
“Apa-apaan ini, Kakanda? Mengapakah Kakanda membiarkan orang itu memeras uangmu begitu saja? Kita sudah membayar di pintu masuk, mengapa kita harus membayar di sini pula?”
Mantingan memberi isyarat pada Kana untuk mengecilkan suaranya. Mereka hampir menjadi pusat perhatian ratusan tamu lelang yang ada di dalam ruangan itu. Kana lekas-lekas membungkam mulutnya, hampir saja melupakan bahwa mereka sedang melangkah menuruni tangga di antara tribun tamu.
Keduanya terus berjalan menuruni tangga. Mereka mendapatkan dua buah bangku bagian depan. Namun tidak berarti menjadi yang paling depan, sebab untuk mencapai panggung lelang mereka masih harus melewati dua barisan bangku lagi.
Setelah benar-benar menduduki bangkunya, barulah Mantingan berucap.
“Jika ruangan lelang ini tidak dikenakan biaya tambahan, maka bagi mereka yang tidak berniat untuk membeli barang lelang tidak perlu berpikir dua kali untuk masuk ke sini. Jika itu terjadi, bukankah ruangan ini akan dipenuhi orang-orang yang tidak ingin membeli barang sama sekali, sedang yang benar-benar ingin membeli barang lelang justru berada di luar sebab tak mendapatkan tempat?”
Kana hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda dirinya paham. Meski dia benar-benar memahami bahwa hal tersebut memang dibutuhkan, tetapi tetap saja dia tidak merelakan sekeping emas yang telah Mantingan berikan pada penjaga di depan pintu masuk lelang.
Untuk mencairkan suasana, Mantingan memutuskan untuk berbincang-bincang ringan dengan Kana.
Mereka membahas banyak hal yang benar-benar tidak berat. Selayaknya makanan enak apa yang disukai, pohon seperti apakah yang nyaman untuk berteduh, danau seperti apakah yang memiliki banyak ikan di dalamnya, dan semacamnya.
Perbincangan seperti itu, meskipun tidak penting, tetapi menambah keharmonisan dalam sebuah hubungan. Jikalau yang dibincangkan selalulah merupakan pembicaraan sungguh-sungguh berat, maka hubungan akan menjadi canggung.
Selama mereka berbincang, tribun lelang lambat laun dipenuhi oleh para tamu yang baru datang. Tanpa disadari keduanya, balai lelang tidak menjadi sunyi lagi. Berubah menjadi bising oleh bincangan-bincangan para tamu lelang.
Memanglah suasana telah menjadi teramat ramai. Menyerupai perayaan. Hampir seluruh bangku telah ada yang menduduki. Dan hampir semua tamu membawa istri-istri atau paling tidak kawannya ke dalam balai lelang, yang akhirnya membikin suasana semakin ramai karena tidak mungkin jika mereka membisu tanpa bercakap-cakap.
__ADS_1
Hingga tibalah saat di mana sebuah canang dipukul kuat-kuat, tanda bahwa lelang akan segera dimulai. Dalam seketika, keramaian berganti menjadi keheningan. Tamu-tamu telah lama menantikan lelang yang akan dipandu oleh pembawa acara istimewa hari ini.
Mantingan dan Kana pun terdiam setelah sebuah suara canang menggelegar mengisi balai lelang. Mantingan segera memeriksa apakah uangnya cukup untuk membeli seluruh pesanan Bidadari Sungai Utara. Setelah diperiksa, Mantingan menemukan bahwa saat di dalam pundi-pundinya ada setidaknya 200 keping emas.
Sekali lagi canang dipukul, sebuah suara yang memiliki arti bahwa lelang benar-benar akan dimulai tanpa perlu berlama-lama lagi. Mantingan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Bersantai barang sejenak, sebab sebuah lelang sangat mampu membuat tamu-tamunya tidak dapat bersantai meskipun hanya menonton saja, apalagi jika mengikuti lelangnya?
Pintu di belakang panggung terbuka perlahan. Barang sebentar kemudian, sesosok perempuan cantik keluar dari dalam ruangan di balik pintu tersebut. Menampilkan senyum lebar pada para hadirin lelang.
Sesaat setelah kemunculan perempuan bertampang muda itu nan cantik itu, balai lelang dipenuhi gemuruh tepuk tangan yang meriah. Beberapa bahkan melempar suitan panjang serta pula bersorak penuh suka cita.
Gadis itu berhenti di tengah panggung. Bibirnya yang manis tiada henti menyuguhkan senyuman manis. Ketika matanya tengah memandang ke arah tamu-tamu lelang, matanya itu berhenti ketika tanpa sengaja melihat sosok Mantingan. Senyumannya tiba-tiba saja memudar.
Mantingan pun sedari awal telah termenung. Tak percaya. Awalnya, dahi Mantingan berkernyit penuh keterkejutan. Namun selepas kemudian, Mantingan dapat menemukan jawaban yang masuk akal untuk menjawab pertanyaan saat ini.
Namun betapa pun, gadis itu agaknya menyadari bahwa dirinya masih memandu acara lelang. Ratusan orang tengah memperhatikan dan menantikannya untuk segera memulai lelang. Dia tidak bisa mencampur urusan pribadi ke dalam pekerjaannya.
Maka kembalilah dipasang senyum lebarnya kepada para hadirin. Dengan terpaksa, ia melepas pandang dari sosok Mantingan.
“Selamat pagi, Tuan-Tuan dan Puan-Puan yang terhormat! Sahaya, Dara, berjanji akan menyajikan lelang menakjubkan untuk para hadirin sekalian!”
Kembali balai lelang dipenuhi riuh tepuk tangan dan sorakan. Mantingan hanya tersenyum kecil.
__ADS_1
“Kakanda, bukankah itu adalah wanita yang tadi engkau pandangi?”
“Ya, sepertinya begitu.” Mantingan tertawa pelan. Lalu tawanya menghilang begitu saja. “Kana, aku tidak memandanginya.”
Gadis di tengah panggung itu kembali mengeluarkan suara, “Para hadirin sekalian, sebelum sahaya memulai lelangnya, sahaya meminta sedikit waktu untuk sekadar memberitahukan sebuah kabar, yang mungkin sahaja masih belum diketahui oleh beberapa hadirin yang hadir di sini.” Dara menarik napas dalam-dalam. “Seorang Dara telah merubah, menjadi sosok wanita yang jauh-jauh lebih baik daripada sebelumnya. Dara tidak lagi menjadi wanita murahan; Dara menjadi wanita yang memiliki harga diri. Tentunya perubahan sebesar ini bukanlah tanpa sebab ....”
Mantingan menahan napasnya. Pula melebarkan matanya. Baru saja ia ingin mengangkat tangannya untuk menghentikan kawan lamanya itu, Dara telah terlanjur melanjutkan perkataannya.
“Pada lelang-lelang sebelumnya, Dara sudah mengatakan bahwa ada seseorang yang mampu mendorong diri Dara keluar dari jeratan dunia penuh dosa, sekarang orang itu ada di ruangan ini.” Tetiba, mata Dara menyorot Mantingan. Sebelah tangannya terangkat ke arah Mantingan. “Dialah Pahlawan Man.”
Mantingan menyeringai. Ia telah melepaskan capingnya saat memasuki bangunan ini, sehingga wajahnya tak ayal terpampang jelas. Tentu tidak sempat bagi Mantingan untuk memasangnya kembali.
Sedangkan itu, seluruh perhatian tamu terarah kepada Mantingan. Bahkan para tamu istimewa pun tak segan-segan memberi perhatiannya pada Mantingan. Betapa selanjutnya terdengar decak kagum dan bisikan-bisikan dari para tamu. Mantingan benar-benar menjadi pusat perhatian seluruh tamu di balai lelang saat ini.
Orang yang duduk di sebelah Mantingan pun tak segan-segan menjawat tangannya sebelum berkata dengan penuh semangat, “Engkau adalah Pahlawan Man? Sungguh sebuah keberuntungan besar dalam hidupku dapat bertemu dengan orang seperti dirimu di sini.”
Begitu pula dengan orang uang duduk di samping Kana, tanpa segan menyambar tangan Mantingan yang sebelahnya. “Engkau merupakan Pahlawan Man? Mengapakah engkau bisa muncul di kota ini? Ikutlah bersama rombonganku jika engkau sedang berjalan ke arah timur.”
Mantingan hanya menanggapi mereka dengan senyuman canggung. Sementara itu, dikirimkanlah Ilmu Membisik Angin kepada Dara.
“Dara, daku sangat senang dapat bertemu denganmu kembali. Tetapi bisakah kau tidak menyinggung soal ini lagi di tempat ini?”
__ADS_1
Mantingan tahu bahwa dirinya tidak bisa menyalahkan Dara. Justru sebaliknya, Mantingan merasa bahwa ini adalah salahnya sendiri. Untuk orang yang sedang mengikuti sebuah perjalanan rahasia, Mantingan terlalu ceroboh sebab sama sekali tidak menyembunyikan jati dirinya. Inilah yang membuat Dara dapat dengan mudah mengenalinya. Bukankah itu sangat wajar?