
BIDADARI SUNGAI Utara tidur bersama Kina, sedangkan Mantingan bersama Kana. Empat orang itu tertidur pulas. Dalam dekapan kedamaian.
Pagi itu. Setelah sarapan kecil, Bidadari Sungai Utara berpamitan dengan Kana dan Kina. Sedangkan Mantingan tidak turut melepas kepergian gadis itu, memilih untuk duduk di belakang meja tulis di kamarnya. Ada sesuatu yang perlu ia tulis.
Itu adalah tentang salah satu makna perdamaian.
Bahwa perdamaian bukan berarti harus memiliki wujud yang sama antara wujud satu dan wujud lainnya.
Setelah berdamai, pihak satu tidak bisa meminta pihak lainnya untuk sama rupa dengannya. Selayaknya saat kebenaran dan kesesatan yang tidak bisa disamakan wujudnya, namun sering berdamai pada waktu-waktu yang telah ditentukan.
Selayaknya minyak dan air, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara akan saling menolak satu sama lain. Mereka memang tidak bisa disatukan, namun bukan berarti salah satu dari mereka adalah buruk. Minyak dan air sama-sama dibutuhkan. Jika keduanya berdamai, itu bukan berarti minyak meminta air untuk menyerupai wujudnya. Dan tidak pula sebaliknya. Jika memang harus terpisah, maka terpisahlah.
Pula, kebenaran dan kesesatan tidak bisa disatukan. Mereka harus terpisah. Sedangkan mereka sama-sama dibutuhkan. Kesesatan ada agar manusia dapat mengerti apa itu kebenaran; kebenaran ada agar manusia dapat mengerti apa itu kesesatan. Betapa mahal harga sebuah pengetahuan, sampai-sampai harus terjadi pergantian peradaban antara ‘siang dan malam’.
***
MASIH PADA hari yang sama, Bidadari Sungai Utara kembali mampir ke kediaman Mantingan di sore harinya. Kebun yang dibuat oleh Mantingan dan Kana juga telah ditanami bibit. Pada malam harinya, mereka kembali mengadakan acara makan malam. Dan sudah barang tentu, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara tidak banyak bicara setelah kejadian itu. Kana dan Kina pun seakan bersepakat untuk tidak menanyakan atau menyinggung soal itu.
Beberapa hari berlalu begitu saja. Hubungan Mantingan dengan Kana dan Kina semakin erat. Begitu juga dengan Bidadari Sungai Utara yang kedekatannya pada dua anak itu sudah bagaikan kakak dan adik-adiknya.
Namun hari yang buruk, hari yang tidak diinginkan kehadirannya, tiba juga. Itu adalah saat obat dari Bidadari Sungai Utara sudah tak dapat menahan imbas buruk Racun Tidak Bernama. Di sore hari yang mendung itu, terdengar suara gedebuk keras dari dalam kamar Mantingan. Lalu terdengarlah suara erangan yang langsung membuat Kana dan Kina panik.
__ADS_1
Setelah membuka kamarnya, mereka menemukan Mantingan tengah tergeletak di atas lantai. Pemuda itu masih sadarkan diri, namun justru itulah yang terlihat buruk. Mantingan kesakitan. Wajahnya berkerut, menyeringai menahan sakit yang teramat sangat. Dua tangannya menekan bagian tengah dada.
Kina tahu apa yang harus ia lakukan: memanggil Bidadari Sungai Utara. Dia lekas berlari dari dalam kamar itu. Sedangkan Kana mencoba membantu Mantingan dengan membawakan segelas air.
Tak lama berselang, Bidadari Sungai Utara datang. Gadis itu bergerak secepat angin ribut, menggendong Kina agar anak itu tidak tertinggal. Begitu melihat langsung keadaan Mantingan, wajah Bidadari Sungai Utara berubah menjadi buruk.
Dia menghampiri Mantingan, membuat pemuda itu dalam keadaan terlentang. Mantingan masih meringis kesakitan. Namun dapat melihat bayangan Bidadari Sungai Utara meskipun samar-samar. Hatinya jadi sedikit lebih tenang, mengetahui bahwa gadis itu akan menyelamatkannya.
Bidadari Sungai Utara mengeluarkan sebuah kotak di dalam bundelannya. Mantingan tidak tahu isi kotak itu, namun ia dapat merasakan ada beberapa benda kecil yang menusuk dadanya. Mungkinkah itu jarum pengobatan? Mantingan tidak sempat berpikir.
Dapat dilihatnya Bidadari Sungai Utara meletakkan dua telapak tangan di atas dada Mantingan. Mengalirkan tenaga dalam yang jumlahnya bukan sedikit. Gadis itu meminta Kana dan Kina untuk menyingkir, menghindari risiko keduanya terluka jika terjadi ledakan tenaga dalam.
Mantingan menggigit bibirnya. Ia tidak mau berteriak di depan Kina dan Kana. Jangan sampai dia anak itu mengira telah terjadi sesuatu yang buruk padanya. Atau mereka, akan kembali bersedih, sama seperti saat ketika mereka kehilangan dua orangtuanya.
Mantingan baru siuman dua hari kemudian. Kondisinya tidak terlalu baik. Namun akan semakin buruk jika Bidadari Sungai Utara tidak merawatnya dua hari terakhir.
Bahkan Wira sendiri datang membantu Bidadari Sungai Utara dalam pembuatan ramuan. Saat Mantingan terbangun, perempuan paruh baya itu segera menyapanya hangat. Hanya ada dia dan Mantingan di ruangan itu.
Wira langsung menanyakan bermacam-macam pertanyaan padanya. Mantingan menjawab semua pertanyaan sebisa yang dapat ia jawab. Setelah menjawab semua pertanyaan, Mantingan ditinggalkan Wira sendirian di ruangan itu. Tak lama kemudian, Kana dan Kina berlari masuk ke dalam kamar. Memeluk Mantingan yang terbaring di kasur. Lalu Bidadari Sungai Utara masuk dengan langkah terburu-buru, langsung tersenyum melihat Mantingan telah siuman. Wira menjadi orang terakhir yang masuk ke kamar itu.
“Kak Maman sebenarnyalah sakit apa? Mengapa pingsan begitu lama?” Kina bertanya.
__ADS_1
“Bukan penyakit yang buruk, Kina. Tidak ada yang perlu engkau khawatirkan.” Mantingan tersenyum, mengelus kepala anak itu dengan lembut. Ia lalu melirik Bidadari Sungai Utara yang berdiri tak jauh darinya, tersenyum tanda rasa terima kasih.
***
SORE ITU. Tepat seminggu setelah Mantingan akhirnya sadarkan diri. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara berdiri di tengah kebun. Melihati bibit-bibit bunga yang beranjak menjadi bunga dewasa. Mantingan baru saja menyelesaikan kolam di tengah kebun, namun kolam itu masih belum terisi air dan ikan warna-warni.
“Jika aku tidak terselamatkan, bawalah Kana dan Kina ke dataran Champa.” Mantingan berkata tanpa menatap lawan bicaranya. “Kutahu, kita tidak berhubungan dekat. Dalam sehari, belum tentu kita bercakap-cakapan. Namun dari yang kulihat, hubungan Saudari dengan mereka sangatlah dekat. Ini adalah permintaanku yang terakhir.”
“Jika ucapan adalah doa, tidak seharusnya Saudara mengatakan hal itu.” Bidadari Sungai Utara kemudian menggeleng pelan.
“Segala kemungkinan dapat terjadi, termasuk kemungkinan aku mati dalam waktu empat bulan ke depan, atau malah lebih cepat dari itu. Dan jika hal itu terjadi ... aku harap Saudari telah menguasai banyak ilmu persilatan sebagai modal untuk pulang ke Champa. Maaf karena daku tidak bisa menepati janjiku.”
“Kita tidak terikat pada perjanjian lama itu lagi, Saudara.”
Mantingan hanya bisa menyeringai tanpa menyetujui atau membantah ucapan Bidadari Sungai Utara. “Namun, bisakah Saudari mengikutsertakan Kana dan Kina dalam perjalananmu ke Champa?”
“Tentu aku bisa, Saudara. Itu sangat mudah kulakukan. Namun sepertinya, mereka lebih nyaman berada bersamamu.”
“Saat aku mati, mereka tidak lagi membutuhkanku. Mereka membutuhkanmu, Saudari.”
“Aku akan menyembuhkan Saudara. Itu janjiku.”
__ADS_1
Mantingan mendesah pelan, terlihat tidak setuju dengan janji seperti itu.