Sang Musafir

Sang Musafir
Kematian Pendekar Cakar Emas


__ADS_3

MANTINGAN menghela napas sekali lagi. Betapa Pendekar Cakar Emas di depannya ini terlalu sombong dan percaya diri. Nama Pendekar Cakar Emas sepertinya memang terkenal di sungai telaga persilatan, tetapi namanya bukanlah nama yang wangi. Ia bersikap seperti itu akan membuat siapa pun gemas dan ingin cepat-cepat membunuhnya.


“Tiada yang akan kami berikan padamu. Dua pusaka itu adalah milik leluhur kami, mengambilnya sama saja mencuri.”


“Oh? Bukankah daku sudah memintanya secara damai-damai pada kalian?”


“Apa maksudmu? Kau jelas-jelas berusaha merebut paksa barang itu dari kami.”


“Aku sudah berikan kalian penawaran. Bawa pusaka itu bersama seorang gadis cantik padaku, maka urusan selesai. Sebegitu mudahnya, tidak mungkin kalian akan menolak bukan?”


“Itu sama saja merebutnya secara tidak baik-baik dan bukan jalan damai!”


“Aku sudah merendahkan diriku dengan tidak membunuh satupun dari kalian jika kalian memberi apa yang daku mau. Hanya pada kalian aku berlaku seperti itu, seharusnya kalian menurutiku dengan rasa kehormatan yang tinggi.”


Kegeraman pendekar-pendekar Kedai Purnama Merah itu telah sampai ubun-ubun. Seandainya saja Mantingan tidak memberi isyarat, mereka pasti sudah menyerang.


“Pendekar Cakar Emas, kau terlalu percaya diri pada kemampuanmu. Sifatmu sudah terlampau buruk dan akan berbahaya di masa depan jika tidak segera dihentikan.” Mantingan meraba hulu Pedang Kiai Kedai. “Aku harap di kehidupan yang selanjutnya, engkau akan mengerti betapa sangat berbahaya kemampuan tanpa akal yang suci.”


“Oh, jadi engkau berniat membunuhku? Itu bagus, itu bagus. Sangat bagus. Kematian dirimu akan semakin mengharumkan namaku sebagai pendekar muda paling berbakat seangkatan.”


Mantingan tidak menunggu lebih lama lagi, ia melesat ke muka dengan Pedang Kiai Kedai tanpa bersarung. Pendekar Cakar Emas menyunggingkan senyum sebelum menyambut serangan Mantingan.


Tidak ada pendekar penjaga kedai yang ikut campur. Pendekar ahli memperingatkan mereka untuk tidak ikut campur. Mereka mengetahui Pendekar Cakar Emas tidak bisa diserang beramai-ramai. Pendekar itu memiliki jurus cakar mematikan yang akan berbahaya bagi pihak pengeroyok.


Sebaliknya ketika menghadapi pertarungan satu lawan satu, Pendekar Cakar Emas akan tampak lebih lemah. Meskipun begitu, Pendekar Cakar Emas tidak mengurangi sikap congkaknya ketika berhadapan dengan Mantingan.

__ADS_1


Kembali ke pertarungan. Mantingan merasa sedikit kesulitan ketika dirinya harus menghadapi dua tangan bercakar sekaligus. Pendekar Cakar Emas ini benar-benar gesit gerakannya dan mampu memanfaatkan dua tangannya yang lentur untuk menyerang.


Untuk beberapa pertukaran jurus, Mantingan masih terus mundur dan bertahan. Tetapi beberapa saat kemudian ia menemukan titik kelemahan Pendekar Cakar Emas.


Pusaka yang dipakai pendekar itu adalah Cakar Buaya Purba, tetapi itu hanya ada di tangan kanannya. Sedangkan di kanan kirinya adalah pusaka lama. Padahal, Cakar Buaya Purba diciptakan berpasangan.


Sebuah kesalahan yang sangat berbahaya, sebab dua pusaka yang diciptakan berpasangan tidak boleh dipakai satu bagiannya saja, harus digunakan bersamaan dengan pasangannya.


Pendekar Cakar Emas ini terlalu terburu-buru ingin mencoba Cakar Buaya Purba tanpa sabar menunggu Cakar Harimau Purba jatuh ke tangannya. Kesalahan yang dapat dengan mudah terlihat oleh mata Mantingan yang cukup teliti.


Mantingan pernah mendapat pengajaran dari Kiai Guru Kedai tentang cara menghadapi pusaka yang kehilangan pasangannya. Maka dengan cepat Mantingan menguasai pertarungan.


Mulanya Mantingan banyak menyerang di sisi kiri, lalu berpindah ke sisi kanan, lalu berpindah lagi ke sisi kiri, begitu seterusnya. Hingga lama-lama Pendekar Cakar Emas tidak lagi bisa mengendalikan Cakar Buaya Purba sepenuhnya, ia hanya bisa mengendalikan pusaka di tangan kirinya.


Saat itulah Mantingan terus menyerang di bagian kanan, membuat Pendekar Cakar Emas kewalahan setengah mati.


Mantingan berhenti menyerang Pendekar Cakar Emas untuk menangkis semua jarum beracun yang dikirimkan untuknya. Saat ia selesai menangkis, saat itulah Pendekar Cakar Emas telah memasang pusaka lain di tangan kanannya, pusaka itu tampak seperti berpasangan dengan pusaka di tangan kiri.


Sedangkan Cakar Buaya Purba yang tadi dilemparkan olehnya telah diamankan pendekar-pendekar kedai, membuat wajah Pendekar Cakar Emas merah padam seperti kepiting rebus.


“Nah, Mantingan, dikau telah membuatku kehilangan Cakar Buaya Purba. Kini daku akan menggantinya dengan tulang-tulangmu, bersiaplah!”


Mantingan tidak menghiraukan ucapan pendekar itu saat dirinya melepas puluhan jarum beracun ke arah Pendekar Cakar Emas. Tidak menyangka akan mendapat serangan mendadak saat sedang berbicara, Pendekar Cakar Emas melenting ke atas untuk menghindari semua jarum beracun cap capung yang dikirimkan Mantingan itu.


Di udara ia mengumpat karena menyadari pertahanannya terbuka sangat lebar. Mantingan juga menyadari hal tersebut, ia melesat menghampiri Pendekar Cakar Emas yang sedang mengapung di udara itu.

__ADS_1


Hanya dengan dua kali pertukaran jurus, pusaka di tangan sebelah kanan Pendekar Cakar Emas patah demi melindungi dirinya sendiri. Pendekar Cakar Emas menggertak giginya sebelum menghempas diri menjauhi Mantingan.


Mantingan mengetahui dengan cukup jelas siasat licik Pendekar Cakar Emas, ia berniat menggunakan pendekar-pendekar kedai sebagai perisainya. Mantingan tidak ingin membiarkan hal itu terjadi, tetapi dirinya sudah telat menyusul kecepatan gerak Pendekar Cakar Emas.


“MATI KALIAN!”


Pendekar Cakar Emas menyabetkan cakarnya ke bawah, langsung mengenai kepala pendekar-pendekar kedai yang dengan telak tidak bisa menghindari serangan Pendekar Cakar Emas.


Saat itulah Mantingan menyusul dan langsung melancarkan serangan penumpasan.


Dua pendekar muda itu menjejak tanah. Bedanya, Mantingan dalam posisi berdiri sedangkan Pendekar Cakar Emas jatuh menyeret di tanah.


Tidak hanya Pendekar Cakar Emas yang jatuh ke tanah, tetapi juga lima pendekar kedai lainnya yang terkena serangan di kepala. Mereka langsung mati tanpa sempat mengetahui hal apa yang membuat mereka terbunuh.


Mantingan menghela napas panjang sembari menyarungkan kembali Pedang Kiai Kedai. Pengorbanan tetap dibutuhkan demi mencapai sebuah kemenangan.


***


“Saudara, janganlah pergi dulu sebelum kami membalas kebaikan Saudara.”


“Tidak perlu, Paman, saya bukan pendekar bayaran.”


“Memang Saudara bukan pendekar bayaran, tetapi kami tetap tidak enak jika tidak membalas kebaikan Saudara. Makan malam saja tidak cukup, Saudara jangan bercanda. Sebutlah sesuatu yang Saudara inginkan.”


Mantingan menghela napas panjang. Setelah pertarungannya dengan Pendekar Cakar Emas, Mantingan sebenarnya ingin langsung melanjutkan perjalanan. Namun, penanggungjawab kedai terus menahan Mantingan pergi sampai ia membalas Mantingan.

__ADS_1


“Baiklah, Paman.” Mantingan berpikir masalah akan selesai jika ia meminta sesuatu. “Jika boleh, saya minta dipesankan sarung pedang yang pas dengan pedang yang sedang saya pegang ini. Pendekar Cakar Emas membuat kerusakan yang cukup parah kemarin.”


__ADS_2