
“Saudara Man, engkau seharunya ikut mengungsi bersama yang lainnya.”
Pendekar bertopeng putih yang tadinya menemui Mantingan kini berkelebat tepat di sampingnya.
“Tidak untuk kali ini,” kata Mantingan. Matanya menatap lurus ke depan. Beberapa pendekar Pasukan Topeng Putih lainnya melesat di sekitaran Mantingan menuju arah selatan.
Dalam waktu yang tergolong sangat singkat, Mantingan beserta puluhan Pasukan Topeng Putih lainnya mencapai pintu gerbang pelabuhan yang terbuka lebar. Ketika itu pula ratusan bayangan hitam melesat keluar dari dalam hutan!
***
SEMUANYA berlangsung dengan amat sangat cepat, bahkan di mata para pendekar sekalipun. Tak ayal lagi, dua pasukan saling bertemu di udara. Pertempuran seketika itu pula pecah!
Mantingan menarik Pedang Kiai Kedai dari sangkarnya sebelum berkelebatan dengan membabat segala musuh yang terdekat dengannya.
Pertempuran berlangsung selayaknya pertempuran burung melawan burung. Pendekar dari kedua belah pihak saling berkelebatan di udara dan beradu senjata satu sama lain hingga salah satunya melayang jatuh bagai burung yang tewas dalam sekali patukan.
Pasukan Topeng Putih sebenarnya kalah dalam hal jumlah, tetapi keterampilannya serta kegesitan mereka dalam memainkan pedang dan menghindar mampu menutupi kekurangan itu. Ditambah lagi dengan kehadiran Mantingan yang bagaikan dewa penyelamat bagi mereka; tetapi bagaikana dewa kematian bagi musuh-musuhnya.
Mantingan hanya sekali dua kali menapak tanah, sebelum berkelebat kembali ke udara menyambar musuh-musuhnya. Dalam sekali kelebatan, Mantingan mampu membunuh selusin pendekar musuh.
Pertempuran dengan cepat diselesaikan dengan pihak Pasukan Topeng Putih sebagai pemenangnya. Ratusan mayat pendekar berpakaian serba hitam berserakan di dekat pintu gerbang pelabuhan.
Beberapa lainnya yang masih hidup berusaha sebisa mungkin untuk mengambil ramuan beracun di dalam kantung bajunya sebelum menelan itu hingga nyawa terpisah dari dalam tubuh.
Sedangkan hanya ada dua pendekar saja yang gugur dari pihak Pasukan Topeng Putih. Mereka sungguh tidak dapat diselamatkan sebab musuh menggunakan racun di setiap pedangnya.
Seorang pendekar bertopeng putih mengambil sebilah pedang musuh yang tertancap di tanah sebelum memandanginya lamat-lamat. Setelah itulah dia mengeluarkan seruan, “Semuanya dengarkan! Musuh yang datang kali ini berasal dari Kelompok Pedang Intan! Yang kita baru saja kita hadapi dikenal sebagai Pasukan Serigala Pemburu. Jangan pernah remehkan kekuatan musuh mulai saat ini, dan segera bentuk barisan pertahanan untuk melindungi pelabuhan!”
Sambil menyarungkan Pedang Kiai Kedai, Mantingan mendengarkan perkataan pendekar itu. Kelompok Pedang Intan memang membagi-bagi pendekar di dalamnya menjadi beberapa pasukan sesuai dengan tingkatan para pendekar di dalamnya.
__ADS_1
Tingkatan pertama dan yang paling rendah adalah Pasukan Serigala Pemburu. Mereka biasa menyelesaikan tugas-tugas kecil yang diberikan kelompoknya, dan terkadang tugas pengorbanan seperti ini ditimpakan kepada mereka. Pedang yang mereka gunakan masihlah merupakan pedang intan, tetapi bukan yang terbaik.
Tingkatan kedua adalah Pasukan Macan Gunung. Dalam tugas-tugas penyerangan, merekalah yang selalu dikirim karena kemampuan pendekar-pendekar di dalamnya dianggap lebih baik. Mata bilah dari pedang yang mereka gunakan terbuat dari intan murni.
Dan yang terakhir adalah Enam Pilar Intan. Pasukan ini beranggotakan pendekar-pendekar yang tiada duanya di dalam Kelompok Pedang Intan. Segala keterangan tentang Enam Pilar Intan tidaklah tersedia banyak, termasuk tentang tugas seperti apa sajakah yang mereka ambil. Jikapun tersedia, harganya sangat tinggi.
Setelah memberikan seruan sekaligus perintah kepada seluruh Pasukan Topeng Putih yang ada di sana, pendekar yang tampaknya merupakan hulubalang itu kemudian menghampiri Mantingan.
“Saudara Muda, terima kasih telah membantu kami. Berkat dirimu, jumlah korban di pihak kami dapat banyak dikurangi. Tetapi apa yang akan kita hadapi nantinya bukan lagi sesuatu yang ringan seperti tadi. Jadi kuminta dirimu untuk mengungsi bersama dengan Bidadari Sungai Utara.” Pendekar itu menjelaskan dengan tenang.
“Daku tahu itu, Saudara.” Mantingan menarik napas dingin, memandang ke arah hutan tebal di depannya. Angin berembus perlahan, membawa aroma amis darah ke dalam indera penciumannya. “Tetapi sadarkah Saudara Tua bahwa kita sebenarnya telah terkepung?”
Terdengar helaan napas dari pendekar itu. Dia pun menyadari, bahwa justru akan jadi sangat berbahaya bagi Mantingan dan Bidadari Sungai Utara jika mereka meninggalkan pelabuhan sekarang.
“Yang dapat kulakukan di sini adalah bertarung melawan mereka, Saudara Tua. Maka mohon terimalah diriku sebagai bagian dari pasukanmu.”
Pendekar itu berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya pelan. “Berarti engkau harus menyamar dengan mengenakan jubah serta topeng, Saudara Muda.”
Pemimpin pasukan itu kembali beralih pada Mantingan. “Ratusan Serigala Pemburu ini berkemungkinan besar dimaksudkan untuk menguji tingkat kemampuan dan siasat kita.”
Mantingan menganggukkan kepalanya setuju. “Jika begitu, maka musuh berada satu langkah di depan kita.”
“Berada satu langkah di belakang mereka sebenarnya merupakan suatu keberuntungan, Saudara.”
Ketika sang pemimpin pasukan berkata begitu, Mantingan menatapnya dengan aneh. Tanpa perlu mengeluarkan suara sekalipun, telah jelas bahwa dirinya menanyakan maksud dari perkataan tersebut.
“Kedudukan kita sekarang telah kalah secara jumlah, Saudara Man. Jangankan untuk melampaui mereka, untuk mengimbangi mereka saja sudah sangat sulit. Maka diriku memohon pengampunan maaf kepadamu dan kepada Bidadari Sungai Utara, jikalau nantinya keadaan berubah dengan sangat cepat dan daku tidak akan pernah sempat meminta maaf kepadamu.”
Mantingan justru tersenyum lebar. “Saudara Tua berkata apa? Sebagai pemimpin pasukan, engkau adalah harapan bagi pasukanmu. Jika Saudara Tua mengatakan hal seperti itu, maka dirimu sebenarnya telah mengumumkan kekalahan kita.”
__ADS_1
Sang pemimpin pasukan menyadari bahwa perkataan Mantingan sungguh banyak benarnya. “Daku tidak dapat membohongi mereka, Saudara.”
“Tanpa engkau mengatakannya sekalipun, mereka telah mengetahui keadaannya, Saudara. Saat ini, yang mereka perlukan adalah rasa semangat darimu.”
Kepala pasukan itu berpikir beberapa saat sebelum akhirnya menarik napas panjang. Dirinya telah mengerti apa yang mesti dilakukannya.
“Pasukan! Mundur ke Penginapan Bunian Malam!”
***
BIDADARI Sungai Utara memandangi Kana dan Kina secara bergantian sesaat setelah Mantingan berkelebat pergi dari dalam kamarnya.
Kini betapa gadis itu mengetahui bahwa dirinya memiliki tanggung jawab penuh atas keselamatan Kana dan Kina.
Bidadari Sungai Utara mendekat ke arah jendela sebelum menutup dan menguncinya rapat-rapat. Ia meraih selembar Lontar Sihir Cahaya di atas meja untuk kemudian dinyalakan untuk menerangi ruangan.
Kembali ia menatap Kana dan Kina sebelum berkata lamat-lamat, “Semuanya akan baik-baik saja. Mantingan adalah pendekar yang sakti mandraguna, kalian tahu itu bukan?”
Kana dan Kina menganggukkan kepalanya. Lebih-lebih pada Kana, dia jauh lebih mengetahui sebesar apa kekuatan yang disimpan Mantingan. Anak itu yakin, jika bertanding satu melawan satu, maka Mantingan mampu mengalahkan seluruh pendekar di Javadvipa.
Bidadari Sungai Utara pun memiliki keyakinan yang sama dengan Kana, akan tetapi ia sama sekali tidak mengetahui musuh bentukan seperti apakah yang sedang datang.
Pedang Merpati Putih tersoren di sabuk pinggangnya. Kunciannya selalu dibuka, dan beberapa kali gadis itu terlihat menggenggam gagangnya dengan risau.
“Kana, di manakah pe—”
Ucapan Bidadari Sungai Utara harus tertahan sebab telinganya menangkap suara derap langkah halus dari luar kamar. Ia segera menarik Pedang Merpati Putih Haus Darah keluar dari dalam sarungnya, dan menghunuskannya ke depan sambil melangkah maju perlahan-lahan. Gadis itu bertindak cepat.
Kana dan Kina mengerutkan dahi karena tidak satu pun dari mereka yang mengerti keadaannya, akan tetapi mereka tahu bahwa Bidadari Sungai Utara telah merasakan, atau melihat, atau mendengarkan sesuatu di luar kamar!
__ADS_1