Sang Musafir

Sang Musafir
Persoalan Kana dan Kina yang Tak Kunjung Selesai


__ADS_3

BIDADARI SUNGAI Utara mengangguk tanda setuju. “Dan kalian bisa mengunjungi diriku kapan saja di rumah Ibu Wira. Daku akan menjumpai kalian jika tidak ada orang sakit yang harus kulayani.”


Akan tetapi, Kana dan Kina tampak tidak puas dengan putusan itu. Mereka berusaha melupakan masa lalu mereka yang kelam dengan cara menjodohkan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara, berupaya menghadirkan ayah-ibundanya melalui Mantingan dan Bidadari Sungai Utara. Akan tetapi, upaya mereka telah berbuah kegagalan. Barang tentu itu membuat mereka kecewa.


“Mari kuantarkan sampai ke depan gerbang, Saudari.” Mantingan beranjak berdiri dari kursinya. “Kana, Kina, apakah kalian mau ikut?”


“Tidak mau,” jawab Kina ketus, sedangkan Kana hanya menggelengkan kepalanya.


Saat itu Mantingan tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya menghela napas panjang.


***


“Perkataan mereka baiknya jangan terlalu dimasukkan ke dalam benak, Saudari.”


MANTINGAN MEMBUKA percakapan saat ia melintasi kebun bunga bersama Bidadari Sungai Utara. Gerbang rumah masih terpaut jauh, sehingga memungkinkan untuk melakukan percakapan selama di perjalanan.


“Daku hanya khawatir mereka akan kecewa.”


Mantingan menggeleng pelan. “Mereka, mereka telah terbiasa menghadapi kekecewaan dan bisa melupakannya sesegera mungkin.”


Baik Mantingan maupun Bidadari Sungai Utara melambatkan langkah untuk memperpanjang percakapan mereka.


“Mereka harus menemukan sosok pengganti orangtuanya, Saudara. Jika tidak begitu, daku khawatir Kana dan Kina salah memilih jalan hidup.”


“Diriku juga mengkhawatirkan hal yang sama,” kata Mantingan sambil memandangi tanaman-tanamannya yang dari tunas kini tumbuh menjadi tumbuhan dewasa. “Kurasa Saudari adalah sosok pengganti yang tepat untuk mereka berdua.”


“Mereka lebih dekat dengan dikau, Saudara.”

__ADS_1


“Tetapi usiaku bisa jadi tidak lama lagi.” Mantingan berhenti memandangi tanamannya, kini memasang pandangannya pada wajah Bidadari Sungai Utara yang tertutup cadar.


“Itu hanya perkiraan Saudara saja. Bagaimanakah jika ternyata penawar Racun Tidak Bernama berhasil ditemukan dan dikau mendapat umur panjang?” Bidadari Sungai Utara tidak masalah Mantingan menatap wajahnya. Bahkan ia menatapnya pula.


“Jika itu terjadi, aku sangat bersyukur ....”


“Dan jika itu terjadi, Kana dan Kina akan lebih aman bersama dikau.”


“Tetapi mereka lebih membutuhkan seorang perempuan sedaripada pria, itulah yang ada dalam diri Saudari.”


"Orangtua yang sewajarnya terdiri dari pria dan perempuan, itu tidak bisa dipisahkan.”


“Daku tahu.”


“Dan kita tidak bisa disatukan.”


Senyap. Selain angin pagi yang riuh membawa udara dingin dan suara langkah kaki, hampir tidak ada suara lain. Keduanya terdiam cukup lama. Mereka tidak siap mengasuh Kana dan Kina, itulah kenyataan yang harus mereka terima. Keduanya sadar, masih ada tujuan yang mesti tergenapi. Kana dan Kina hanyalah anak-anak yang tidak sengaja ditemukan dalam perjalanan, namun merupakan ujian yang cukup berat untuk dihadapi keduanya.


“Saudari, apakah sebenarnya engkau menyukai keberadaan mereka? Jawablah pertanyaanku dengan jujur.”


Bidadari Sungai Utara menarik napas sejenak sebelum menjawab, “Daku sangat senang. Hanya mereka yang mampu membuatku senang selama di Javadvipa. Saat bertemu mereka, aku merasa seluruh beban di punggungku terlepas. Dan saat berpisah dengan mereka, aku merasa beban di punggungku berkurang banyak. Daku merasa garis jodohku ada di dalam diri mereka mereka.”


Mantingan menghentikan langkah. “Kalau begitu, bawalah mereka ke Champa.”


Bidadari Sungai Utara turut menghentikan langkahnya. Membalas tatapan Mantingan dengan mata lembut nan sayu.


“Daku sangat ingin melakukannya, namun daku tidak berani mempertaruhkan keselamatan mereka selama di perjalanan. Seandainya Saudara ingin tahu, daku selalu ingin mereka ada bersamaku setiap waktu. Naluriku sebagai seorang perempuan mengatakan untuk mengasuh dua anak malang hingga mereka menjadi sosok yang berguna bagi sesama.”

__ADS_1


“Bawalah mereka.” Mantingan berkata. “Menikahlah engkau bersama kekasihmu. Jadikanlah mereka anak angkat kalian. Daku malu mengatakan ini, tapi lakukanlah itu demi diriku yang payah ini.”


Bidadari Sungai Utara terdiam beberapa saat.


“Daku tahu, Saudari tidak mau mempertaruhkan keselamatan mereka. Dan daku tahu betul bahwa perjalanan Saudari kembali ke Champa bukanlah perjalanan yang aman. Maka dari itulah, kuperintahkan Saudari untuk melatih diri. Belajarlah ilmu pelayaran, agar yang memegang kemudi kapal adalah Saudari sendiri dan bukan orang lain. Engkau tahu betul, bahwa manusia sulit dipercaya, bahkan diriku sendiri sulit dipercaya.”


Angin kencang mengibarkan rambut panjang Mantingan dan Bidadari Sungai Utara. Menerbangkan sedikit debu kering yang belum diguyur hujan. Melambaikan dedaunan pohon, kadang menerbangkan beberapa di antara mereka. Lonceng angin mengeluarkan bebunyian temaram di seantero desa.


“Daku akan melakukannya, Saudara,” kata Bidadari Sungai Utara di antara riuh angin. “Demi mereka dan demi diri kita, daku akan melakukannya.”


Mantingan tentu saja senang, tetapi ia mesti bertanya sekali lagi, “Apakah engkau terpaksa, Saudari?”


“Tidak.” Bidadari Sungai Utara menggeleng pelan dengan senyumnya di balik cadarnya. “Ini kulakukan juga untuk diriku sendiri. Saudara tidak perlu khawatir lagi. Semua akan baik-baik saja. Termasuk dirimu. Dikau akan baik-baik saja.”


Mantingan tersenyum sebelum akhirnya mengangguk. Kembali mereka meneruskan perjalanan menuju pintu gerbang, yang tak pernah terasa selama itu.


***


BERMINGGU-MINGGU yang Mantingan lalui di Desa Lonceng Angin berjalan dengan begitu hikmat. Mantingan mulai mempelajari bagian kedua dari Kitab Teratai setelah merasa cukup mempelajari bagian pertama. Selama beberapa hari itu pula, tanaman-tanaman Mantingan mulai menumbuhkan bunga kuncup. Mantingan juga mempersiapkan bangunan tokonya untuk menjual bunga-bunga selepas panen nanti.


Dalam beberapa waktu lenggang, Mantingan memantrai Lontar Sihir yang akan dijualnya juga. Namun untuk saat ini, ia tidak lagi menciptakan mantra sihir baru. Perlu diakui olehnya, membuat mantra sihir sungguh tidak dapat dilakukan di tengah kesibukan. Pembuatan mantra menuntut perasaan dan pemusatan pikiran yang besar. Sedangkan orang sibuk rata-rata tidak berperasaan.


Selama itu, Kana dan Kina juga mengalami perkembangan yang pesat. Mantingan membelikan karya-karya sastra untuk Kana pelajari. Sedangkan untuk Kina, secara khusus setiap petang hari, Mantingan akan datang ke kamar anak itu dan mengajarinya membaca.


Kana setelah membaca puluhan karya sastra mengalami perubahan dalam gaya bahasa dan kosa-katanya. Ia berbahasa selayaknya seorang ahli sastra yang bersahabat dengan sajak-sajak. Kepribadian anak itu juga menjadi sedikit lebih tenang dan berwibawa. Membuat Kina tidak sabar untuk cepat-cepat bisa membaca.


Pernah suatu ketika, Mantingan bertanya pada Kana, “Daku membaca banyak sastra, tetapi tidak jadi sepertimu yang pandai berpuisi dan memainkan kata. Apakah yang sebenarnya yang dikau baca, Kana?”

__ADS_1


“Aduhai, Kaka Mantingan yang tengah bimbang, sesungguhnya dikau janganlah bergulana. Semua yang daku baca adalah pemberian dari engkau. Tentulah engkau telah kasihkan daku kitab sastra yang terbaik.”


Usaha keras Bidadari Sungai Utara dan Wiranti dalam menemukan penawar untuk Racun Tidak Bernama juga mengalami peningkatan yang boleh dikata tidak sedikit. Saat ini, Mantingan sudah bisa menggunakan tenaga dalamnya walau tidak sebanyak yang biasa ia gunakan. Namun, itu merupakan perkembangan yang menarik. Usaha mereka mulai menemui titik terang seiring dengan bertambahnya hari.


__ADS_2