Sang Musafir

Sang Musafir
Melanjutkan Perjalanan di Jalur Utara


__ADS_3

BIDADARI SUNGAI Utara menyodorkan satu bumbung buluh pada Mantingan dan berkata dengan suara malas, “Kau tidak mau makan?”


Mantingan menggeleng singkat. “Aku sudah makan, Saudari habisi saja semuanya.”


Bidadari Sungai Utara tidak menawarkan lebih jauh lagi, ia sendiri menginginkan lebih banyak bumbung buluh berisi daging lezat. “Kalau begitu, bukan salahku jika aku habiskan semua daging ini. Selamat tinggal Mantingan, aku akan makan ini di dalam tenda, dan berhentilah menggangguku.”


“Saudari ....” Baru saja Mantingan ingin meminta bantuan pada Bidadari Sungai Utara, namun dirinya sudah terlambat. Gadis itu telah masuk dan menutup kembali tirai tendanya, bersikap seolah tidak mendengar panggilan Mantingan.


Mantingan sekali lagi tersenyum kecut sambil menghela napas panjang sebelum mulai melakukan pekerjaannya sendirian. Mantingan menyalakan Lontar Sihir Cahaya yang tersisa dan duduk di sebuah batang pohon besar yang tumbang. Di sana, ia mulai memilah barang belanjaannya, membagi mereka ke dalam dua bundelan.


Bundelan pertama adalah miliknya sendiri, sedangkan bundelan kedua adalah bundelan yang akan dibawa Bidadari Sungai Utara. Tentu saja untuk gadis itu barang yang dibawanya jauh lebih ringan. Mantingan merasa mulai esok Bidadari Sungai Utara harus dapat mengambil peran dalam perjalanan.


Rerata, barang yang ada di bundelan Bidadari Sungai Utara adalah bahan makanan serta obat-obatan. Sedangkan di dalam bundelan Mantingan adalah perlengkapan memasak, Lontar Sihir, racun, jarum rahasia, peta, uang, tenda, dan semacamnya.


Namun, Mantingan tidak mau membawa barang sebanyak itu. Lebih tepatnya, ia merasa ada beberapa barang yang tidak terlalu dibutuhkan dan perlu tinggalkan. Mantingan berpikir sepertinya tenda harus ditinggalkan, sebab hutan yang akan mereka lewati di wilayah Tanjung Kalapa tidak terlalu ganas. Bahkan menurut perkataan Paman Bala, banyak penginapan yang tersebar di seluruh jalan menuju pesisir utara Tanjung Kalapa.


Tidak ada salahnya membuang tenda. Jarang pula digunakan, namun sekalinya digunakan memang untuk urusan penting, maka itulah Mantingan sempat merasa ragu untuk membuangnya. Tetapi pada akhirnya, Mantingan yakin. Jika tenda itu tidak ditinggalkan, maka bundelannya akan penuh dan barang-barang lain akan rusak akibat terhimpit.


***


“Saudari bisakah membantuku?”


PAGI ITU. Mantingan mengulurkan salah satu bundelan yang tadi malam telah ia khususkan untuk Bidadari Sungai Utara. Gadis bercadar itu terlihat memperhatikan besar bundelan yang harus ia bawa sebelum menerimanya.


“Hanya seperti ini, mudah sekali ....” Bidadari Sungai Utara mengalungkan bundelannya ke punggung. Tali bundelan melewati pundak sebelah kiri dan berakhir di pinggang sebelah kanan Bidadari Sungai Utara.

__ADS_1


Mantingan mengalihkan pandangnya dan berdeham beberapa kali. Betapa ia lupa bahwa bundelan selempang sebenarnya tidak cocok digunakan untuk perempuan, sebab tali bundelan itu akan menciptakan belahan yang akan tampak sangat bagi seorang perempuan. Bidadari Sungai Utara menyadari kesalahan itu tak lama kemudian, memandang Mantingan dengan penuh keberatan.


“Mantingan ... kau tidak bermaksud buruk padaku, bukan?”


Mantingan kembali berdeham beberapa kali dan menjawab, “Sungguh aku lupa tentang permasalahan ini, Saudari.”


“Kau lupa atau kau sengaja? Sekarang bagaimana?”


Mantingan terdiam beberapa saat untuk berpikir. Ada beberapa gaya pemakaian bundelan yang bisa diterapkan.


Ada bundelan yang dikalungkan di leher, tetapi bahan kain bundelan itu tidak boleh sembarangan dan sangat tidak cocok untuk membawa barang bawaan yang berat.


Lalu ada pula bundelan yang dipasangkan pada sebuah tongkat. Ini biasa diterapkan oleh pengembara-pengembara yang dalam perjalanannya akan melintasi daerah pegunungan. Namun, ini tidak cocok pula untuk barang bawaan yang berat.


Dan yang terakhir adalah bundelan yang dikalungkan ke punggung. Tali bundelan ini melewati pundak, dada, dan berakhir di pinggang. Inilah bundelan yang paling cocok untuk membawa barang bawaan berat sebab akan tetap terasa nyaman dibawa berpergian jauh. Namun, bundelan inilah yang tidak cocok untuk Bidadari Sungai Utara.


“Baiklah, Saudari. Silakan dilepas bundelannya dan berikan padaku.”


Tanpa dilihat oleh Mantingan, Bidadari Sungai Utara mengernyitkan dahi. “Jadi kau membawa dua bundelan?”


“Mau tidak mau aku harus membawanya.”


“Tapi aku bisa mencangklongkan ke bahu.”


Mantingan mengangkat alisnya. “Aku sudah pernah mencobanya. Untuk beban sebesar itu, akan terasa tidak nyaman untukmu. Apakah kau yakin?”

__ADS_1


“Aku yakin,” sahut Bidadari Sungai Utara sambil mulai melakukan apa yang tadi ia katakan. “Lagi pula, asalkan kau tidak melihatku, maka aku akan merasa nyaman-nyaman saja.”


Mantingan hanya mengangguk sebagai balasan. Ia mengadah ke ke atas, melihat hamparan langit yang sedikit tertutup daun dan reranting. Mendung. Seperti dua hari yang lalu, hujan akan kembali mengguyur tanah hari ini. Sepertinya dan kelihatannya seperti itu.


“Sebelum berangkat, pastikan tidak ada yang tertinggal di dalam tenda. Jangan menyiarkan tanda-tanda keberadaan Saudari dengan meninggalkan sesuatu.”


“Sudah kupastikan dua kali hal yang sama-sama kutakutkan itu, tidak ada yang tertinggal.”


Mantingan mengangguk sekali lagi sebelum bergerak memasangkan caping di kepalanya. “Kita akan berangkat sekarang.”


“Bagaimana dengan tendamu?”


“Tinggalkan, bundelanku penuh.”


“Oh.” Bidadari Sungai Utara mengangguk beberapa kali. Mulai berjalan saat Mantingan juga berjalan.


***


MENURUT KABAR yang Mantingan dengar di sebuah kedai di tengah perjalanan. Dari sekumpulan pemuda yang berbincang-bincang soal keadaan Tanjung Kalapa sambil mengulas sejarahnya, Mantingan mengetahui cukup banyak tentang keadaan Tanjung Kalapa dan Pelabuhan Kalapa.


Pelabuhan Kalapa adalah pelabuhan yang bertempat selain di Sundapura. Pelabuhan utama Tarumanagara tetap terletak di kawasan Sundapura, walau tidak dijelaskan di mana letak tepatnya.


Menurut cerita dari mereka, pada tahun Saka kelima, Punawarman menyerang tempat para bajak laut bersembunyi. Diketahui bahwa kawanan bajak laut itu kian meresahkan bagi nelayan. Sejak saat itulah Punawarman membangun pelabuhan untuk memperkuat armadanya dan untuk menjaga keamanan laut.


Di sebelah Mantingan adalah Bidadari Sungai Utara yang tidak terlalu mendengarkan percakapan perkumpulan pemuda itu. Memang percakapan pemuda-pemuda itu sulit didengar sampai ke tempat Mantingan berada jika tidak menggunakan ilmu pendengaran tajam.

__ADS_1


Ya, Mantingan memang menyewa ruang makan pribadi untuknya dan untuk Bidadari Sungai Utara. Ruang makan ini tertutup dan seolah benar-benar terpisah dari bangunan kedai. Hanya ada satu pintu dan satu jendela sebagai jalan keluar-masuk.


Pintu tertutup dan terkunci. Jendela tertutup sebagian. Letak Bidadari Sungai Udara membelakangi jendela. Sehingga amanlah gadis itu untuk membuka cadar dan menikmati makanan.


__ADS_2