Sang Musafir

Sang Musafir
Empat Pendekar Kelompok Pedang Intan


__ADS_3

MANTINGAN dengan amat cepat mengirim sebuah Tapak Angin Darah ke arah musuh untuk membatalkan serangan pada Bidadari Sungai Utara sekaligus untuk membunuhnya.


Akan tetapi, musuh yang ia hadapi kali ini memang bukan penjahat kambuhan semata. Terlihat pendekar yang diserangnya itu segera pedangnya dari leher Bidadari Sungai Utara menjadi ke arah gelombang serangan Tapak Angin Darah yang dikirimkan Mantingan dan dalam seketika berhasil membelahnya!


Pendekar itu terempas beberapa langkah ke belakang akibat dorongan angin. Tetapi serangan itu tidak berdampak terlalu banyak baginya.


Mantingan mendarat tepat di depan Bidadari Sungai Utara. Melindungi gadis itu dari dekat. Tatapan matanya begitu tajam menatap ke empat musuh berpakaian serba hitam tak jauh di hadapannya.


Akibat kebuncahannya sedari awal, Mantingan lupa membawa Pedang Kiai Kedai, sehingga berkemungkinan besar bahwa ia akan menghadapi musuh-musuhnya itu hanya menggunakan ilmu tangan kosong saja.


Mantingan terus menatap musuh-musuhnya. Kedudukannya saat ini sama sekali tidak menguntungkan. Tanpa membawa Pedang Kiai Kedai dan dengan sisa tenaga dalam yang sedikit, kemampuannya berkurang sangat banyak. Bahkan untuk menghadapi keempat musuhnya, Mantingan tidak dapat menjamin bahwa ia akan keluar hidup-hidup nantinya.


“Saudara, ini bagianku.” Bidadari Sungai Utara berbisik pelan pada Mantingan yang berdiri tepat di hadapannya itu. Raut wajahnya tampak cemas melihat kedudukan Mantingan juga sama tidak bagusnya.


Mantingan tidak menanggapi pertanyaan itu. “Saudari pergilah. Keadaanku saat ini tidak terlalu memungkinkan untuk bertarung sambil melindungimu.”


Bidadari Sungai Utara baru saja membuka mulutnya untuk membantah, akan tetapi ia kemudian menyadari kebenaran dari perkataan Mantingan. Melihat bahwa dirinya dan Mantingan tidak membawa pedang ataupun senjata lainnya. Maka dari itu, Bidadari Sungai Utara melangkah mundur perlahan-lahan.


Ketika merasakan gadis itu tidak lagi berada di dekatnya, Mantingan mulai mempersiapkan kuda-kuda dan sikap silat. Kaki kiri ditarik ke belakang; tangan disilang ke dada. Meskipun hanya bertangan kosong, takkan ragu ia melawan musuh.


“Siapakah gerangan dikau?” Salah seorang musuh bertanya kepadanya. Mungkin saja menyadari seberapa tinggi tingkatan ilmu Mantingan dengan melihat gerakan dan serangannya tadi, sehingga diberikanyalah sedikit muka kepada pemuda itu.


Mantingan diam saja, namun ia merasa beruntung karena musuh tidak mengenali jati dirinya meskipun ia tidak mengenakan caping atau penutup wajah lainnya. Tentunya ia tidak melupakan bahwa gambaran rupa wajahnya telah tersebar di telaga dan rimba persilatan secara luas.

__ADS_1


Menyadari Mantingan sama sekali tidak berniat menjawab, musuh-musuhnya itu memilih untuk tidak banyak berkata-kata lagi dan langsung menyiapkan kuda-kuda. Setelah itu, barulah sebagian mereka menarik pedang besar berkilauan yang tersoren di pinggang.


Mantingan menelisik gaya empat pendekar itu. Tidak butuh waktu lama bagi Mantingan untuk mengenali dari kelompok manakah mereka berasal.


Suatu kali, Mantingan pernah mendapatkan wejangan dari gurunya tentang beberapa kelompok persilatan yang betul-betul harus diwaspadainya. Kelompok yang disebut Kiai Guru Kedai selalulah kelompok keji berdarah dingin yang berkeliaran di mana saja sehingga memang terdapat sedikit banyak kemungkinan bahwa Mantingan akan berjumpa dengan kelompok-kelompok itu.


Salah satunya, Kiai Guru Kedai menyebutkan Kelompok Pedang Intan. Nama yang indah dan boleh dikata cukup sederhana sebenarnya, namun barang siapa pun di telaga persilatan yang mendengar nama itu disebutkan akan langsung berkeringat dingin.


Kelompok Pedang Intan termasuk ke dalam jaringan rahasia bawah tanah yang aneh. Tidak jelas apakah mereka bergerak dengan gaya sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.


Terkadang mereka menyerang secara sembunyi-sembunyi dengan melempar pisau terbang atau jarum beracun. Namun terkadang pula, mereka menyerang secara terang-terangan dengan menatang lawan.


Kelompok Pedang Intan diisi oleh banyak pendekar yang beragam-ragam pula perangainya. Terdapat pendekar yang begitu puitis hingga hanya menyerang lawannya setelah ia selesai membacakan syair ketika pemandangan sedang indah-indahnya. Ada pula yang begitu berilmu bagaikan rahib atau filsuf sehingga selalu menceramahi lawan tarungnya sebelum membunuhnya tuntas. Namun, tak sedikit yang bersifat bejat seperti yang Mantingan hadapi kali ini.


Mantingan mengembuskan napas panjang. Apakah kiranya ia dapat memenangkan pertempuran ini?


Kelompok Pedang Intan mendapatkan namanya sebab pendekar-pendekar di dalamnya selalu bersenjatakan pedang berbahan batu intan. Siapa pun memahami bahwa intan jauh lebih kuat dan tajam ketimbang baja. Lebih-lebih jika dijadikan pedang, dan lebih-lebih lagi jika yang memainkannya adalah seorang ahli dalam berpedang!


Sedang melihat keadaan Mantingan saat ini, bukankah itu sungguh miris? Ia tidak membawa pedangnya, pula tidak memiliki sisa tenaga dalam yang banyak. Berhasil mengungguli salah satu dari mereka saja sudah merupakan sesuatu yang agak mustahil untuk dicapai. Lalu, bagaimanakah dengan empat dari mereka?


Namun biar mengetahui kebenaran itu, Mantingan sama sekali tidak menyurutkan langkah. Bagaikan pepatah para pelaut: sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Maka Mantingan membiarkan dirinya bertindak jantan dengan melawan meski tiada harapan.


Empat pendekar musuhnya itu maju perlahan mendekati Mantingan. Sesekali mereka memutar-mutar pedangnya agar tangannya lemas. Sedangkan Mantingan tetap diam di sana seolah memang telah menyerahkan nyawanya kepada musuh akibat rasa putus asa yang dalam!

__ADS_1


Sedangkan itu, beberapa depa di belakang Mantingan, Bidadari Sungai Utara meremas jari-jemarinya dengan cemas. Gadis itu tahu sadar bahwa Mantingan adalah orang pertama yang membuka serangan, sehingga empat pendekar itu dengan jelas mengetahui sesuatu yang berharga dalam setiap pertarungan; yaitu tingkat keilmuan lawan!


Gadis itu resah. Gadis itu gelisah. Dia menyadari bahwa mungkin saja ini adalah hari terakhirnya menatap matahari!


Kekhawatirannya semakin bertambah ketika menyadari bahwa Mantingan tidak bergerak mundur barang sejengkal saja. Dengan begitu, tidak mungkin pula Bidadari Sungai Utara tega meninggalkan Mantingan.


Mantingan menarik napasnya dalam-dalam sebelum melangkah perlahan-lahan ke depan, mendekati musuh-musuhnya hanya berbekal tangan kosong.


Musuh pun agaknya enggan untuk berlama-lama lagi. Segera mereka berkelebat dan mengayunkan pedang ke arah Mantingan.


Mantingan berkelebat pula dalam kecepatan tak terkirakan. Tetapi bukannya berkelebat ke arah depan menyambut musuh-musuhnya, ia justru berkelebat ke arah atas!


Di udara, Mantingan berbalik badan menghadap Bidadari Sungai Utara. Tanpa memberi peringatan maupun aba-aba sama sekali, Mantingan mengulurkan tapak tangannya ke depan. Seketika gelombang angin bergerak cepat menuju tempat Bidadari Sungai Utara berdiri!


Tak ayal gadis itu dibuat amat sangat terkejut dengan tindakan Mantingan yang sungguh di luar dugaannya. Gelombang angin itu bergerak terlalu cepat, sedikit lebih cepat dari pikirannya. Bahkan sebelum Bidadari Sungai Utara berpikir untuk menghindar, tubuhnya telah terempas kuat ke belakang akibat dorongan besar dari serangan tapak angin itu.


Segala-galanya terlihat dengan sangat cepat dan singkat meskipun yang sebenarnya terjadi tidaklah begitu. Ketika Mantingan berkelebat ke atas dan mengirimkan gelombang angin kepada Bidadari Sungai Utara, itu berlangsung tak lebih dari seperempat kedip mata.


Tubuh Bidadari Sungai Utara melayang terus ke belakang. Melewati pintu hingga dirinya berada di halaman luar penginapan.


Di saat yang benar-benar hampir bersamaan, Mantingan memejamkan matanya sebelum mengedarkan seluruh nafsu pembunuhnya ke segala penjuru arah. Menimpa empat pendekar musuh yang baru saja mengubah arah serangnya menjadi ke atas!


__ADS_1


__ADS_2