Sang Musafir

Sang Musafir
Keraguan Bidadari Sungai Utara


__ADS_3

“Anggukanmu itu begitu yakin sekali, seolah-olah aku tampil seperti kodok bisulan saat ini.”


MANTINGAN TIDAK begitu sadar akan jawabannya, “Ya, memang seharusnya begitu. Sudah tepat sasaran.”


Bidadari Sungai Utara membeliakkan mata ke arah Mantingan. “Apa yang kaukatakan? Tepat sasaran? Jadi kaumaksud aku ini mirip kodok bisulan?”


Mantingan dalam sekejap mata menyadari kesalahannya, cepat-cepat ia mengibaskan lengan. “Tidak-tidak, bukan begitu. Hanya saja ... memang seharusnya kau tampil jelek, mengingat situasimu saat ini tidak ada salahnya kau tampil jelek, asal kau yakin bahwa kecantikanmu berasal dari dalam.”


Bidadari Sungai Utara mendengus kesal. Meskipun begitu di dalam benak ia senang karena Mantingan telah memujinya. “Kau banyak alasam, tapi biarlah, memang benar perkataanmu. Sekarang, lebih baik kita cepat berjalan. Aku mau menikmati air hangat untuk mandi, daging bakar yang manis dan gurih, serta jangan lupakan tentang kasur hangat dan nyaman.”


Mantingan hanya berdeham sebagai jawaban. Dalam hatinya ia berkata, bahwa Bidadari Sungai Utara harus mengubur keinginannya jauh-jauh jika tidak mau menyesal. Memangnya mereka sedang berada dalam kondisi seperti apa sehingga bisa merasakan kenyamanan yang dijelaskan oleh Bidadari Sungai Utara itu?


Tentu saja Mantingan akan menghindari wilayah perkotaan sebisa mungkin. Jika seandainya nanti harus pergi ke dalam kota, maka itu hanya untuk mengisi ulang perbekalan, dan tentu saja tanpa membawa Bidadari Sungai Utara.


Mantingan merasa dunia persilatan saat ini mulai menunjukkan wajahnya ke muka umum. Pasti akan banyak pendekar yang tersebar di dalam atau bahkan di luar kota. Bahaya terletak pada perkumpulan pendekar muda, mereka yang baru-baru masuk ke dunia persilatan biasanya membutuhkan uang lebih untuk membeli berbagai ramuan, senjata, dan sebagainya. Mereka bersedia menjadi pendekar bayaran, atau mencari buronan secara berkelompok.


Mantingan berharap tidak bertemu dengan kelompok pendekar muda yang miskin di tengah jalan, atau itu akan sulit dilawan. Sekalipun menang, pastinya kematian mereka akan diselidiki oleh pendekar lain, yang berarti sama saja meninggalkan jejak kaki di tanah yang basah.

__ADS_1


Mereka terus menyusuri jalanan serta terus bergerak ke arah barat. Jejak gerobak-gerobak kerbau masih tercetak di jalanan, akan terlihat sangat jelas di tanah yang berlumpur. Bahkan Mantingan sesekali menemukan jejak kaki manusia yang secara tidak langsung mengisyaratkan telah terjadi beberapa kali kejadian gerobak yang terjebak di dalam lumpur.


Maka Mantingan bisa melihat rombongan itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk berjalan sampai ke tujuan, tak terbayang betapa besar ancaman dari perompakan yang harus mereka hadapi.


Tidak mungkin jika yang lewat adalah pedagang biasa. Seorang pedagang tidak akan begitu berani melintasi jalur ini tanpa pengawalan dari pasukan yang kuat. Tidak salah lagi, ini adalah rombongan dari kerajaan. Tetapi bukan rombongan keluarga kerajaan langsung, terlalu besar risikonya membawa seorang raja di jalur seperti ini.


Mungkinkah itu hanya pejabat pemerintahan ataukah rombongan pengangkut perbekalan? Itu masih menjadi tanda tanya yang sebenarnya tidak penting. Namun biarlah Mantingan memikirkannya, hitung-hitung untuk mengisi waktu perjalanan yang masih panjang.


Setelah lama mereka berjalan ke barat, kini sudah waktunya untuk merubah arah kaki berjalan. Berbelok ke utara, Mantingan terlebih dahulu melihat tanda-tanda alam untuk memastikan arah jalan yang ia ambil tidak salah, setelah dipastikan kebenarannya berjalanlah mereka.


Kini kembali mereka berpisah dengan jalanan. Masuk ke dalam hutan yang tinggi semak belukarnya. Kali ini Bidadari Sungai Utara tidak banyak mengeluh walau tak jarang rumput panjang yang menyentuh pergelangan kakinya. Setelah lama berjalan bersama Mantingan, gadis itu telah terbiasa dengan hal-hal yang berbau petualangan.


Begitulah memang, banyak ilmu yang bisa didapatkan jikalau saja selalu dekat dengan Mantingan. Walau pemuda itu tidak berniat berbagi ilmu sekalipun—misalnya, tetap saja orang-orang akan mendapatkan ilmu yang tanpa sengaja tertularkan olehnya.


***


ANGIN MENDAYU pepohonan yang bergoyang malu. Gersak daun yang jatuh beriring dengan desir angin yang bersemilir. Siang itu. Kembali mereka bertemu dengan jalanan, tetapi kali ini jalanan yang mereka lihat lain kondisi, tidak seperti jalan yang pagi tadi mereka jumpai.

__ADS_1


Jalan ini lebih banyak jejak gerobak-gerobak kerbau, kereta kuda, bahkan jejak kaki manusia. Secara tidak langsung memperingati Mantingan dan Bidadari Sungai Utara bahwa mereka sudah dekat dengan kota.


Bidadari Sungai Utara melihat dan menyadari arti marabahaya dari semua jejak yang terpampang di depannya.


Jejak-jejak ini mengingatkan dirinya pada peristiwa pembantai barisan rombongan terakhir yang menjaganya di tanah Java. Bidadari Sungai Utara ingat betapa darah anak buahnya mengalir dan mengisi jejak kaki-kaki kuda para perompak. Maka dia menahan langkah, bahkan saat itu mulai surut mundur.


Mantingan yang berada di depannya tidak menyadari ketertinggalan Bidadari Sungai Utara hingga dirinya tiba di tengah jalan. Saat itu ia tidak lagi mendengar suara langkah kaki Bidadari Sungai Utara dan lalu menoleh ke arah belakang.


Mantingan melihat Bidadari Sungai Utara jauh di belakang, di seberang jalan sana. Berdiri dengan tatapan takut. Telapak tangannya terkepal dan seperti *******-***** sesuatu. Kakinya meringsut mundur perlahan-lahan.


Mantingan sadar apa yang tengah Bidadari Sungai Utara hadapi. Pemuda itu menatap Bidadari Sungai Utara dengan iba. Ia menjulurkan lengannya, tersenyum hangat. “Ada aku, mereka tidak berani apa-apa.”


Bidadari Sungai Utara tidak menjawab kecuali menggeleng pelan, masih dengan tatapan takut. Mantingan tetap menjulurkan tangannya. “Bidadari Sungai Utara dari Champa, kemarilah, tidak ada bahaya di sini. Semuanya baik-baik saja, dan akan terus baik-baik saja.”


Bidadari Sungai Utara kembali menggeleng, kali ini memberi jawaban, “Kau tidak akan mengatakan itu kalau kau bisa menyelamatkanku, bukan?”


“Aku tidak bisa menjamin, tetapi aku berjanji akan berupaya sebaik mungkin.” Mantingan tetap menjulurkan lengannya, masih menyuguhkan senyumnya. “Jalan ini memang panjang, Saudari. Panjang dan seolah tanpa harapan.” Mantingan berkata dengan pandangan pasti, tetapi seolah-olah saja ia berbicara juga untuk dirinya sendiri. “Terkadang kita menemukan sedikit harapan, terkadang harapan itu kandas. Terkadang kita habis alasan untuk melanjutkan perjalanan ini. Tetapi selama masih ada tujuan, alasan apa pun untuk berhenti seolah tidak berarti. Marilah, Saudari, kita tetap berjalan, sampai tujuan tercapai. Di sanalah kita akan selesai.”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara menundukkan kepalanya. Mengambil waktu untuk berpikir. Hening duka cita atas kematian puluhan anak buahnya yang pemberani. Mungkin Bidadari Sungai Utara bisa merelakan kepergian mereka, tetapi harapan yang hampir sirna membuat Bidadari Sungai Utara menjadi ragu untuk kembali melangkah.


__ADS_2