
IBU pemilik kedai itu meneruskan ceriteranya, dengan suara lembut nan mendayu-dayu yang dapat membuat sesiapa pun menjadi terbuai ke dalamnya. Betapa pula meski agaknya telah berumur, wanita itu masih memancarkan kecantikan di atas rata-rata.
“Tak seberapa lama kemudian, datanglah seorang bunga raya terbaik yang ada di kota raya ini. Sesuai dengan permintaan pria aneh itu, daku memang sengaja mendatangkan bunga raya terbaik, meski itu berarti bayarannya teramat tinggi. Entah bagaimana, pendekar yang tampak biasa-biasa saja dari penampilannya itu nyatanya memiliki cukup banyak uang untuk memesan pelacur yang biasanya dipesan bangsawan-bangsawan bergaya hidup serba mewah.
“Kamar telah kusiapkan, tentulah dengan sebaik mungkin. Tamu-tamu lain yang sedang menginap segera kubayar agar mereka tidak berisik. Tetapi rupanya orang yang bernama Kedai itu tidak hendak pergi ke kamarnya, atau sebenarnyalah dia sama sekali tidak berniat tidur malam itu.
“Dia memanggil bunga raya yang telah disewanya itu untuk duduk berhadap-hadapan di satu meja dengannya. Daku diminta untuk membuatkan sekendi kecil teh hangat dengan campuran bunga melati, yang cetusannya itu telah menjadi ciri khas kedai ini untuk selalu menyajikan teh dengan campuran bunga melati.
“Tentulah daku menurut saja, meski kuanggap aneh karena dirinya tidak meminum tuak yang tadi dipesan, sebab betapa pun dia masih tergolong pelanggan istimewa yang harus kulayani dengan istimewa pula. Daku menyeduh air, sambil diam-diam mendengarkan percakapan antara Kedai dengan bunga raya sewaannya itu.
“‘Katakanlah segalanya yang dikau ketahui tentang wanita,’ begitulah ujar Kedai dengan tenang-tenang saja.
“‘Maksud Tuan?’ Sang bunga raya balik bertanya sambil kulihat kerutkan kening.
“‘Ceritakan tentang dirimu sendiri. Panjang-lebar tidak mengapa, asal dengan sejelas-jelasnya. Sampai lusa pun tiada mengapa, akan daku bayar dikau sesuai ketentuan.’
“‘Tuan hendak diriku bercerita saja? Tidakkah Tuan akan menyia-nyiakan malam yang teramat dingin ini?’
“‘Tidak akan menjadi sia-sia,’ kata Kedai sambil tersenyum lembut, yang sungguh mampu membuat diriku merasa berada dalam ketenangan temaram.
__ADS_1
“Maka begitulah kemudian sang bunga raya mulai bercerita dengan segenap keahlian kesusastraan yang dimilikinya. Sebagai seorang pelacur kasta atas, telahlah pasti dirinya memiliki kemampuan bersusastra yang sangat baik untuk digunakannya ketika pelanggannya ingin dirayu-rayu menggunakan pantun. Tetapi dirinya sama sekali tidak menyangka akan menggunakan kemampuan sastranya itu untuk menceritakan riwayat hidupnya sendiri. Di antara seluruh pelanggan yang pernah dia layani, hanyalah Kedai yang benar-benar peduli terhadapnya.
“Ceriteranya itu berlarut-larut. Ketika malam telah sampai pada pertengahannya, seluruh kemampuan susastra sang bunga raya seolah saja pergi meninggalkannya. Dia bercerita dengan begitu lepas, mengalir bagai sungai yang teramat deras. Tidak lagi diperhatikan keindahan bahasanya. Bagaikan yang sedang diajaknya berbicara itu bukanlah pelanggan yang harus dilayaninya dengan segenap kerendahan hati, melainkan seorang sahabat yang kepadanya itu ia dapat menunjukkan sikap sejatinya.
“Ketika malam semakin larut, hingga tiada lagi suara langkah orang maupun kuda yang terdengar di jalanan luar, menangislah sang bunga raya. Daku yang masih dan selalu menyimak ceriteranya pun turut terbawa suasana, hingga hampir tak terasa titik air mata di sudut mataku.
“Sungguh mengharukan kisah hidupnya. Dia mesti meninggalkan kekasih hati demi dapat masuk dan kerja di jaringan bunga raya itu. Betapa keluarganya telah terlilit utang yang teramat mencekik, benar-benar harus dilunasi secepat mungkin bila tidak ingin nyawa melayang. Tiada yang mengasihaninya, bahkan sanak keluarga pun tidak mau terlibat lebih jauh dari hanya sekadar berharap yang terbaik saja.
“Dengan menjadi bunga raya itulah dia dapat melunasi seluruh utang keluarganya. Tetapi karena yang dimasukinya adalah jaringan bawah tanah, maka teramatlah sulit baginya untuk keluar dari sana. Tidak ada jalan sama sekali. Dirinya mesti tetap menjalani pekerjaannya sebagai bunga raya, lantas mendapatkan banyak uang yang jauh melebihi kata cukup, tetapi dengan hidup yang tidak berbahagia sama sekali.
“Orang yang bernama Kedai itu lebih banyak terdiam dan mendengar. Hanya pada saat-saat tertentulah dia melempar pendapat. Begitulah kemudian sang bunga raya bercerita hampir tanpa hambatan sama sekali, hingga tiada terasa cahaya matahari telah memasuki jendela-jendela kedai ini yang selalu terbuka.
“Kedai mengangkat sebelah tangannya saat itu, kemudian berkata setelah sang bunga raya terdiam, ‘Aku hanya memesanmu hingga pagi menjelang. Waktuku telah habis, dan kurasa telah lengkap semua yang kubutuhkan.’
“Sang bunga raya berkata, ‘Janganlah dikau meninggalkan sahaya, Kedai! Temanilah sahaya di sini, atau ajaklah sahaya mengembara bersama dikau. Ke mana saja boleh, bahaya apa saja boleh, tanggungan apa saja boleh!’
“Betapa permohonan itu teramat tulus, diungkapkan dengan segenap jiwanya. Tetapi pria yang bernama Kedai itu sungguh tidak memiliki hati, menolak perempuan malang itu begitu saja!
“Katanya begini, ‘Tidak bisa. Engkau harus tetap di sini, menjalani takdir yang semestinyalah engkau tuntaskan.’
__ADS_1
“‘Takdir apa?’ tanya sang bunga raya dalam tangisannya yang masih jua meledak-ledak.
“‘Engkau sudah mengetahuinya.’
“Maka selepas berkata begitu, berkelebatlah Kedai. Menghilang begitu saja. Tak sampai hati melihat sang bunga raya terus menangis, daku langsung berkelebat mengejarnya. Awalnya daku yakin bisa mendapatkan pria itu, tetapi alangkah cepat pergerakannya, membuat daku tertinggal teramat jauh di belakangnya. Terpaksalah daku kembali ke kedaiku dengan tangan kosong.”
Sampai di sana, Mantingan mengembuskan napas panjang. Bila dipikir-pikir kembali, sungguh teramat kejam apa yang telah diperbuat oleh gurunya. Bukankah dengan begitu, hari-hari sang bunga raya hanya akan bertambah muram dan menyedihkan saja?
“Apalah inti dari cerita ini?” Mantingan bertanya pada akhirnya.
“Dengarlah dulu ceritaku hingga akhir.” Ibu pemilik kedai menggeleng pelan sebelum kembali bercerita, “setibanya daku di kedai ini, kulihat perempuan itu masih bersimpuh di lantai sambil menangis tersedu-sedu. Daku hampiri dirinya untuk memberikan sekadar ucapan penyemangat, tetapi dia justru mengatakan hal yang tidak kuduga-duga sama sekali.
“‘Orang itu telah sangat baik kepadaku, Saudari. Janganlah lagi dikau mengejarnya, biarkan dia pergi. Daku sudah mendapatkan apa yang kubutuhkan darinya.
“Tentulah pada saat itu daku langsung bertanya, ‘Apakah kiranya yang Saudari butuhkan dan telah didapatkan darinya?’
“Tetapi jawabannya pun tidak terduga, ‘Daku hanya membutuhkan petunjuk untuk berjalan di atas kakiku sendiri. Itulah pula yang menjadi keinginan Kedai terhadap diriku, maka sekiranya akan kulaksanakan dengan pengorbanan sepenuh jiwa meski hal itu sama sekali tidak kuhendaki.’
“Sang bunga raya melangkah keluar. Begitu saja meninggalkan diriku yang masih termenung, tetapi kemudian daku berhenti termenung, sebab telah kusadari betul bahwa sang bunga raya telah mengorbankan seluruh hidupnya untuk memenuhi keinginan dari pria aneh yang bernama Kedai itu.
__ADS_1
“Entah apa yang selanjutnya dia lakukan. Daku tidak tahu betul bahkan hingga sekarang. Tetapi mestinyalah luar biasa. Biar itu menjadi rahasia antara Kedai dengan sang bunga raya. Biar saja hanya mereka yang mengetahui.”
Kini justrulah Mantingan yang termenung mendengarkan cerita dari ibu pemilik kedai itu.