Sang Musafir

Sang Musafir
Pembunuhan Kesembilan


__ADS_3

Hal itu tidak akan dibiarkan Mantingan. Dengan bergerak mundur, Mantingan mengimbangi kecepatan lari mereka. Kini dalam pandangan mata Mantingan, semuanya tampak bergerak melambat.


Ia membeliakkan mata. Tidak percaya bahwa dirinya berhasil menembus pada kecepatan melebihi yang kecepatan kilat. Jika lima pendekar itu bergerak secepat kilat, maka Mantingan bergerak melebihi kecepatan kilat. Kini Mantingan bisa melihat gerakan lawan-lawannya menjadi gerakan-gerakan yang lamban, dan dirinya bisa bergerak cepat untuk menghabisi mereka!


Akan tetapi, hal itu tidak semudah yang Mantingan bayangkan. Ketika dirinya mencapai pada gerakan sangat cepat, ia harus bisa menyeimbangkan dan mengendalikan geraknya. Atau malah, akan terjadi sesuatu yang sangat celaka. Jika saja Mantingan terpeleset dan membentur tanah, pastilah hancur tubuhnya berkeping-keping. Dalam kecepatan melebihi kilat, membenturkan diri pada tanah adalah hal yang sangat mematikan.


Mantingan harus berhati-hati. Sangat berhati-hati. Pula harus mendapat penguasaan diri yang baik.


Tidak untungnya, Mantingan tak mempelajari ilmu gerak mata selain Ilmu Mata Elang saja. Lingkungan di sekitarnya terlihat sebagai bayangan kabur, itu disebabkan karena Mantingan bergerak sangat cepat. Andai saja ia menguasai ilmu yang lebih tinggi, maka penguasaannya terhadap gerak tubuh dan lingkungannya akan lebih baik.


Mantingan bergerak sekali sentak. Membabat musuhnya satu persatu dengan desau pedang membentur angin. Dalam serangan Mantingan itu, lima orang pendekar masih bisa melihat bagaimana Mantingan begitu cepatnya bergerak dan memapas leher mereka satu persatu, tetapi tiada daya mereka untuk melawan atau menangkis sekalipun.


Mantingan menekankan tenaga dalam pada kakinya. Mengupayakan yang terbaik dari ilmu meringankan tubuh. Lalu mendarat menyamping dengan batang pohon sebagai pijakan. Sedang lima pendekar itu kehilangan kepala juga kendali atas tubuhnya, hingga tubuh mereka terseret maupun terpental di tanah sebelum akhirnya berhenti secara sempurna. Kepala mereka yang lepas itu telah berpantulan, entah ke mana saja.


Mantingan kembali memasang sarung pedang yang sedari tadi dipegang di tangan kirinya. Sebelum itu, Pedang Kiai Kedai telah dibersihkan terlebih dahulu pada batang pohon yang dipijaknya. Mantingan lalu melompat turun. Menghela napas panjang, Mantingan sebenarnya tidak menyukai hal ini.


Tentu ia ingat janjinya pada Kenanga. Bahwa dirinya akan berkelana membawa kedamaian. Tidak akan memakai kekerasan. Tetapi bukan hanya kekerasan saja ia yang ia pakai sekarang, bahkan Mantingan telah membunuh sembilan manusia selama hidupnya.


Mungkin Kenanga akan kecewa besar terhadapnya, tetapi sudah dipastikan orang tua Mantingan akan kecewa besar terhadap Mantingan. Di desanya, membunuh orang dianggap sebagai dosa paling besar, bahkan di desa-desa lainnya pun seperti itu.

__ADS_1


Ataukah mungkin, manusia biasa memang selalu menganggap pembunuhan sebagai dosa paling besar? Mantingan dulu juga beranggapan seperti itu. Itu adalah saat sebelum dirinya menjadi pendekar. Kini ia telah masuk ke dunia persilatan. Pembunuhan dianggap wajar, bahkan dianggap keharusan. Sangat berbeda dengan anggapan orang-orang biasa.


Kiai Guru Kedai sering mengingatkan Mantingan. Jika dirinya masuk ke dalam dunia persilatan, maka harus siap terbunuh juga membunuh. Dunia kependekaran penuh dengan darah. Jalannya selalu basah oleh darah. Mantingan bisa menjadi pendekar saat ini, tetapi itu karena ia menginjak daerah pendekar lain.


Dara menghampiri Mantingan yang menunduk penuh penyesalan itu. Tangannya bergerak meremas bahu Mantingan. Menyalurkan kekuatan. Walau Dara sendiri masih belum pulih keterkejutannya dari pembunuhan yang dilakukan Mantingan, tetapi ia tetap tersenyum. Biarpun yang terlihat adalah senyum sedih, itu tetap saja memberikan kekuatan pada Mantingan.


“Mantingan, yakinlah bahwa yang engkau lakukan itu adalah membela yang benar. Pendekar-pendekar seperti itu jika dibiarkan hidup akan merajalela membuat kekacauan.” Katanya pelan, namun penuh penekanan.


Mantingan mengangkat pandangannya, melihat Dara turut bersedih atas apa yang terjadi padanya. Lalu ia mengangguk. Memang sedari awal ia yakin, bahwa yang dilakukannya itu untuk membela kebenaran. Bukan tidak mungkin Mantingan menyelamatkan nyawa orang lain dengan membunuh ketujuh pendekar itu. Namun, tetap saja Mantingan tidak terbiasa membunuh. Terlebih membunuh tujuh nyawa sekaligus dalam satu waktu.


Dara berkata sekali lagi. “Mari kita dirikan pancaka untuk mereka. Biar bagaimanapun, tubuh mereka adalah tubuh pendekar."


Mantingan mengangguk sekali lagi. Sebagai seorang pendekar yang menang bertarung, jasad lawannya telah menjadi tanggungjawabnya. Pendek kata, Mantingan harus membakar jasad-jasad itu agar mereka sempurna sebagai pendekar.


Tujuh pancaka itu terbakar bersamaan dengan tujuh jasad di atasnya. Mantingan menatap nanar api yang berkobar dari tujuh sumber tersebut. Dara berdiri di sampingnya, turut memandangi tujuh pancaka terbakar itu.


“Dara, aku antarkan kau sampai ke kota.” Mantingan berkata tanpa melepas pandangan dari api pancaka.


“Bolehkah aku di sini satu malam saja?” Dara menoleh pada Mantingan, menatapnya penuh harapan. “Aku tidak sanggup menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari kepala penjagaku.”

__ADS_1


Mantingan mengangguk pelan beberapa kali dan tersenyum hangat. “Tentu saja. Kau bisa beristirahat di dalam tendaku.”


“Lalu kau sendiri?”


Mantingan tersenyum. “Aku tidak ingin tidur, duduk di depan api unggun sambil minum teh, itu cukup baik.”


Dara tidak tahu harus menjawab apa. Karena sebenarnya, ia sama sekali tidak takut menghadapi kepala penjaga yang bertugas menjaga dirinya. Ia bahkan ingin segera menemui kepala penjaga dan menceritakan apa yang terjadi, agar dia lebih berhati-hati memilihkan penjaga untuknya. Tetapi, ia di sini untuk Mantingan. Memastikan keadaan Mantingan aman-aman saja. Hal itu dilakukan bukan tanpa pengorbanan. Dara harus rela melewatkan acara lelang nanti malam, yang seharusnya dibawakan oleh dirinya.


Hari masih siang. Pertarungan panjang yang terjadi tadi sebenarnya bukan pertarungan yang lama, karena pertarungan dilakukan dengan kecepatan yang tak kasat mata. Tak kasat mata di sini berarti gerakan itu terlalu cepat untuk dapat dilihat dengan jelas. Bagi Mantingan, tetap saja pertarungan itu merupakan pertarungan yang panjang, ia sendiri yang mengalaminya.


“Aku berhutang banyak padamu,” kata Dara kemudian.


“Aku lebih berhutang.” Mantingan mengangkat pedangnya setinggi dada. “Tanpa pedang ini, mungkin aku tidak akan memenangkan pertarungan.”


Dara tertawa kecil. “Ya, kau berhutang tidur malam bersamaku. Kemarin lalu, engkau hanya tidur sampai tengah malam saja, sebelum menghilang tanpa jejak selama tiga tahun lamanya.”


Mantingan mengangguk. “Aku berada dalam masa pelatihan selama tiga tahun itu.”


“Hanya dalam tiga tahun dan engkau bisa mengalahkan mereka yang berlatih sepuluh tahun lamanya, itu mengesankan.”

__ADS_1


“Tidak ada yang cukup mengesankan jika ilmuku ini tidak digunakan untuk membela kebenaran.” Mantingan kembali menundukkan kepala.


Melihat itu, Dara kembali meyakinkan Mantingan. “Kau baru saja melakukan hal itu, percayalah."


__ADS_2