Sang Musafir

Sang Musafir
Perhelatan Cinta Dimulai!


__ADS_3

MANTINGAN hanya dapat memendam amarahnya dalam diam. Di sini, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Puan Kekelaman yang ada di depannya sekarang ini tidaklah lebih dari sekadar bayang-bayang sihir.


“Tiada hal lain yang ingin kusampaikan kepada Pahlawan, sehingga pertemuan ini kita cukupkan saja. Setelah mengikuti Perhelatan Cinta, Pahlawan Man bersama Chitra Anggini akan mendapatkan kamar di kawasan istana. Akan ada kejutan yang menanti kalian di sana.”


“Katakan segera kejutan semacam apa itu. Jangan bermain-main.”


Namun, bayangan Puan Kekelaman perlahan-lahan memudar, dan sebelum benar-benar menghilang perempuan itu berkata, “Bukanlah menjadi kejutan bila Pahlawan mengetahuinya.”


Ketika Puan Kekelaman telah menghilang dari ruangan itu, Mantingan menghela napas panjang. Dirinya tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya memandangi bangku kosong di depannya dan keropak lontar di atas meja. Pada akhirnya, ia akan tetap menjalankan peran dalam permainan Puan Kekelaman yang teramat licik itu. Tidak ada pilihan lain yang dapat lebih baik.


***


DI dalam kamarnya, Mantingan menyampaikan secara ringkas tentang pertemuannya dengan Puan Kekelaman. Setelah selesai bercerita, ia memberikan sekeropak lontar yang tadi didapatkannya itu pada Chitra Anggini, tetapi tidak meminta perempuan itu lekas membacanya sekarang.


“Kita harus segera pergi ke istana,” kata Mantingan. “Perhelatan Cinta akan segera dimulai, jika kita terlambat maka itu akan menghancurkan seluruh rencana.”


Chitra Anggini mengangguk setuju dan mereka segera berkemas. Memastikan tidak ada satupun barang yang tertinggal di kamar itu.

__ADS_1


“Penduduk Pemukiman Kumuh Kotaraja berterimakasih kepadamu atas semua daging siluman yang mereka terima.” Chitra Anggini berkata sebelum mereka berkelebat keluar dari jendela.


“Kau membocorkan jati diriku?” Mantingan bertanya waspada.


“Tentu saja aku tidak sampai sebodoh itu. Kepada mereka, aku hanya mengatakan bahwa ada seorang pemuda dermawan yang secara khusus berburu hewan untuk orang-orang miskin, dan mereka langsung saja menyebutmu dengan Pahlawan Muda Dermawan. Bahkan ada yang menganggapmu sebagai dewa surga yang turun untuk menegakkan keadilan setelah melihat tingginya gunungan daging yang berhasil kaudapatkan.”


“Mereka menganggapku begitu karena terlalu senang, jadi lupakan saja.” Mantingan tersenyum tipis sambil mengibaskan tangannya. Ia tidak pernah terbiasa dengan pujian, terlebih lagi yang sedemikian berlebihannya seperti ini. Itu membuatnya merasa cukup aneh.


Lalu tanpa berkata-kata lagi, mereka melesat keluar dari jendela. Berkelebatan di tengah langit yang memerah setelah senjakala jatuh di ufuk barat.


Meskipun hari telah memasuki awal malam, kotaraja bukannya sepi tetapi justru menjadi lebih ramai. Banyak warga yang setelah selesai bekerja ingin mencari hiburan di luar rumah dengan pergi menonton pertunjukan wayang, mendengarkan dongeng-dongeng berpadu sihir yang dikumandangkan sang juru hikayat, minum tuak, atau bahkan sampai menyewa pelacur.


Sedangkan itu, Mantingan dan Chitra Anggini terus melesat. Kecepatan yang telah berkali-kali lipat menembus kecepatan suara itu membuat tubuh mereka tidak dapat ditangkap dengan jelas oleh mata orang awam. Mereka berdua hanya akan terlihat sebagai kelebatan bayang-bayang saja, yang tentunya tidak akan terlalu dihiraukan oleh sesiapa.


Warga kotaraja pun sebenarnya telah terbiasa dengan kehadiran para pendekar, sehingga berkelebat dengan kecepatan lambat hingga dapat tertangkap oleh penglihatan mata orang awam pun tidak akan menjadi masalah.


Tak lebih dari lima puluh tarikan napas, mereka telah tiba di pintu gerbang istana. Sudah tidak terlihat lagi pendekar-pendekar yang memasuki gerbang itu secara berbondong-bondong, sebab semuanya telah berhasil masuk ke dalam tembok istana dan menempati kursinya masing-masing.

__ADS_1


Namun beruntungnya, masih ada beberapa waktu sebelum gerbang istana benar-benar ditutup. Mantingan dan Chitra Anggini tidak terlambat meskipun mereka juga tidak dapat dikatakan datang tepat waktu.


Mereka berjalan secepat mungkin untuk melewati tembok-demi-tembok pertahanan istana hingga tiba pada lapisan ketiga di mana Perhelatan Cinta akan dilangsungkan. Benar saja, hampir seluruh bangku tamu telah terisi. Mantingan dan Chitra Anggini masih mendapatkan bangku yang tersisa walaupun berada di barisan paling belakang, tetapi itu bukan masalah sama sekali bagi mereka yang memang tidak bersungguh-sungguh ingin mengikuti acara itu.


Tak sempat keduanya berbicara barang sepatah kalimat pun, Perhelatan Cinta Kotaraja telah resmi dimulai!


“Selamat datang Tuan-Tuan dan Puan-Puan pendekar sekalian dalam Perhelatan Cinta Kotaraja!”


Penyambutan itu disambut dengan gemuruh tepuk tangan yang singkat-singkat saja. Bagaimanakah kiranya para pendekar yang telah membunuh pendekar-pendekar lain demi memperoleh kewibawaan itu merendahkan dirinya dengan bertepuk tangan terlalu lama? Mereka tidak pula bersorak-sorai, lebih lagi bila sampai berdiri dan melempar karangan bunga. Wibawa mereka terlalu besar untuk dapat melakukan hal seperti itu.


Yang membawakan Perhelatan Cinta itu adalah seorang wanita jelita berpakaian ringkas yang menyoren sebilah pedang ciamik di pinggangnya.


Berbeda dengan wanita pembawa perhelatan sebelumnya yang berbadan kekar dan berwajah keras, badan perempuan itu tampak langsing dan berwajah lembut. Pakaiannya serba putih. Meneduhkan pasang mata mana saja yang melihatnya.


“Meskipun perhelatan ini tertunda cukup lama akibat suatu masalah tertentu, tetapi pastinyalah tidak akan mampu meruntuhkan semangat para pendekar yang gagah berani. Bagi kalian semua, siang maupun malam tiadalah jauh berbeda. Bila Perhelatan Cinta Kotaraja dilangsungkan tengah malam mendekati pagi buta sekalipun tidak akan mampu menghentikan kelebatan kalian. Untuk itu, Kerajaan Koying merasa sangat terhormat atas kesediaan Tuan dan Puan semua menghadiri perhelatan besar ini.”


Mantingan mengusap dagunya sambil mengangguk pelan. Bila didengar sekilas, maka perkataan yang keluar dari mulut perempuan itu akan terdengar seperti serangkaian pujian yang sangat tulus. Namun bila disimak lebih mendalam lagi, maka akan tersadarlah orang-orang bahwa perkataannya itu hanyalah serangkaian omong kosong yang penuh dengan akal bulus!

__ADS_1


Kepala Mantingan masih dalam keadaan dingin, sehingga kata-kata itu tidak akan dapat memengaruhinya.


“Namun karena keterlambatan ini, kami tidak dapat menyajikan pertunjukan sekadarnya untuk menghibur Tuan dan Puan semua. Dan kami juga merasa bahwa semua yang ada di sini tidak menyukai basa-basi yang hanya akan membuang-buang waktu. Maka dari itu, sahaya akan mempersingkat pertemuan malam ini sampai pada intinya saja.”


__ADS_2