tidak perlu dipikirkan, lagi pula tidak semua sihir harus ditangkal, bisa dengan dihindari saja.” Satya tertawa pelan sambil menepuk-nepuk pundak Mantingan. “Lagi pula, kau masih tergolong awal dalam ilmu sihir, baru berapa tahun kau belajar sihir?”
“Berapa tahun?” Mantingan mengernyitkan dahi. “Aku baru mempelajari ini seminggu yang lalu.”
Satya tersedak ludahnya sendiri, terbatuk-batuk beberapa saat. “Kau jangan bercanda ....”
“Aku tidak bercanda, Satya. Apakah ada suatu keanehan?”
Satya terdiam beberapa saat sebelum tersenyum. “Ah, memang dirimu sepertinya sangat berbakat di bidang sihir. Tingkatkan terus kemampuanmu di bidang sihir ini, Mantingan, tetapi jangan sampai nanti kita adu sihir dalam pertarungan hidup-mati.”
“Terima kasih, itu tidak akan terjadi.”
***
Pagi hari yang cerah itu, di depan halaman rumah yang Mantingan dan Satya diami tadi malam. Dua pemuda berdiri tegak menghadap satu sama lain dengan pandangan mata tajam, tapi tetap dalam batas bersahabat.
Mereka menggenggam pedang di tangan kiri sedang tangan kanannya untuk bersiaga.
Di sisi kiri pinggang keduanya terdapat satu kantung berbentuk kotak yang berisi Lontar Sihir dan sebatang pengukir, kotak itu memiliki sisi yang terbuka sehingga memungkinkan untuk langsung menulis meskipun lontar masih berada di dalam kotak.
Mereka akan bertarung, tetapi bukan pertarungan antara hidup dan mati, keduanya bertarung untuk menguji kemampuan masing-masing.
“Mantingan, siapakah kiranya yang akan mulai lebih dahulu. Aku atau dikau?”
Mantingan tersenyum dan mengatakan, “Kau mulai lebih dulu.”
Satya menyunggingkan senyum. “Kalau begitu berhati-hatilah, Mantingan!”
Satya mengentak kakinya. Tubuhnya melaju dalam kecepatan tak kasat mata, pedangnya terhunus ke depan. Sedang tangan kirinya mengukir aksara pallawa di kotak Lontar Sihir-nya.
___
__ADS_1
catatan:
Di sini, cangkriman adalah teka-teki.