Sang Musafir

Sang Musafir
Membeli Kerbau


__ADS_3

Mantingan hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum mengeluarkan seikat keping emas di dalam pundi-pundinya. Segera saja ia melemparkannya kepada si peternak yang sedang memerasnya itu. Mata Mantingan memandang ke sekeliling sebelum berhenti pada salah satu kerbau yang berwarna kelabu di sudut kandang.


“Sahaya pilih kerbau yang satu itu.” Mantingan menunjuk.


Si peternak memudarkan senyuman lebar yang tak sengaja tercipta setelah berhasil mendapatkan lima puluh keping emas, sebelum menengok ke arah kerbau yang ditunjuk Mantingan.


***


“Awak lebih baik jangan beli kerbau yang itu. Pilihlah kerbau lain.”


PETERNAK itu menggeleng beberapa kali banyaknya dengan senyum kecut yang tercetak jelas di wajahnya.


“Kerbau yang awak pilih itu tidak terlalu sehat. Tiap-tiap hari selalu merebah di sudut kandang, jarang makan, tidak mau berkawan, dan banyak hal lain yang sama sekali tidak bagus. Daku telah berkehendak menyembelihnya hari ini.”


“Sahaya akan tetap ambil kerbau itu.” Mantingan tersenyum tipis dan berkata seolah peringatan dari peternak itu sama sekali tidak berarti baginya.


Si peternak hanya bisa mengembuskan napas panjang sebelum berjalan menghampiri kerbau itu. “Diriku merasa bersalah telah memberikan awak kerbau yang tidak sehat. Tetapi mau macam mana lagi, jika kehendak awak memang sudah begini. Daku tidak akan menerima pengembalian uang jika kerbau ini mati dalam waktu singkat.”


Kerbau itu kemudian ditarik dengan sedikit paksa keluar kandang, sedangkan Mantingan mengikuti si peternak tepat di belakangnya dengan matanya memandangi kerbau itu.


“Apakah awak juga ingin beli pelana untuk kerbau?”

__ADS_1


Mantingan berpikir beberapa saat untuk memutuskan. Ini menyangkut tentang kenyamanannya dalam perjalanan. Apakah dengan tambahan pelana, ia akan lebih nyaman ketika menunggangi kerbau itu? Seperti yang diketahui, punggung kerbau telah cukup lebar hingga dapat membuat kaki terasa sakit.


Setelah berpikir matang-matang, Mantingan akhirnya membeli pelana untuk kerbaunya itu. Ia berpikir bahwa akan sangat baik jika pelana itu ada, mungkin saja benda itu akan memberikan kenyamanan untuk dirinya sendiri dan pula untuk kerbau yang ditungganginya.


“Dua keping emas.” Peternak itu menyeringai lebar. “Tetapi karena awak telah membeli kerbau yang tidak sehat, maka hanya kepada awaklah pelana itu akan kulepas seharga satu keping emas. Bagaimana?”


Mantingan menganggukkan kepalanya sebelum melempar sekeping emas dari dalam pundi-pundinya. Peternak itu menangkapnya dengan cepat.


“Nah, awak tunggulah di sini sambil menjaga kerbau itu agar tidak lari ke mana-mana. Daku akan mengambil pelana yang kumaksudkan dan kembali secepat-cepatnya.” Si peternak tidak menunggu jawaban dari Mantingan ketika dirinya menambatkan tali kekang kerbau itu pada salah satu tiang tambatan di tengah lapangan. Dia lalu berlari kecil meninggalkan Mantingan bersama kerbaunya begitu saja.


Sedangkan itu, Mantingan mulai mendekati kerbau yang dihargai lima puluh keping emas itu. Dipandanginyalah dari atas sampai bawah; dari depan sampai belakang. Kemudian Mantingan menampilkan senyum sedih. Betapa memang benar bahwa secara penampilan, kerbau ini jauh lebih buruk ketimbang kerbau-kerbau lainnya. Namun, Mantingan mampu membaca sebuah pertanda tentang mengapa kerbau ini tampak tidak sehat. Maka dari itulah, Mantingan bersikukuh untuk tetap membeli kerbau yang satu itu.


“Kau akan segera berpetualang dan melihat dunia, Kawan.” Mantingan tersenyum lebar “Bukankah itu yang kauinginkan?”


Sudah barang tentu kerbau itu tidak akan mengerti perkataan apa yang baru saja Mantingan ucapkan. Namun, Mantingan memang tidak ingin menunjukkan niat baiknya dengan kata-kata, melainkan dengan tindakannya langsung.


Kerbau itu sungguh berbeda dengan kerbau lainnya—selain dari penampilannya yang jauh lebih dekil, hasrat berpetualangnya terlalu besar, sehingga tiada mampu menerima kenyataan bahwa dirinya terkurung di dalam kandang tanpa bisa pergi ke mana-mana. Itulah yang kemudian membuat kerbau itu tampak telah kehilangan semangat hidup. Mantingan mampu melihat semua itu hanya dari pertukaran pandang yang hanya berlangsung selama satu kejap mata saja.


Pemilik peternakan kembali tak lama kemudian dengan sebuah pelana di tangannya. Dirinya tersenyum saat melihat Mantingan yang menggosok kerbau dekil itu tanpa rasa jijik berang sedikitpun—sebab memanglah Mantingan tersenyum lebar saat melakukan kegiatan yang seharusnyalah teramat menjijikkan itu.


“Di dalam pelana ini telah ada sikat untuk menggosok badan kerbau, sehingga awak tidak perlu menggunakan tangan lagi.” Si peternak dengan cekatan mengikatkan pelana itu ke punggung kerbau. “Kemarikanlah barang-barang bawaan awak, biar daku bantu pasangkan.”

__ADS_1


Mantingan pun tidak keberatan untuk sedikit merepotkan peternak itu. Bukankah seseorang yang ingin berbuat baik sudah sepatutnya tidak dihalang-halangi? Lagi pula, Mantingan mengingat betapa peternak itu telah memeras sedikit banyak uangnya, sehingga merepotkannya dengan sedikit pekerjaan tampaknya bukan suatu masalah.


Maka begitulah Mantingan mulai menurunkan seluruh barang bawaan yang diangkut tubuhnya. Dimulai dari bundelannya yang berukuran besar itu; lalu Golek Jiwa yang memiliki bobot besar; sebelum berakhir pada kedua pedangnya, yakni Pedang Kiai Kedai dan Pedang Savrinadeya.


Barang tentu dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang, Mantingan tidak akan menyia-nyiakan dua pedang pusaka yang dimilikinya itu. Bertarung dengan penguasaan penuh terhadap dua pedang akan memberikannya banyak keuntungan. Pedang Kiai Kedai yang telah patah menjadi dua bagian itu tetap terbungkus di dalam sarungnya; sedangkan Pedang Savrinadeya terbungkus dalam helaian kain sebab betapa pun pedang itu belum memiliki sarung untuk melindungi bilahnya dari segala sesuatu yang dapat membahayakan atau dibahayakan.


Bundelannya diikatkan tepat di belakang pelana kerbau, sedangkan Golek Jiwa tergantung di sisi punggung kerbau sebab tidak terlalu berukuran besar tetapi memiliki bobot yang cukup berat, sehingga dirasa akan merepotkan kerbau itu jika Golek Jiwa tersebut diletakkan di atas punggungnya. Sedangkan dua pedang Mantingan diselipkan pada tali kulit di pelana yang memang dikhususkan untuk menyoren pedang.


“Selesai sudah.” Peternak itu menepuk tangannya sekali. “Awak berhati-hatilah di jalan. Banyak pemberontak kalah perang dari Javadvipa yang melarikan diri ke pulau ini, sepeti yang kuceritakan tadi. Entah apa yang menyebabkan mereka baru mengungsi semenjak kalah perang lima bulan lalu.”


“Terima kasih atas peringatannya. Sahaya akan berhati-hati.” Mantingan melompat naik ke atas punggung kerbaunya. “Terima kasih pula atas kerbaunya.”


Maka begitulah Mantingan bergerak pergi meninggalkan peternakan setelah menghela tali kekang kerbaunya.


***


MANTINGAN memandangi padang rumput luas berlatarkan langit kejinggaan. Waktu telah memasuki senjakala. Sungguh, hampir tiada bedanya pemandangan senja yang ada di Javadvipa maupun yang ada di Suvarnadvipa. Betapa pun, senja tetaplah senja yang jingga dan keremangan, sehingga terkadang menampilkan sesuatu yang tidak ada dan justru menyembunyikan sesuatu yang tidak ada, maka memanglah sangat wajar jikalau para pendekar di dunia persilatan menghindari pertarungan ketika senja telah tiba.


Mantingan melepas gulungan kain putih yang melilit lengan tiruannya. Tentulah sedari tadi dirinya menutupi wujud lengan kayu itu dengan lilitan kain, sebab betapa pun bukanlah merupakan hal yang wajar jika seseorang memiliki lengan kayu yang mampu bergerak-gerak selayaknya lengan asli. Dengan lilitan kain yang membungkus lengan tiruan itu, Mantingan dapat menampilkan seolah-olah benda itu adalah lengan asli yang hanya saja diselimuti kain untuk suatu alasan yang sekiranya tidak begitu penting untuk dapat memancing rasa penasaran orang lain.


__ADS_1


__ADS_2