
MANTINGAN SEDIKIT meragu. Saudagar yang ia temui di desa indah nan asri waktu itu memperingatkan Mantingan untuk tidak memberitahu orang lain perkara tempat tujuan mereka berdua.
“Maafkan aku, Nenek Genih. Demi kebaikan Nenek dan kami bersama, terpaksa aku tidak memberitahu arah tujuan pada Nenek. Mohon beribu ampun, aku terpaksa melakukan ini.” Mantingan menunduk. Merasakan penyesalan saat ia harus mengatakan hal itu.
Nenek Genih yang baik hati telah memberi mereka tumpangan selama berhari-hari, kini tidak bisa mendapat kepercayaan Mantingan. Itulah yang membuat Mantingan merasa sesal yang teramat dalam.
Bidadari Sungai Utara turut menunduk, ia mengerti situasi yang berlaku sekarang.
“Ah, tidak apa-apa. Jangan menunduk seperti itu, membuatku tidak enak saja.” Nenek Genih menyuruh Mantingan dan Bidadari Sungai Utara menegakkan badannya kembali. “Jika memang kalian pergi secara senyap dan rahasia, maka suatu kesalahan bagiku jika memaksa mengetahui ke mana kalian bertujuan. Itu bukan salah kalian, jangan bersikap seperti itu.”
Mantingan tersenyum merasakan kebaikan dan kehangatan Nenek Genih. Kembali ia mengucap rasa terima kasih yang mendalam, Mantingan juga memberi isyarat pada Bidadari Sungai Utara di sebelahnya untuk berterimakasih sekali lagi. Lebih dari yang diharapkan, Bidadari Sungai Utara berterimakasih tanpa berbasa-basi.
“Nenek, terima kasih atas semua pelajaran yang kau berikan padaku. Tentang ilmu memasak, ilmu berenang, ilmu meringankan tubuh, ilmu biar tidak mudah pingsan, dan ilmu mencintai orang. Nenek, aku tahu Nenek sudah tua, tetapi cobalah untuk mencari pasangan.”
Nenek Genih menunjukkan raut wajah marah, pintar sekali dirinya meramu mimik wajah. “Bidadari Sungai Utara, wahai wanita dari Champa! Seenak jidat dikau berkata pada perawan tua sepertiku. Engkau sendiri sudah matang, tapi tidak kunjung juga menikah. Hati-hati, kau bisa kualat!”
Bidadari Sungai Utara bukannya takut atau merasa bersalah, ia malah tertawa. Nenek Genih juga tertawa. Hanya Mantingan yang tidak tertawa, tersenyum canggung bagai orang yang tidak diajak ikut bermain.
“Tenang Nenek, aku tidak akan jadi perawan tua seperti dirimu.” Bidadari Sungai Utara menggeleng berkali-kali dengan tawa kecil.
“Kalau kau mencintai orang yang tidak bisa kaudapatkan, bisa-bisa kau terjebak di sana.” Nenek Genih terkekeh.
Ucapan Nenek Genih membuat Mantingan memudarkan senyum canggungnya. Jantungnya berdebar kencang. Dari pori-pori kulitnya, ia mengeluarkan keringat, keringat dingin.
Bukankah Rara tidak bisa didapatkan?
__ADS_1
Bagaimanapun ia menganggapnya hidup, Rara hanya ada di dalam kepalanya saja. Walau beberapa hari yang lalu Mantingan melihat Rara dalam wujud yang lebih nyata, tetap saja itu adalah bayangan yang ada di dalam kepalanya. Tidak lebih. Rara tidak bisa didapatkan. Pahit? Memang itu kenyataannya.
Dapatkah Mantingan mencintai orang lain yang nyata dalam hidupnya? Usianya sudah matang, setelah Kembangmas ditemukan Kiai Guru Kedai menyarankan Mantingan untuk segera menikah, atau jika tidak Mantingan bisa menyesal suatu saat nanti.
Mantingan mengerti. Untuk mencapai kebahagiaan sempurna dalam hidup, ia harus menikah. Dengan menikah, kebahagiaan seseorang akan sempurna. Sempurna bukan berarti orang yang mengalaminya itu akan terus merasa bahagia. Sempurna adalah lengkap, dan lengkap bukan berarti semuanya baik. Ada berbagai macam kebahagiaan, dan tidak semua dari kebahagiaan itu akan terasa membahagiakan. Terkadang seseorang mendapat kebahagiaan, tetapi ia tidak bisa merasakannya.
Di dalam kehidupan pernikahan, seseorang akan merasakan berbagai macam kebahagiaan. Kiai Guru Kedai menekankan bahwa jika Mantingan ingin membuat hidupnya lebih sempurna, Mantingan harus menikah dan bukannya mencari kesempurnaan melalui pertarungan.
Begitulah ucapan Nenek Genih yang singkat mampu membuat Mantingan terbenam dalam perang batin yang panjang. Menyadari betapa dirinya tidak bisa lepas dari Rara-nya. Entah mengapa, tetapi cinta memang tidak bisa dikhianati atau didustai. Mantingan mencintai Rara, selamanya begitu.
Mendadak Mantingan meraba-raba kendi Rara yang menjadi mata kalungnya. Mantingan meremasnya pelan dan menggertak gigi. Dalam benak, ia memerintahkan diri sendiri untuk segera berdamai dengan diri sendiri pula. Rara sudah mati, itu adalah kenyataan yang harus diterima dengan damai. Biar bagaimanapun, Mantingan harus tetap menjalani kehidupan, begitulah yang Rara inginkan.
“Mantingan?”
“Apakah kau baik-baik saja? Mengapa melamun?”
Mantingan lekas menggeleng. Tidak ada yang perlu Bidadari Sungai Utara khawatirkan tentang dirinya.
“Apa kau kembali sakit, Anak Man? Jangan malu untuk kembali beristirahat di sini.”
Sekali lagi Mantingan menggeleng, kini dengan jawaban, “Aku baik-baik saja, hanya saja tadi mendadak terpikirkan sesuatu.”
“Memikirkan apa?” Bidadari Sungai Utara bertanya cepat.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Mantingan menunjukkan senyum hangatnya, lalu ia menghela napas panjang, berharap udara segar mampu menyegarkan pikirannya. “Lebih baik kita segera berjalan, semakin cepat akan semakin baik.”
__ADS_1
Bidadari Sungai Utara menatap Mantingan sebal sebelum berpaling pada Nenek Genih. “Nenek, terima kasih sekali lagi atas segala kebaikan yang telah Nenek berikan. Jika ada kesempatan, aku akan kembali dan membalas kebaikan ini dengan pantas. Nenek, aku mohon diri meninggalkan diri engkau.”
“Ya, hati-hatilah kamu berdua di jalan.”
Mantingan mengangguk, menyuguhkan senyum hangat sebelum berbalik dan berjalan menjauh. Sedangkan Bidadari Sungai Utara menyusul kemudian. Nenek Genih menyilangkan tangannya ke belakang, memandangi keduanya menjauh dengan senyum hangat di wajah keriputnya.
***
KICAI BURUNG terdengar lembut. Selembut angin siang itu. Seteduh pepohonan rindang. Selembut wajah Bidadari Sungai Utara dan seteduh wajah Mantingan.
“Mantingan, apa mungkin dunia ini akan berdamai?”
Mantingan yang berjalan di depan Bidadari Sungai Utara itu hanya bisa terdiam dan mengangkat bahunya sedikit. Untuk mendamaikan Javadvipa saja merupakan pekerjaan berat, bagaimana dengan mendamaikan dunia?
“Aku seperti ini ‘kan karena kurangnya perdamaian.” Bidadari Sungai Utara kembali berkata sambil melompati batang pohon tepat di ujung kakinya. “Kalau dunia damai, sudah pasti kawan-kawan seperjalananku tewas. Tetapi kalau tidak begitu, mana mungkin aku bisa berjalan di tengah hutan bersamamu seperti ini.”
Mantingan menoleh ke belakangnya sejenak dan tersenyum, “Saudari Sungai Utara, kalau dunia penuh dengan kedamaian, aku tidak akan menjadi pendekar.”
“Kau tidak suka jadi pendekar, ya?”
Mantingan kembali tersenyum. “Banyak yang harus ditanggung oleh seorang pendekar. Seperti harus terus menerus melarikan diri dalam ketakutan, dan tentunya diwajibkan untuk terlibat dalam pembunuhan.”
Bidadari Sungai Utara mengerutkan dahi dan menggaruk pipinya yang tidak gatal. Memang dirinya melepas cadar untuk menikmati udara segar. “Bukankah itu suatu hal yang ringan?”
“Ringan?” Mantingan mengangkat alisnya dan menggeleng. “Jika dikatakan ringan, bagiku itu tidak. Sedari aku masih kanak-kanak, aku diajarkan untuk tidak membunuh hewan jika tidak untuk dimakan. Kini aku harus membunuh manusia, bagaimana itu bisa aku katakan ringan-ringan saja?”
__ADS_1