Sang Musafir

Sang Musafir
Segala Sesuatu yang Menjadi Rumit


__ADS_3

MEREKA melayang pelan ke bawah. Bagai sehelai daun yang jatuh dari tangkai pohonnya.


Bidadari Sungai Utara dalam kondisi setengah sadar. Serangan Mantingan hampir membuatnya tak sadarkan diri. Namun samar-samar, ia dapat melihat wajah Mantingan. Wajah yang kini dipenuhi raut khawatir.


Mantingan menginjak tanah, Bidadari Sungai Utara masih dalam dekapannya. Mata gadis itu menatap penuh kesenduan. Apakah yang terjadi?


“Tolong jangan lepaskan, Mantingan. Biarkan aku menikmatinya, untuk sebentar saja.”


Mantingan tergugu. Sungguh ia bingung. Apakah Bidadari Sungai Utara masih merasa sakit hingga ia tidak bisa berdiri dengan dua kakinya? Tentu saja, tidak. Mantingan tidak naif. Ia tahu arti dari tatapan perempuan muda itu, serta kalimat yang diucapnya penuh harapan. Itu cinta. Seperti tatapan Rara padanya.


Bidadari Sungai Utara tidak diam sampai di situ, ia bergerak merangkul Mantingan, berdiri dengan dua kakinya sendiri. Mantingan tidak membalas rangkulannya, masih tergugu.


“Aku tidak mau mengatakan apa-apa lagi, kau sudah tahu semuanya.” Bidadari Sungai Utara berkata lirih.


Mantingan lebih ingat pada perkataan Kiai Guru Kedai. Memang gurunya itu tidak melarang Mantingan untuk menikah, justru menyuruhnya menikah jika semua urusan dianggap tuntas. Akan tetapi Kiai Guru Kedai tetap memberi pengarahan pada Mantingan jika ada gadis yang mendekatinya, sedang Mantingan sendiri belum mau menikah. Arahan-arahan dari gurunya itu selalu Mantingan ingat seperti sekarang ini.


Kiai Guru Kedai mengatakan pada Mantingan untuk tidak berzina. Baginya, itu termasuk dosa besar selain mempersekutukan Gusti. Apakah yang mereka lakukan saat ini adalah perbuatan zina?


Sebenarnya tidak bisa dikatakan begitu, lebih tepatnya mereka “mendekati” zina. Dengan berangkulan seperti itu, sedangkan mereka bukanlah sepasang suami-istri.


Mantingan juga tidak mau menganggap perasaan Bidadari Sungai Utara sebagai masalah serius.

__ADS_1


Perjalanannya masih panjang, ia tidak bisa mengambil pasangan. Terlebih cintanya masih bertumpu pada Rara, yang seakan-akan tidak akan pernah bisa dimusnahkan.


Apakah terlalu dini untuk membahas cinta? Sebenarnya tidak. Mantingan berumur matang untuk menikah, menghadapi permasalahan yang menyangkut cinta adalah wajar bagi pemuda seusianya.


“Saudari menang, cangkir pecah di tanah.”


Ucapan Mantingan itu seakan menyadarkan Bidadari Sungai Utara secara keseluruhan, gadis yang mendekapnya itu kemudian bergerak menjauh. Ia juga baru menyadari bahwa cadarnya terlepas, sehingga wajahnya terbuka dan terlihat jelas.


Mantingan tersenyum gugup, ia lalu menunjuk cangkir teh yang telah pecah berhamburan di tanah beserta isi-isinya. “Saudari menyelesaikan latihan hari ini dengan sangat cepat, Saudari berbakat. Esok hari aku akan meningkatkan pola latihan.”


Bidadari Sungai Utara tidak tahu harus bicara apa. Ingin ia berlari kencang ke dalam penginapan dan mengunci diri di kamarnya. Tetapi ia tidak akan melakukan hal itu tanpa cadarnya. Di dalam penginapan banyak tentara bayaran yang bukan tidak mungkin mengenal dirinya.


Mantingan mengangguk pelan dan mengerti maksud dari Bidadari Sungai Utara, ia menunduk dan mengambil cadar yang tergeletak di tanah. Ia bersihkan terlebih dahulu dari debu dan noda tanah, sebelum menjulurkannya pada Bidadari Sungai Utara.


Mantingan hanya bisa menggeleng pelan setelah Bidadari Sungai Utara menghilang dari hadapannya. Harus ia akui, suasana yang tadi itu benar-benar canggung. Sekaligus tidak pernah terduga. Mantingan merasa bersalah karena telah merangkul pinggang Bidadari Sungai Utara, tetapi di sisi lain ia merasa tindakan itu ada benarnya.


Jika saja Bidadari Sungai Utara tidak diselamatkan, ia akan terluka parah. Bagaimana pun juga, Bidadari Sungai Utara adalah manusia, meskipun ia pendekar sekalipun. Pendekar bukanlah manusia yang dapat melayang di udara tanpa pijakan, dan akan terluka jika jatuh dari ketinggian tinggi lagi tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang memumpuni.


Mungkin Mantingan memang bisa melayang ringan dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi, tetapi tidak begitu dengan Bidadari Sungai Utara. Perlu diingat kembali bahwa Mantingan adalah pendekar yang sangat berbakat, jauh lebih berbakat dari pendekar yang paling berbakat. Inilah sebuah perbandingannya. Mantingan dapat mendarat ringan; tidak begitu dengan Bidadari Sungai Utara.


Memang ada beberapa pendekar yang dapat melayang seperti terbang, akan tetapi itu hanya yang terlihat saja. Sungguh tiada pendekar dapat melayang dan terbang di udara dengan hanya mengandalkan tenaga dalam. Mereka perlu pijakan. Pendekar-pendekar yang mampu terbang di udara biasanya selalu membawa ratusan helai daun yang dapat digunakannya sebagai pijakan, atau mereka memelihara burung jinak yang dapat dijadikan pijakan di bawah kaki mereka.

__ADS_1


Kendati demikian, banyak cerita silat yang menceritakan kemampuan seorang pendekar yang dapat terbang di antara awan-awan. Padahal sampai saat ini, tidak ada sejarah yang mencatat ada pendekar dengan kemampuan seperti itu.


Dan jika dipikir-pikir kembali soal mengapa Bidadari Sungai Utara dapat mengendalikan angin, jawabannya cukup sederhana. Udara yang Mantingan hirup saat ini adalah udara lembab, ada sedikit kandungan air di dalamnya. Itulah mengapa Bidadari Sungai Utara dapat mengendalikan angin.


Mantingan memilih untuk kembali ke dalam penginapan, ia merindukan sarapan. Sudah berapa lama makannya tidak teratur akhir-akhir ini?


***


Sore itu. Rombongan pedagang mulai bersiap untuk meninggalkan desa. Tali-tali penarik gerobak mulai dipasang di punggung kerbau. Satu gerobak membawa diisi perbekalan yang dibeli dari penginapan. Mereka berencana untuk berangkat esok pagi, saat matahari mulai menyinari bumi.


Mantingan melihati mereka dari kamarnya, tentu saja, dengan secangkir teh hangat. Menurutnya, persiapan yang dilakukan rombongan pedagang itu cukup matang. Mereka—selain membawa perbekalan—juga membawa senjata tambahan, bahkan kini sedang mencari orang yang mau dibayar untuk ikut bersama rombongan.


Siang tadi, Mantingan juga ditawari. Bahkan saudagar sendiri yang datang, menawarkan upah besar jika Mantingan mau ikut di dalam rombongan. Mantingan menolaknya dengan halus, alasannya sudah jelas, ia punya perjalanannya sendiri.


Saudagar mengungkapkan seberapa ia menyayangkan keputusan Mantingan, tetapi ia juga menambahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Mantingan merasa tidak bijak jika membiarkan saudagar pergi dengan tangan kosong, maka ia memberi 50 Lontar Sihir secara percuma pada saudagar. Ia juga memberi panduan dan cara pemakaiannya.


Saudagar sangat berterimakasih dan berkata akan membayar mahal lontar-lontar sihir ini, tetapi Mantingan menolaknya lagi. Mantingan tidak menjual Lontar Sihir pada saudagar, dan akan merasa tidak enak jika diperlakukan seperti itu.


Maka sore ini, hubungan saudagar dan Mantingan menunjukkan perkembangan yang sangat bagus, buktinya saudagar mengundang Mantingan untuk makan malam di kedai pinggir jurang itu. Mantingan mau menolak untuk ketiga kalinya, tetapi saudagar bersikeras sehingga Mantingan hanya bisa menerimanya.


“Jangan lupa ajak perempuan yang bersamamu itu,” kata saudagar sebelum berpisah dengan Mantingan.

__ADS_1


Masih di belakang jendela dengan secangkir teh di tangan, Mantingan menghela napas panjang.


__ADS_2