Sang Musafir

Sang Musafir
Pedang Savrinadeya — Jilid 6 Selesai


__ADS_3

MANTINGAN menggelengkan kepalanya. “Kutahu bahwa kemampuanmu berada jauh di atasku, tetapi setinggi apa pun ilmu seorang pendekar, tetap saja tidak akan mampu menyembunyikan diri dari pandangan mata orang lain.”


Perempuan Tak Bernama mampu menampakkan diri hanya kepada Mantingan, tetapi tidak dengan orang lain. Itulah yang Mantingan pertanyakan, dan beruntungnya dapat dimengerti oleh perempuan di depannya itu.


“Daku memiliki ilmu sirep halimunan. Jika engkau masih belum mengetahuinya, maka ilmu sirep masihlah termasuk ke dalam ilmu sihir. Engkau bisa mempelajari semuanya di tempat yang kutunjukkan ini, daku tidak memiliki waktu untuk menjelaskannya di sini.” Perempuan Tak Bernama melemparkan sesuatu dari balik pakaiannya kepada Mantingan.


Tangan Mantingan yang tinggal sebelah itu kemudian menangkap benda tersebut dengan mudah, yang ternyata merupakan selembar lontar berisi aksara-aksara Sanskerta yang belum sempat Mantingan baca semuanya.


“Pergilah ke tempat itu, maka engkau akan mendapatkan jalan cerita dan ilmu yang lebih lengkap lagi.” Setelah berkata sedemikian, Perempuan Tak Bernama menarik pedang yang tersoren di pinggangnya.


Mantingan lekas menyiapkan kuda-kuda. Bersiap menghadapi pertarungan meski betapa pun keadaan tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.


“Tidak. Diriku tidak akan menempurimu.” Perempuan Tak Bernama itu menggeleng pelan.


“Lantas untuk apa pedang itu dikau keluarkan?” Mantingan memutuskan untuk langsung bertanya agar lebih cepat mendapat penjelasan, dirinya tidak akan bisa terlalu lama berada dalam keadaan seperti ini.


Perempuan Tak Bernama menghela napas panjang dan justru menjawab dengan pembahasan yang berbeda. “Daku sebenarnya bukan tanpa nama, tetapi setelah diriku terus mengubah wujud menjadi orang lain, maka secara perlahan-lahan diriku kehilangan nama. Kusebut diriku sendiri sebagai Perempuan Tak Bernama, dan yang orang-orang menyebutku demikian pula.


“Hidupku selalu penuh dengan kerahasiaan dan penyamaran yang seolah tiada akan berhenti. Engkau tahu bahwa Penginapan Tanah masuk dalam kelompok jaringan bawah tanah dunia persilatan. Daku terus berpura-pura menjadi orang lain, bersembunyi, menyamar, dan membunuh secara diam-diam tanpa kehormatan sama sekali. Jika hal ini terus kulanjutkan, maka sampai sampai mati pun


“Daku adalah pelacur yang dipungut dari sekian banyaknya pelacur yang diperbudak oleh Penginapan Malam. Daku dijadikan bidak mereka dalam memainkan politik penuh kerahasiaan. Daku telah banyak berbuat dosa, termasuk kepadamu, dirikulah manusia yang dosanya tiada dapat terhitung lagi. Daku tidak bisa seperti ini untuk selamanya.”


Mantingan terdiam meski telah diketahuinya apa yang akan dilakukan perempuan itu.


“Pedang ini bernama Savrinadeya, satu-satunya yang bernama dari diriku, kuwariskan kepadamu setelah kisahku tamat.”


Setelah berkata seperti itu, Perempuan Tak Bernama mengangkat pedang hingga menyentuh lehernya. Untuk terakhir kalinya, dia tersenyum lebar. Dalam sekali sentakan, riwayatnya tamat.


Tubuh Perempuan Tak Bernama jatuh bersamaan dengan pedangnya. Mantingan berkelebat cepat untuk menangkap pedang yang telah diwariskan kepadanya itu, dan membiarkan tubuh Perempuan Tak Bernama ditelan ombak besar.


Mantingan menatap pedang di tangan kirinya dengan penuh makna. Apa yang dilakukan Perempuan Tak Bernama itu tidaklah dibenarkan dalam dunia persilatan, akan tetapi dalam kehidupan seorang manusia yang sebenar-benarnya manusia, dapatkah hal tersebut dianggap tidak benar?


Mantingan menghela napas panjang di tengah lautan. Bahkan dalam kehidupan manusia sejati, tindakan yang dilakukan oleh Perempuan Tak Bernama tetaplah tidak bisa dibenarkan.

__ADS_1


Namun apalah daya, gadis itu terlalu lembut untuk menerima keras dan tajamnya dunia persilatan bawah tanah.


Mantingan menapak beberapa langkah sebelum akhirnya dapat duduk bersila di atas sebidang papan kayu dari kapal yang hancur. Diletakkannya Pedang Savrinadeya tepat di hadapannya. Kesadarannya mulai kabur.


“Pahlawan Man, engkau hendak ke mana?”


Mantingan menoleh ke asal suara. Meski penglihatannya telah menjadi remang-remang, Mantingan masih dapat melihat sesosok prajurit bertopeng putih yang pula sedang duduk bersila di atas sebidang papan terapung. Ia melebarkan mata.


“Saudara, dikau seharusnya pergi ke arah utara. Armada ada di sana, sedang di sebelah selatan adalah Suvarnadvipa.”


“Ah, tidak! Diriku memang bertujuan ke Suvarnabhumi, sama seperti dirimu!”


Mantingan mengerutkan dahi, sebelum bertanya dengan curiga, “Engkau ini adalah ... daku seperti pernah mendengar suaramu.”


Pendekar itu tertawa singkat, sebelum membalas seraya melepas topengnya, “Ternyata Pahlawan Man tidak melupakanku.”


Mantingan kembali membeliakkan matanya dengan tidak percaya. Meski kesadarannya telah begitu kabur, tetapi ingatannya masih segar. Ia mengenal wajah itu!


Pendekar yang telah melepas topengnya itu kemudian tersenyum sumringah. “Engkau rupanya masih mengingat nama dari wujudku yang satu ini, tetapi engkau masih pula belum memahami siapa daku sebenarnya.”


Mantingan berusaha mengatur jalan napasnya yang tersengal-sengal itu sebelum membalas, “Tidak. Dugaanmu salah, sebab sebenarnyalah daku telah mengetahui siapa dikau yang sebenarnya.”


Dengan nada menantang, orang itu bertanya, “Lantas siapakah daku?”


“Dikaulah Kembangmas.” Mantingan berkata tajam, setajam tatapannya yang saat itu pula menatap wujud Jakawarman di depannya!


“Dugaanmu tidak salah.” Suara Jakawarman berubah menjadi suara wanita, berbarengan dengan wujudnya yang pula berubah menjadi Bidadari Sungai Utara. “Dakulah yang engkau cari-cari selama ini, bukan?”


“Belakangan ini, daku tidak bisa mencarimu,” balas Mantingan, “tetapi sekarang, daku akan mendapatkanmu.”


“Nah, dikau baru bisa melanjutkan pengembaraan sejatimu setelah berhasil mengantarkan putri dari raja Champa itu, bukan?”


Dengan kesadaran yang semakin keremangan, Mantingan masih dapat mendengar perkataan itu. Dirinya terenyak, tetapi rasa-rasanya tiada kuasa untuk menjawab.

__ADS_1


“Kukira tua bangka yang bernama Hanung itu akan menceritakannya kepadamu sehingga diriku tidak perlu repot-repot menceritakannya, tetapi sayang sekali kepalanya engkau pecahkan bagai buah semangka.” Makhluk itu mengeluarkan tawaan, yang kedengarannya amat mirip dengan suara Bidadari Sungai Utara. “Bidadari Sungai Utara, yang mengaku bernama asli sebagai Sasmita, sejatinya bernama Pham Lien. Putri dari raja Bhadravarman pertama. Hendak dinikahkan dengan putra dari Fan Sun, Raja Funan ke-4, sebagai langkah mempererat hubungan antarnegara sekaligus untuk menghindari perluasan wilayah yang tengah dilakukan Funan.


“Sayangnya, Pham Lien tidak kunjung jua mengerti bahwa pernikahannya itu dimaksudkan demi tidak tumpahnya darah rakyat Champa, sehingga memilih untuk melarikan diri ke Javadvipa. Dirinya dikenal sebagai Vhidyadari Uttara Tatini, baik di negeri asalnya maupun di Dwipantara.”


Pernyataan yang begitu merinci itu tentu saja tiada dapat dibantah Mantingan sebagai sebuah tipuan. Dirinya merasa bahwa apa yang dikatakan bunga berwujud manusia itu adalah benar adanya. Lagi pula, untuk apakah gunanya Kembangmas membohonginya?


Tetapi, mengapa Bidadari Sungai Utara tidak memberitahunya tentang jati diri aslinya bahkan sampai hari perpisahan tiba sekalipun?


Mengapa pula Ketua Rama tidak memberitahunya? Ketua perguruan itu pastinya telah mengetahui jati diri asli Bidadari Sungai Utara.


Ataukah orang lain, mengapa mereka tidak memberitahunya? Mengapa mereka seolah sengaja menutupi semua ini hanya kepadanya?


Tentu saja saat ini masih banyak sekali kebingungan di dalam kepalanya, yang agaknya tidak akan bisa terjawab dengan cepat sebab dirinya terlalu lemah untuk membuka suara.


“Kini dikau pasti mengetahui mengapa Bidadari Sungai Utara begitu diburu di Yavabhumi. Selain karena memang kecantikan yang tiada duanya, dia juga merupakan putri raja. Mengirim kepalanya ke Champa sudah lebih dari cukup untuk memancing negeri itu mengirim pasukannya menyerang Tarumanagara. Itulah yang diinginkan para pemberontak.”


Mantingan mulai terkantuk-kantuk, tetapi dirinya berusaha sekuat bisa mempertahankan kesadarannya. Penjelasan makhluk itu belum selesai, dan ia harus mendengar semuanya sebelum tak sadarkan diri.


“Tidak ada lagi yang mesti kujelaskan.”


Suara yang didengarnya kembali berubah, pula dengan wujudnya yang menjadi Kenanga. Mantingan menyunggingkan senyum tipis. Melihat wujud Kenanga, semangatnya untuk mendapatkan Kembangmas kembali mengisi jiwa.


“Daku hanya akan menyerahkan diri pada orang yang kuanggap pantas. Kutunggu engkau di Svarnabhumi.”


Begitulah kesadaran Mantingan menghilang tepat setelah perkataan itu terucapkan.


____


catatan:


Jilid keenam: Banjir Darah di Pelabuhan Angin Putih selesai.


__ADS_1


__ADS_2