Sang Musafir

Sang Musafir
Penyakit Wajah


__ADS_3

PEREMPUAN itu termenung barang sesaat, sebelum akhirnya berkata, “Apakah pendekar dunia persilatan sama bodohnya dengan semut-semut?”


Mantingan tersenyum dan menjawab, “Saudari, kurasa sampai di sini saja perjumpaan kita. Daku sudah menemukan apa yang ingin kutemukan. Sekarang sudah waktunya daku meneruskan perjalanan.”


Pemuda itu lekas berdiri dari tempatnya sambil melintangkan bundelan berisi Sepasang Pedang Rembulan di punggungnya. Ia benar-benar ingin pergi bahkan sebelum mencicipi teh pahit yang dibawakan Nadara.


“Bagaimana dengan hidangan yang dikau pesan?” Nadara turut berdiri dari bangkunya dengan tampang wajah resah. Dia seperti hendak menahan Mantingan untuk beberapa lama lagi.


“Bagikan saja pada penduduk desa atau pengembara yang singgah di kedaimu,” jawab Mantingan sekadarnya sebelum mulai melangkah pergi, tetapi lagi-lagi Nadara menahannya.


“Tunggu, Saudara Jaya! Daku masih tidak mengerti mengapa dikau langsung bergegas pergi setelah mengatakan hal itu padaku? Apa yang dikau temukan? Dan apa yang ingin dikau lakukan?”


Mantingan tersenyum semakin lebar. “Saudari, teh manis adalah sesuatu yang tidak terlalu menyehatkan. Daku hanya ingin mengubahnya menjadi sedikit lebih pahit.”


“Untuk apa?”


“Untuk mencegah semut-semut baru masuk ke dalam cangkir itu dan mati sia-sia.” Tepat setelah berkata seperti itu, Mantingan beranjak menuruni tangga. Nadara tidak lagi dapat menahannya.


***


MANTINGAN tiba di bagian akhir dari jejak pengembaraannya bersama Bidadari Sungai Utara, yakni Penginapan Cakar Merah. Pertemuannya dengan gadis itu bermula dari tempat ini, ketika Bidadari Sungai Utara berkali-kali meminta pertolongan pada pemuda itu untuk sudi mengantarkannya ke Tanjung Kalapa agar dia dapat kembali ke pelukan kekasih tercinta di tanah Champa, meski sebanyak itu pula dirinya mendapat penolakan dari Mantingan.


Kini, betapa Mantingan amat mensyukuri keputusannya di masa lalu yang menerima permintaan itu meski dengan sedikit keberatan. Tiada yang menyangka bahwa hal kecil tersebut dapat membawa Mantingan pada masa-masa terbaik sepanjang hidupnya. Tiada yang menyangka bahwa mereka akan bertemu dengan Kana dan Kina. Tiada pula yang menyangka betapa Mantingan secara tidak sadar telah membangun keluarga kecilnya sendiri di Desa Lonceng Angin.


Tepat sudah Mantingan berdiri di hadapan bangunan penginapan itu yang kini telah bertambah cukup besar sejak terakhir ia melihatnya. Penginapan itu juga tampak jauh lebih ramai, beberapa pedati dan kereta kuda bersandar pada tambatan yang ada pada halaman.


Dua orang murid dari Perguruan Cakar Merah berjaga-jaga di dekat pintu kedai dengan pedang tersoren pada pinggang. Mereka adalah orang-orang persilatan, Mantingan segera memasang kewaspadaannya sebab bukan tidak mungkin Perguruan Cakar Emas juga sedang mencari dirinya saat ini. Perguruan manakah yang tidak tergiur dengan hadiah berupa daerah kekuasaan seluas keratuan?

__ADS_1


Mantingan membetulkan bentuk capingnya sehingga bayang-bayang kini sempurna menutup rupa wajahnya tanpa sedikitpun celah, sebelum mulai melangkah masuk ke dalam Penginapan Cakar Merah.


Dua pendekar yang menjaga pintu masuk itu melirik Mantingan sedikit lebih lama ketimbang dengan saat mereka melirik pengunjung penginapan yang lain. Mereka melirik pedang hitam yang terselip di sabuk pinggang pemuda itu. Jelas saja penyoren pedang!


“Saudara, berhenti dahulu,” kata salah satu dari pendekar itu sambil merentangkan tangannya untuk menjegal Mantingan. “Saudara membawa pedang ke penginapan, kami harus menyitanya selama dikau menginap demi keselamatan seluruh tamu di penginapan ini.”


Tanpa berkata-kata, Mantingan menarik Pedang Kiai Kedai dari sabuk pinggangnya sebelum kemudian menyerahkannya pada pendekar itu.


“Kami juga harus melihat wajahmu. Lepaslah capingmu sebentar saja.”


Kali ini, Mantingan terdiam sejenak. Mengalahkan dua murid Perguruan Cakar Merah di hadapannya itu adalah sesuatu yang jauh lebih ringan dari sekadar mengedipkan mata, tetapi dampak yang akan ditimbulkan dari perbuatan bukanlah main besarnya. Maka sebisa mungkin Mantingan berdalih menggunakan segenap kemampuan berbahasanya guna menghindari keributan.


“Saudara berdua, mataku ini mendapat suatu kutukan ketika daku sedang bertarung dengan pendekar pengguna mantra dari Suvarnadvipa. Kutukan tersebut dapat menular melalui tatapan mata, jadi daku memang sengaja selalu mengenakan caping lebar untuk menutupi pandangan mataku dari orang-orang tak berdosa. Bahkan kini, yang daku lihat dari kalian hanyalah bagian kaki saja, daku tidak berani menatap langsung wajah kalian.”


Tidaklah perkataan itu sepenuhnya berisi kebohongan. Tentu yang Mantingan maksud sebagai pendekar pengguna mantra dari Suvarnadvipa adalah Puan Kekelaman, dan suatu kutukan ia maksudkan sebagai perasaan duka dan kebencian yang tidak akan pernah bisa terlepas dari tatapan matanya. Barangkali kutukan itu dapat menular pula pada orang-orang yang melihatnya.


Begitulah bahasa dapat menjadi sebuah senjata yang tak dapat terlihat.


Kedua pendekar itu lantas mundur beberapa langkah setelah mendengar ceritera Mantingan


“Kami tidak dapat menerimamu, Saudara. Pergilah dan cari penginapan lain yang masih mau menerimamu,” kata salah seorang dari mereka dengan suara bergetar.


“Tetapi mengapa?”


“Dikau dapat menularkan penyakit itu pada tamu penginapan lain!”


“Saudara, jika saja daku memang ingin, maka sudah sejak lama kulakukan hal seperti yang dikau katakan tadi. Bahkan sampai sekarang, tiada satupun orang tak bersalah yang menjadi korban atas kutukukanku ini. Namun jika kalian berdua sampai menahanku ....”

__ADS_1


Mantingan sengaja tidak meneruskan perkataannya. Biarlah dua murid Perguruan Cakar Merah itu menebak-nebak sendiri.


Setelah terdiam cukup lama, akhirnya satu dari mereka berkata, “Baiklah, kami akan memberimu izin masuk, tetapi kepalamu kami jadikan jaminan jika seandainya nanti jatuh korban di kedai ini akibat perbuatanmu.”


“Itulah yang baru saja ingin kukatakan, Saudara. Jadikanlah kepalaku ini jaminan. Sebagai pendekar, daku selalu memegang sumpah yang keluar dari mulutku,” kata Mantingan sebelum dirinya melangkah memasuki kedai itu.


Dirinya disambut dengan tatapan-tatapan mata yang ia tahu juga berasal dari pendekar. Agaknya mereka memiliki sedikit ilmu pendengaran tajam sehingga dapat menyimak segala pembicaraannya dengan dua murid penjaga pintu tadi. Tatapan-tatapan mata itu terasa seperti menyimpan kewaspadaan yang sedemikian tinggi. Siapakah kiranya yang tidak takut pada penyakit berbahaya yang dapat menular?


Mantingan memasang kesan seperti tidak menyadari adanya tatapan-tatapan itu dan terus bergerak menuju meja penerimaan tamu penginapan.


“Selamat pagi, Tuan, adakah sesuatu hal yang dapat kami bantu?” Orang yang bertugas di belakang meja penerimaan itu tetap berkata dengan ramah.


“Daku ingin memesan kamar di lantai paling atas untuk beberapa malam.” Mantingan meletakkan beberapa keping uang emas di atas meja.


“Maaf, Tuan, tetapi kamar istimewa di lantai paling atas sudah ada yang menempati. Kami masih memiliki beberapa kamar istimewa lainnya, tetapi Tuan harus membayar dua kali lipat dari harga kamar biasa untuk setiap malamnya.” Pelayan itu mempertahankan senyum lebarnya.


“Siapakah yang menempatinya?”


“Tuan, perkara seperti itu tidaklah dapat kami ungkapkan pada siapa pun yang tak berkepentingan.” Kini senyum di bibir si pelayan mulai memudar. “Apakah Tuan memang berniat menginap atau bertanya-tanya saja?”


“Daku pesan kamar yang biasa saja,” tukas Mantingan.


“Lima keping perak untuk satu malam, sudah termasuk makan pagi.” Pelayan itu hanya mengambil sekeping emas milik Mantingan di atas meja sekaligus menyiapkan uang sisa.


Setelah menerima uang kembalian sekaligus kunci kamar, Mantingan meneruskan langkahnya menuju anak tangga. Sengaja tidak ditancapkannya Ilmu Mendengar Tetesan Embun meskipun dengan begitu dirinya dapat langsung mengetahui siapa gerangan penghuni kamar di lantai paling atas, sebab jika ternyata orang itu benar-benar Bidadari Sungai Utara, ia ingin melihatnya hanya dengan mata kepalanya sendiri.


Langkah Mantingan semakin cepat ketika kepalanya semakin dipenuhi bayang-bayang gadis kecintaannya itu. Anak tangga yang tak seberapa banyak dan panjang itu dirasanya bagai bertambah ribuan kali lipat. Hampir saja dirinya berkelebat jika tidak segera menyadari bahwa hal itu hanya akan tampak seperti penantangan bagi pendekar-pendekar lain di dalam penginapan.

__ADS_1


__ADS_2