
"Apakah kau tidak bisa melakukan itu juga?”
BIDADARI SUNGAI Utara menatap Mantingan geram, sedangkan pemuda itu tampak hanya tersenyum dan menyeruput teh. Semakin geram saja Bidadari Sungai Utara itu.
“Tentu saja aku bisa melakukan itu! Kau saja yang memang mau menyentuhku!”
Mantingan tetap tidak bersuara, hanya matanya saja menunjuk teh milik gadis itu yang belum habis. Bidadari Sungai Utara tentu masih merasa kesal, sehingga tidak merasa perlu menanggapi maksud dari lirikan Mantingan itu. Bidadari Sungai Utara mendengus keras, mengalihkan pandangannya pada sembarang tempat.
Melihat itu, Mantingan menunjukkan senyum hangat. “Saudari Sungai Utara, maafkan jika aku terlalu mengesalkan di matamu. Aku sengaja melatihmu sedikit lebih keras, dan jujur aku melakukan itu dengan berat hati. Aku hanya ingin kau tidak celaka jika terjadi situasi yang mengancam jiwa. Sekali lagi, maafkan aku.”
Bidadari Sungai Utara tetap diam bergeming. Menuntut lebih dari hanya permintaan maaf saja. Namun kemudian, ia mendengar Mantingan menghela napas panjang. Perasaannya yang penuh kasih itu menjadi bergejolak. Perlahan dia tolehkan wajah menghadap Mantingan. Ditatapnya Mantingan dengan sedih, terlihat pemuda itu hanya bisa tersenyum dan menatap kosong pada cangkir tehnya.
Di pikiran Bidadari Sungai Utara, Mantingan terlihat seperti sedang menyesali perbuatannya sendiri yang bersikap terlalu keras. Tetapi sebenarnya, Mantingan hanya memikirkan Rara saja. Semengesalkannya Rara, tidak akan terasa semengesalkan Bidadari Sungai Utara. Dulu ia pernah bertanya pada Kiai Guru Kedai tentang cara menghadapi wanita, sayang sekali gurunya itu tidak memberikan banyak jawaban.
Gadis yang duduk bersimpuh di hadapannya itu memanggilnya. “Mantingan ....”
Mudah bagi Mantingan untuk tersadar dari lamunannya. Memang seorang pendekar akan jauh lebih cepat disadarkan dari lamunan. Bahkan saat seorang pendekar melamun sekalipun, mereka tetap bisa mengamati lingkungan sekitar. Seorang pendekar dituntut untuk tidak melepas kewaspadaannya sepanjang waktu.
“Ya, Saudari?”
“Jangan pernah lagi merasa sungkan kepadaku, lakukanlah apa pun yang kau kehendaki atas diriku.” Bidadari rawa-rawa berlinang matanya. Entah kenapa dan entah mengapa. “Kau mau melatihku dengan keras, silakan saja. Kau mau menceburkan aku ke dalam danau ratusan kali banyaknya, silakan saja.”
__ADS_1
Mata gadis itu semakin berlinang. Mantingan melihat air mata Bidadari Sungai Utara akan mengalir dari ujung matanya jika dibiarkan saja, maka cepat-cepat ia mengantisipasi hal itu terjadi.
“Saudari Sungai Utara tidak boleh berkata seperti itu. Aku tidak berhak atas diri Saudari, jadilah aku meminta maaf jika telah menyakiti perasaan Saudari. Aduh-aduh, jangan malah menangis seperti ini ....”
“Bagaimana aku tidak merasa sedih harus menghadapi orang baik sekaligus mengesalkan seperti dirimu?” Bidadari Sungai Utara menyeka air mata di ujung matanya.
Begitulah siang dilewati dengan perasaan canggung yang hinggap pada diri Mantingan, sikap Bidadari Sungai utara yang membuatnya seperti itu. Mantingan merasa perlu pergi ke perpustakaan dan mempelajari kitab-kitab sakti tentang cara menangani sikap wanita. Sungguh wanita itu hanya ingin dimengerti, tapi bagaimana caranya mengerti jika yang dia inginkan saja tidak diketahui?
***
ANGIN BERSEMILIR lambat malam itu. Membawa udara yang teramat dingin walau hujan telah lama berhenti turun, mencipta kabut yang tidak tipis. Mantingan memantrai Lontar Sihir menjadi Lontar Cahaya. Persediaan Lontar Sihir kosong yang dipegang Mantingan saat ini menipis, Mantingan merasa perlu menemukan sebuah kota secepatnya dan mengisi ulang perbekalan.
Asalkan mereka terus berjalan ke utara, maka pasti akan sampai di Tanjung Kalapa ataupun Sundapura. Mantingan lupa menanyakan arah jalan pada Nenek Genih saat masih bersamanya, sehingga saat ini tidak dapat diketahui dengan pasti di mana wilayah yang mereka pijak saat ini.
“Untuk apa banyak-banyak?” tanya Bidadari Sungai Utara membolak-balik lima lembar Lontar Cahaya di tangannya.
Mantingan memberi jawaban singkat sambil tersenyum. “Untuk berjaga-jaga.”
Bidadari Sungai Utara mengernyitkan dahi, menatap lima lembar lontar itu sekilas sebelum menyimpan empat lontar di saku jubahnya. Sedangkan satu lontar yang tersisa langsung digunakan.
“Apakah kau mau pakai caping?” Kini giliran Mantingan yang bertanya.
__ADS_1
Bidadari Sungai Utara menggeleng. “Malam-malam pakai caping? Hanya orang bodoh yang melakukan itu.”
Mantingan tersenyum tipis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kalau begitu, aku akan memakainya.”
Sampailah saat itu Bidadari Sungai Utara tersedak napasnya sendiri. “Mantingan ... kau sungguh mau pakai caping di malam hari seperti ini? Jika iya, maka aku minta maaf karena perkataanku tadi. Sebenarnya memakai caping di malam hari ada gunanya juga, menghindari cahaya bulan misalnya.”
Mantingan diam saja dan mengambil capingnya. Dirinya memasang dua lontar sekaligus pada permukaan caping. Jadilah caping itu memancarkan sinar terang benderang, menembus kabut di tengah gelapnya malam.
Bidadari Sungai Utara melihat ke sekitarnya. Danau yang tadinya terlihat, sekarang hampir tidak terlihat sama sekali, sebab kabut tebal menutupi permukaan danau. Seolah-olah permukaan danau bukanlah air, melainkan awan. Dan seolah-olah gubuk ini adalah gubuk yang berdiri di atas langit. Luar biasa, entah mengapa Bidadari Sungai Utara lebih menikmati suasana dan pemandangan seperti ini.
Mantingan memasang caping yang terang benderang itu di kepalanya. Mantingan berjalan di depan menembus kabut tebal, ia membutuhkan cahaya terang untuk bisa memilih jalan yang benar. Jangan sampai salah injak jalan yang akan membuat mereka terperosok ke dalam jurang.
Penempatan Lontar Cahaya di permukaan caping itu juga tidak bisa sembarangan. Jika saja lontar diletakkan terlalu ke atas, maka bagian bawah caping akan menghalangi sinarnya. Maka Mantingan memasang dua lontar itu di pinggiran caping, agar dua cahaya itu dapat berfungsi sepenuhnya.
“Apakah kau sudah memastikan tidak ada yang tertinggal?” Mantingan kembali bertanya.
Sebelum menjawab, Bidadari Sungai Utara terlebih dahulu memeriksa lantai kayu gubuk dan meraba bundelannya. Lalu ia mengangguk dan menjawab, “Tidak ada kurasa, dan semoga saja begitu.”
Mantingan mengangguk pelan. Ia bangkit berdiri, Bidadari Sungai Utara ikut berdiri. Gemuruh terdengar di dalam dada Bidadari Sungai Utara, petualangan yang sesungguhnya menanti dirinya.
Akan tetapi Mantingan tidak langsung mengajak Bidadari Sungai Utara pergi. Ada yang harus ia lakukan sebelum pergi meninggalkan gubuk di pinggiran danau ini, harus ada rasa terima kasih dirasa perlu disampaikan kepada pemilik gubuk. Mantingan menempelkan selembar lontar berisi ucapan terima kasih, yang akan diketahui nanti bahwa lontar itu bukanlah lontar biasa melainkan salah satu Lontar Sihir terbaik yang berhasil Mantingan buat. Akan ada manfaatnya tersendiri di dalam lontar itu.
__ADS_1
“Sekarang, mari kita berangkat.”