
Namun, mengapakah suara tanpa wujud itu mengatakan bahwa diriku akan menerima siksaan-siksaan yang tiada pernah kusangka sebelumnya? Siksaan semacam apa itu?
Aku merasakan tetesan air menimpa kepalaku. Tidak hanya satu atau dua kali. Bahkan tetesan-tetesan air itu tidak hanya menimpa kepalaku, melainkan pula celah yang ada di kedua sisi tubuhku. Tetesan air itu semakin deras.
Apakah sedang terjadi hujan, sedangkan matahari tengah berpijar dengan seterang-terangnya? Apakah ini termasuk ke dalam penyiksaan yang akan kuterima?
Aku tentu menjadi penasaran, tetapi aku tidak bisa menengadahkan kepalaku untuk melihat apa yang terjadi. Kedua sisi celah ini telah benar-benar menghimpitku. Aku tidak bisa bergerak sama sekali.
Tetesan-tetesan air itu berubah menjadi guyuran air yang teramat sangat deras bagai air terjun di tepi sungai besar. Tubuhku basah kuyup. Air dengan cepat mengisi celah ini, terus menanjak merambati kakiku.
Aku mengatur pernapasan di tengah guyuran air yang semakin deras. Sungguh aku sangat amat takut. Apakah tubuhku akan ditenggelamkan dalam keadaan terjepit antara dua dinding batu raksasa ini? Jika itu dapat membuatku langsung mati tanpa merasakan penyiksaan mengerikan, maka sungguh diriku tidak mengapa. Tetapi bagaimanakah jika pada kenyataannya, diriku akan mengalami siksaan-siksaan mengerikan lain yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya?
***
UNTUK sejenak, Mantingan melepaskan perhatiannya dari pembacaan naskah Kitab Tak Bernama. Musuh yang menyerbunya telah begitu banyak. Ia sudah dan terus terdorong masuk ke dalam hutan. Mantingan semakin kewalahan, sebab kini musuh-musuhnya itu dapat memanjat pohon untuk kemudian menghunjamnya dari atas. Mantingan benar-benar harus memusatkan pikirannya untuk menghadapi pertarungan.
Diambilnya setangkai dahan yang tergeletak begitu saja di bawah pohon. Setangkai dahan itu menyerupai batang pedang dengan panjang yang hanya sampai setengah depa. Dialirkannya tenaga dalam pada tangkai dahan itu. Menjadikannya sebagai pedang kedua untuk dimainkan oleh tangan kirinya.
Sebagai seorang pendekar ahli berpedang, dirinya mampu membuat pedang apa pun jua menjadi setajam pedang pusaka. Belum lagi setelah mempelajari Kitab Savrinadeya, pemahamannya terhadap ilmu berpedang semakin meningkat.
Mantingan berputar bagaikan baling-baling dengan pedang di masing-masing tangannya. Setelah segala pemusatan pikiran ditujukan pada pertarungan, Mantingan mampu mengeluarkan seluruh kemampuannya. Meski sungguh, dirinya merasa bahwa terus membaca ingatan terhadap Kitab Savrinadeya tetap menjadi pilihan terbaik, yang terpaksa tidak dipilih olehnya dikarenakan keadaan.
__ADS_1
Mantingan memang mampu menghalau serangan musuh-musuhnya, bahkan dapat pula memberi serangan balasan pada mereka. Namun, Mantingan tidak tahu sampai kapankah dirinya dapat bertahan dalam keadaan seperti itu. Mereka menyerang bagaikan air bah. Tidak peduli seberapa banyak pendekar yang telah Mantingan bunuh, mereka akan terus bertambah dengan jumlah yang jauh lebih banyak lagi.
Mantingan telah kehilangan kemampuan membaca pertanda miliknya sama sekali. Ia hanya bisa menduga-duga serangan musuh menggunakan naluri dasarnya, tidak ubah seperti pendekar-pendekar lain.
Sudah tidak terhitung berapa banyak luka yang terpatri di tubuhnya. Tidak terhitung pula berapa banyak tenaga prana yang Mantingan kerahkan untuk sebisa mungkin menahan pergerakan racun mematikan yang berasal dari kelewang lawan.
Mantingan terus berputar dan berputar. Tubuh musuh-musuhnya berceceran, sebab setiap putarannya selalu diiringi oleh kelebatan angin yang memiliki ketajaman luar biasa. Belum lagi dengan musuh-musuh yang terbabat oleh pedangnya, sudah pasti akan terpotong dengan serapi-rapinya. Beberapa pendekar bahkan masih memiliki kesadaran untuk melihat pinggang dan perutnya terpisah.
Para pendekar musuh tampak seolah tidak percaya bahwa kawan-kawannya terbunuh hanya dengan sebatang dahan pohon yang seharusnya tidak berarti sama sekali. Ditambah lagi dengan pusaran angin setajam pedang yang selalu mengikuti setiap pergerakan Mantingan. Maka rasa-rasanya, dengan sebanyak apa pun jumlah mereka, Mantingan akan tetap bisa mengatasinya.
Namun pada kenyataannya, serangan Mantingan justru semakin melemah tajam. Tak peduli seberapa besar tenaga prana yang Mantingan kerahkan, racun pada luka-lukanya tetap menyebar ke dalam tubuhnya. Ketika racun itu sampai pada jantung dan otaknya, maka hal yang mematikan akan terjadi. Mantingan telah terlambat.
Pemuda itu terhuyung beberapa kali sebelum menabrak sebatang pohon besar. Dirinya berhenti untuk sekadar menyandarkan punggung ke batang pohon itu. Namun, musuh-musuhnya terus berdatangan tanpa kenal henti, mereka tidak akan peduli apakah Mantingan berada dalam keadaan siap bertarung atau tidak, mereka hanya peduli pada keberhasilan tugas!
Saat ini, Mantingan tidak membawa jarum dan pisau terbang dalam jumlah yang banyak. Dirinya baru menggunakan benda-benda itu ketika keadaan telah benar-benar mendesaknya. Maka tindakannya saat ini dapat dianggap sebagai serangan putus asa yang sekaligus menjadi perlawanannya yang terakhir.
Gentas sudah seluruh senjata terbang itu. Mantingan menyunggingkan senyum kecil sebab serangan putus asa itu berhasil membunuh lebih dari seratus musuhnya. Kemudian tubuhnya tergontai lemah, lantas jatuh ke tanah tanpa berdaya. Kesadarannya meremang-remang ketika ia merasakan tubuhnya diangkat berdiri oleh sejumlah orang.
“Kakak tertua menginginkan dia dalam keadaan hidup-hidup.”
Kepala Mantingan terkantuk-kantuk. Tubuhnya dipaksa untuk tetap berdiri dalam kesadaran yang tinggal seutas jari.
__ADS_1
“Dia telah begitu banyak membunuh saudara-saudara kita,” balas yang lainnya. “Seharusnya dia langsung dibunuh begitu berhasil ditangkap.”
“Justru karena dia terlalu banyak membunuh saudara kita, maka kakak tertua meminta dia untuk dibawa hidup-hidup. Beliau telah menyiapkan penyiksaan yang teramat mengerikan untuk membayar semua kesalahannya.”
Mantingan hanya dapat tersenyum dalam benak, sebab bibirnya telah sulit untuk digerakkan. Pada akhirnya, ia akan merasakan siksaan mengerikan seperti yang dialami oleh Perempuan Tak Bernama, yang semestinya akan selalu berakhir pada kematian menyakitkan. Namun, bagaimanakah Perempuan Tak Bernama dapat meloloskan diri dari kematian setelah mengalami penyiksaan di dalam celah yang membelah dua bukit besar itu? Mantingan merasa amat sangat perlu untuk melanjutkan pembacaan Kisah Tak Bernama di dalam salah satu relung ingatannya itu.
Saat ini, seluruh harapan hidup seorang Mantingan tertumpu pada ingatannya akan Kitab Tak Bernama.
***
AIR semakin menanjak. Kini dadaku telah terendam air. Sedangkan aku tidak dapat bergerak sama sekali, yang sama saja mengartikan bahwa diriku tidak dapat berenang naik ke permukaan jika seandainya diriku tenggelam nantinya. Aku kembali mengatur pernapasan yang barang tentu dapat memengaruhi keadaan batinku.
Bukankah tidak mengapa jika pada akhirnya aku mati di celah ini? Aku telah berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan tugas ini. Meski pada akhirnya berakhir pada kegagalan, setidaknya aku tidak sampai membocorkan rahasia jaringan rahasiaku kepada pihak musuh.
Aku tidak peduli apakah diriku dikalahkan oleh pendekar berkeahlian tinggi atau rendah nantinya. Mati di tangan pendekar kuat bukanlah menjadi tujuanku sama sekali. Melainkan mati dalam menjalankan tugas itulah yang menjadi tujuan utamaku. Lantas, mengapakah pula diriku harus merasa takut pada kematian sedang diriku saat ini sedang bertugas?
Begitulah kemudian aku tersenyum lebar ketika ketinggian air telah menenggelamkan kepalaku. Aku tidak bisa mengambil napas, dan aku tidak memiliki ilmu yang bisa membuatku dapat tetap bernapas meski hidung dan mulut terendam air. Aku akan mati, dan itu bukan masalah sama sekali. Meski kuakui bahwa masih banyak penyesalan dalam hidup yang belum kubayar tuntas, tetapi telah kupahami bahwa tidak semua penyesalan dapat terbayarkan.
Aku memilih untuk tidak menahan napas, sebab hal itu hanya akan membuatku semakin tersiksa. Dan begitulah kubiarkan air menerobos masuk ke dalam mulut dan hidungku. Yang kupikirkan ialah kematian yang mudah dan cepat. Saat air-air itu masuk ke dalam paru-paruku, maka sudah barang tentu nyawaku melayang meninggalkan raga dalam sekejap mata.
Tetapi, apa yang kubayangkan itu nyata-nyatanya tidak nyata. Aku meronta-ronta karena merasakan rasa sakit yang teramat sangat luar biasa. Belum pernah kurasakan betapa mulut dan hidungku menjadi begitu sesak seperti ini. Dadaku serasa hendak pecah saat itu pula. Namun aku tidak kunjung mati. Rasa sakit itu terus bertahan, tidak berkurang barang sedikitpun.
__ADS_1
Aku mulai buncah. Segala ketenangan yang tadi kudapatkan telah menguap musnah tanpa sisa. Aku kembali takut, amat sangat takut, seolah ketakutan ini tidak akan bisa terbandingi oleh rasa takut macam apa pun!