
MANTINGAN MENGAMBIL beberapa ramuan kesehatan yang sekiranya dibutuhkan olehnya dan Bidadari Sungai Utara di dalam perjalanan. Mantingan masih ingat nama-nama ramuan kesehatan yang disarankan gurunya.
Rata-rata ramuan yang Mantingan beli berbentuk butiran kecil padat—sebut saja obat padat, ramuan berbentuk cairan dalam guci kecil, dan ramuan berupa dedaunan kering yang cara penggunaannya ialah diseduh.
Ramuan-ramuan yang dibeli Mantingan antara lain Ramuan Sereh Biru, Ramuan Teh Cap Semut, Ramuan Pereda Nyeri Cap Kayu Manis, serta beberapa lainnya.
Mantingan telah memperhitungkan harga dari semua ramuan kesehatan yang akan ia beli. Semuanya berjumlah lima puluh keping emas. Mahal memang, tetapi apakah sebanding jika ditukar dengan kesehatan yang bagi seorang pendekar sangatlah berharga? Tentu saja itu sebanding.
Tetapi baru saja Mantingan ingin pergi ke meja pembayaran, seorang pendekar dengan gerakan luar biasa cepat mengadang langkahnya. Gerakannya terlalu cepat bahkan untuk situasi seperti ini, hampir menyamai kecepatan petir.
Mantingan yang senantiasa memasang kewaspadaan seharusnya tidak lagi terjengkang ke belakang akibat terkejut. Matanya bisa menangkap gerakan cepat pendekar itu serupa dengan gerakan yang biasa-biasa saja. Tetapi walau begitu, Mantingan tetap menunjukkan keterkejutannya yang dilebih-lebihkan. Alasan yang sama, untuk penyamaran.
Mantingan mundur beberapa langkah ke belakang. Dengan tangan pura-pura bergemetar, Mantingan memperbaiki sedikit posisi capingnya yang tadi sedikit ke atas. Siapa pun pendekar di hadapannya, ilmu meringankan tubuh yang dia kuasai tergolong tinggi. Pendekar itu lebih baik tidak mengenali Mantingan, tidak ada salahnya Mantingan berwaspada dengan memposisikan capingnya sedikit lebih ke bawah.
Dirinya melakukan hal itu seolah-olah menutupi wajah yang malu. Menunduk takut dengan gemetar, walau sebenarnya hanya ingin menutupi wajahnya.
Pendekar yang mengadang Mantingan kini mulai maju selangkah demi selangkah. Mantingan mempertajam ilmu pendengarannya.
“Kau, siapa namamu?”
Mantingan menegup ludahnya, kini ia menegup ludahnya. Sekali lagi, untuk berpura-pura.
“Nama sahaya Jaya ....” Maka itulah kalimat yang terucap oleh bibir Mantingan yang bergemetar.
__ADS_1
Pendekar itu maju selangkah lebih dekat. “Mengapa menutupi wajah?”
“Sahaya malu menunjukkan wajah penakut sahaya.” Mantingan memberi jawaban singkat yang terdengar masuk akal pendekar itu.
“Bagus kau ada rasa takut, teruslah pertahankan karena rasa takut itu akan membawamu ke jalan keselamatan. Kini aku sarankan pakailah rasa takutmu untuk berhadapan denganku. Dan itu berarti, kau akan memberikan semua obat-obatan yang ada di tanganmu jika aku memerintahkanmu.”
Masih dengan menundukkan kepalanya, Mantingan menjawab dengan suara bergetar, “Sesungguhnya barang-barang ini baru sahaya ambil dan belum sahaya bayar.”
“Berikan saja padaku, akan aku bayar.”
Mantingan menggeleng pelan. “Janganlah, sahaya susah-susah mencari ini dan beberapa obat tidak ada ketersediaan lagi.”
“Banyak cakap saja kau!” Tanpa banyak pikir, pendekar di hadapan Mantingan itu mengirim serangan tapak tanpa tenaga dalam yang telak mengenai caping Mantingan.
Lalu, untuk apakah Mantingan tetap bertahan dan sabar diri hanya demi penyamaran?
Bukan tidak mungkin sudah ada yang mengetahui Bidadari Sungai Utara sedang bersama seorang pendekar pengembara bernama Mantingan. Dugaan itu bukan tanpa landasan, terbukti dari orang yang terus-terusan memata-matai kamar Bidadari Sungai Utara. Kemungkinan terbesarnya, orang yang memata-matai itu telah mengetahui jati diri Mantingan pula.
Maka itulah alasan Mantingan tetap bersikukuh dalam penyamarannya. Meski harga diri tercoreng. Nyawa Bidadari Sungai Utara jauh lebih penting dari harga dirinya, Mantingan tetap bersabar.
Mantingan terjengkang ke belakang untuk kedua kalinya. Bukan karena ia tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang memadai, tetapi memang sengaja Mantingan lemaskan tubuhnya agar seolah-olah ia tidak berdaya.
Obat-obatan masih di tangan Mantingan, tidak ada satupun yang terjatuh, itu juga termasuk pada perbuatan yang disengaja.
__ADS_1
“Berikan semua itu padaku, maka aku ampunkan selembar nyawamu!”
Mantingan mengadahkan kepalanya sedikit ke atas. “Sahaya tidak lagi memiliki daya sedang engkau terus menindas orang lemah, maka akan sahaya berikan semua ini pada engkau.”
Mantingan berdiri, meletakkan semua obat yang ada di tangannya ke atas meja, lalu menebah pakaian Kiai Guru Kedai yang sedikit kotor akibat sandiwaranya tadi. Ia pandangi sekitarnya, orang-orang berhenti sejenak untuk menatapnya iba tanpa ada yang mau repot-repot menolong, sedangkan pendekar yang tadi memaki Mantingan mulai memungut semua ramuan di atas meja.
Mendecih di awal, pendekar itu meneruskan, “Kalau kau dari awal menurut seperti ini, tak akan kau merasa teramat malu dipandangi banyak orang. Cari susah sendiri.”
Mantingan tidak bisa berkata-kata sampai pendekar itu pergi menuju tempat pembayaran. Benar-benar tidak ada penegak keadilan di sini. Namun Mantingan tetap menyunggingkan senyum, katanya, “Seperti kembali ke masa lalu.”
Orang-orang melihat senyum Mantingan sebagai senyum putus asa, semakin mereka menatap Mantingan iba. Padahal sebenarnya, Mantingan cukup senang merasakan kembali rasa yang hampir hilang pada dirinya: rasa malu, rasa terhina, rasa terlemah, rasa tersampingkan, rasa kesendirian. Itu hanya sekadar nama-nama rasa yang hampir setiap harinya Mantingan rasakan dulu. Kini ia dapat merasakannya kembali, sungguh luar biasa ia dapat menganggapnya menyenangkan ....
Mantingan kembali berkeliling di antara meja-meja yang tadi ia sambangi. Mengambil lagi ramuan-ramuan yang sama seperti yang tadi ia ambil. Walau memang ada beberapa yang habis ketersediaannya.
“Terima kasih telah memperpanjang daya kesabaranku, Saudari.”
Setelah menyelesaikan pembayaran dan membeli satu bundelan lagi untuk barang belanjaan lainnya nanti, Mantingan beralih ke toko lainnya.
Salah satu perbekalan yang ia butuhkan adalah Lontar Sihir kosong, maka masuklah Mantingan ke dalam toko Lontar Sihir yang baru saja ia jumpai.
Di dalam toko itu, ada lebih banyak lagi pendekar yang berkunjung ke toko itu. Mereka melihati satu per satu barisan Lontar Sihir yang sudah dimantrai berbeda-beda.
Berbeda dengan Mantingan yang langsung saja membeli banyak Lontar Sihir kosong serta dua kitab pemantraan.
__ADS_1
Saat melakukan pembayaran, tak sedikit yang melirik Mantingan dengan tatapan merendahkan. Karena rata-rata yang pengunjung yang datang adalah pendekar paruh baya dan mereka ke sini untuk membeli Lontar Sihir yang sudah dimantrai, mereka menganggap Mantingan hanyalah seorang pendekar muda kurang pengalaman yang tak tahu bagaimana sulitnya memantrai Lontar Sihir.