
DAN KINI keinginannya yang terpendam itu terbuncah kembali. Dan seketika itu pula terbayar lunas.
Kana menganggukkan kepalanya ringan dan tersenyum. Ikut merasa senang. Namun bagaimanapun juga, dirinya tidak sesenang Kina. Manisan baginya hanyalah camilan biasa. Tidak akan bertahan lama.
“Daku ada untukmu, wahai Kana!” Mantingan menarik sebuah peti kayu panjang dari atas meja. Dengan kedua tangannya, ia menyerahkan peti kayu itu kepada Kana.
Kana langsung menerimanya, tetapi berkernyit bingung. “Isinya apakah, Kaka?”
“Engkau akan melihatnya sendiri,” kata Mantingan tersenyum. “Sekarang, apakah ada lagi yang kalian inginkan?”
Kana dan Kina saling menggelengkan kepalanya. Kina sudah puas, dirinya seakan tidak bernafsu meminta hal lainnya kepada Mantingan. Sedangkan Kana, meskipun ia tak tahu isi dari kitab kayu di tangannya itu, tetapi dapat dianggap dirinya telah puas, tidak mau meminta banyak hal yang akan merepotkan Mantingan.
“Terima kasih, Kak Sasmita dan Kak Maman!”
Mantingan dan Bidadari Sungai Utara mengangguk pelan. Kemudian menyuruh mereka untuk meneruskan kegiatan yang tadi tertunda. Kana dan Kina mengatakan bahwa mereka akan menyimpan barang-barang pemberian di kamarnya sebelum pergi mandi. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara mempersilakan mereka.
Setelah Kana dan Kina pamit undur diri, barulah Mantingan melanjutkan percakapannya dengan Bidadari Sungai Utara.
“Apakah dikau yakin bisa melakukan itu?” Mantingan bertanya dengan tampang sungguh-sungguh.
Bidadari Sungai Utara pula bersungguh-sungguh dalam mengangguk. “Benar. Daku merasa bisa mengalahkan mereka semua.”
“Kita masih belum mengetahui ada berapa banyak kekuatan musuh di balai desa,” kata Mantingan. “Musuh meletakkan kekuatan pendekar-pendekarnya di balai desa. Yang akan dikau hadapi jauh lebih menyulitkan ketimbang menyerang markas mereka.”
__ADS_1
“Daku jelas mengetahui hal itu.” Bidadari Sungai Utara berkata pelan. Menyampirkan rambutnya ke belakang telinga, sebelum kembali berkata, “tetapi daku juga percaya bisa mengalahkan mereka semua.”
“Tanpa bantuanku?”
Bidadari Sungai Utara mengangguk pasti. “Biarkanlah ini menjadi bagianku.”
Raut wajah Mantingan sungguh menunjukkan tanda-tanda tidak baik. Dirinya cemas; di sisi lain merasa bahwa hal itu cukup baik untuk perkembangan Bidadari Sungai Utara. Terlebih gadis itu melakukannya demi mendapatkan nama sebagai pahlawan Desa Lonceng Angin.
Sungguh, menghela napas pun tiada gunanya. Mantingan harus membuat keputusan yang tegas lagi jelas. Mantingan memandangi mata Bidadari Sungai Utara untuk melihat seberapa besar keyakinan di mata gadis itu. Sampai akhirnya, Mantingan menundukkan kembali pandangannya. Sungguh jelas keyakinan di mata Bidadari Sungai Utara.
Dalam melawan musuh berat, dibutuhkan keyakinan besar selain kekuatan yang besar pula. Sebab tanpa keyakinan, maka sia-sialah kekuatan besar di dalam diri seseorang. Telah ada keyakinan besar di dalam tatapan mata Bidadari Sungai Utara, Mantingan sungguh tidak meragukan itu. Tetapi ia ragu, apakah ada kekuatan besar di dalam diri gadis itu? Percuma pula keyakinan tanpa kekuatan.
“Saudari harus menguasai Jurus Tapak Angin Darah terlebih dahulu sebelum bisa menyerang mereka.” Mantingan membetulkan posisi duduknya. “Boleh dikata, Jurus Tapak Angin Darah adalah ilmu tangan kosong paling mutakhir setanah Javadvipa saat ini. Jurus Tapak Angin Darah hanya membutuhkan sekali serangan saja untuk membunuh musuh, itu jikalau Saudari menggunakan kekuatan penuh. Apakah Saudari keberatan?”
Bidadari Sungai Utara menganggukkan kepalanya seraya berkata, “Daku sama sekali tidak keberatan.”
***
Dan memanglah niat Mantingan untuk membuka gerai hari ini bukan untuk berjualan. Niat sebenarnya adalah untuk mengecoh para perompak yang masih mengawasinya. Bertindak seolah semuanya berjalan sesuai dengan kesepakatan. Mantingan tidak akan terlihat mencurigakan dengan membuka gerainya.
Sambil menjaga tokonya, Mantingan kembali menyusun siasat-siasat untuk menyelamatkan Desa Lonceng Angin. Memanglah seluruh siasat belum selesai dibuat, dan masih perlu pematangan setelah selesai dibuat sekalipun.
Pada sebuah gulungan lontar lebar yang kosong, Mantingan membuat denah yang menggambarkan seluk-beluk markas musuh. Ia juga menambahkan titik-titik aman di sekitar markas musuh untuk memberlangsungkan pemantauan. Pula beberapa keterangan yang penting, diletakkan di bagian sudut.
__ADS_1
Selain itu, Mantingan juga mengisi beberapa gulungan lontar dengan beragam siasat-siasat cadangan yang dapat dipakai. Mencatat segala yang dapat dicatat.
Inilah bagian terpenting saat menyusun siasat. Membuat beberapa siasat cadangan. Mencacat semuanya. Kelak nanti catatan-catatan itu akan diperlukan.
***
TUJUH HARI seakan berlalu begitu cepat. Segala kesibukan Mantingan membuat pemuda itu sampai-sampai lupa waktu. Pada pagi sampai sore harinya, Mantingan akan menyusun siasat di dalam tokonya. Sore hingga malam harinya, Mantingan melatih Bidadari Sungai Utara menguasai Jurus Tapak Angin Darah. Larut malamnya, Mantingan akan mengajari Kana dan Kina, masing-masing ilmu yang dibutuhkan.
Butuh waktu hingga tujuh hari bagi Bidadari Sungai Utara untuk menguasai Jurus Tapak Angin Darah tahapan dasar. Kini dirinya dapat menumbangkan sebuah pohon besar hanya dengan sebuah serangan tapak. Gadis itu begitu takjub setelah mengetahui hasilnya.
Mantingan mengingatkan padanya untuk tidak menyebar luaskan Jurus Tapak Angin Darah karena akan membuat keadaan semakin memburuk. Perguruan Angin Putih sekaligus Mantingan tidak ingin jurus itu digunakan untuk tujuan yang tidak benar. Jurus Tapak Angin Darah jauh lebih ampuh ketimbang jurus tapak lainnya yang baru bisa membunuh lawan setelah beberapa kali serangan.
Jika digunakan dengan tepat, Jurus Tapak Angin Darah dapat membunuh puluhan orang dalam sekali serang. Mantingan telah membuktikannya melalui perang yang terjadi di Kota Angin Nyiur. Waktu itu, dirinya melayangkan ratusan nyawa musuh dengan sepuluh serangan saja.
Sedangkan untuk Bidadari Sungai Utara, dapat membunuh satu musuh dalam sekali serang sudah merupakan pencapaian membanggakan.
***
MALAM ITU. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara berada cukup jauh di dalam hutan. Di sekitar mereka hanyalah pepohonan yang sudah tak tampak lagi, kegelapan malam sungguh-sungguh kelam. Langit tertutup mega-mega. Rembulan dan bintang terhalang sinarnya. Angin berdesir lumayan kuat, membuat suara riuh yang menggelitik telinga. Reranting, ilalang, dan dedaunan, mereka berkersak saat saling bersentuhan.
Namun, semua itu tidak mengganggu kegiatan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara dalam bersamadhi. Mereka duduk bersila di atas bongkahan batu besar yang membentuk kubah. Rambut keduanya tidak berhamburan ditiup angin, sebabnya digelung ke atas.
___
__ADS_1
catatan:
Chapter-chapter selanjutnya adalah versi unedited, maka jika ada typo jangan ragu berkomentar.