
BERLAKSA-laksa potongan daging besar berbentuk bundar muncul secara tiba-tiba. Langsung memenuhi halaman penginapan itu. Bertumpuk-tumpuk hingga bahkan tingginya telah melebihi atap penginapan.
Chitra Anggini ternganga. Kejutnya bukan tipuan. Belum pernah dirinya melihat tumpukan daging yang sebanyak itu, terlebih lagi dimunculkan secara tiba-tiba tanpa angin maupun hujan, entah rimba!
“Terima kasih telah menyelamatkan diriku malam itu,” kata Mantingan setelah berbalik dan menatap gadis itu dengan senyuman tulus. “Mataku benar-benar terbuka. Dunia persilatan nyatanya sungguh teramat luas. Masih banyak jurus-jurus tingkat langit yang belum kupelajari, termasuk dengan jurus memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain. Aku telah mempelajarinya, dan itu adalah berkat dirimu.”
“Bagaimana bisa ....” Chitra Anggini yang masih tampak tak percaya itu menggeleng pelan. “Mempelajari jurus itu bukanlah perkara mudah, kamu harus menjelma menjadi pendekar beraliran hitam yang sebenar-benarnya hitam pekat. Selain itu, kau membutuhkan waktu yang teramat lama untuk dapat menguasainya. Pendekar-pendekar yang menyerangmu saat itu telah berusia lebih dari seratus tahun, mereka mengabdikan seluruh hidupnya untuk dapat menguasai jurus tersebut, meskipun pada akhirnya tidaklah sempurna. Bahkan, kakakku Kartika telah menyerah terhadap jurus itu setelah belasan tahun mempelajarinya tetapi tidak mendapati hasil. Bagaimana dirimu bisa menguasainya hanya dalam waktu sekejap mata?”
“Tidak dapat kujelaskan kepadamu. Terlalu rumit, dan mungkin tidak bisa dipercaya sama sekali.” Mantingan tersenyum halus sambil menepuk pundak Chitra Anggini yang terbuka. “Sekarang lakukanlah apa yang telah kuminta kepadamu. Dan satu lagi permintaanku: temuilah Munding Caraka, pastikan dia baik-baik saja serta katakanlah bahwa diriku baik-baik juga. Belilah beberapa tanaman herbal. Seluruh uangku masih ada padamu, bukan?”
“Aku masih belum mendapat cukup penjelasan tentang jurus yang berhasil kaukuasai ini, Mantingan.” Chitra Anggini tidak menjawab pertanyaan itu. “Ingin juga aku menguasainya.”
“Haruslah kukatakan bahwa akan teramat sulit bagimu untuk menguasainya, Chitra,” ujar Mantingan dengan enggan. “Seperti yang telah kaukatakan tadi, akan membutuhkan waktu seumur hidup untuk dapat mempelajari jurus ini hingga tingkat mahir. Dengan keadaanmu sekarang, hal seperti itu benar-benar akan terjadiu.”
Chitra Anggini terdiam, sebelum menundukkan kepala dan pada akhirnya mengangguk perlahan. Dirinya berkata, “Itulah yang menjadikanmu pantas sebagai Pemangku Langit. Sekarang kembalilah ke penginapan sebelum terlambat.”
Mantingan segera melesat pergi, meski sungguh diketahuinya bahwa Chitra Anggini masih sakit hati dan merasa bahwa takdirnya tidak adil.
Tentulah pula tidak dapat Mantingan elakkan bahwa orang berbakat akan jauh lebih mudah mencapai langit. Namun, tidak semua orang terlahir berbakat terhadap sesuatu hal. Bukankah dalam ketidakadilan itu, setiap orang selalu berusaha mencapai langit, tak peduli seberapa sia-sia usahanya itu?
Mantingan terus melesat dan melesat. Kakinya menginjak atap-atap bangunan untuk dapat melenting ke atap bangunan lainnya. Dirinya bagai membelah cakrawala yang serba jingga sebab terbias mentari senjakala.
***
SETELAH tiba di Kedai Seribu Cangkir, Mantingan dapat menyadari bahwa yang dimaksud dengan burung dalam surat berbahasa dan beraksara sandi itu bukanlah burung dalam bentuk yang sebenar-benarnya.
Burung-burung itu adalah para wanita penghibur bersuara merdu yang memang selalu datang ke kedai itu setiap matahari hendak tenggelam untuk bernyanyi. Ketika matahari telah benar-benar tenggelam, maka mereka akan berhenti bernyanyi, tetapi tetap melayani pelanggan di dalam kamar.
Kelompok wanita penghibur itu bernama Sepuluh Burung Kutilang Bernyanyi. Suara mereka memang semerdu suara kutilang, dan paras mereka pula seindah kutilang. Kecantikan yang mereka bawakan bagai sungguh tidak memiliki penawar.
Sepuluh perempuan itu selalu berhasil membuat seluruh pelanggan kedai jadi terpikat, sehingga Kedai Seribu Cangkir akan selalu sepi setelah mereka selesai bernyanyi dan mulai menjual diri.
Mantingan tidak menunggu di kamarnya, ia menempati salah satu bangku di kedai itu untuk makan malam. Maka ketika Sepuluh Kutilang Bernyanyi itu memulai pertunjukkan mereka, hanya dirinya sendiri yang masih makan dengan begitu lahapnya, sedang seluruh pengunjung kedai memerhatikan dalam diam dan saksama.
“Bagaimana dia bisa tetap makan di hadapan sepuluh bidadari surga ini?”
“Hanya orang gila yang dapat melakukan itu!”
__ADS_1
“Ah, tidakkah kalian lihat dia masih muda? Tentulah belum merasakan kenikmatan berasmara.”
“Hiraukan dia dan dengarlah sepuluh burung kutilang itu bernyanyi!”
Mantingan tidak menghiraukan bisikan-bisikan para pengunjung kedai itu. Jika perutnya lapar, maka ia akan makan. Peduli apa dengan Sepuluh Burung Kutilang Bernyanyi yang jelas bukan sekumpulan wanita baik-baik?
Lagi pula, ini adalah kedai, tempat di mana setiap orang dapat makan selama bisa membayar. Tidak ada yang dapat melarangnya makan, bahkan ibu pemilik kedai pun mempersilakannya dengan sangat senang. Katanya, “Mungkin ada yang salah dengan otakmu dan pula otak gurumu, tetapi daku selalu suka dengan sikap kalian. Makanlah dikau tenang-tenang, kujamin tidak akan ada yang sampai mengganggumu.”
Tentulah pada saat ini, Mantingan mengenakan caping yang telah dipasang mantra sihir bayang-bayang untuk menyamarkan rupa wajahnya. Sungguh dirinya tidak dapat menjamin tiada orang telaga persilatan yang mengenali wajahnya. Kecuali jika terdapat pendekar yang memiliki ilmu pendengaran tajam setingkat Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang mampu menerjemahkan bunyi menjadi bentuk, maka seharusnya tidak ada yang dapat mengenalinya sebagai Pahlawan Man di tempat itu.
Kecapi dan tabuhan mulai dibunyikan. Sepuluh Burung Kutilang Bernyanyi itu berdiri di atas panggung dengan penerangan yang remang-remang. Nuansa serba merah. Temaram. Aroma melati menyeruak, mengajak orang-orang yang menciumnya segera membayangkan pada suatu rupa yang teramat indah.
Ketika nyanyian mulai dikumandangkan, seluruh pengunjung kedai menahan napasnya. Begitu terhanyut. Diam bagai patung. Hanya Mantingan saja yang terus melahap makanannya. Peduli tidak peduli.
Puisi ini tertinggal
di jalanan berlumpur
sama sekali yang tiada memperhatikan
tetapi bagai mutiara
bagi siapa yang menemukan
pastilah merasa bertuah seumur hidup
Puisi yang bagai seorang pemuda
yang berjuluk Pahlawan Man
tidak ada yang tahu di mana dirinya
mungkin di lingkungan kumuh
yang jauh dari kata mewah
mungkin di rimba-belantara
__ADS_1
yang jauh dari peradaban
Tak ada yang tahu gerangan
tetapi seburuk apa tempat yang disambanginya
Pahlawan Man tetaplah pahlawan
tetaplah mutiara
dalam kelamnya lumpur jalanan sekalipun
hingga banyak orang kini memburunya
Mantingan terus menyuap makanan ke dalam mulutnya, tetapi pikirannya tenggelam dalam perenungan. Puisi apakah kiranya yang tertinggal di jalanan yang menceritakan tentang dirinya? Ataukah lagu itu sendiri hanya berisi perumpamaan, sehingga sebenarnyalah puisi dalam lumpur jalanan tersebut tidak pernah benar-benar ada?
Nyanyian itu terus berlanjut, dengan perpaduan suara dari Sepuluh Burung Kutilang Bernyanyi yang sungguh dapat dikatakan sangat indah.
Semua orang berusaha memilikinya
Tetapi bahkan ketika seorang bidadari datang
Menjemputnya dan menawarkan segenap cinta
Dia menolak
Mantingan berhenti mengunyah sejenak untuk tersenyum pahit. Dalam benaknya, ia mengutuk keras pencipta puisi itu.
____
Catatan:
Saya harap, tiga chapter malam ini dapat membayar rasa bersalah saya karena tidak update selama beberapa hari terakhir.
Juga saya ingin mengabarkan sekaligus bertanya. Dalam waktu dekat, brand baru saya yang bernama Walkround Adventure (WR Adventure) akan mengeluarkan sebuah produk case ponsel edisi Sang Musafir.
Saya ingin bertanya, siapa saja yang sekiranya berminat (bukan berarti harus membelinya), sebab sekaligus tes pasar.
__ADS_1
Sebagian hasil keuntungan penjualan akan saya alokasikan untuk membeli beberapa ilustrasi Sang Musafir, sebab beberapa hari lalu saya melihat komentar yang tidak puas atas ilustrasi tokoh yang saya gambar sendiri.
Terima kasih 🙏