Sang Musafir

Sang Musafir
Pertarungan Dua Jurus Berkesepasangan


__ADS_3

KENDATI DEMIKIAN, terjadi pertarungan lain yang bukan senjata beradu senjata ataupun tangan beradu tangan, melainkan tatapan beradu tatapan. Kedua belah pihak saling menatap tajam. Seolah ketajaman itu merupakan sebilah mata pisau yang dapat memecahkan batok kepala seseorang.


Adu tatapan bukanlah peraduan yang dapat dianggap enteng. Menatap lawan dengan tajam dapat membuat perhatiannya menjadi buncah ke mana-mana, salah tingkah, gugup, atau bahkan yang terburuk adalah tak sadarkan diri. Maka biasanya, bagi pendekar yang tidak suka beradu kata atau beradu senjata, mereka akan beradu tatapan. Hitung-hitung, sebagai pemanasan sebelum memulai pertarungan yang sesungguhnya.


Tetapi dalam adu tatap seperti ini, Mantingan menjadi pihak yang tidak diuntungkan. Betapapun, Bidadari Sungai Utara sejatinya adalah seorang perempuan lemah lembut yang berperasaan. Jangankan membalas musuh dengan tatapan tajam, menghadapi tatapan musuh pun ia tak mampu.


Dapat Mantingan rasakan di punggungnya, tubuh Bidadari Sungai Utara bergetar sebab gelisah. Dirasakannya juga keringat dingin yang merembes sampai ke pakaian Mantingan. Segera saja Mantingan melakukan pencegahan dengan menghantarkan sejumlah besae tenaga prana ke dalam tubuh Bidadari Sungai Utara.


Tenaga prana itu terasa menghangatkan dan banyak pula meredakan kegelisahan Bidadari Sungai Utara. Dirasakannya punggung Bidadari Sungai Utara turun-naik dengan teratur. Tanda bahwa gadis itu telah mampu mengendalikan pernapasannya dengan baik. Mantingan tersenyum, hendaknya ia memusatkan perhatiannya kepada mata lawan.


Namun itu ditariknya kembali, Mantingan teringat bahwa rombongan permaisuri masih ada di belakang dan belum pergi ke manapun. Berdasarkan pertimbangan yang matang, diembuskan bisikan angin kepada Jakawarman. “Kawanku Jakawarman, pergilah engkau bersama yang lainnya sesegera mungkin dari tempat ini.”


Tak lama kemudian, terdengar suara Jakawarman masuk ke telinga Mantingan seorang. “Daku tidak akan meninggalkan Pahlawan Man dan Bidadari Sungai Utara. Tugasku di sini adalah melindungi engkau, bukannya permaisuri.”


Mantingan kembali membalas dengan kalimat yang sedikit lebih tegas lagi, “Ingatlah bahwa anak-anak ada bersama rombongan ini. Bawa mereka sejauh mungkin. Jika sampai terjadi sesuatu pada mereka, maka orang pertama yang terkena masalah adalah dirimu. Segeralah pergi, Jakawarman! Setelah kalian bergerak pergi, sudah sangat mungkin Kembaran dari Gomati akan bergerak pula untuk mengejar kalian, saat itulah kami berdua dapat menyerang setelah melihat kelemahannya!”


Tiada terdengar balasan dari Jakawarman, tetapi Mantingan mendengar suara derap dan ringkik kuda dari kejauhan tak lama kemudian. Ia mengembuskan napas lega dan tersenyum lebar.


Elang Putih dan Elang Hitam menjadi gelisah. Tampak bahwa mereka sangat tidak ingin melepaskan rombongan permaisuri begitu saja sekalipun itu bukanlah tugas utama mereka. Bagi mereka, rombongan permaisuri adalah tumpukan harta karun yang tidak selalu muncul setiap waktu.

__ADS_1


“Bersiaplah untuk pertarungan, Saudari. Mereka akan bergerak sebentar lagi.” Mantingan berbisik melalui semilir angin yang melewati telinga gadis itu.


Betapa jantung Bidadari Sungai Utara yang berpacu sedemikian cepatnya setelah Mantingan mengatakan kalimat yang baginya teramat mengerikan itu.


Mantingan tersenyum canggung setelah menyadari kesalahannya dan hanya bisa mengirimkan lebih banyak tenaga prana. Memaklumi apa yang terjadi pada diri gadis itu.


Karena biar bagaimanapun, pertarungan yang akan terjadi sebentar lagi bukanlah pertarungan yang ringan. Tidak seperti pertarungan sebelumnya saat ia dan Bidadari Sungai Utara mempergunakan Jurus Sepasang Bangau Menyambar Ikan untuk melawan ratusan pendekar tingkat rendah dari Perkumpulan Pengemis Laut. Yang dilawannya kali ini adalah dua pendekar ahli, meskipun berjumlah seimbang tetapi tetap saja merupakan lawan yang memberatkan.


“Tenang saja, Sasmita.” Mantingan berkata, kali ini tidak menggunakan Ilmu Membisik Angin. “Jikalau engkau mati di sini, maka aku juga akan mati bersamamu, tidak peduli dengan pedang musuh atau dengan pedangku sendiri.”


“Ja-jangan asal berkata,” gagap Bidadari Sungai Utara sebab gugup.


“Maka dari itu,” kata Mantingan lembut. “Jangan mati.”


Mantingan dan Bidadari Sungai Utara berkelebat cepat ke atas, yang merupakan jalur lintasan Kembaran dari Gomati. Keduanya berpisah barang sejenak untuk menghalangi Elang Putih dan Elang Hitam. Setelah beberapa pertukaran serangan di udara, keempatnya kembali menjejakkan kaki di atas tanah.


Kembaran dari Gomati tidak berbasa-basi lagi, langsung menyerang begitu kaki menginjak tanah. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara pun tidak berbasa-basi lagi, mati-matian mereka menyerang Kembaran dari Gomati.


Pertukaran jurus telah melampaui yang keseratus dan masih terus berlanjut. Selama bertarung bersama Bidadari Sungai Utara, Mantingan tidak mengeluarkan Lontar Sihir atau merapalkan mantra sama sekali. Tentunya dengan pertimbangan bahwa kemampuan sihir Elang Putih berada di atasnya.

__ADS_1


Pertarungan yang tercipta tidak dapat disaksikan oleh mata orang awam. Bagi pendekar yang melihat pertarungan dalam gerakan yang teramat lambat, sudah dapat dipastikan terpukau dengan pesona dua jurus kesepasangan yang saling beradu. Pertarungan tersebut akan tampak selayaknya sepasang burung bangau melawan sepasang burung elang sungguhan. Meliuk-liuk dan saling menyambar-nyambar di udara tanpa jeda barang sejenak saja.


Sementara itu, rombongan permaisuri telah bergerak sangat jauh dari tempat Mantingan dan Bidadari Sungai Utara tengah bertarung melawan Kembaran dari Gomati. Kana dan Kina meraung-raung dan memberontak hebat, menolak keras jika harus meninggalkan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara, tetapi di bawah tenaga besar Jakawarman, mereka tidak dapat berbuat banyak.


Betapapun Jakawarman sebenarnya memiliki pemikiran yang sama dengan Kana dan Kina. Dia enggan meninggalkan Mantingan ketika sedang menghadapi musuh yang sebenarnyalah tidak ringan.


Namun, ia tidak memiliki pilihan lain selain melarikan diri bersama rombongan, sebab ia pun telah mengetahui bahwa putusan Mantingan adalah yang terbaik untuk saat ini. Jakawarman merasakan dirinya sebagai pengecut.


Biar bagaimanapun jua, Sri Prameswari dianggap jauh lebih berharga ketimbang Mantingan maupun Bidadari Sungai Utara. Jikalau sampai terjadi sesuatu pada permaisuri disebabkan rombongan itu berhenti bergerak untuk menunggu Mantingan, maka masalah yang akan menimpanya akan jauh lebih berat daripada yang dibayangkan.


“Akan kubayar kepengecutan ini suatu saat nanti,” kata Jakawarman sebelum ia berlari menjauh.


***


MANTINGAN DAN Bidadari Sungai Utara masih terlibat dalam pertarungan yang teramat sengit. Kedua belah pihak mulai mencampur jurus utama dengan banyak jurus pendukung lainnya. Dalam beberapa kesempatan, Mantingan mengibaskan belasan Jurus Telapak Angin Darah berjumlah belasan dalam sekali serang.


Serangan-serangan Jurus Tapak Angin Darah berhasil membuat musuh terdesak untuk beberapa waktu.


Namun kendati demikian, keadaan masih tidak berpihak pada Mantingan dan Bidadari Sungai Utara sebab Kembaran dari Gomati selalu membalas dengan puluhan jarum beracun yang diterbangkan. Pertarungan antara mereka masih terus berimbang. Mantingan masih mencari celah untuk keluar dari keadaan seperti ini.

__ADS_1


Sebab Mantingan merasakan melalui punggungnya, betapa napas Bidadari Sungai Utara mulai setengah-setengah. Gadis itu hampir mencapai batas kekuatannya. Ia harus mencari cara untuk mengalahkan lawan secepatnya jika tidak menginginkan Bidadari Sungai Utara terbunuh.



__ADS_2