Sang Musafir

Sang Musafir
Pasar Ayam Jago


__ADS_3

Mantingan menghentikan gerak makannya, menatap Dara dengan heran. “Mengapa?”


Dara menghela napas panjang. “Mantingan, tempat tinggalku bukan hanya di Javadvipa saja atau pulau seberang. Sebagai seorang pembawa acara lelang, aku sering berpindah-pindah kota, bahkan berpindah-pindah pulau. Dalam waktu dekat, aku dan rombonganku akan berjalan ke barat. Ini juga dikarenakan situasi di Javadvipa sedang tidak aman. Aku tidak yakin kita bisa bertemu lagi.”


Mantingan terdiam beberapa saat sebelum menghela napas panjang. “Dara, andaikan kautahu juga, bahwa aku suka mengembara. Cepat atau lambat, kita akan saling berpisah. Namun, bukan tidak mungkin di masa mendatang akan bertemu lagi.” Mantingan tersenyum. “Perpisahan tidaklah sesuatu yang buruk, bukan?”


“Tentu saja itu sangat buruk bagiku, siapa lagi yang akan menceramahi aku selain dirimu?”


Mantingan tertawa kecil. “Ilmuku tidak banyak, tetapi banyak orang-orang yang lebih pintar di Dwipantara. Kau bisa saja mengambil pelajaran dari mereka.”


“Tidak ada yang seperti dirimu.” Dara bergumam kecil, dengan suara yang hampir tidak didengar oleh siapa pun.


Keduanya melanjutkan santapan. Lauk pauk lumayan banyak, hingga butuh beberapa lama untuk bisa menghabiskan semuanya. Makanan yang Dara buat kali ini memiliki cita rasa yang sangat sedap, Mantingan tanpa sadar makan hingga perutnya membuncit.


Bagi seorang pendekar, makan berlebihan juga merupakan musuh terbesar dalam pertarungan. Perut yang terlalu terisi akan membuat pendekar muntah saat bergerak dalam kecepatan tinggi. Kekenyangan juga mampu membuat seorang pendekar kehilangan sedikit daya pikirnya.


Tanpa disadari oleh mereka pula, matahari telah naik menggantikan terang sinar rembulan. Ayam-ayam terdengar berkokok dari kejauhan, bersahutan membangunkan orang-orang untuk bekerja. Mantingan tahu ini adalah saatnya ia untuk pergi, dirinya tidak bisa terlalu lama meninggalkan perkemahan.


Selama makan hingga sampai selesai makan sekalipun, keduanya tetap bercakap-cakap. Dara membeli Bunga Aroma Kematian dari Mantingan seharga 500 keping emas. Mantingan sebenarnya tidak mau menerima uang sebanyak itu dari Dara, tetapi gadis itu memaksa hingga Mantingan hanya dapat menerima uang tersebut.


Untuk bunga-bunga yang Mantingan panen selanjutnya, akan ada orang yang menjemput bunga-bunga itu dan mengantarkannya pada Dara, kemanapun dirinya berada. Sehingga meskipun nanti mereka terpisah, Mantingan masih dapat mengirim bunga pada Dara, dan Dara bisa mengirim pesan pada Mantingan.

__ADS_1


Masih berhadapan di antara meja makan, Mantingan berkata pada Dara, “Sepertinya aku harus pulang.”


Dara terdiam beberapa saat sebelum mengembuskan napas panjang dan tersenyum. “Aku antarkan sampai depan, Mantingan.”


Keduanya berjalan pelan menuju pintu luar. Kembali melewati halaman rumah yang semakin indah di bawah mentari pagi. Sebelum Mantingan benar-benar pergi, Dara mengajak Mantingan untuk memberi makan ikan. Mantingan dengan senang hati menerimanya.


Bersama-sama mereka menaburkan pakan, segera disambar gerombolan ikan-ikan indah di bawah. Itu adalah kegiatan rutin yang biasanya dilakukan Dara, tetapi ia sangat puas dapat melakukannya bersama Mantingan saat ini. Diam-diam ia tersenyum melihat Mantingan yang masih menabur pakan ikan di atas kolam. Tetapi ia sadar, bahwa dirinya dan Mantingan akan menjauh, sehingga Dara mengubah senyum manisnya menjadi senyum terpahit.


Selesai memberikan sarapan pada ikan-ikan, mereka berdua berhadapan di belakang gerbang tinggi rumah Dara. Mantingan menyarankan Dara untuk tidak membuka gerbang atau orang-orang akan curiga, ia memilih untuk langsung melesat saja melompati gerbang.


Kini waktunya bagi mereka berpisah.


Dara tersenyum kemudian berkata, “Mantingan, aku harap kau menjaga diri baik-baik.”


Dara mengangguk juga. “Andai kau mau bekerja bersamaku, ah tidak ... andai kau menjadi teman seperjalananku.”


Mantingan tertawa pelan mendengar hal itu. “Dara, aku pergi dulu.”


Setelah berkata demikian, tubuh pemuda itu hilang dari hadapan Dara. Melesat pergi meninggalkannya. Entah mengapa, Dara merasakan sesuatu dalam dirinya telah pergi bersama dengan Mantingan. Entah mengapa, Dara merasa Mantingan telah pergi tanpa meninggalkan sesuatupun. Lutut Dara tidak mampu lagi menahan tubuhnya, terjatuh dengan sendunya.


***

__ADS_1


Inilah Mantingan. Seorang musafir yang selalu membuat wanita menangisi kepergiannya. Tetapi sekarang lihatlah bagaimana ia berjalan dengan santainya di tengah kota. Tersenyum menyapa penduduk kota seolah barusan tidak pernah terjadi perpisahan.


Sebelum meninggalkan kota, Mantingan akan mampir ke beberapa toko yang menjual barang-barang keperluan pendekar.


Terdapat sebuah pasar yang dikhususkan untuk menjual beragam benda kependekaran.


Saat Mantingan memasuki pasar yang bernama Pasar Ayam Jago itu, terlihat banyak sekali orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Mantingan tersenyum kaku, ia tahu bahwa orang-orang itu hampir seluruhnya adalah pendekar. Selama Mantingan menjadi pendekar, ia belum pernah bertemu dengan pendekar sebanyak ini, itu membuatnya merasa canggung.


Mantingan semakin masuk ke dalam pasar tersebut. Isinya sangat mengagumkan dan mampu membuat Mantingan terkesan. Bangunan-bangunan yang ada di pasar ini sangat berbeda dengan bangunan di pasar biasa. Hampir seluruh bangunan memiliki keindahan di setiap bagiannya. Calon tenaga dalam juga sangat kental di sini, pastilah pasar ini sengaja dibangun di tempat yang kental oleh calon tenaga dalam.


Toko-toko menjajakan banyak keperluan pendekar. Seperti herbal, pedang pusaka, jarum-jarum beracun, makanan khusus pendekar, barang-barang ajaib, mantera sihir, dan lontar sihir.


Mantingan belum mempelajari sihir dalam dunia kependekaran, tetapi suatu waktu ia akan mencoba untuk mempelajarinya. Maka saat ia melihat toko yang menjual lontar sihir dan mantera sihir, Mantingan segera membelinya.


Harganya tergolong murah, lontar sihir masing-masing berharga satu keping emas. Sedangkan mantera sihir dijual seharga dua keping emas. Sihir-sihir yang dijual di sini adalah sihir tingkatan dasar, seperti sihir pelumpuh serangga, sihir penyamaran, serta ilmu sirep dasar. Mantingan tidak banyak membeli barang-barang sihir tersebut karena memang belum dibutuhkannya.


Mantingan maju beberapa langkah lagi, ia menemukan toko yang menjual jarum beracun. Mantingan terkagum-kagum dengan berbagai cap-cap jarum yang dijual di toko ini. Penjual itu tersenyum bangga saat menawarkan barang dagangannya.


Dari penjelasan penjual itu, Mantingan bisa mengetahui mana saja cap jarum yang paling cocok untuk Mantingan. Di antara cap-cap yang ada, Cap Capung-lah yang paling cocok di kondisi alam berangin. Jarum ini bisa melesat lebih lurus dari cap-cap jarum lainnya bahkan saat lingkungan berangin sekalipun, tetapi jangkauan yang dapat ditempuh tidaklah terlalu jauh. Mantingan membeli jarum Cap Capung satu bungkus seharga 100 keping emas.


Mantingan menemukan toko herbal yang menjual obat-obat peningkat kualitas tenaga dalam. Tetapi Mantingan mengurungkan niat membeli obat-obatan peningkat itu, sebab obat itu akan membuat darah pendekar tidak lagi murni seutuhnya—jika kualitas obat yang dipakai tidak bagus. Mantingan hanya membeli beberapa obat-obatan penyembuh, sebagai antisipasi jika dirinya terluka pada sebuah pertarungan.

__ADS_1


____


Bonus chapter 11.000 like: 2/3


__ADS_2