Sang Musafir

Sang Musafir
Bergerak Menuju Dermaga


__ADS_3

MANTINGAN mengerutkan dahi. Ia tak pernah mengira sebelumnya bahwa perbincangan itu akan menyulut sedikit banyak kemarahan Bidadari Sungai Utara.


“Saudari, lupakan ini. Mari kita selesaikan urusan di sini, mungkin saja yang lain sudah menunggu kita.”


Ketika tangan Mantingan terulur untuk meraih gagang pintu, Bidadari Sungai Utara bergerak lebih cepat menangkapnya. Mantingan tidak melawan tetapi tetap memberi tatapan pada gadis itu dengan maksud mempertanyakan maksud dari tindakannya. Bidadari Sungai Utara pula menatapnya tajam-tajam.


“Daku tidak ingin menyesal seumur hidup. Daku akan menyatakan sesuatu kepadamu.”


Mantingan tetap diam, tetapi jantungnya tiada mau menenangkan diri. Berdebur kuat. Sekiranya ia telah mengetahui apa yang akan dinyatakan oleh Bidadari Sungai Utara!


Bidadari Sungai Utara pun diam untuk sementara. Sebab betapa pun, diketahuinya bahwa Mantingan ingin menghindari segala perkara yang menyangkut tentang cinta, dan ia menghargai itu. Tetapi gadis itu tidak ingin menyesal dalam sisa hidupnya jikalau tidak menyatakan perasaannya kepada Mantingan.


Setelah lama saling terdiam, Bidadari Sungai Utara menghela napas panjang sebelum membuka suara.


“Daku tidak menuntut apa pun darimu, tetapi harus kukatakan bahwa daku telah jatuh hati kepadamu.” Gadis itu perlahan melepaskan cengkeramannya pada lengan Mantingan. “Dikau lebih baik melupakan perkataanku barusan. Semata-mata daku berkata begitu adalah agar tidak menyesal di masa mendatang.”


Mantingan menatap gadis itu dengan takzim sambil menganggukkan kepala. “Kuhargai perasaanmu, Sasmita. Tetapi maafkanlah, daku tidak bisa menyatakan sesuatu pun kepadamu, sebab memang tidak ada perasaan.”


Bidadari Sungai Utara menganggukkan kepalanya pula, bahkan sambil tertawa kecil. Terdengar amat pedih suara tawanya itu.


Mantingan tidak membalas lagi, ia segera mendorong gagang pintu kamar Kana yang nyatanya tidak terkunci itu. Terlihatlah sosok Kana yang tengah mengikat bundelannya, sedangkan Kina tampak sedang membantunya.


“Apakah semuanya sudah siap?” Mantingan membuka suara.


“Sudah!” Kana mengangkat bundelan besar itu ke pundaknya. “Tetapi diriku lebih banyak membawa kitab-kitab sastra. Sedangkan untuk pakaian, daku memilih untuk tidak membawanya terlalu banyak. Apakah itu tidak mengapa, Kakanda?”

__ADS_1


Mantingan mengangguk sekali lagi. Menurutnya, Kana sudah mengambil keputusan yang tepat. Ia beralih pada Kina di sebelah Kana. “Kina, apakah sudah dipastikan bahwa tidak ada barangmu yang tertinggal?”


Kina hanya mengangguk tanpa membalas. Air wajahnya pun tampak tidak ceria sama sekali saat ini. Namun, Mantingan menganggap bahwa hal itu memang wajar untuk anak seusianya yang menolak berpisah, ia memilih untuk tidak mempermasalahkannya.


“Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang.”


Mereka berjalan bersama dengan membawa bundelannya masing-masing. Namun tentu saja, Mantingan membawa tiga bundelan di punggungnya; dua bundelan ialah milik Bidadari Sungai Utara, dan satu yang tersisa ialah miliknya sendiri.


Mantingan memang ingin langsung berkelana selepas mengantarkan Bidadari Sungai Utara. Mencari Kembangmas. Meninggalkan barang di penginapan juga bukan pilihan yang bagus. Kendati demikian, terdapat keinginan kecil yang terselip di balik maksud membawa bundelannya itu, yakni untuk dapat pergi ke Champa bersama Bidadari Sungai Utara jika dirinya berubah pikiran di tengah laut nanti.


Memang keinginan itu amatlah sangat kecil. Bahkan dapat saja dianggap sebagai pikiran angin, yang selintas lalu dalam sekejap mata. Tetapi, memang tidak dapat dibantah bahwa terdapat keinginan untuk mengubah keinginan itu menjadi bukan lagi keinginan semata melainkan menjelma menjadi sebuah kenyataan.


Pada intinya, Mantingan menyiapkan diri untuk dapat mengembara ke tempat mana pun.


Kabar tentang keberangkatan Bidadari Sungai Utara pasti akan tersebar dengan sangat cepat sebentar lagi. Namun, begitulah yang memang diharapkan Mantingan beserta Perguruan Angin Putih dan Tarumanagara.


Mereka bergerak keluar dari penginapan itu menuju ke arah dermaga dan bukannya Padepokan Angin Putih. Ketua Rama memberikan pesan kepada Mantingan untuk langsung bergerak ke dermaga serta melarangnya untuk berkunjung ke Perguruan Angin Putih.


“Tempat ini telah diawasi. Jangan menunda waktu lebih lama lagi,” kata pria paruh baya yang merupakan pimpinan tertinggi Perguruan Angin Putih itu, “atau serangan akan datang ke pelabuhan ini dengan sangat cepat dan secara besar-besaran. Kapal Kelewang Samodra telah disiapkan untuk langsung membawa kalian menjauh dari pelabuhan.”


Pada saat itu Ketua Rama juga menjelaskan bahwa beberapa kapal perang Tarumanagara, lengkap dengan pendekar-pendekar ahli di dalamnya, telah membuang sauh di dekat pantai. Kapal-kapal itu akan tampak seperti kapal dagang biasanya dari kejauhan, tetapi jika dari dekat, maka akan tampak betapa lambung kapal itu telah dilapisi baja tebal!


Dua kelebatan bayangan turun dari atas langit. Mantingan tidak sedikitpun membuat gerakan yang serta-merta, sebab telah diketahuinya bahwa dua kelebat bayangan itu bukanlah musuh.


Dua sosok orang berpakaian serba putih dengan topeng di wajahnya berjalan mengiringi rombongan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara. Merekalah yang merupakan dua sosok kelebat bayangan turun dari langit itu.

__ADS_1


Pelabuhan masih dapat dikatakan cukup ramai dengan kehadiran para pedagang kelana yang membuka gerai di sana, sehingga betapa pun mereka dibuat terkejut ketika melihat rombongan Bidadari Sungai Utara berjalan dengan membawa bundelan-bundelan besar. Jelas saja mengisyaratkan bahwa gadis itu akan berlayar malam ini pula!


Beberapa orang mulai berbisik-bisik; beberapa lainnya memandangi Bidadari Sungai Utara lamat-lamat dengan harapan tidak akan pernah melupakan sosok penuh keindahannya; beberapa lainnya menatap dengan sedih dan kecewa; dan beberapa lainnya bahkan berkelebat ke dalam kegelapan!


Mata Mantingan tiba-tiba melebar. Didengarnya suara desiran angin yang melesat teramat cepat ke arah Bidadari Sungai Utara. Maka bergerak tangannya dengan kecepatan yang melebihi cepat, hingga ditangkapnya dua bilah pisau terbang yang jika tidak dihentikan maka akan menancap pada kepala Bidadari Sungai Utara.


Gerakan Mantingan yang begitu cepat hingga di mata orang awam akan terlihat bagaikan sedang menepuk nyamuk saja itu tampak dengan jelas oleh dua Pasukan Topeng Putih di belakangnya.


Salah satu dari mereka mengiriminya bisikan yang diantar oleh angin. “Tetap berjalan, Saudara Man. Serangan-serangan seperti itu masih dapat ditanggulangi.”


Mantingan tersenyum kecut meskipun ia menyetujuinya. Jikalau serangan jarak jauh semacam itu memang dapat ditanggulangi, lalu mengapakah dua pendekar dari Pasukan Topeng Putih itu tidak bergerak untuk menghalau dua pisau terbang yang tadi menyasar batok kepala Bidadari Sungai Utara?


Apakah mereka menumpu segala urusan pengamanan Bidadari Sungai Utara pada Mantingan yang telah jelas memiliki tingkat kemampuan yang jauh lebih tinggi dari siapa pun yang ada di sana?


Bidadari Sungai Utara pun sebenarnya terkejut pula ketika dirasakannya tangan Mantingan berkelebat cepat ke belakang kepalanya. Gadis itu segera mengetahui betapa dirinya baru saja diserang setelah melihat kilauan benda logam di genggaman tangan Mantingan.


Kendati demikian, Bidadari Sungai Utara memilih untuk melanjutkan perbincangannya dengan Kana dan Kina. Seolah tidak terjadi apa pun barusan. Dengan Mantingan yang ada di sisinya, Bidadari Sungai Utara merasa tidak perlu mengkhawatirkan apa pun jua.


___


catatan:


Like, komen, dan vote-nya jangan kasih kendur, biar update pula tiada kendur.


__ADS_1


__ADS_2