Sang Musafir

Sang Musafir
Mendengarkan Pelabuhan


__ADS_3

KEHADIRAN rombongan Mantingan di pelabuhan itu sebenarnya cukup banyak menarik perhatian orang-orang, meskipun mereka telah turun dari punggung kuda dan menuntunnya sekalipun.


Perhatian mereka berpusat pada Bidadari Sungai Utara. Tentunya penampilan gadis itu yang bercadar merupakan sebuah hal yang tidak biasa di pelabuhan itu. Rerata orang-orang pelabuhan melihatnya dengan tatapan prihatin, sebab betapa pun gadis itu terlihat seperti gundik Mantingan yang perlu dikasihani.


Meskipun acap kali gundik-gundik berseliweran bersama saudagar yang menjadi suami mereka, tetapi hampir tidak ada yang berpenampilan selayaknya Bidadari Sungai Utara. Malang sekali gadis itu.


Maka selesai menatap Bidadari Sungai Utara dengan rasa iba dan prihatin, mereka berbalik menatap Mantingan dengan tatapan sangat tidak suka. Bahkan, ada pula yang menatapnya tajam sambil mengeluarkan sumpah serapah yang sengaja dibuat tanpa menyebut siapa pun sehingga tak jelas bertujuan pada siapa.


Mantingan hanya bisa tersenyum canggung. Dapat dikata, ia bersikap acuh tak acuh pada tatapan mereka. Bukan tatapan orang-orang awam itu yang menjadi perhatiannya, tetapi tatapan dari pendekar-pendekar rimba persilatan itulah yang selalu menjadi bahan perhatian dan kewaspadaannya.


Mustahil betul jika di pelabuhan milik sebuah perguruan silat ini tidak disusupi pendekar maupun mata-mata dari rimba persilatan yang bertugas untuk sekadar mencari kabar atau bahkan menjalankan sebuah tugas rahasia.


Tiada menuntut kemungkinan pula bahwa di tempat ini terdapat pendekar dari jaringan bawah tanah yang terkenal sangat mengerikan.


Meskipun kabar pelayaran Bidadari Sungai Utara ke negeri Champa memang akan disebar secara diam-diam oleh Perguruan Angin Putih demi berlangsungnya rencana penyergapan dan penuntasan para pengacau, tetapi Mantingan harus tetap memastikan keselamatan Bidadari Sungai Utara dari serangan tak terduga di pelabuhan ini selama kabar itu belum tersebar!


“Selamat datang di Pelabuhan Angin Putih, Saudara.” Salah seorang dari sepuluh pendekar Pasukan Topeng Putih yang mengawal Mantingan hingga ke tempat ini berkata kepadanya. “Pelabuhan ini merupakan sumber pendapatan terbesar Perguruan Angin Putih. Segala-galanya yang ada di tempat ini, kental dengan yang namanya pajak. Pelabuhan ini boleh dikata menjadi pelabuhan terbesar urutan ketiga di Tarumanagara, sehingga tidak sedikit yang datang ke pelabuhan ini.”


Mantingan menganggukkan kepalanya ketika mendengarkan penjelasan dari pendekar itu.


“Disebabkan pelabuhan ini cukup besar, maka kita membutuhkan sedikit waktu untuk berjalan ke tempat penginapan,” lanjutnya.


“Ada penginapan di tempat ini?” Mantingan bertanya karena sebelumnya ia menduga akan tinggal di Padepokan Angin Putih yang bertempat di pelabuhan ini.

__ADS_1


“Benar, Saudara. Ada tiga bangunan penginapan besar di pelabuhan ini, masing-masingnya menempati tiga penjuru mata angin yang berbeda. Penginapan yang sekiranya paling layak untuk Saudara dan rombongan sekalian ada di sebelah barat. Ikutilah kami.”


Mantingan menganggukkan kepalanya sebelum melangkah lebih cepat mengikuti pendekar di depannya.


***


MANTINGAN mendapatkan sebuah kamar di lantai dua. Penginapan yang ditempatinya memiliki tiga lantai; lantai kedua adalah lantai paling aman untuk menghindari serangan dari atas dan bawah.


Bidadari Sungai Utara dan Kina menempati satu kamar bersamaan. Sedangkan Kana mendapatkan kamar sendiri agar dirinya lebih leluasa membaca karya sastra maupun berlatih ilmu persilatan.


“Terima kasih telah mengantar kami hingga sejauh ini, Saudara-Saudara.” Mantingan menjura di halaman penginapan, berhadap-hadapan dengan sepuluh Pasukan Topeng Putih yang akan kembali ke perguruan pusat. “Kami semua mendoakan keselamatan kalian di jalan hingga sampai tujuan.”


Sepuluh pendekar itu balas menjura kepada Mantingan. “Terima kasih atas doa dan atas pelajaran yang berharga selama di perjalanan, Saudara.”


Kesepuluh pendekar itu lantas menarik tali kudanya dan bertolak punggung meninggalkan penginapan. Mantingan pun segera kembali ke dalam bangunan penginapan karena memang tidak memiliki alasan lain untuk berlama-lama di sana.


“Jika Saudara membutuhkan bantuan, Padepokan Angin Putih ada di bagian tenggara pelabuhan ini. Tetapi, sebisa mungkin jangan berkunjung ke tempat itu terlalu sering,” kata salah satunya waktu itu, “sebab orang luar yang masuk ke padepokan itu akan selalu mendapatkan perhatian pendekar-pendekar jaringan bawah tanah dunia persilatan. Kami tak bisa memastikan bahwa pelabuhan ini benar-benar bersih dari mereka.”


Mantingan menarik napas dingin. Berarti memang sesuai dengan dugaannya, betapa pun pelabuhan ini tidak lepas dari kegiatan telaga persilatan, rimba persilatan, maupun jaringan bawah tanah persilatan.


Lalu ia teringat perkataan selanjutnya dari pendekar itu. “Setiap lima hari sekali, akan ada pendekar padepokan yang menyamar menjadi nelayan menawarkan ikan segar ke penginapan ini. Belilah ikan kepadanya, yang di dalam perut ikan tersebut terdapat surat.”


Mantingan memandang keluar jendela dengan senyum tipis di bibirnya. Lalu secara perlahan, Mantingan memejamkan matanya. Dipergunakannya Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk mengetahui seluk beluk penginapan ini.

__ADS_1


Dengan ilmu itu, ia seolah mendapatkan mata ketiganya yang berkeliaran bebas selama masih dalam jarak sebelas depa. Cukuplah dengan adanya gelombang suara yang terpantul pada bidang sebuah benda, maka ia akan mengetahui seperti apakah wujud benda tersebut.


Namun untuk warna benda, Mantingan masih belum dapat menerjemahkannya. Ia hanya mendapatkan gambaran bentuknya saja, sebab betapa pun suara tidak dapat membaca warna pada sebuah benda. Tetapi mendapatkan gambaran bentuknya saja sudah lebih dari cukup bagi Mantingan.


Penglihatan ketika Mantingan terus menjelajahi seluk beluk penginapan. Melintasi orang-orang yang berlalu-lalang. Mendengar dengkuran orang tidur. Bahkan sampai ke hal terburuk yang sebenarnya tidak ingin didengarkannya sekalipun di penginapan itu.


Mantingan membuka matanya setelah tidak menemukan hal yang menarik maupun penting dari penginapan ini. Digunakannya Ilmu Mata Elang dan beralih pandang menuju kedai makan yang berdiri di ujung timur sana.


Hanya kedai itu yang terdekat dengan penginapannya, dan meskipun menjadi yang terdekat tetap saja jaraknya masih cukup jauh. Di kedai itu, pastilah terjadi pertukaran demi pertukaran kabar yang dibutuhkan Mantingan saat ini. Terlebih jika kedai itu berdekatan dengan kegiatan di dunia persilatan, maka percakapan-percakapan di dalamnya seringkali merupakan pertukaran kabar penting.


Mantingan ingin sekali mendengar percakapan-percakapan di kedai itu tanpa berkunjung ke sana, tetapi itu agak sukar dilakukan.


Ilmu Mendengar Tetesan Embun hanya dapat menjelajah dalam jarak sebelas tombak; dalam artinya mendengarkan apa yang ingin didengar saja.


Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang Mantingan kuasai itu sebenarnya bisa menangkap suara sampai di kedai itu. Tetapi, karena tempat yang dituju berjarak ratusan tombak jauhnya, maka suara yang akan terdengar hanyalah samar-samar. Ditambah lagi, campuran suara hiruk-pikuk di pelabuhan yang barang tentu menimbun suara yang ada di dalam kedai tersebut.


Amat sangat mustahil, kecuali jika suasana pelabuhan telah benar-benar hening dan angin tiada bertiup terlalu cepat. Memperhitungkan pula deburan ombak yang bahkan dapat terdengar jelas tanpa menggunakan ilmu pendengaran


tajam sekalipun.


___


catatan:

__ADS_1


Jika ingin membaca karya lain dari saya tanpa tambahan aplikasi, kunjungi kedailakon.blogspot.com.



__ADS_2